NovelToon NovelToon
Sekertaris Gendut Istri Rahasia CEO

Sekertaris Gendut Istri Rahasia CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 - Duka dalam hati

Bu Dewi Ambarwati melangkah kembali dari toilet dengan anggun. Namun, saat mendekati meja makan VIP, ia mendapati putri tirinya, Anita, duduk mematung dengan raut wajah kaget dan tidak percaya.

Bu Dewi tertawa kecil, memecah kecanggungan. "Wah... sepertinya sedang membicarakan hal seru apa ini sampai wajahmu kaget begitu, Anita?"

Anita menoleh cepat, suaranya bergetar pelan. "Ma... Pak Adrian ternyata sudah menikah."

Deg!

Di dalam hatinya, Bu Dewi merasa amat kecewa. Padahal ia sudah menyusun rencana untuk menjodohkan Anita dengan pria perkasa dan berkuasa sekelas Adrian Dewangga. Namun, sebagai wanita sosialita kawakan, dengan cepat Bu Dewi menguasai ekspresinya dan mengulas senyuman manis yang tampak sangat ramah.

"Wah, selamat kalau begitu, Pak Adrian!" tutur Bu Dewi hangat seraya mendudukkan diri. "Tapi kapan ya acaranya? Kok saya tidak pernah mendengar kabarnya di media atau kalangan bisnis?"

Adrian menyunggingkan senyum formal yang sopan. "Terima kasih, Nyonya Dewi. Saya memang belum mengadakan pesta perayaan besarnya. Saya dan istri memilih menikah secara privat."

Anita yang masih penasaran tak tahan untuk mengutarakan komentarnya. "Apakah istri Anda seorang selebriti atau model terkenal, Pak Adrian?"

Bu Dewi menimpali cepat seraya terkekeh, "Tentu saja pasti bukan orang biasa! Sekelas Pak Adrian, istrinya pasti sangat cantik, elegan, dan berkelas."

Tepat pada detik itu, Nayla baru saja melangkah kembali ke ruangan itu. Langkah kakinya sempat tertahan di dekat ambang pintu tatkala mendengar percakapan tersebut.

Melihat kedatangan Nayla, raut kegelisahan di wajah Adrian seketika menguap hilang. Pria itu mendongak, menatap istrinya dengan pendar mata yang begitu hangat dan sarat akan kekaguman.

"Ya..." sahut Adrian dengan suara berat yang mantap, matanya tak lepas menatap Nayla. "Istri saya memang sangat cantik... dan saya sangat mencintainya."

Deg!

Kalimat yang meluncur mulus dari bibir suaminya itu merayapi dada Nayla dengan begitu hangat. Rasa sakit dan sesak akibat makian ibunya di kamar mandi tadi sedikit terobati. Kendati Adrian tidak mengeja namanya secara terbuka di depan mereka, fakta bahwa suaminya bangga memujinya di depan wanita yang telah membuangnya memberikan kepuasan batin tersendiri.

Nayla mengalihkan pandangannya pada Bu Dewi yang sempat meliriknya sekilas dengan tatapan meremehkan. Di dalam hatinya, Nayla berbisik pilu namun mantap. 'Anak yang Ibu hina dan Ibu buang inilah... wanita yang saat ini menjadi istri yang teramat dicintai oleh pria yang sedang Ibu puji-puji sekarang...'

Pertemuan bisnis itu akhirnya resmi ditutup usai penandatanganan kesepakatan awal.

Sepanjang perjalanan kembali ke kantor, kabin belakang mobil sedan hitam itu diliputi keheningan. Nayla hanya diam menatap keluar jendela, membiarkan pikirannya berkecamuk.

Adrian yang duduk di sampingnya merasa cemas. Tangan tegapnya terulur meraih jemari Nayla yang dingin di atas pangkuan, menggenggamnya erat-erat.

"Sayang... kamu baik-baik saja, kan?" bisik Adrian lembut.

Nayla menoleh pelan, memaksakan senyum tipisnya. "Emm... iya, Mas. Aku cuma lelah saja."

Rio yang mengemudi di depan mencoba mencairkan suasana yang terlampau tegang itu. Lewat kaca spion tengah, ia melontarkan godaan jahilnya.

"Aduh, Pak Adrian sih! Mbak Nayla semalam diajak begadang nih pasti..." celetuk Rio terkekeh renyah. "...begadang bahas kerjaan maksud saya, Pak!"

Pipi Nayla seketika tersipu malu. Ingatan akan kehangatan malam pertama mereka di bawah guyuran hujan langsung berputar liar di dalam kepalanya. Adrian dan Nayla sengaja tidak menanggapi godaan konyol Rio tersebut.

Melihat kondisi istrinya yang tampak kelelahan secara emosional, Adrian mengusap punggung tangan Nayla. "Kita langsung pulang ke rumah saja ya, Sayang. Agar kamu bisa istirahat. Mobilmu aman di parkiran kantor, nanti biar security yang mengurusnya."

Nayla mengangguk pasrah. Ia merebahkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya yang hangat. Adrian menyambutnya dengan pelukan lembut, jemarinya menyusuri dan mengusap helai rambut panjang Nayla penuh kasih sayang.

Nayla memejamkan matanya rapat-rapat. Di dalam lubuk hatinya, ia bersyukur luar biasa. Setidaknya... saat ini ia memiliki Adrian di sisinya. Pria ini melindunginya dan mencintainya dengan tulus, sehingga ia tak perlu lagi meratapi sosok ibu kandungnya yang bahkan tega menjelekkan almarhum ayahnya yang telah tiada.

Namun, baru beberapa saat ia menikmati ketenangan itu, ponsel di dalam tas Nayla bergetar nyaring. Nama 'Mama Ratih' tertera jelas di layar.

Nayla menggeser tombol hijau. "Halo, Assalamu'alaikum, Ma..."

"Wa'alaikumsalam, menantu cantik Mama!" sahut suara Bu Ratih dari seberang telepon dengan nada sangat ceria. "Nay, ini Mama lagi ada di rumah kamu nih! Kamu bisa pulang sekarang, kan? Mama bawakan sesuatu yang spesial buat kamu. Kalau Adrian tidak mengizinkan kamu pulang sekarang, bilang sama Mama! Biar Mama omelin tuh anak, istrinya diajak kerja terus!"

Nayla tersenyum kecil, rasa hangat merayapi dadanya. "Ah, ini Nayla sama Mas Adrian kebetulan lagi di jalan perjalanan pulang kok, Ma. Mungkin lima menit lagi sampai."

"Oh, bagus deh! Mama tunggu ya, Sayang!"

Pip.

Nayla menoleh pada suaminya. "Mama ada di rumah kita, Mas."

"Hmm, ya bagus. Pas sekali kita memang sedang perjalanan pulang, Sayang," sahut Adrian seraya mencium pelipis istrinya.

Rio dari kursi depan menyahut heboh, "Wah! Semoga Bu Ratih bawa baju couple lagi biar saya kebagian kemeja mahal gratisan lagi!"

Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di carport rumah. Bu Ratih yang mendengar kedatangan mereka langsung menyambut Nayla di pintu depan dengan senyuman hangat, lalu menggandeng menantunya menuju ruang tengah.

Ibu mertuanya itu tampak begitu antusias merogoh isi paper bag mewah yang dibawanya.

"Nayla, lihat nih! Mama tadi habis arisan, terus teman Mama yang baru pulang dari Belanda bawain satu set lulur mandi aromaterapi ini," tutur Bu Ratih ceria, menyerahkan kotak kemasan elegan itu pada Nayla. "Ini cocok banget wewangiannya buat kamu!"

Nayla menerimanya dengan senang hati. Adrian yang ikut duduk di samping Nayla memajukan tubuhnya, mendekatkan hidungnya di dekat leher dan bahu istrinya untuk mencium aroma lulur tersebut.

"Iya, Sayang... wanginya lembut dan enak banget. Cocok buat kamu," puji Adrian polos.

Bu Ratih yang menyaksikan kelakuan manis putranya seketika membelalak kaget, lalu tertawa berderai-derai.

"Eh! Mama tidak salah dengar, kan?!" goda Bu Ratih menunjuk Adrian. "Anak Mama yang kaku seperti lampion ini bisa ngomong manis begitu?"

Adrian berdehem pelan, menutupi rasa salah tingkahnya seraya merangkul pinggang Nayla. "Kan kata Mama saya ini terlalu kaku... Jadi sekarang saya sedang belajar untuk bersikap lebih manis pada Nayla."

"Bagus itu! Lanjutkan terus, Mama suka banget dengarnya!" puji Bu Ratih antusias. "Oh iya, bukan cuma lulur! Mama juga bawakan makanan kesukaan kamu!"

Bu Ratih mengeluarkan sebuah wadah transparan berukuran besar. "Taraa! Mama bawakan pancake mangga segar! Tadi waktu di mall Mama lihat ini, langsung teringat sama kamu yang suka banget manis-manis."

Bu Ratih membuka wadah kue itu dengan bersemangat, menyendokkan sepotong pancake mangga yang lembut lalu mengarahkannya ke mulut Nayla. "Ayo buka mulutnya, Sayang! Gimana? Enak, kan?"

Nayla menerima suapan itu dengan binar mata bahagia. "Iya... enak banget, Ma. Terima kasih banyak..."

Saat Nayla mengunyah, sedikit krim putih dari pancake menempel di sudut bibir bawahnya. Tanpa rasa canggung sedikit pun, Bu Ratih mengambil selembar tisu dan mengusap sudut bibir menantunya itu dengan sangat lembut, lalu menyuapinya sekali lagi.

"Aduh, anak Mama yang cantik..." bisik Bu Ratih menatap Nayla dengan pendar kasih sayang yang begitu tulus. "Mama itu sukaaaa banget kalau lihat kamu makan dengan lahap begini."

Jleb.

Hati kecil Nayla bergetar hebat. Ibu Ratih hanyalah ibu mertua yang baru dikenalnya satu tahun ini... namun wanita paruh baya ini mencintainya, memanjakannya, menyuapinya, dan menganggapnya sebagai putri kandungnya sendiri dengan ketulusan yang luar biasa.

Sementara itu... ibu kandungnya sendiri, wanita yang pernah mengandung dan melahirkannya, justru merasa malu memilikinya, mengatai fisiknya, dan membuangnya demi harta.

Perbandingan pahit itu meremukkan pertahanan batin Nayla. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya meluncur deras membasahi pipinya. Nayla menunduk, terisak pelan di hadapan mertuanya.

"Eh? Nayla? Sayang, kamu kenapa menangis?" kaget Bu Ratih panik, memeluk bahu menantunya.

Adrian yang tadinya tersenyum gembira melihat keakraban ibu dan istrinya, seketika menegak kaku. Raut wajah khawatir yang sangat dalam terpancar dari iris matanya.

Nayla mengusap air matanya cepat-cepat, berusaha mengumbar senyum manis di tengah isakannya. "N-tidak apa-apa, Ma... Nayla cuma... Nayla cuma terharu dan merasa sangat beruntung punya ibu mertua yang begitu baik dan menyayangi Nayla seperti Mama..."

Bu Ratih bernapas lega, mengusap kepala Nayla hangat. "Aduh, bikin Mama kaget saja! Ya tentu saja Mama sayang sama kamu, kamu kan anak Mama juga!"

Namun, Adrian yang berdiri di dekat mereka tidak puas dengan jawaban tersebut. Pria itu menatap istrinya tajam dan penuh selidik. Pria itu tahu betul... ada rahasia besar dan duka yang teramat dalam yang sedang disembunyikan Nayla darinya.

1
Ariany Sudjana
ciye pa bos cemburu nih... kenapa ga sekalian informasikan kalau Nayla itu istri bapak?
Yunie Silvia Putri
😄😄😄 orang bucin mah memang gitu Rio, cemburunya kadang suka kelewatan.....😄😄😄😍😍
Yunie Silvia Putri
🖒🖒🖒🖒.....
best suka ama ceritanya
❤❤
Yunie Silvia Putri
waaahhhh parah nih emak nya, malu dia punya anak bertubuh gendut....
Yunie Silvia Putri
wah bakalan ada yg bucin nih sama istri gemoy nya 😄😄😄
Yunie Silvia Putri
waahhh makin seru nihh, lanjut thor...
Yunie Silvia Putri
halo kk author baru mampir baca nih, suka ceritanya, tapi episode ini bacanya nangis terus...😢😢
Yunie Silvia Putri: kk author boleh tanya, kapan up bab selanjutnya uda gak sabar nunggu cerita selanjutnya, jangan lama2 ya up nya 😄😄😄
total 2 replies
Ariany Sudjana
yang pasti istri Adrian itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, bukan seperti kamu yang pelacur murahan 🤣🤣😂😂 maklum yah, mama kamu kan pelacur murahan, yang tega meninggalkan suami dan anaknya demi jadi istri konglomerat
Lisa
Sabar y Nayla..yg kuat y..
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Lisa
Aku mampir Kak
sunshine wings
Good story i like..
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ariany Sudjana
ciye yang mau dinner romantis 🤣🤣😂😂
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!