"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.
Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33
Hari ketiga dimulai dengan Ratri membawa dua pengacara.
Naira membawa hasil toksikologi.
Keduanya bertemu di ruang keluarga Anggraini, di bawah foto besar Sari Anggraini yang dulu pernah diturunkan, lalu dipasang lagi atas permintaan Surya. Wibowo tidak suka foto itu. Ia sudah tiga kali meminta staf melepasnya dengan alasan membuat suasana rumah tidak nyaman.
Naira tidak mengizinkan.
"Kamu melewati batas," kata Ratri sebelum duduk. "Memindahkan pasien tanpa persetujuan keluarga, mengambil sampel darah, membawa orang luar ke rumah ini."
"Eyang masih di kamarnya," jawab Naira. "Saya tidak memindahkan beliau."
"Kamu tahu maksud saya."
"Saya tahu. Anda marah karena obatnya ketahuan."
Pengacara Ratri mengangkat tangan. "Tuduhan itu serius."
Maya meletakkan berkas di meja. "Maka mari bicara serius. Dalam sampel darah Mirah Anggraini ditemukan jejak benzodiazepine dalam kadar yang tidak sesuai catatan pengobatan stroke. Ada juga senyawa sedatif yang tidak tercantum di daftar obat resmi."
Wibowo menatap Ratri.
Ratri tetap tegak. "Dokter Harun meresepkan untuk mencegah agitasi."
"Dokter Harun sudah kami hubungi," kata Naira. "Beliau mengaku terakhir memeriksa Eyang sembilan bulan lalu dan tidak pernah meresepkan obat itu."
Ratri terdiam.
Di sudut ruangan, Idris menunduk. Perawat muda bernama Lilis duduk di sampingnya, masih takut, tetapi kali ini tidak sendiri. Bagas berdiri dekat pintu, memastikan tidak ada yang menyeret saksi keluar seperti kemarin.
"Lilis," panggil Naira.
Perempuan muda itu mengangkat wajah.
"Katakan yang kamu dengar."
Ratri langsung berkata, "Staf rumah tidak berhak bicara urusan keluarga."
Lilis menggenggam ujung roknya. "Saya... saya cuma disuruh kasih obat malam."
"Oleh siapa?" tanya Maya.
Lilis menatap lantai. "Bu Ratri."
"Bohong," desis Ratri.
Lilis menangis. "Saya tidak tahu obat apa. Katanya vitamin tidur. Kalau Eyang bangun dan mulai panggil Bu Sari, saya disuruh tambah tetes."
Wibowo memukul meja. "Cukup!"
Naira menatapnya. "Kenapa cukup? Belum sampai bagian Eyang."
Ratri memucat.
Dari arah tangga, kursi roda muncul perlahan. Surya mendorongnya sendiri. Di kursi itu, Mirah Anggraini duduk dengan tubuh lemah, selimut menutupi pangkuannya, rambut putih disisir rapi.
Matanya terbuka.
Tidak setajam dulu.
Tetapi hidup.
Ruang keluarga menjadi sangat hening.
Ratri berdiri begitu cepat sampai kursinya terdorong. "Ibu..."
Mirah menatapnya lama.
"Jangan panggil aku Ibu kalau mulutmu dipakai menenggelamkan anakku."
Ratri seperti ditampar.
Naira berlutut di samping kursi roda. "Eyang, jangan dipaksakan."
Mirah mengangkat tangan gemetar dan menyentuh pipi Naira.
"Mirip Sari," bisiknya.
Dada Naira sakit.
Bukan karena luka.
Karena selama bertahun-tahun ia membayangkan keluarga ibunya sebagai rumah yang menolak. Ternyata di dalam rumah itu ada seseorang yang mungkin menunggunya sambil dibuat tidur.
"Namamu Naira?" tanya Mirah.
"Iya, Eyang."
"Sari menulis nama itu di surat terakhirnya."
Ratri langsung berkata, "Ibu masih bingung. Obatnya baru dihentikan."
Mirah menoleh perlahan. "Aku bingung ketika kalian bilang Sari menjual data. Aku bingung ketika kalian melarang aku membaca laporan asli. Aku bingung ketika setiap kali aku mau bicara, tubuhku dibuat berat."
Wibowo berdiri. "Bu Mirah, jangan bicara tanpa ingatan lengkap."
"Aku ingat wajahmu," kata Mirah. "Kamu yang membawa surat rapat palsu."
Wibowo diam.
Surya menatapnya dengan mata yang nyaris tanpa emosi. Justru karena itu, Wibowo tampak semakin takut.
Mirah meminta map dari Naira.
"Di sini?" tanyanya.
Naira mengangguk. "Ada berita acara pencoretan Ibu. Tanda tangan Eyang dipakai."
Mirah melihat lembar itu lama. Tangannya bergetar, tetapi bukan karena lemah saja. Amarah membuat garis mulutnya mengeras.
"Ini bukan tanda tanganku."
Ratri menutup mata.
Pengacara yang dibawanya saling pandang.
Maya langsung merekam pernyataan dengan izin lisan. "Ibu Mirah, apakah Dr. Sari Anggraini pernah Anda keluarkan dari keluarga dan yayasan?"
"Tidak."
"Apakah Anda pernah menyetujui pencabutan hak warisnya?"
"Tidak."
"Apakah Anda percaya Dr. Sari melakukan pelanggaran etik seperti yang diumumkan?"
Mirah menatap foto putrinya di dinding.
"Sari keras kepala. Kadang membuat orang tua pusing. Tapi dia tidak akan memalsukan data pasien. Dia lebih rela kehilangan nama daripada melukai orang sakit."
Naira menunduk.
Surya memejamkan mata sebentar.
Dimas berdiri di belakang pilar, tidak berani masuk lebih jauh. Ia datang untuk mengantar hasil lab tambahan dari RS Medika Mahendra. Ketika mendengar Mirah bicara, wajahnya seperti orang yang akhirnya sadar bahwa kesalahan masa lalu bukan sekadar salah paham rumah tangga.
Ia pernah menyebut ibu Naira perempuan bermasalah.
Ia pernah diam saat ibunya memakai kata itu untuk menghina Naira.
Dan sekarang perempuan tua yang hampir dibungkam itu mengatakan satu kalimat yang lebih kuat dari semua permintaan maaf.
Sari tidak bersalah.
Ratri mencoba duduk, tetapi lututnya lemas. "Ibu, saya melakukan semua demi menjaga yayasan. Kalau skandal itu terbuka, Anggraini hancur."
"Yang menghancurkan Anggraini bukan skandal," kata Mirah. "Yang menghancurkan adalah anak-anak yang takut kehilangan kursi."
Wibowo berkata cepat, "Bu Mirah, kita bisa bicarakan tanpa orang luar."
Mirah menatap Naira. "Dia bukan orang luar."
Kalimat itu jatuh seperti palu.
"Naira Salsabila Atmadja," ucap Mirah perlahan, "adalah cucuku. Anak sah Sari Anggraini. Darah Anggraini. Mulai hari ini, ia punya hak atas arsip ibunya, hak bicara di yayasan, dan hak duduk di meja keluarga."
Ratri berbisik, "Tidak bisa semudah itu."
Maya tersenyum kecil. "Secara hukum memang tidak semudah itu. Karena itu kami sudah siapkan proses notaris, pemulihan status ahli waris, dan pembekuan keputusan palsu."
Surya akhirnya bicara. "Saya tidak meminta kalian menyukai putri saya. Saya meminta kalian berhenti menghalangi sesuatu yang sejak awal miliknya."
Wibowo mengambil ponsel, mungkin hendak menghubungi seseorang. Bagas melangkah mendekat.
"Bapak mau telepon siapa?" tanyanya ramah.
Wibowo menurunkan ponsel.
Beberapa jam kemudian, berita itu keluar.
Bukan dari akun gosip. Bukan dari wartawan bayaran. Dari pernyataan resmi Yayasan Anggraini, ditandatangani Mirah Anggraini dan kuasa hukum keluarga.
Dr. Sari Anggraini tidak pernah dicabut dari keluarga.
Naira Salsabila Atmadja diakui sebagai ahli waris sah garis Sari Anggraini.
Keputusan administratif lama sedang diaudit.
Di apartemennya, Clara Larasati membaca berita itu sampai layar ponselnya gelap.
Dimas mengirim pesan kepadanya sejak pagi, tetapi ia tidak membalas.
Ia hanya menatap foto Naira yang berdiri di samping Mirah dan Surya. Tidak tersenyum lebar. Tidak menangis di depan kamera. Tenang, seperti semua pintu yang dulu ditutup untuknya akhirnya terbuka karena memang miliknya.
Clara melempar ponsel ke sofa.
"Kenapa selalu dia?"
Tidak ada yang menjawab.
Di meja, undangan lama dari Cakradinata Farma tergeletak. Nomor kontak di bawahnya pernah ia abaikan karena merasa masih bisa menang sendiri.
Malam itu, ia mengambil kartu itu lagi.
Jari-jarinya berhenti di atas layar.
Lalu ia mengetik satu pesan.
Saya mau bicara.
Balasan tidak langsung datang.
Clara menunggu dengan dada panas. Ia benci menunggu. Selama ini ia selalu membuat orang lain menunggu: pasien, perawat, Dimas, bahkan Bu Ratna yang dulu menganggapnya calon menantu sempurna. Menunggu membuatnya merasa tidak penting.
Lima menit kemudian, layar ponselnya menyala.
Besok pukul sepuluh. Jangan bawa Mahendra.
Clara membaca nama itu dan tertawa pelan.
Mahendra.
Dulu nama itu membuatnya merasa aman. Dimas akan datang ketika ia batuk sedikit lebih keras. Dimas akan meninggalkan Naira di bandara demi menjemputnya. Dimas akan membela setiap air matanya seolah itu bukti suci.
Sekarang Dimas hanya mengirim satu pesan.
Clara, berhenti sebelum kamu benar-benar hancur.
Ia melempar ponsel, lalu mengambilnya lagi. Bukan untuk membalas Dimas, tetapi untuk membuka foto Naira di berita.
"Kamu pikir kamu menang karena punya darah," bisiknya. "Aku hidup tanpa siapa pun membuka pintu. Aku yang membangun semuanya."
Tetapi suara itu terdengar kosong.
Karena bagian paling jujur dalam dirinya tahu, ia tidak membangun semuanya. Ia meminjam simpati. Ia mengambil ruang dari perempuan yang diam. Ia memakai cinta Dimas seperti kartu akses.
Clara menghapus pesan Dimas.
Besok ia akan bertemu Cakradinata.
Kalau dunia hanya menghormati nama besar, ia akan mencari nama yang lebih besar dari Anggraini.
Balasan tidak langsung datang.
Clara menunggu dengan dada panas. Ia benci menunggu. Selama ini ia selalu membuat orang lain menunggu: pasien, perawat, Dimas, bahkan Bu Ratna yang dulu menganggapnya calon menantu sempurna. Menunggu membuatnya merasa tidak penting.
Lima menit kemudian, layar ponselnya menyala.
Besok pukul sepuluh. Jangan bawa Mahendra.
Clara membaca nama itu dan tertawa pelan.
Mahendra.
Dulu nama itu membuatnya merasa aman. Dimas akan datang ketika ia batuk sedikit lebih keras. Dimas akan meninggalkan Naira di bandara demi menjemputnya. Dimas akan membela setiap air matanya seolah itu bukti suci.
Sekarang Dimas hanya mengirim satu pesan.
Clara, berhenti sebelum kamu benar-benar hancur.
Ia melempar ponsel, lalu mengambilnya lagi. Bukan untuk membalas Dimas, tetapi untuk membuka foto Naira di berita.
"Kamu pikir kamu menang karena punya darah," bisiknya. "Aku hidup tanpa siapa pun membuka pintu. Aku yang membangun semuanya."
Tetapi suara itu terdengar kosong.
Karena bagian paling jujur dalam dirinya tahu, ia tidak membangun semuanya. Ia meminjam simpati. Ia mengambil ruang dari perempuan yang diam. Ia memakai cinta Dimas seperti kartu akses.
Clara menghapus pesan Dimas.
Besok ia akan bertemu Cakradinata.
Kalau dunia hanya menghormati nama besar, ia akan mencari nama yang lebih besar dari Anggraini.