Dibuang ibu kandungku, disiksa keluarga tiriku. Tapi itu belum cukup...
Saat Lania beranjak dewasa, ia justru harus menggantikan kakak tirinya untuk menjadi tunangan pria yang tidak dikenalnya.
Penyiksaan itu terus berlanjut sampai Lania benar-benar menikahi pria itu. Karena sebuah kesalahpahaman, suaminya terus menyiksanya karena kebencian yang tidak seharusnya ia terima.
Sabar... sabar... sabar... hanya satu kata itu yang bisa menguatkan Lania dalam menjalani kehidupannya yang sangat keras.
Akankah kehidupan Lania menjadi lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Syarat Pernikahan
Lania dan sopir pribadi keluarga Jamiko membantu Daley masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu Lania tetap berdiri di samping mobil tersebut untuk menemani Daley.
"Kau pergilah... Aku butuh waktu sendiri," usir Daley.
"Jika aku tidak mau, bagaimana?" tanya Lania
Seketika Daley menutup pintu mobilnya membuat Lania menghela nafas panjang. Dengan penuh kesabaran Lania menunggu keluarganya. Beberapa menit kemudian, Aston Jamiko bersama Juanda dan Amel pun terlihat menghampiri mereka.
"Loh... dimana Ley?" tanya Aston.
"Ley seperti wanita yang sedang PMS, ia sangat sensitif dan sekarang ia bersemedi di dalam mobil, ia tidak mengizinkan aku untuk menemaninya," jawab Lania.
Sontak saja Aston Jamiko melepaskan tawanya.
"Hari ini kau sangat menyenangkan nak. Aku lebih menyukai sikapmu yang seperti ini, lebih ramah dibanding biasanya," ucap Aston.
Lania menyeringai namun tatapan Amel begitu tajam padanya, membuat Lania akhirnya menundukkan kepalanya karena takut.
"Tentu saja sangat berbeda, ia adalah putriku Lania. Apa aku sudah gila karena menyetujui ide gila istriku? Lania, maafkan papa karena menjadi ayah yang tak berdaya. Jika saja papa tidak melakukan kesalahan besar yang membuatmu ada di dunia ini, mungkin kau tidak akan menderita seperti ini," pikir Juanda sedih.
"Karena pembicaraan kita belum selesai, lebih baik kita lanjutkan saja di rumah keluarga Jamiko. Lisa, kau ikutlah mobil kami, biar ayah dan ibumu mengikuti kita dari belakang," pinta Aston.
"Tapi..."
"Tidak apa-apa nak, kami mengikuti mobil kalian. Kebetulan memang ada yang ingin kami bicarakan dengan kakek Jamiko," sahut Juanda.
Lania menatap wajah Amel yang sangat tidak menyukainya, namun wanita itu setuju jika Lania ikut bersama mobil Jamiko. Setelah sepakat, Juanda dan Amel pun meninggalkan mereka menuju mobilnya, sedangkan Lania segera mengetuk kaca mobil di belakangnya.
Seketika Daley membuka kaca mobil tersebut lalu menatap Lania dan kakeknya.
"Bukalah pintunya, aku ingin masuk," ucap Lania.
"Bukankah aku sudah bilang, aku tidak ingin diganggu. Kek... aku lelah ingin pulang," jawab Daley.
"Buka pintunya Ley, biarkan Lisa ikut dengan kita. Masih ada yang ingin dibicarakan dengan keluarga Furhet," kata Aston.
"Bukankah ia bisa naik mobil bersama orang tuanya," gerutu Daley.
Namun setelah ia menggerutu, ia tetap membukakan pintunya untuk Lania. Seketika Lania pun masuk ke dalam mobil tersebut, begitu juga dengan Aston yang ikut naik ke dalam mobil. Mereka pun segera berangkat bersama-sama menuju ke rumah besar Jamiko.
Sepanjang perjalanan, Daley menunjukkan sikap aslinya. Pria remaja itu sangat pendiam, beberapa kali Lania mengajaknya bicara pun, Daley hanya menjawab seadanya saja.
"Kek... apa tidak membosankan memiliki cucu seperti ini," ejek Lania.
Seketika Aston kembali terkekeh geli.
"Kau cerewet sekali," celetuk Daley.
"Begitulah Lisa, jika kau masuk ke dalam keluarga Jamiko, mungkin rasa bosanku akan menghilang," kata Aston.
"Kakek... berhentilah membelanya. Ia terlalu cerewet hari ini, tidak seperti Lisa yang biasanya," gerutu Daley.
Sontak saja Lania menjulurkan lidahnya, "lebih baik banyak bicara dari pada hidup seperti patung Liberty," ejeknya.
Aston kembali melepaskan tawanya, entah kenapa di acara pemakaman anak dan menantunya yang menyedihkan, justru Tuhan mengirimkan gadis yang bisa menghiburnya. Rasa sedih yang tadinya begitu mendalam pun terbayar sudah dengan ucapan ucapan gadis itu. Aston merasa inilah hikmah dari musibah yang sedang mereka alami.
Karena jarak tempat pemakaman keluarga tidak jauh dari kediaman keluarga Jamiko, mereka pun akhirnya sampai di rumah besar itu. Aston, sopir dan Lania keluar dari mobilnya. Sopir segera mengambil kursi roda Daley, saat sopir tersebut ingin membantunya turun dari mobil, seketika Daley menolaknya.
"Aku bisa sendiri," ucap Daley keras kepala.
Aston menghela nafas panjang seraya meninggalkan cucunya untuk menyambut kedatangan Juanda dan Amel. Sedangkan sopir dan Lania terus memperhatikan gerak-gerik Daley yang berusaha turun dari mobil itu.
"Kalian tinggalkan aku," bentak Daley.
Sopir tak berkata apapun, ia langsung meninggalkan Daley. Sedangkan Lania terus berdiri tegak di depannya.
"Dasar keras kepala," celetuk Lania.
"Kau dengar tidak, aku bilang tinggalkan aku...!" teriak Daley.
"Dengarkan aku Ley, orang sehat saja masih butuh bantuan orang lain. Apalagi..."
"Apalagi orang cacat sepertiku, itu maksudmu kan?" sergah Daley.
"Apa dengan keras kepala kau bisa langsung sembuh? Menjengkelkan sekali..." ucap Lania seraya meninggalkannya.
Daley menggertakkan giginya, ia berusaha sendiri namun masih juga kesulitan. Seketika Daley berteriak sambil memukul-mukul kedua kakinya. Pria remaja itu mengumpat begitu banyak karena kesal. Melihat dan mendengar Daley seperti itu, Aston justru melarang siapapun untuk mendekatinya. Pria tua itu justru mengajak keluarga Furhet masuk ke dalam rumah besarnya.
Lania menatap Daley dari kejauhan, namun ia juga tidak ingin mengganggunya. Ia pun mengikuti keluarganya masuk ke dalam rumah besar Jamiko dan meninggalkan Daley sendirian.
"Silahkan duduk, maaf atas sikap Daley. Ia masih butuh waktu untuk menerima keadaannya," ucap Aston.
"Kami sangat mengerti kek. Ia pasti sangat terpukul saat ini," jawab Juanda.
"Terima kasih atas pengertian kalian."
"Kapan kakek mengirimnya ke Amerika?" tanya Amel.
Aston menghela nafas panjang, "secepatnya jika Ley setuju. Saat ini ia masih tidak ingin meninggalkan negara ini."
"Aku tak tahu jika Ley ternyata keras kepala," celetuk Lania.
Aston menyeringai, "aku berharap kau bisa mengatasi sikap keras kepala itu nak."
"Aku akan berusaha kek," jawab Lania.
"Kakek... kami ingin memberi jawaban atas ucapan kakek saat di rumah sakit," ujar Juanda.
"Kami tidak perlu berbasa-basi lagi kek. Kami setuju untuk melanjutkan perjodohan ini. Kami setuju menyerahkan Lisa untuk menjadi istri Daley," sahut Amel.
"Ya Tuhan... inilah jawaban yang aku tunggu-tunggu. Terima kasih..."
"Tapi aku punya dua syarat yang harus dipenuhi," celetuk Amel.
"Dua syarat? Mah... apa yang kau lakukan?" tanya Juanda karena ia sebagai suaminya pun tidak tahu rencana istrinya.
"Tidak apa-apa Juan, biarkan istrimu berbicara," ujar Aston.
"Aku melakukan ini demi Lisa. Jadi begini kek, saham perusahaan yang kakek janjikan untuk Lisa sepertinya tidak cukup untuk menjamin kehidupannya kelak. Jadi syarat yang pertama, aku ingin Lisa mendapatkan 25% saham perusahaan Jamiko," pinta Amel.
Seketika Juanda terbelalak lebar, "mah... apa kau sudah gila? Kek... lupakan saja, sepertinya istriku sedang bercanda saja."
"Aku tidak bercanda. Hidup Lisa sebagai taruhan dalam perjanjian pernikahan ini."
"Mah..."
"Stop stop... kalian berhenti berdebat. Amel, aku tahu apa yang kau pikirkan. Jadi aku setuju dengan syarat pertamamu. Aku akan membuat perjanjian lewat pengacaraku untuk memberikan 25% saham perusahaan Jamiko pada Lisa," sergah Aston.
"Tapi kek... aku tak tahu jika istriku..."
"Juan... istrimu hanya mengkhawatirkan putri kalian. Aku sama sekali tidak keberatan atas masalah ini. Daley memiliki 40% saham perusahaan saat ini. Jika mereka menikah, maka kepemilikan saham keduanya sangat besar. Itu juga membuatku sangat tenang saat menyerahkan perusahaan Jamiko pada mereka. Jadi berhentilah untuk berdebat tentang masalah saham. Amel, apa syarat keduanya?"
Amel menyunggingkan senyumnya, "terima kasih kek atas pengertiannya. Untuk syarat yang kedua, ini menyangkut karir Lisa. Kakek tahu, Lisa adalah seorang publik figur yang sedang naik daun saat ini. Jika kabar pernikahannya menyebar, itu akan menghancurkan karirnya. Jadi syarat yang kedua adalah merahasiakan pernikahan mereka kelak. Aku ingin pernikahan ini dirahasiakan. Biarkan Lisa tetap melanjutkan karirnya di dunia hiburan, tapi saat kembali ke rumah ia tetap adalah istri Daley. Kakek mengerti maksudku, kan?"
Aston mengangguk-anggukkan kepalanya, "aku rasa dua syarat ini..."
"Kalian sungguh serakah," potong Daley seraya masuk dengan kursi rodanya, "aku sudah mendengar semua pembicaraan kalian. Sangat tidak masuk akal. Apa aku memaksa pernikahan ini? Lisa, kau memang ratu drama, kau berbicara begitu manis, kau membuat kakekku senang, tapi ternyata tujuanmu untuk ini. Kau pikir aku akan membiarkan kakekku dibodohi oleh keluarga kalian? Persetan dengan janji kakek, aku tidak akan menikah dengan wanita yang serakah seperti ini," imbuhnya penuh amarah.
"Ley... masuklah ke kamarmu. Kakek yang akan berbicara dengan mereka. Kau tak perlu ikut campur," kata Aston.
"Aku yang akan menikah, bagaimana aku tidak bisa ikut campur kek?"
"Lisa berniat mengorbankan dirinya untuk merawatmu. Apa dua syarat itu sangat berlebihan?" tanya Amel, "jika kalian tidak setuju, aku tidak akan memaksa. Papa, Lisa... lebih baik kita pulang sekarang," imbuhnya.
"Tunggu... Tenanglah Mel... Mbok Arsih... bawa Ley ke kamarnya," pinta Aston.
"Kek...!!!" teriak Daley tak terima.
Namun pelayan rumah Jamiko langsung mendorong kursi roda Daley meninggalkan ruang tamu walaupun anak remaja itu terus memberontak.
...****************...
Happy Reading All...
ngenes banget kamu Lisss nggak ada yang muasin 😄
harusnya minuminnya sekalian sama botol²nya tuh 😂
kasihan Lisa nungguin sampe karatan , eh yang di unboxing malah lania 🤣🤣🤣