Setiap hari aku difitnah mertuaku.
_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_
Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.
_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_
Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.
_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_
Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.
Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.
Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?
Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌
Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 Keluarga Ustazah Munah
Sore itu kebun mangga yang biasanya tenang tiba-tiba menjadi sangat ramai.
Satu minggu telah berlalu sejak sidang putusan itu. Alya kini sudah resmi menyandang status janda. Tapi status itu tidak membuatnya sedih, justru membuatnya semakin bersemangat menata hidup barunya. Setiap pagi ia menyiram kangkung dan bayamnya, mengaji bersama Nisa dan Raffi di teras rumah kecilnya, dan membantu Ustadzah Munah memasak di dapur besar.
Hari ini, Ustadzah Munah terlihat sangat sibuk dan sangat bahagia sejak pagi. Ia memasak ayam opor kesukaan anak-anaknya, membersihkan seluruh rumah besar, dan bahkan menyuruh Alya membantu menata ruang tamu.
"Bu, ada acara apa, Bu? Kok Ibu masak banyak sekali, Bu?" tanya Alya sambil membantu mengupas bawang di dapur.
Ustadzah Munah tersenyum dengan wajah yang berbinar-binar.
"Hari ini anak-anak Ibu pulang, Nak Alya. Mereka semua pulang dari kota, Nak. Sudah tiga bulan mereka tidak pulang, Nak. Ibu kangen sekali, Nak."
Alya ikut tersenyum senang.
"Alhamdulillah, Bu. Pasti Ibu senang sekali ya, Bu."
"Iya, Nak. Nanti Ibu kenalkan kamu sama anak-anak Ibu ya, Nak. Anggap saja mereka kakak-kakak kamu, Nak," ucap Ustadzah Munah dengan lembut.
Alya mengangguk. Ia merasa sedikit gugup karena akan bertemu dengan orang baru.
Menjelang ashar, suara mobil terdengar masuk ke halaman kebun mangga yang luas. Dua mobil berhenti di depan rumah besar.
Dari mobil pertama, keluar seorang perempuan cantik berjilbab panjang dengan dua anak kecil, itu adalah Mbak Zahra, anak pertama Ustadzah Munah yang sudah menikah dan tinggal di kota. Dari mobil kedua, keluar seorang laki-laki gagah memakai kemeja rapi, itu adalah Mas Fikri, anak kedua Ustadzah Munah yang bekerja sebagai dosen di kota. Dan yang terakhir keluar dari mobil kedua adalah seorang laki-laki muda yang masih sangat muda, memakai kaos putih sederhana dan celana jeans, wajahnya bersih, teduh, dan sangat tampan. Itu adalah Mas Ilham, anak bungsu Ustadzah Munah yang masih bujang, baru saja lulus kuliah S2 di luar negeri.
Mereka semua membawa banyak oleh-oleh dan langsung memeluk Ustadzah Munah dengan erat di halaman.
"Ibu! Kami pulang, Bu! Ibu sehat, Bu?" teriak Mbak Zahra sambil memeluk ibunya.
"Alhamdulillah Ibu sehat, Nak, Ibu sehat. Masuk, Nak, masuk." jawab Ustadzah Munah dengan air mata bahagia.
Saat mereka masuk ke dalam rumah besar sambil tertawa-tawa, langkah mereka tiba-tiba terhenti di ruang tamu.
Mereka terkejut karena di ruang tamu itu ada orang asing. Seorang perempuan muda cantik berjilbab cokelat muda sederhana sedang duduk di lantai sambil mengajari dua anak kecil yang lucu mengaji Iqro. Perempuan itu adalah Alya, dengan Nisa dan Raffi di sampingnya.
Anak-anak Ustadzah Munah saling bertatapan dengan bingung.
Mbak Zahra berbisik kepada ibunya dengan pelan.
"Ibu, siapa itu, Bu? Kok ada orang asing di rumah Ibu, Bu?"
Mas Fikri juga mengerutkan kening.
"Iya, Bu, siapa perempuan itu, Bu? Dan anak-anak kecil itu siapa, Bu?"
Ustadzah Munah tersenyum dan langsung menggandeng tangan Alya dengan penuh kasih sayang.
"Sini, Nak Alya, sini. Ibu kenalkan. Ini anak-anak Ibu. Ini Mbak Zahra anak pertama Ibu, ini Mas Fikri anak kedua Ibu, dan ini Mas Ilham anak bungsu Ibu," ucap Ustadzah Munah.
Lalu Ustadzah Munah menatap anak-anaknya.
"Nak Zahra, Nak Fikri, Nak Ilham, kenalkan, ini Alya, Nak. Dan ini Nisa dan Raffi, anak-anaknya. Mereka sekarang tinggal di rumah kecil di kebun belakang kita, Nak. Anggap saja mereka keluarga kita sendiri, Nak."
Alya berdiri dengan sopan dan menunduk dengan santun.
"Assalamualaikum, Mbak, Mas. Saya Alya, Mas. Maaf kalau saya mengganggu, Mbak, Mas," ucap Alya dengan suara yang lembut dan sangat santun.
Mbak Zahra dan Mas Fikri membalas salam Alya dengan ramah, tapi mereka masih terlihat bingung.
Mas Ilham, anak bungsu yang masih bujang itu, hanya diam menatap Alya dari jauh. Sejak pertama kali melihat Alya yang sedang mengajari anak-anaknya mengaji dengan penuh kesabaran, dengan gamis sederhana tapi wajahnya terlihat sangat teduh dan bersih, ada sesuatu yang bergetar di dalam hati Mas Ilham.
Alya dengan cepat pamit untuk kembali ke kebun karena merasa tidak enak mengganggu waktu kumpul keluarga Ustadzah Munah.
"Bu, Alya kembali ke kebun dulu ya, Bu, biar Ibu bisa ngobrol sama Mbak dan Mas," ucap Alya.
"Baik, Nak, nanti malam makan malam bersama ya, Nak," jawab Ustadzah Munah.
Setelah Alya dan kedua anaknya kembali ke rumah kecil di kebun, anak-anak Ustadzah Munah langsung mengerubungi ibunya di ruang tamu dengan penuh rasa penasaran.
"Ibu, siapa Alya itu, Bu? Kok Ibu bisa izinkan orang asing tinggal di kebun kita, Bu? Ibu tidak takut, Bu?" tanya Mbak Zahra dengan nada khawatir.
Ustadzah Munah menyuruh semua anaknya duduk melingkar, lalu ia mulai menceritakan dengan pelan dan penuh haru tentang bagaimana pertemuannya dengan Alya.
"Anak-anakku, dengarkan Ibu baik-baik ya. Alya itu bukan orang asing, Nak. Alya itu perempuan yang sangat baik dan sangat kuat, Nak."
Lalu Ustadzah Munah menceritakan semuanya dari awal. Bagaimana ia menemukan Alya yang sedang menangis di pinggir jalan kebun mangga sambil menggendong Nisa dan Raffi yang masih kecil dengan wajah pucat karena kelaparan. Bagaimana Alya diusir oleh mertuanya, Bu Ratna dan disakiti oleh suaminya karena difitnah dan dihina setiap hari. Bagaimana Alya tinggal di rumah kecilnya yang ada di kebun, tapi ia tidak pernah mengeluh, ia justru menanam kangkung dan bayam untuk menghidupi anak-anaknya. Bagaimana Alya berjuang sendirian mengurus sidang perceraian di Pengadilan Agama dengan hati yang mantap setelah istikharah tiga kali. Dan bagaimana Alya tetap memiliki akhlak yang mulia, ia tetap menjenguk mantan suaminya di puskesmas.
Semua anak Ustadzah Munah mendengarkan cerita itu dengan wajah yang terharu dan terdiam.
"Ya Allah, Bu, ternyata berat sekali hidup Mbak Alya itu, Bu," ucap Mbak Zahra sambil mengusap air matanya. "Tapi dia kuat sekali ya, Bu, masih bisa tersenyum dan mengajari anak-anaknya mengaji dengan sabar."
Mas Fikri mengangguk.
"Iya, Bu, saya salut sama Mbak Alya, Bu. Di zaman sekarang jarang ada perempuan sekuat dan setegar dia, Bu. Padahal dia kelihatannya masih muda, Bu."
Di antara mereka, Mas Ilham lah yang paling diam. Ia menunduk, tapi di dalam hatinya ada kekaguman yang sangat besar yang baru pertama kali ia rasakan kepada seorang perempuan.
Seumur hidupnya, Mas Ilham yang baru pulang dari luar negeri itu sering bertemu dengan perempuan-perempuan cantik, pintar, dan kaya di kampus. Tapi baru kali ini ia melihat perempuan yang kecantikannya bukan hanya di wajah, tapi di hati dan kepribadiannya.
Ia mengagumi cara Alya berbicara yang sangat santun dan lembut. Ia mengagumi cara Alya menunduk dengan sopan saat bertemu orang baru. Ia mengagumi kesabaran Alya mengajari Nisa dan Raffi mengaji dengan penuh kasih sayang meskipun hidupnya sendiri sedang sulit. Ia mengagumi keteguhan hati Alya yang tetap mantap berpisah demi kebahagiaan anak-anaknya, dan akhlak mulianya yang tetap menghormati ayah dari anak-anaknya.
"Masya Allah," gumam Mas Ilham pelan tanpa sadar.
Mbak Zahra yang duduk di sampingnya mendengar gumaman itu dan tersenyum menggoda.
"Kenapa, Ham? Kamu kagum ya sama Mbak Alya?"
Mas Ilham langsung tersipu dan wajahnya memerah.
"Eh, tidak, Mbak, tidak. Saya hanya kagum sama kepribadiannya, Mbak. Dia kuat sekali, Mbak."
Ustadzah Munah yang melihat tingkah laku anak bungsunya itu hanya tersenyum bijaksana. Sebagai seorang ibu, ia tahu persis tatapan seperti apa yang ditunjukkan oleh anak bungsunya itu. Itu adalah tatapan kagum yang tulus, bukan tatapan kasihan.
Malam itu, saat makan malam bersama di rumah besar, Alya diundang untuk makan bersama. Ia datang dengan Nisa dan Raffi dengan pakaian yang sederhana tapi bersih. Ia duduk dengan sangat sopan di ujung meja.
Mas Ilham yang duduk di seberangnya sesekali mencuri pandang ke arah Alya yang sedang menyuapi Raffi dengan penuh kesabaran. Setiap kali Alya tersenyum kepada anaknya, hati Mas Ilham terasa hangat.
Di dalam hatinya, Mas Ilham berkata pelan.
"Perempuan seperti inilah yang seharusnya dijaga dan dibahagiakan. Bukan dihina dan disakiti."
Malam itu menjadi awal yang baru. Bukan hanya awal hidup baru bagi Alya yang sudah resmi bercerai, tapi juga awal benih kekaguman yang tumbuh di hati seorang laki-laki bujang yang sholeh, anak bungsu Ustadzah Munah, kepada seorang janda muda yang kuat dan santun yang tinggal di kebun mangga.
Bersambung....