Di mata masyarakat, keluarga Valerius adalah keluarga pengusaha terpandang dan salah satu keluarga terkaya di kota. Namun di balik kemewahan mansion mereka, keluarga Valerius merupakan salah satu keluarga mafia paling berkuasa dan ditakuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mona28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UNDANGAN MENUJU BUKIT ARVANTIS
Pukul sembilan pagi, mansion Valerius telah berubah menjadi pusat penyelidikan.
Beberapa penjaga berjaga di depan gerbang, tim keamanan memeriksa rekaman kamera yang rusak akibat serangan semalam, sementara Kian menguasai ruang kendali untuk melacak pengirim pesan misterius yang meminta Aren datang ke Bukit Arvantis seorang diri.
Di ruang kerja utama, Raka berdiri di depan jendela besar dengan kedua tangan masuk ke saku celananya. Tatapannya tertuju pada taman yang sebagian rusak akibat ledakan. Wajahnya dingin seperti biasa, tetapi orang-orang yang mengenalnya dengan baik pasti menyadari bahwa ia sedang menahan kemarahan.
Seseorang telah berani menyerang rumahnya.
Lebih buruk lagi, orang itu secara terang-terangan mengincar adik bungsunya.
Raka tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi lagi.
“Bagaimana perkembangan penyelidikan?” tanyanya tanpa menoleh.
Kian yang duduk di depan tiga monitor langsung menjawab, “Aku sudah memeriksa jalur pesan yang masuk pagi ini. Pengirimnya cukup pintar. Dia menggunakan beberapa server perantara dan menghapus sebagian besar jejak digitalnya.”
“Bisa dilacak?”
“Bisa, tetapi membutuhkan waktu. Ada satu hal aneh yang kutemukan.”
Raka berbalik.
“Apa?”
“Pesan itu bukan dikirim dari jaringan yang baru dibuat. Perangkat pengirimnya pernah terhubung dengan sistem komunikasi lama keluarga Valerius.”
Darren, yang sedang membaca laporan keuangan di sofa, langsung mengangkat kepala.
“Sistem komunikasi lama yang mana?”
“Jaringan pribadi yang digunakan Ayah dan Kakek sebelum tragedi tujuh belas tahun lalu.”
Suasana ruang kerja berubah hening.
Raka berjalan mendekati meja Kian.
“Apakah jaringan itu masih aktif?”
“Seharusnya tidak. Server utamanya sudah dinonaktifkan bertahun-tahun lalu. Namun, seseorang baru saja mengakses salah satu titik cadangannya.”
Darren menutup berkas di tangannya.
“Jadi, pengirim pesan itu memiliki akses ke sistem yang bahkan sebagian besar anggota keluarga kita tidak mengetahuinya.”
“Benar.”
Raka menatap layar selama beberapa detik sebelum memberikan perintah.
“Cari tahu siapa yang masih memiliki akses. Periksa arsip lama, catatan pegawai, dan semua perangkat yang pernah terdaftar. Aku ingin nama, bukan dugaan.”
Kian mengangguk.
“Dimengerti.”
Pintu ruang kerja terbuka.
Aren masuk dengan mengenakan kaus putih dan celana panjang hitam. Rambutnya sedikit berantakan, seolah ia baru saja bangun tidur. Di tangannya terdapat sebuah buku catatan kecil yang sejak pagi tidak pernah ia lepaskan.
Di belakangnya, Riven berjalan sambil membawa sekotak makanan ringan.
“Lihat siapa yang akhirnya bangun,” goda Riven. “Putra Mahkota Ravencroft sudah siap menghadapi dunia?”
Aren menoleh kesal.
“Kakak bisa tidak berhenti memanggilku begitu?”
“Tidak bisa. Gelar itu terlalu bagus untuk dilewatkan.”
“Aku akan mengganti nama Kakak menjadi Kakak Paling Menyebalkan.”
“Wah, akhirnya adikku punya selera humor.”
Aren mendengus dan berjalan menuju sofa.
Raka menghela napas.
“Riven, berhenti mengganggunya.”
“Baik, Bos.”
Riven menjatuhkan diri di samping Aren, lalu menyodorkan sekotak makanan ringan.
“Makan.”
“Aku sudah sarapan.”
“Ini bukan sarapan. Ini persediaan darurat.”
“Persediaan darurat untuk apa?”
“Untuk menghadapi kakak-kakakmu yang menyebalkan.”
Aren akhirnya tertawa kecil.
Darren menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya. Namun, senyum tipis di wajahnya segera menghilang ketika Aren mengeluarkan buku catatan yang dibawanya.
“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan,” kata Aren.
Raka langsung memusatkan perhatian kepadanya.
“Apa itu?”
Aren membuka halaman pertama. Di sana terdapat beberapa pertanyaan yang ia tulis sejak malam sebelumnya.
“Kalau aku benar-benar pewaris keluarga Ravencroft, apakah ada kemungkinan seseorang ingin menggunakan aku untuk mengambil alih sesuatu?”
Kian berhenti mengetik.
Darren meletakkan berkasnya.
Riven tidak lagi tersenyum.
Aren melanjutkan, “Mereka menyebut gelang ini. Mereka menyebut Proyek Serigala Hitam. Mereka bahkan memiliki fotoku ketika masih bayi. Aku ingin tahu kenapa semua itu begitu penting.”
Raka duduk di kursi di hadapannya.
“Itu pertanyaan yang masuk akal.”
“Lalu, kenapa semua orang terus menyuruhku bersembunyi?”
“Karena kami belum mengetahui seberapa besar bahayanya,” jawab Raka. “Kalau kami mengizinkanmu pergi tanpa perlindungan, kami mempertaruhkan nyawamu berdasarkan informasi yang belum lengkap.”
“Aku tidak meminta kalian membiarkanku pergi sendirian.”
Aren menatap kakak tertuanya dengan sungguh-sungguh.
“Aku hanya ingin dilibatkan. Ini juga tentang hidupku.”
Kalimat itu membuat Raka terdiam.
Selama bertahun-tahun, ia terbiasa mengambil keputusan untuk seluruh keluarga. Sebagai anak tertua, ia selalu merasa bertanggung jawab memastikan bahwa semua orang berada dalam keadaan aman. Ketika Aren diadopsi, tanggung jawab itu bertambah besar.
Aren adalah adik bungsu yang harus dilindungi.
Namun, Raka mulai menyadari bahwa melindungi Aren tidak berarti menyembunyikan seluruh kebenaran darinya.
“Kamu benar,” katanya akhirnya. “Mulai sekarang, selama informasi itu berkaitan langsung dengan keselamatanmu, kamu berhak mengetahuinya.”
Aren mengembuskan napas lega.
“Tapi,” lanjut Raka, “kamu tetap tidak boleh bertindak gegabah. Kita akan menyelidiki Bukit Arvantis bersama-sama. Tidak ada yang pergi sendirian, dan tidak ada yang mengambil risiko tanpa persetujuan tim.”
Riven mengangkat tangan.
“Aku setuju, asalkan aku yang paling dekat dengan Aren.”
“Kenapa harus kamu?” protes Darren.
“Karena aku paling cocok menjadi pengawal pribadi adik kita.”
“Kamu lebih cocok membuat keributan,” sahut Kian.
“Setidaknya aku tidak berbicara dengan komputer sepanjang hari.”
“Komputer lebih mudah diajak bekerja sama daripada kamu.”
“Ulangi.”
“Kalian berdua berhenti,” potong Leon yang baru memasuki ruangan.
Ia membawa sebuah nampan berisi minuman dan obat-obatan untuk para penjaga yang sedang beristirahat.
“Baru sepuluh menit aku meninggalkan ruangan ini, kalian sudah mulai berdebat.”
Aren tertawa kecil.
Untuk sesaat, ia merasa semuanya kembali normal.
Namun, di balik kehangatan itu, pesan dari Bukit Arvantis tetap menunggu jawaban.
Dan tidak seorang pun tahu apa yang akan mereka temukan di sana.
Menjelang siang, Viktor meminta izin berbicara dengan Aren secara pribadi.
Mereka duduk di ruang baca mansion, sebuah ruangan luas dengan rak buku tinggi yang memenuhi hampir seluruh dinding. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar, menerangi debu tipis yang melayang di udara.
Viktor meletakkan sebuah kotak kayu kecil di atas meja.
“Aku seharusnya memberikan ini kepadamu sejak awal,” katanya.
Aren menatap kotak itu.
“Apa isinya?”
“Barang-barang milik ibumu yang berhasil kuselamatkan setelah kediaman Ravencroft diserang.”
Aren membuka kotak tersebut dengan hati-hati.
Di dalamnya terdapat sebuah foto Elena Ravencroft, sebuah liontin berbentuk bulan sabit, dan selembar kertas yang dilipat beberapa kali.
Ketika melihat foto itu, Aren terdiam.
Elena tampak masih sangat muda. Rambutnya panjang, wajahnya lembut, dan senyumnya begitu hangat. Ia menggendong seorang bayi yang mengenakan pakaian putih.
Aren menyentuh permukaan foto dengan ujung jarinya.
“Dia cantik sekali.”
“Dia juga sangat berani,” jawab Viktor. “Jauh lebih berani daripada yang dibayangkan banyak orang.”
“Apakah dia menyayangiku?”
Pertanyaan itu keluar begitu pelan hingga Viktor hampir tidak mendengarnya.
Lelaki itu terdiam beberapa saat sebelum menjawab.
“Dia menyayangimu lebih daripada apa pun.”
Aren menunduk. Matanya terasa panas.
“Kalau begitu, kenapa dia meninggalkanku?”
“Karena saat itu, keberadaanmu membuatmu menjadi sasaran. Elena percaya bahwa menjauhkanmu dari keluarga Ravencroft adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkanmu.”
“Tapi dia bisa saja membawaku pergi bersamanya.”
“Dia mencoba.”
Viktor membuka kertas yang terlipat tersebut.
“Beberapa minggu sebelum serangan terakhir, Elena mengatur rencana untuk meninggalkan kota bersama seseorang yang dapat dipercaya. Namun, rencana itu bocor. Dia menyadari bahwa ada orang di dalam lingkaran terdekatnya yang melaporkan setiap gerakannya kepada organisasi Serigala Hitam.”
Aren menggenggam liontin bulan sabit.
“Siapa orang itu?”
“Aku tidak tahu. Elena tidak pernah menyebutkan namanya kepadaku. Dia hanya mengatakan bahwa pengkhianat itu memiliki akses ke tempat penyimpanan dokumen rahasia keluarga.”
“Apakah itu alasan dia memberikan gelang ini kepadaku?”
Viktor mengangguk.
“Gelang serigala bukan sekadar perhiasan. Menurut Elena, lambang itu berkaitan dengan sesuatu yang disembunyikan oleh kedua keluarga. Sesuatu yang tidak boleh jatuh ke tangan organisasi tersebut.”
Aren melepas gelang hitamnya sejenak dan memeriksanya dengan lebih teliti.
Selama ini, gelang itu terlihat sederhana. Tali hitam yang kokoh dengan sebuah ornamen kecil berbentuk kepala serigala. Tidak ada permata, tidak ada tulisan mencolok, dan tidak ada sesuatu yang tampak istimewa.
Namun, kini ia melihat sebuah garis tipis di bagian belakang ornamen tersebut.
“Kak Viktor, lihat ini.”
Viktor mengambil gelang itu dan mendekatkannya ke cahaya.
Wajahnya berubah.
“Dari mana kamu mendapatkan gelang ini?”
“Sudah ada sejak aku masih kecil. Kata Ayah Adrian, gelang itu ditemukan bersama barang-barang yang dibawa ketika aku diadopsi.”
Viktor membalik ornamen tersebut.
Di bagian belakang kepala serigala, terdapat ukiran kecil berupa tiga huruf.
A.R.V.
Aren mengerutkan kening.
“Apa artinya?”
Viktor tidak segera menjawab.
Ia mengeluarkan ponsel, membuka sebuah foto lama, lalu meletakkannya di atas meja. Foto itu memperlihatkan sebuah pintu besi dengan lambang serigala di bagian tengah.
Di bawah lambang tersebut terdapat tiga huruf yang sama.
A.R.V.
“Ini adalah pintu ruang arsip pribadi keluarga Ravencroft,” kata Viktor. “Aku pernah melihat lambang itu bertahun-tahun lalu.”
“Apakah pintu itu masih ada?”
“Seharusnya ada. Ruang arsip itu terletak di bawah rumah tua Bukit Arvantis.”
Aren menatapnya dengan mata membesar.
“Jadi, pesan yang meminta kami datang ke sana…”
“Mungkin bukan sekadar jebakan.” Viktor menyimpan kembali ponselnya. “Bisa jadi seseorang ingin kamu membuka sesuatu yang hanya bisa dibuka dengan gelang itu.”
Aren kembali menatap gelang di tangannya.
Seseorang telah mengirim pesan khusus kepadanya. Seseorang mengetahui bahwa gelang itu masih berada dalam kepemilikannya.
Dan seseorang tahu bahwa keluarga Valerius akan berusaha melindunginya.
Sebelum Aren sempat mengajukan pertanyaan lain, pintu ruang baca terbuka.
Raka berdiri di ambang pintu.
“Aren, Ayah ingin bertemu dengan kita.”
Tatapannya kemudian beralih kepada Viktor.
“Ada perkembangan baru. Kita harus membicarakannya sekarang.”
Pukul empat sore, seluruh keluarga Valerius berkumpul di ruang rapat pribadi.
Adrian berdiri di depan layar besar yang menampilkan denah Bukit Arvantis. Bangunan tua itu berada jauh dari pusat kota, dikelilingi pepohonan dan jalan sempit yang jarang dilewati kendaraan.
“Tim pengintai telah memeriksa lokasi dari kejauhan,” jelas Adrian. “Rumah tersebut tampak kosong, tetapi ada kendaraan yang beberapa kali terlihat di sekitar area dalam dua hari terakhir.”
Darren menyilangkan tangan.
“Berarti ada seseorang yang menggunakan tempat itu.”
“Atau sengaja ingin kita berpikir demikian,” tambah Kian.
Raka menunjuk bagian belakang bangunan.
“Apakah ada akses lain?”
“Dua,” jawab Kian. “Jalur utama di depan dan jalan servis di sebelah barat. Ada juga terowongan tua di bawah bukit, tetapi sebagian besar aksesnya tertutup.”
Leon memandang denah itu dengan serius.
“Kalau kita pergi, aku ingin tim medis ikut. Kita tidak tahu apa yang menunggu di sana.”
“Setuju,” jawab Adrian.
Riven menarik kursi Aren agar adiknya duduk di sampingnya.
“Kamu tetap bersama kami. Jangan mendekati ruangan mana pun tanpa memberi tahu salah satu dari kami.”
Aren mengangguk.
“Aku mengerti.”
Raka menatap seluruh anggota keluarga.
“Kita tidak akan mengikuti instruksi pengirim pesan secara harfiah. Kita datang dengan persiapan, memeriksa lokasi, dan mencari tahu siapa yang berada di balik undangan ini. Jika situasi berubah berbahaya, kita mundur.”
“Bagaimana kalau mereka menolak menunjukkan diri?” tanya Aren.
“Kita tidak memaksakan pertemuan,” jawab Raka. “Kita mencari bukti yang bisa kita verifikasi.”
Adrian mematikan layar.
“Keberangkatan pukul sembilan malam. Kita akan membawa tim keamanan secukupnya, tetapi tidak membuat rombongan terlalu mencolok. Kalian semua bersiap.”
Rapat berakhir, tetapi tidak seorang pun langsung meninggalkan ruangan.
Aren menatap gelang serigalanya sekali lagi.
Malam ini, ia mungkin akan menemukan jawaban tentang ibunya. Mungkin juga tentang ayah kandungnya, tentang Proyek Serigala Hitam, dan tentang alasan kedua keluarga pernah saling membenci.
Namun, ada satu hal yang membuatnya lebih takut daripada semua misteri itu.
Bagaimana jika kebenaran yang ditemukan nanti akan mengubah cara ia memandang keluarga yang sekarang dicintainya?
Riven seolah menyadari perubahan ekspresinya.
Ia menyenggol bahu Aren pelan.
“Jangan memasang wajah seperti itu.”
“Wajah seperti apa?”
“Wajah orang yang sedang memikirkan seribu masalah sekaligus.”
“Aku memang sedang memikirkan seribu masalah.”
“Kalau begitu, serahkan sembilan ratus sembilan puluh sembilan kepada kami.”
Aren menatapnya heran.
“Terus satu sisanya?”
“Untuk memikirkan makanan apa yang akan kita beli setelah pulang.”
Aren tertawa tanpa bisa menahannya.
“Dasar Kakak bodoh.”
“Bodoh, tetapi tampan.”
“Siapa yang bilang?”
“Aku sendiri.”
Darren yang mendengar percakapan mereka hanya bisa menggeleng.
“Benar-benar tidak ada harapan.”
Pukul sembilan malam, dua kendaraan hitam meninggalkan mansion Valerius.
Aren duduk di kursi tengah mobil pertama, diapit oleh Riven dan Leon. Raka duduk di depan bersama pengemudi, sedangkan Darren dan Kian berada di kendaraan kedua bersama tim keamanan.
Di luar jendela, lampu-lampu kota Arvantis perlahan menghilang, digantikan jalanan gelap yang diapit pepohonan tinggi.
Tidak ada yang banyak bicara.
Aren memegang gelang serigala di pergelangan tangannya. Sesekali ia memeriksa liontin bulan sabit milik ibunya yang kini ia simpan di saku jaket.
“Kamu gugup?” tanya Leon.
“Sedikit.”
“Kalau merasa tidak nyaman, katakan kepada kami.”
Aren mengangguk.
Riven meliriknya.
“Kalau ada orang aneh muncul, kamu langsung bersembunyi di belakangku.”
“Kak, kalau semua hal harus bersembunyi di belakang Kakak, kapan aku bisa belajar menghadapi masalah sendiri?”
Riven tersenyum miring.
“Setelah kakakmu memastikan masalahnya tidak bisa menggigitmu.”
Aren menggeleng, tetapi senyum kecil muncul di bibirnya.
Beberapa menit kemudian, mobil mulai melambat.
Rumah tua Bukit Arvantis terlihat di balik pepohonan. Bangunan itu jauh lebih besar daripada yang dibayangkan Aren. Dindingnya tampak kusam, sebagian jendelanya tertutup papan, dan halaman depannya dipenuhi rumput liar.
Namun, satu hal terasa janggal.
Sebuah lampu menyala di jendela lantai dua.
Seseorang berada di dalam.
Kendaraan berhenti beberapa puluh meter dari gerbang.
Raka turun lebih dahulu, diikuti anggota tim keamanan. Ia memeriksa keadaan sekitar sebelum memberi isyarat kepada yang lain untuk mendekat.
Aren turun dari mobil bersama Riven dan Leon.
Angin malam menyapu wajahnya. Udara terasa dingin, tetapi telapak tangannya justru berkeringat.
Di gerbang, mereka menemukan sebuah amplop putih yang diselipkan di antara jeruji besi.
Raka mengambilnya dengan hati-hati dan membuka bagian depannya.
Di dalamnya terdapat secarik kertas.
Selamat datang, Aren Ravencroft.
Di bawah kalimat tersebut tertulis pesan lain.
Jika ingin mengetahui siapa yang mengkhianati kedua keluarga, masuklah ke ruang arsip. Datanglah dengan gelangmu. Jawabannya menunggumu di balik pintu serigala.
Riven langsung meraih kertas itu.
“Tidak. Kita tidak masuk hanya karena seseorang menyuruh kita.”
Kian, yang baru saja tiba bersama Darren, memeriksa amplop tersebut.
“Tidak ada perangkat pelacak yang terlihat. Tapi kita tetap harus berhati-hati.”
Raka menatap bangunan tua itu.
“Tim keamanan, periksa bagian luar. Kian, pastikan tidak ada sinyal mencurigakan. Kita tidak akan bergerak sebelum mengetahui kondisi lokasi.”
Aren memandang jendela lantai dua.
Di balik kaca yang kotor, ia merasa melihat bayangan seseorang berdiri diam.
Sosok itu mengangkat satu tangan, seolah memberi isyarat kepadanya.
Lalu lampu di jendela padam.
“Ada seseorang di dalam,” bisik Aren.
Raka langsung menoleh ke arah jendela.
“Semua tetap di tempat.”
Namun, sebelum tim keamanan sempat mendekat, pintu utama rumah tua itu terbuka perlahan dengan suara derit panjang.
Tidak ada seorang pun di baliknya.
Hanya kegelapan dan lorong panjang yang membentang ke dalam bangunan.
Kemudian, dari dalam rumah, terdengar suara seorang pria.
“Akhirnya kau datang, Aren.”
Suara itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Sudah lama sekali aku menunggumu.”
Aren merasakan seluruh tubuhnya menegang.
Ia belum pernah mendengar suara itu sebelumnya.
Namun, entah mengapa, saat pria tersebut menyebut namanya, ada perasaan aneh yang muncul di dalam dadanya. Perasaan seolah-olah suara itu pernah menjadi bagian dari masa lalunya yang terlupakan.
Raka mengangkat tangannya, memberi isyarat agar semua orang tetap waspada.
“Siapa kau?” serunya ke arah pintu.
Tidak ada jawaban selama beberapa detik.
Kemudian pria itu berkata, dengan suara yang terdengar semakin dekat.
“Tanyakan kepada Adrian Valerius siapa yang sebenarnya menyelamatkanmu pada malam keluarga Ravencroft dihancurkan.”
Aren perlahan menoleh kepada ayah angkatnya.
Adrian berdiri membeku.
Wajahnya kehilangan warna.
Dan untuk pertama kalinya sejak Aren mengenalnya, Adrian Valerius tampak benar-benar ketakutan.