Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.
“Kenapa harus suamiku, Bu?!”
Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.
Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERMINTAAN TERAKHIR OMA RIMA.
Setelah prosesi ijab kabul selesai, suasana rumah yang semula dipenuhi suara warga perlahan kembali tenang.
Yulia berjalan menuju kamar bersama Damar. Begitu pintu tertutup, ia mengembuskan napas panjang, berusaha menenangkan dirinya setelah kejadian yang sama sekali tidak pernah dibayangkannya.
Kini, ia dan Damar telah resmi menikah secara agama di hadapan para saksi.
“Damar, kita sudah menikah sekarang. Tapi, kamu dan Nafisa belum bercerai.”
Damar meliriknya sekilas, kemudian duduk di sampingnya.
“Tunggu saja,” jawabnya singkat.
Yulia menghela napas. Ia meremas jemarinya sendiri, mencoba mengusir kegelisahan yang sejak tadi belum juga hilang.
“Kira-kira, kalau Nafisa tahu bagaimana, ya?”
“Biarkan saja kalau dia tahu. Itu justru bagus.”
Yulia menoleh cepat. “Tapi, kalian belum bercerai, Dam.”
Damar mengembuskan napas, lalu meraih tangan Yulia untuk menenangkannya.
“Tapi, aku sudah tanda tangan surat cerai, Sayang. Jadi, kita gak ada apa-apa lagi. Tinggal tunggu prosesnya selesai.” Ia mengusap punggung tangan Yulia sebelum melanjutkan, “Sudah, jangan dipikirkan. Kalau rumah ini gak bisa dijual, aku akan menjual mobil untuk biaya hidup kita di desa.”
Yulia terdiam sejenak, mencerna perkataan pria itu. Ia masih khawatir tentang rumah yang ingin dijualnya, tetapi setidaknya Damar sudah memiliki rencana lain jika usaha mereka gagal.
Akhirnya, Yulia mengangguk pelan.
“Baiklah, Dam.”
...****************...
Beberapa hari setelah malam yang penuh kekacauan itu, akhirnya proses perceraian Nafisa dan Damar selesai. Setelah mengurus sejumlah dokumen di kantor catatan sipil, Nafisa keluar dari ruangan dengan membawa berkas perceraian yang kini resmi mengakhiri pernikahannya dengan pria tersebut.
Langkahnya terhenti ketika melihat seseorang berdiri tak jauh dari pintu gedung.
Ibunya, Yulia.
Wanita yang telah melahirkannya itu berdiri dengan perut yang mulai sedikit membesar.
Nafisa terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum tipis. Ia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan ibunya di tempat seperti ini.
Namun, Nafisa tidak berniat menghindar.
Ia justru melangkah mendekati ibunya. Tatapannya sempat turun ke arah perut wanita itu sebelum kembali menatap wajahnya.
“Selamat, ya, Bu. Atas pernikahannya malam itu.” Nafisa berusaha mempertahankan senyumnya.
“Kamu sudah tahu, Naf?”
Kening Ibunya tampak mengernyit.
Nafisa tersenyum tapi. “Iya, Bu. Dan sekarang Mas—”
Ia menghentikan ucapannya sesaat, lalu menggeleng kecil.
“Eh, maaf. Maksudku, Ayah Damar sudah menjadi suami Ibu.”
Bu Yulia terdiam, ekspresinya tampak tidak menyangka.
Nafisa kemudian mengangkat tangan dan menyentuh perut ibunya. Jemarinya mengusapnya perlahan, meskipun ada perasaan getir yang diam-diam mengendap di dalam dada.
Di balik perut yang mulai membesar itu, ada calon adik yang tidak pernah ia bayangkan akan hadir melalui pengkhianatan paling menyakitkan dalam hidupnya.
Nafisa mengangkat wajahnya. Ia menatap wanita yang telah melahirkannya, membesarkannya, sekaligus menghancurkan kebahagiaannya dengan cara yang tidak pernah ia sangka.
“Bu, soal rumah itu, aku tetap akan mempertahankannya.” Suaranya terdengar tenang, tetapi tegas. “Bagaimanapun juga, rumah itu menyimpan banyak sekali kenanganku bersama Ayah. Gak ada yang bisa menggantikannya, meskipun sekarang aku sudah punya rumah lain.”
Jemari Nafisa mengepal di sisi tubuhnya. Perlahan, Nafisa merentangkan kedua tangannya dan memeluk ibunya.
Nafisa memejamkan mata.
“Bu, terima kasih sudah membesarkanku,” bisiknya. “Terima kasih sudah bertahan hidup demi aku dan sudah melahirkanku ke dunia ini.”
Suaranya sedikit bergetar, tetapi Nafisa berusaha menyelesaikan kalimatnya tanpa menangis.
Ia tidak sedang berpura-pura bahwa semua yang terjadi tidak menyakitkan.
Beberapa saat kemudian, Nafisa melepaskan pelukan itu. Ia mundur selangkah, lalu menatap Yulia lekat-lekat.
“Aku maafin kesalahan Ibu.” Ia menarik napas dalam-dalam. “Aku doain Ibu dan pria ini bahagia selalu.”
Bu Yulia tampak membisu. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibirnya.
Nafisa perlahan mengalihkan pandangan kepada Damar. Kini, pria itu bukan lagi suaminya, ia menatapnya dengan sorot mata tajam.
“Kalau kamu sampai mengkhianati ibuku, coba saja.”
Damar mengernyit, tetapi Nafisa tidak memberinya kesempatan untuk menjawab.
Ia segera berbalik dan melangkah pergi dan tidak ingin mendengar alasan, pembelaan, ataupun janji apa pun dari pria tersebut.
Dari kejauhan, mobil Dewangga sudah terparkir tak jauh dari teras gedung. Nafisa mempercepat langkahnya menuju kendaraan itu, menggenggam berkas perceraian di tangannya.
Yulia masih berdiri di tempatnya, menatap punggung Nafisa yang semakin menjauh. Putrinya itu terus melangkah menuju mobil yang terparkir tak jauh dari teras gedung.
Hingga akhirnya Nafisa masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, kendaraan itu bergerak meninggalkan pelataran gedung, membawa putrinya pergi tanpa memberinya kesempatan untuk mengatakan apa pun.
Dirinya hanya bisa mengembuskan napas panjang ketika suara Damar menyadarkannya dari lamunan.
“Sayang.”
Yulia menoleh. “Ada apa, Dam?”
Damar mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menatap perempuan itu dengan raut serius.
“Ayo, kita bersiap-siap untuk pergi dari kota ini. Ayah sudah menerorku supaya segera pergi. Kalau gak, dia akan menyuruh orang untuk meneror kita.”
Yulia mengerjap, tak langsung memahami maksud perkataan pria itu.
“Meneror? Maksud kamu, Ayahmu sendiri?”
Damar mengangguk. “Iya. Dia gak mau aku tetap tinggal di sini. Katanya, kalau aku gak segera pergi, dia akan melakukan apa pun supaya kita angkat kaki dari kota ini.”
Yulia terdiam. Tidak pernah menyangka ayahnya Damar, yang juga merupakan ayah mertuanya, akan bertindak sejauh itu terhadap putranya sendiri.
Namun, setelah mempertimbangkan keadaan mereka, Yulia menatap suaminya.
“Ayo,” jawabnya akhirnya. “Ayko kita pergi.”
Ia kemudian melingkarkan tangan ke lengan Damar.
Di dalam mobil yang melaju.
Nafisa masih menatap akta cerai yang sejak tadi berada di tangannya.
“Kenapa?” tanya Dewangga sambil melirik sekilas ke arahnya.
Nafisa segera mengalihkan pandangan dari akta cerai itu. “Engga apa-apa, Pak.”
Dewangga tidak bertanya lebih lanjut.
Tiba-tiba, ponsel Dewangga berdering.
Pria itu melirik layar ponselnya sebelum memasang earphone di telinga. Nafisa hanya memperhatikannya sekilas, lalu kembali menatap ke luar jendela. Namun, suara Dewangga yang terdengar beberapa saat kemudian membuatnya menoleh.
“A-apa?!” seru Dewangga dengan nada terkejut.
Nafisa mengernyit. Ia berusaha menangkap percakapan pria di sampingnya, tetapi tidak bisa mendengar suara lawan bicara Dewangga dengan jelas.
“Lalu, bagaimana keadaan Oma, Jon?” tanya Dewangga lagi.
Nafisa langsung menegakkan punggungnya.
‘Oma? Ada apa dengan Oma Rima? Apa terjadi sesuatu?’
Jantungnya mulai berdebar. Ia tahu Oma Rima sedang dirawat di rumah sakit, tetapi mendengar nada suara Dewangga yang berubah membuatnya merasa cemas.
“Iya, iya. Saya akan segera ke sana,” ujar Dewangga sebelum mengakhiri panggilan.
Setelah sambungan terputus, suasana di dalam mobil mendadak hening. Dewangga melepas earphone-nya, lalu menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras.
Nafisa tak sanggup lagi menahan rasa penasarannya.
“Ada apa, Pak? Apa yang terjadi sama Oma?” tanyanya dengan suara cemas.
Dewangga menoleh sekilas. “Kata Jony, orang kepercayaan Oma, jantung Oma kambuh lagi.”
Deg!
Nafisa membelalakkan mata. Seketika, bayangan wajah ramah Oma Rima melintas di benaknya.
“A-apa?” Nafisa tergagap. Jemarinya perlahan meremas ujung rok yang dikenakannya. “Pak, cepat, Pak. Saya ingin melihat keadaan Oma Rima.”
Dewangga tidak menjawab. Ia segera mengalihkan perhatian kembali ke jalan dan menginjak pedal gas lebih dalam.
Mobil itu pun melaju lebih cepat membelah jalanan, sementara Nafisa terus menggenggam tangannya sendiri dengan gelisah.
. . .
Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai Dewangga akhirnya tiba di pelataran rumah sakit. Pria itu memarkirkan kendaraannya tepat di area parkir, lalu mematikan mesin.
Begitu mobil berhenti, Nafisa segera membuka pintu dan turun lebih dulu. Ia bahkan tidak menunggu Dewangga, melainkan langsung berjalan menuju pintu masuk rumah sakit dengan langkah terburu-buru.
Sejak mendengar kabar tentang kondisi Oma Rima di sepanjang perjalanan tadi, pikirannya tak pernah benar-benar tenang.
Tak lama kemudiang. Langkahnya terhenti ketika tiba di depan pintu ruangan tempat Oma Rima dirawat.
Nafisa berdiri mematung di sana. Tangannya terangkat hendak meraih gagang pintu, tetapi urung. Ia menelan ludah, berusaha mengumpulkan keberanian untuk masuk dan melihat keadaan perempuan yang kini begitu berarti baginya.
Namun, semakin ia mencoba menenangkan diri, semakin kuat pula rasa takut yang mencengkeram hatinya.
“Naf, kenapa tidak masuk?”
Suara Dewangga terdengar dari sampingnya.
Nafisa menoleh. Begitu melihat pria itu, matanya yang sejak tadi berusaha menahan air mata mulai berkaca-kaca.
“Pak, saya takut. Takut sekali,” ucapnya lirih.
Tanpa berpikir panjang, Nafisa melangkah mendekat lalu memeluk Dewangga erat. Ia membenamkan wajahnya di dada pria itu.
“Pak, saya bahkan belum bilang kalau kita sebenarnya gak punya hubungan apa-apa. Saya juga sudah membohongi Oma Rima, Pak.”
Ada rasa bersalah karena berpura-pura menjadi pasangan Dewangga demi menyenangkan Oma Rima memang bukan keputusannya seorang diri, tetapi tetap saja, ia merasa telah menyembunyikan kebenaran dari wanita yang begitu baik kepadanya.
Nafisa terdiam ketika merasakan kedua lengan Dewangga perlahan melingkari tubuhnya, membalas pelukan itu.
“Oma bakalan baik-baik saja, Naf,” ujar Dewangga dengan suara rendah, berusaha menenangkannya.
Nafisa memejamkan mata sejenak. Kehangatan pelukan itu membuatnya sedikit merasa tenang, meskipun rasa takut kehilangan Oma Rima masih belum juga menghilang.
Namun, beberapa detik kemudian, ia tersadar akan apa yang baru saja dilakukannya. Dengan gugup, Nafisa segera melepaskan pelukannya dan mundur selangkah, menciptakan jarak di antara mereka.
“Ma-maaf, Pak,” katanya sambil menundukkan kepala.
Dewangga hanya menatapnya sejenak sebelum mengalihkan pandangan ke pintu ruangan.
“Ayo, kita masuk.”
Nafisa mengangguk pelan.
Dewangga meraih gagang pintu, lalu mendorongnya perlahan. Setelah pria itu melangkah masuk, Nafisa menyusul dengan kepala tertunduk dan jantung yang berdebar semakin kencang.
Begitu berada di dalam ruangan, langkah Nafisa kembali melambat. Ia belum berani mengangkat wajah untuk melihat Oma Rima yang terbaring di ranjang rumah sakit. Pandangannya justru terpaku pada lantai, sementara tangannya bergerak meraih lengan Dewangga dan menggenggamnya erat.
Ia takut melihat keadaan Oma Rima. Takut jika perempuan itu ternyata jauh lebih buruk daripada yang ia bayangkan.
“Oma?!”
Suara Dewangga berhasil membuat dadanya berdegup. Matanya berkaca-kaca. Perlahan ia memberanikan diri untuk menatap wanita paruh baya itu untuk yang terakhir kalinya.
Terlihat, Oma Rima berbalik bahkan di kelilingi oleh dokter dan beberapa perawat. Ada Kalendra dan juga pria yang merupakan orang kepercayaan Oma Rima.
Ekspresi semua orang tampak sedih.
Air mata yang Nafisa tahan akhirnya luruh juga.
“OMAAAAA!
Nafisa lalu berlari dan memeluk tubuh wanita itu yang sedang berbaring.
“Jangan pergi, Oma.”
“Nafisa…”
Pandangan Nafisa terangkat dan menatap ke arah Oma Rima.
“Ini Nafisa Oma.”
“Oma ingin, kamu dan Wangga menikah.”
“A-apa?”
Lalu ia menatap ke arah Dewangga yang juga menatap ke arahnya.
“Di sini, sekarang juga,” lanjut Oma Rima. “Sebelum Oma gak ada.”
“Jangan begitu, Oma. Oma pasti bakalan sehat,” ujar Nafisa.
“Maaf, sepertinya kalian harus mengikuti permintaan Nyonya besar.”
Nafisa dan Dewangga sama-sama menoleh ke arah Jony. Hingga akhir dirinya dan Dewangga menoleh dan menatap satu sama lain.
“Baiklah, kita menikah sekarang juga.”
Dada Nafisa berdebar mendengar keputusan Dewangga.
“A-apa?”
sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.