NovelToon NovelToon
Istri Gendut Yang Diceraikan

Istri Gendut Yang Diceraikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Dendam Kesumat / Cewek Gendut
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.

Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.

Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.

Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.

Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...

“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lima Menit Lagi

#Ayam jantan tetangga baru berkokok dua kali ketika Danti membuka mata.

Langit di balik tirai masih kelabu. Di sampingnya, Rizal tidur telentang dengan satu lengan terlempar ke atas bantal. Napasnya dalam dan teratur, seperti lelaki yang tak punya satu pun beban di dunia ini.

Danti menatap langit-langit kamar beberapa detik. Matanya masih terasa berat dan bengkak, sisa tangis semalam. Tapi ia tahu satu hal, pagi tidak pernah menunggu perempuan yang sedang patah hati.

Pelan-pelan ia bangkit, mengikat rambut, lalu membuka lemari. Kemeja putih untuk Rizal. Celana bahan abu-abu. Dasi biru garis tipis, yang kata Rizal membuatnya terlihat berwibawa di depan klien. Ia menyetrika ulang kerahnya yang sedikit kusut, menggantungnya rapi di pintu lemari, lalu menyelipkan kaus kaki di atas sepatu.

Semuanya siap. Seperti setiap pagi.

"Mas," bisiknya sambil menggoyang bahu suaminya. "Mas, bangun. Sudah setengah enam."

Tak ada reaksi.

"Mas Rizal. Nanti telat lho."

Rizal mengerang, menarik selimut sampai ke dagu, lalu bergumam tanpa membuka mata, "Lima menit lagi..."

Danti menghela napas. "Beneran lima menit ya, Mas."

"Hmm."

Ia menunggu sebentar, memastikan lelaki itu tak tertidur lagi. Rizal hanya mendengkur pelan. Danti menyerah, lalu keluar kamar menuju dapur.

---

Dapur adalah satu-satunya tempat di rumah itu yang membuat Danti merasa utuh.

Minyak mendesis di wajan. Bawang putih dan bawang merah yang ditumis menyebarkan harum yang menghangatkan seluruh ruangan. Ia mengocok telur dengan sedikit daun bawang dan irisan cabai, seperti yang disukai suaminya, lalu menuang adonan ke atas penggorengan. Di panci kecil, tumisan buncis dan wortel mulai layu manis. Di sudut, kopi hitam dengan satu sendok gula, tidak lebih, tidak kurang, mengepul dari cangkir keramik biru.

Tangannya bergerak tanpa perlu dipikirkan. Aroma, suara, panas. Selama bertahun-tahun, dapur ini jadi tempatnya bersembunyi dari kata-kata yang menyakitkan. Di sini, tak ada yang menyebutnya gemuk. Di sini, ia hanya perempuan yang pandai memasak.

Ia menata nasi hangat ke dalam kotak bekal, menyusun telur gulung dan sayur di sampingnya, menutup tutup biru itu dengan satu klik kecil yang memuaskan. Menyaring kopi untuk termos. Mengelap meja. Menata piring.

Sampai sebuah teriakan membelah rumah.

"DANTI!"

Suara itu membuat Danti hampir menjatuhkan sendok.

"DANTI, KOK KAMU NGGAK BANGUNIN AKU?"

Rizal muncul di ambang dapur dengan rambut mencuat ke segala arah, mata melotot, menunjuk-nunjuk jam dinding seolah jam itu pelaku kejahatan. "Jam tujuh lewat! Aku ada rapat jam delapan! Kamu ini ngapain aja sih dari tadi?"

Danti melirik jam. Benar. Tujuh lewat sepuluh. Ia terlalu larut dalam masakannya, dan lima menit itu menjelma menjadi satu setengah jam.

"Mas, tadi aku sudah bangunin kamu," katanya hati-hati. "Kamu bilang lima menit lagi."

"Alasan!" Rizal sudah berlari ke kamar mandi, suaranya menggema dari sana. "Seharusnya kamu bangunin lagi! Kamu tuh gimana sih jadi istri! Satu pekerjaan aja nggak bisa beres!"

"Tapi tadi Mas yang..."

"Jangan nyalahin aku!"

Pintu kamar mandi dibanting. Terdengar bunyi gedebuk, air memancur, sumpah serapah teredam. Beberapa menit kemudian Rizal keluar sambil mengancingkan kemeja yang salah kancing, melempar handuk basah ke kasur, dan menyambar dasi dari pintu lemari.

"Ini semua gara-gara kamu," gerutunya terus-menerus sambil memakai sepatu. "Coba kalau kamu becus. Aku udah dibilang atasan berkali-kali soal telat. Kalau sampai kena SP, kamu yang tanggung jawab."

Danti diam. Ia sudah hafal bahwa menjelaskan sama sulitnya dengan menahan air hujan dengan telapak tangan.

Rizal duduk di meja makan dengan wajah masam. Tapi begitu sendok pertama masuk ke mulutnya, bahunya sedikit mengendur.

Itulah satu-satunya hal yang tak pernah ia protes, bahkan dalam amarah paling tinggi sekalipun. Masakan Danti. Telur gulung yang gurih, tumis buncis yang renyah, dan kopi yang selalu pas, tidak terlalu pahit, tidak terlalu manis. Ia makan cepat, lahap, tanpa bicara.

Danti berdiri di dekatnya, memasukkan kotak bekal dan termos kopi ke dalam tas kerja suaminya.

"Bekalnya jangan lupa dimakan siang nanti, Mas."

Rizal hanya mendengus. Itu sudah cukup menjadi "iya".

Baru saja Rizal meneguk kopinya yang kedua, pintu depan terbuka tanpa ketukan.

"Zal? Kok kamu masih di rumah jam segini?"

Suara itu tajam dan penuh wibawa. Ibu Rizal, Bu Sumarni, melangkah masuk dengan tas jinjing mengilap di lengan dan kacamata hitam yang bertengger di kepala. Wajahnya, seperti biasa, sudah menyiratkan kesimpulan sebelum bertanya.

"Bu!" Rizal buru-buru berdiri, menyalami ibunya. "Ini nih, Danti. Aku kesiangan gara-gara dia nggak bangunin."

Danti terpaku di tempat.

Bu Sumarni menoleh perlahan, matanya menyapu Danti dari kepala sampai kaki dengan ekspresi yang sudah sangat Danti kenal. Tatapan yang sejak hari pertama pernikahan, bahkan sejak sebelum itu, berkata: "kamu tidak pantas untuk anakku."

"Pantesan," katanya datar. "Dari dulu Ibu bilang, perempuan yang kerjaannya cuma di rumah aja kok bisa nggak bangunin suami. Jadi istri tuh yang bener dikit, Danti. Nggak malu apa, suaminya sampai telat gara-gara kamu?"

"Maaf, Bu. Tapi tadi aku sudah..."

"Sudah apa? Alasan terus." Bu Sumarni mengibaskan tangannya. "Ibu nggak ngerti kenapa Rizal dulu ngotot nikahin kamu."

Rizal sudah merapikan dasinya dan melirik jam tangan. "Ibu ngapain pagi-pagi ke sini? Ada apa?"

Dan seketika wajah Bu Sumarni berubah. Garis kerasnya melunak, bibirnya melengkung ramah. Seperti topeng yang berganti.

"Ah, itu. Ibu mau minta tolong sedikit, Nak. Arisan ibu-ibu bulan ini, kamu tahu sendiri udah giliran Ibu yang setor. Tapi uang Ibu belum cukup."

"Berapa, Bu?"

"Dua juta."

Tanpa berpikir panjang, Rizal merogoh dompet. Ia menarik lembaran merah dan menyodorkannya sambil tersenyum. "Nih, Bu."

"Aduh, makasih ya, Nak. Anak Ibu memang paling baik." Bu Sumarni menerimanya, lalu menambahkan seolah baru terpikir, "Eh, tapi Ibu juga mau beli kain seragam buat acara ibu-ibu. Kurang dikit..."

"Tambah berapa, Bu?"

"Satu juta aja."

"Oke."

Rizal menyerahkan tambahan itu sambil tertawa kecil. Tanpa protes, tanpa menawar, tanpa menanyakan apakah uang tersebut benar-benar diperlukan.

Dada Danti terasa sesak. Ia memandang lembaran-lembaran uang yang berpindah tangan, dan sebuah kenyataan kecil menghantamnya. Di dapur, bumbu hampir habis. Di lemari, stok beras sudah tinggal sisa di dasar karung.

Ia menelan ludah. Mengumpulkan keberanian yang hampir tak ada.

"Mas..."

"Apa?" Rizal menjawab tanpa menoleh.

"Berasnya habis, Mas. Tadi malam sisa yang terakhir buat masak. Aku... boleh minta uang buat beli beras?"

Rizal akhirnya menoleh. Dan alisnya langsung bertaut.

"Beras lagi? Perasaan baru kemarin."

"Terakhir beli bulan lalu, Mas."

"Boros banget sih kamu!" bentaknya. "Duit tuh nggak jatuh dari langit, Dan! Aku kerja capek-capek, kamu enak-enakan di rumah, tahunya cuma minta! Minta! Minta!"

"Tapi Mas, itu kebutuhan..."

"Kebutuhan, kebutuhan! Kamu kebanyakan makan, makanya berasnya cepat habis!"

Bu Sumarni yang sedang menghitung uang di tangannya mengangkat wajah, lalu ikut menimpali dengan nada pura-pura bijak. "Betul itu, Zal. Danti tuh perlu belajar ngurangin makan. Selain bikin badan melar kayak gitu, juga bikin boros. Nggak kasihan sama suami?"

Danti memejamkan mata sesaat. Satu tarikan napas. Dua.

"Bu," katanya dengan suara selembut mungkin, "kami beli beras terakhir kali bulan lalu. Sepuluh kilo. Untuk sebulan."

"Sepuluh kilo?" Bu Sumarni mendengus. "Ibu aja di rumah cuma habis lima kilo sebulan, padahal bertiga! Kamu ini cuma berdua sama Rizal, tapi sepuluh kilo? Itu bukan makan, itu rakus!"

Danti merasa darahnya naik ke kepala. Lelah itu sudah terlalu lama menumpuk, dan malam tadi masih membekas di dadanya.

"Bu Sumarni bisa hemat beras," ujarnya pelan namun jelas, "karena hampir setiap hari Ibu pesan makanan dari luar. Jarang masak di rumah."

Dapur seketika hening.

Wajah Bu Sumarni memerah. "Kamu... kamu berani ngomong gitu sama Ibu?"

"Aku cuma menjawab, Bu."

"Itu tidak sopan!" Bu Sumarni menepuk meja. "Menantu macam apa kamu ini! Zal, kamu dengar sendiri kan? Istrimu ini kurang ajar!"

"DANTI!"

Bentakan Rizal menggelegar. Ia berdiri, kursi bergeser keras ke belakang. Matanya menyala. "Kamu berani melawan Ibuku? Minta maaf sekarang!"

"Mas, aku cuma..."

"MINTA MAAF!"

Danti menatap mata suaminya. Tak ada keraguan di sana. Hanya kemarahan buta, dan keyakinan mutlak bahwa ibunya tak pernah salah.

Ia menunduk. Bibirnya bergetar. "Maaf, Bu."

Bu Sumarni mendengus puas, melipat tangan di dada.

Rizal melirik jam lagi, lalu mengumpat pelan. "Aku harus berangkat. Bu, Ibu di sini aja dulu kalau mau. Aku telat."

Ia menyambar tas, melangkah ke pintu. Danti mengejarnya setengah berlari.

"Mas, tolong... uang berasnya. Sedikit saja."

Rizal berhenti, berbalik, menatapnya dengan wajah yang sudah kehilangan kesabaran. "Aku udah bilang tadi, kan? Kamu boros! Cari cara sendiri!"

"Tapi aku nggak punya uang, Mas. Kamu tahu sendiri..."

"Itu masalah kamu."

Pintu depan tertutup. Deru mobil menjauh, meninggalkan Danti berdiri di ruang tamu dengan telapak tangan yang masih setengah terulur ke arah suaminya yang sudah pergi.

1
ryuka
bagus rizal semakin cepat kamu masuk kurang klo bgini 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
selamat Rizal sbntar lgii km bkal masuk k jurang kehancuran 😏
Muft Smoker
awalnya emnk manis ,, tp nanti juga akhirnya anda bakal ngerasa mana yg tulus ma hidup mu ,, mana yg cuma tulus ma uang mu zal ,, 😒😒😒
ryuka
nunggu kehancuran kalian sekeluarga aku tuuuhhh 🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
haduuuhh biasa nya yg gampang terpukau itu yg gampang di bodohi 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
orang salah emang selalu cari pembenaran 🫠🫠🫠🫠🫠🫠
Muft Smoker
ayoo dantii ,, semangat berjuang ,,
ryuka
semangat dantiiii 👍👍👍👍👍👍👍
ryuka
kamu mulai terlena rizal.. haduh haduh haduhh.. /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Muft Smoker
gpp danti ,, biarkan si Rizal hancur sndrii dg selalu merasa bnar ,,
km tinggal fokus dg ap yg Skrang km kerjakan ,, meski rasa sakit mungkin ad ,, sbgai istri melihat suami sperti itu ,,
Muft Smoker
baru 1 hari atur uang belanja ,, km udh stress zal/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ryuka
naahhh mikir kamu sekarang.. haduuhh di bodohin kok mau aja sihhh
Muft Smoker
sbntar lgii jugaaa hancur dy ,, biarin aj ,,
ryuka
bodoh kamu bodoh rizal.. tunggu kehancuran kamu zal
Muft Smoker
gpp zal semakin km merasa bosan ma danti ,, semakin penyesalan dan kehancuran mendekat ke arah mu
ryuka
terlalu bodoh kamu rizal../Sweat//Sweat//Sweat//Sweat/
Muft Smoker
danti pun membalas ,, ' km banci mas ' 😒😒😒😒😒
Muft Smoker
good dantii ,, keluarin uneg2 mu ,, abis tu tinggalin si Rizal ,, punya suami otak ny Segede udang rebon ,, yx begitu ,, 😒 😒 😒 😒
Muft Smoker
good dantii ,, keluarin uneg2 mu ,, abis tu tinggalin si Rizal ,, punya suami otak ny Segede udang rebon ,, yx begitu ,, 😒 😒 😒 😒
ryuka
bagus danti.. keluarkan semua uneg2 mu biar rizal tau.. tinggal kita liat keputusan apa yang kita ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!