NovelToon NovelToon
Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.

Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.

Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.

Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 - Sidang Kecil di Kantor Ustazah

Kantor Ustazah Khadijah pagi itu suasananya beda. Biasanya isinya tumpukan buku Fathul Qarib yang belum dikoreksi, jadwal piket Haflah yang ditempel pakai lakban, dan toples kerupuk yang selalu ada buat santri yang sowan. Pagi itu, kerupuknya masih ada, tapi di atas meja ada tiga HP yang sudah dimatikan, satu laptop yang layarnya masih menyala, dan satu map coklat tebal tulisan tangannya rapi: BUKTI FOTO PAYUNG - RAHASIA.

Ustazah Khadijah memang tidak langsung percaya gosip. Dari awal foto payung itu menyebar jam 7 pagi kemarin, dia sudah curiga. Foto itu blur, crop-annya kasar, dan captionnya provokatif banget: Pantes jadi favorit ustazah. Ada yang jagain.

Semalaman Ustazah tidak tidur. Habis Isya dia sudah mulai mengumpulkan bukti, bukan dengan marah-marah di grup, tapi dengan cara yang diajarkan Kiai Hasyim dulu: tabayyun dulu, jangan langsung menghukum.

Jam 5 pagi, habis Subuh, dia sudah di kantor. Sholat Subuh di masjid putri, lalu langsung buka laptop.

Langkah pertama, dia panggil Jungwon.

Jungwon datang ke kantor jam 7 pagi, mukanya tegang, pecinya agak miring karena lari dari asrama putra. Dia masih pakai sarung, bawa kitab kecil.

"Jungwon, masuk, duduk. Ustazah mau tanya, santai saja. Anggap saja Ustazah lagi tanya jadwal roan," kata Ustazah Khadijah pelan, menyodorkan teh hangat.

Jungwon duduk, tapi punggungnya tegak.

"Jungwon, Ustazah mau tanya. Pas hujan kemarin sore, yang memberi payung ke Muthi'ah di depan aula itu siapa? Jujur ya, Nak. Ini penting buat nama baik Muthi'ah," tanya Ustazah.

Jungwon menjawab jujur, tanpa jeda, "Saya, Ustazah. Sumpah demi Allah, saya. Gus Jay yang ngambil payung dari gudang putra, lima payung besar. Terus Gus Jay nyuruh saya yang nganterin ke depan pintu aula. Katanya, 'Won, kamu yang antar, jangan saya, biar gak jadi fitnah. Taruh di depan pintu aja, jangan masuk.' Gus Jay sendiri nunggu di teras ndalem sama Heeseung."

"Yakin? Ada saksi?" Ustazah mencatat di buku kecil.

"Ada, Ustazah. Heeseung liat saya berangkat, Gus Jay liat saya berangkat. Santri putri yang di dalam aula juga liat, Muthi'ah yang nerima payung dari saya. Bukan dari Gus Jay," jawab Jungwon.

Ustazah Khadijah mengangguk, nulis: Jungwon - pengantar payung - saksi: Heeseung, Jay, Muthi'ah.

Langkah kedua, Ustazah panggil Heeseung dan Jay jam 7.30. Biar ceritanya dicocokin, bukan biar diinterogasi kayak polisi, tapi biar jelas.

Heeseung datang dulu, masih ngantuk. Jay datang setelahnya, mukanya datar tapi matanya sembab, kayaknya semalaman gak tidur juga mikirin gosip itu.

"Jay, Heeseung, kemarin pas hujan, ceritain lagi urutan ngambil payungnya," kata Ustazah.

Heeseung yang jawab duluan, "Saya di teras ndalem sama Jay. Ustazah Khadijah nyuruh ambil payung di gudang putra buat santri putri yang kejebak di aula. Jay sama Jungwon lari ke gudang, ambil lima payung. Balik ke teras, Jay nyuruh Jungwon yang nganter ke aula. Jay bilang, 'Won, lu aja yang ke aula, gue di sini aja.' Jadi yang ke aula cuma Jungwon."

Jay nambahin, suaranya pelan, "Inggih, Ustazah. Saya di teras ndalem terus, gak ke aula. Saya takut kalau saya yang nganter langsung jadi fitnah. Ternyata malah tetep jadi fitnah juga."

Ustazah mencatat lagi. Cerita ketiganya sama persis. Berarti foto yang menyebar itu pasti editan. Di-crop biar Jay keliatan deket.

Langkah ketiga, Ustazah panggil Lulu, santri yang pertama kali forward foto itu di grup kelas.

Lulu datang jam 8 pagi, mukanya pucat, jilbabnya belum rapi, matanya merah. Dia nangis dari semalam karena takut.

"Lulu, sini duduk. Jangan takut. Ustazah gak akan marah kalau kamu jujur. Kamu dapat foto itu dari mana?" tanya Ustazah, kali ini ditemani Ustazah Aisyah biar ada saksi.

Lulu nunduk, suaranya kecil, "Dari Nadira, Ustazah. Jam 7 pagi, Nadira nge-chat saya, 'Lu liat deh, pantes dia jadi favorit. Hujan-hujanan aja disamperin.' Terus dia kirim foto itu. Saya kaget, langsung saya forward ke grup kecil saya, terus ke grup kelas."

Ustazah menghela napas. "Lulu, lain kali kalau dapat foto yang belum jelas, jangan langsung forward ya. Tabayyun dulu. Sekarang kamu boleh balik ke kelas, tapi HP kamu Ustazah sita dulu sampai Haflah selesai ya, karena bawa HP tanpa titip itu juga pelanggaran. Mengerti?"

Lulu ngangguk, nangis, "Inggih, Ustazah. Maaf."

Jam 9 pagi, giliran Nadira dipanggil. Sendirian. Ini bagian paling berat.

Nadira masuk dengan mata bengkak, jilbabnya polos, gak pakai aksesoris kayak biasanya. Dia biasanya paling modis di asrama putri, hari ini dia keliatan kecil sekali.

"Duduk, Nadira," kata Ustazah Khadijah pelan. Ustazah Aisyah sudah siap di sebelah.

Ruangan hening. Jam dinding detiknya kedengeran.

"Nadira, Ustazah tidak mau marah-marah. Ustazah mau dengar cerita dari kamu. Jujur saja. Sejujur-jujurnya. Allah suka sama orang jujur, walaupun jujurnya sakit. Foto yang kamu kirim ke Lulu jam 7 pagi itu, kamu yang foto?" tanya Ustazah, nadanya gak ngegas, tapi tegas, mata ke mata.

Nadira diam lama. Tangannya ngeremas ujung roknya. Air matanya netes satu-satu.

Akhirnya dia ngaku pelan, suaranya hampir gak kedengeran, "Iya, Ustazah. Saya yang foto."

Dia narik napas, lanjut, "Pas hujan kemarin, saya duduk dekat jendela aula. Saya liat dari jendela, Kang Jungwon ngasih payung ke Muthi'ah di depan pintu. Di belakangnya, di teras ndalem, ada Gus Jay berdiri, ngeliatin ke arah aula. Saya... saya langsung ngeluarin HP selundupan saya, saya foto. Terus di kamar, saya crop foto itu. Saya potong bagian Kang Jungwon, jadi keliatan kayak tangan Gus Jay yang langsung ngasih payung ke Muthi'ah. Terus saya kirim ke Lulu."

Ustazah Khadijah narik napas panjang. Ustazah Aisyah juga diam.

"Kenapa kamu lakukan itu, Nadira?" tanya Ustazah lagi, kali ini lebih pelan, kayak ibu nanya anaknya.

Nadira nangis kenceng, bahunya naik turun, "Saya iri, Ustazah. Saya sudah lama kagum sama Gus Jay. Dari SMP saya udah kenal Gus Jay. Saya juara kaligrafi, juara pidato, bapak saya donatur karpet masjid, tapi tidak pernah dilirik. Muthi'ah baru jadi koordinator Haflah sebentar, baru juara musabaqah kitab kuning sekali, sudah dekat sama Gus Jay. Rapat bareng, roan bareng. Saya kesal, Ustazah. Saya iri. Saya pengen Muthi'ah ngerasain gimana rasanya dijauhin, kayak saya ngerasa gak pernah dilirik."

Jujur. Sakit, tapi jujur. Untuk pertama kalinya Nadira ngomongin iri-nya dengan kata-kata, bukan dengan foto crop-an.

"Nadira, iri itu manusiawi. Semua orang pernah iri. Ustazah juga pernah iri. Tapi kalau iri membuat kamu memfitnah orang lain, itu yang salah. Kamu tau gak gara-gara foto crop-an kamu, Muthi'ah dijauhi temen-temennya? Kursi sebelahnya dikosongin, nampan makannya gak ada yang mau nemenin, dia makan sendirian di kamar. Salsa sampai hampir dihukum gara-gara bela Muthi'ah dengan cara yang salah juga," kata Ustazah Khadijah pelan. Gak ada bentakan, tapi tiap kata nusuk.

Nadira nangis makin kenceng, "Maaf, Ustazah. Saya menyesal. Saya bener-bener menyesal. Saya gak mikir bakal sejauh ini."

Setelah Nadira, giliran Muthi'ah dipanggil. Sendirian juga. Biar adil, semua dipanggil sendirian.

Muthi'ah masuk jam 9.30. Jalannya pelan, nunduk, bawa mushaf kecil pemberian Nyai Maryam di saku roknya. Mukanya pucat.

"Muthi'ah, sini duduk. Tidak usah takut. Tidak usah nunduk terus, lihat Ustazah," kata Ustazah Khadijah, senyumnya lembut.

Muthi'ah duduk, jaraknya agak jauh dari meja.

"Muthi'ah, kamu tau foto itu editan ya?" tanya Ustazah.

Muthi'ah ngangguk, "Tau, Ustazah. Yang ngasih payung Kang Jungwon, bukan Gus Jay. Kang Jungwon yang ketuk pintu aula, saya yang nerima payungnya. Gus Jay gak ke aula."

"Terus kenapa kamu tidak bicara dari awal? Kenapa diam saja pas dijauhi di kelas, dijauhi di kantin?" tanya Ustazah lagi.

Muthi'ah suaranya pelan, hampir hilang, "Saya takut, Ustazah. Takut kalau saya bicara, malah dikira cari perhatian lagi. Takut kalau saya bilang 'itu bukan Gus Jay', malah dibilang 'alah, Muthi'ah bela diri'. Jadi saya diam aja, Ustazah. Saya pikir kalau saya diam, gosipnya bakal hilang sendiri."

Ustazah Khadijah bangkit, pindah duduk di sebelah Muthi'ah, ngelus punggungnya.

"Kamu tidak salah, Nak. Kamu korban. Kamu gak salah apa-apa. Makanya Ustazah panggil kalian satu-satu. Ustazah sudah cek HP Nadira disaksikan Ustazah Aisyah, ada foto aslinya yang belum di-crop, masih ada di galeri, jam 3 sore pas hujan. Jadi bukti sudah lengkap. Dan HP kalian bertiga, kamu, Nadira, Salsa, Lulu, Ustazah sita sampai Haflah selesai ya. Karena bawa HP tanpa titip itu juga pelanggaran, biar adil. Mengerti, Nak?"

Muthi'ah ngangguk, air matanya netes, tapi kali ini lega karena akhirnya ada yang percaya dia tanpa dia harus teriak-teriak.

Jam 10, Ustazah mengumpulkan Nadira dan Muthi'ah bersama di kantor. Tidak ada santri lain. Cuma mereka berdua, Ustazah Khadijah, dan Ustazah Aisyah sebagai saksi. Pintu kantor ditutup.

"Nadira, Muthi'ah, dengarkan Ustazah ya. Masalah ini tidak akan Ustazah sebar ke semua santri biar kalian dipermalukan di depan apel pagi. Pesantren bukan tempat untuk mempermalukan orang. Pesantren tempat untuk belajar dari salah. Kalau Ustazah umumin kalian di depan, yang ada dendam, bukan pelajaran," kata Ustazah Khadijah, suaranya mantap.

"Nadira, yang kamu lakukan salah. Fitnah. Kamu sudah ngaku, Ustazah hargai kejujuran kamu. Hukuman kamu: kamu khidmah membersihkan perpustakaan putri selama sebulan. Tiap sore habis Ashar sampai Maghrib, kamu sapu, kamu pel, kamu tata buku. Sambil itu, kamu tulis refleksi, dua halaman, tulis tangan, tentang kenapa fitnah itu bahaya dan kenapa iri harus dikelola. Tiap minggu setor ke Ustazah. Mau?"

Nadira ngangguk sambil nangis, "Mau, Ustazah. Makasih, Ustazah tidak mempermalukan saya di depan semua orang."

Ustazah menatap Muthi'ah, "Muthi'ah, kamu juga. Ustazah tau kamu capek. Kamu habis difitnah seminggu, nilai turun, gak mau ikut Haflah. Tapi jangan diam saja kalau difitnah. Kalau ada apa-apa lagi, langsung lapor ke Ustazah atau ke Nyai Maryam. Kita di sini keluarga. Kamu gak sendirian. Ya?"

Muthi'ah ngangguk, "Inggih, Ustazah."

"Nadira, minta maaf dengan Muthi'ah. Langsung sekarang, di sini, tatap mata. Bukan maaf yang di-WhatsApp, maaf yang langsung," kata Ustazah.

Nadira menoleh ke Muthi'ah. Mukanya masih basah air mata. Tangannya gemetar.

"Muthi'ah, maaf ya. Aku iri sama kamu. Aku salah sudah edit foto dan nyebar. Aku salah crop foto Kang Jungwon jadi keliatan kayak Gus Jay. Maaf membuat kamu dijauhi temen-temen, maaf membuat kamu gak mau makan, maaf membuat Salsa hampir dihukum. Maaf ya, Muth," kata Nadira, suaranya pecah.

Muthi'ah kaget. Tangannya ngeremas mushaf kecil dari Nyai Maryam di sakunya kenceng. Dia diam sebentar, narik napas, ingat pesan Zahra: maafin tapi gak harus langsung jadi sahabat.

"Iya, tidak apa-apa. Aku maafin," kata Muthi'ah. Pelan, tapi tulus. Gak ada dendam di suaranya, cuma capek.

Ustazah Khadijah tersenyum, lega.

"Alhamdulillah. Sekarang salaman."

Mereka salaman. Salaman yang canggung, tangan dingin ketemu tangan dingin.

Keluar dari kantor, Salsa, Dina, Zahra sudah menunggu Muthi'ah di depan, duduk di tangga. Salsa udah nangis dari tadi nungguin.

"Gimana? Nadira dihukum apa? Diapelin gak?" tanya Salsa, masih emosi.

Muthi'ah nggeleng, senyum tipis, "Tidak. Ustazah tidak mempermalukan dia. Cuma disuruh khidmah di perpus sebulan sama nulis refleksi. HP kita semua disita sampai Haflah selesai."

Zahra langsung ngangguk, matanya berkaca-kaca, "Itu baru adil, Muth. Kalau dipermalukan di depan semua santri, dia akan dendam seumur hidup. Kalau dikasih tugas khidmah, dia belajar. Dia ngerasa jadi bagian perpus, dia liat buku-buku yang sering kamu pinjam, lama-lama dia paham kamu tuh bukan saingan, kamu tuh temen."

Dan di perpustakaan putri sore itu, Nadira mulai mengepel lantai dengan sapu lidi yang gagangnya udah miring. Debunya tebal. Dia sambil mikirin refleksi dua halaman yang harus dia tulis: kenapa fitnah itu bahaya.

Tidak ada yang melihat dia dengan tatapan menghakimi, karena Ustazah tidak mengumumkan hukumannya di grup. Santri lain cuma tau Nadira lagi khidmah di perpus, gak tau kenapa.

Itu cara Darul Hikmah mengajari: salah itu dibetulkan, bukan dipermalukan. Dan hari itu, untuk pertama kalinya setelah seminggu jadi bulan-bulanan gosip, Muthi'ah bisa makan siang di kantin tanpa kursinya dikosongin lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!