Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.
Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.
Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 - SEBELUM TUMBUKAN PERTAMA
Lin membuka toko pada waktu yang sama seperti kemarin. Ia menyapu daun dari ambang, memeriksa jendela, lalu menulis jam di buku kecil dekat pintu. Dua keping yang tersimpan di kantong dalam terasa lebih berat daripada jumlahnya; untuk pertama kalinya ia tidak harus menghitung ulang apakah malam ini cukup untuk membayar penginapan.
Mo datang membawa kotak alat kecil dan meletakkannya di meja belakang. “Hari ini jangan membaca pamflet.”
Lin menutup buku pribadinya. “Ada pekerjaan lain?”
“Ada orang yang akan datang meminta salep untuk tangan retak. Aku akan menyiapkan satu wadah. Kau bisa membersihkan mortir dan menimbang wadah kosong.”
“Bolehkah saya melihat prosesnya?”
“Kau boleh melihat bagian yang perlu kau kerjakan. Ini bukan pelajaran membuat pil, dan kau tidak boleh menyentuh campuran sebelum aku menyuruh.”
Lin mengangguk. Ia mengambil mortir dari rak, membersihkannya dengan kain, lalu mengeringkannya. Mo memeriksa permukaannya sebelum mengizinkan Lin menaruhnya di meja. Setelah itu, ia menimbang wadah kosong dan menulis berat awal pada secarik kertas.
“Kenapa berat wadahnya dicatat?” tanya Lin.
“Supaya kita tahu berapa banyak bahan yang masuk. Kalau wadah berbeda, jumlah akhirnya tidak bisa dibandingkan begitu saja.”
Lin mencatat jawaban itu. Ia merasa seolah-olah kembali ke inventaris, tetapi kali ini angka-angka berada di dekat alat yang digunakan Mo untuk membuat ramuan sederhana.
Pelanggan datang menjelang tengah pagi. Tangannya dibalut kain kusam, dan ada garis-garis kering di sepanjang jari. Ia memperkenalkan diri sebagai pembuat gerabah yang bekerja dekat tanur. Kulit di telapak dan buku jarinya pecah setelah beberapa hari terpapar panas dan tanah liat.
Mo menanyakan apakah ada luka dalam, demam, atau rasa kebas. Lelaki itu menjawab tidak. Mo memeriksa tangannya tanpa membuka seluruh balutan, lalu memastikan bahwa ia hanya mencari salep pelindung untuk kulit yang pecah.
“Kalau lukanya memburuk atau terasa panas sampai ke lengan, jangan mengandalkan salep ini,” kata Mo. “Cari tabib.”
“Begitu saja?” tanya pelanggan. “Aku datang untuk obat, bukan daftar larangan.”
“Kalau kau hanya menginginkan barang, aku bisa menjualnya tanpa mengatakan apa pun. Tapi aku perlu tahu apakah barang ini sesuai untuk tanganmu.”
Lelaki itu mendengus, tetapi akhirnya mengangguk. Mo mengambil wadah kosong yang tadi ditimbang, lalu menyuruh Lin menyiapkan kain bersih dan mortir.
Lin memperhatikan Mo memilih beberapa bahan dari rak. Ia tidak mengenali semuanya. Ada satu bahan kering yang berwarna pucat dan satu wadah kecil berisi minyak kental. Mo menimbang keduanya sendiri. Ia tidak memberi tahu Lin jumlah atau nama campuran; ia hanya meminta pemuda itu menulis berat masing-masing pada catatan kerja.
“Jangan mencampur yang ini,” katanya sambil menunjuk bahan yang sudah ditimbang. “Tunggu sampai aku selesai memeriksanya.”
Lin mengamati permukaan bahan. Salah satu tampak lebih lembap daripada sampel yang ia lihat kemarin. Ia bertanya apakah kondisi itu normal.
“Tidak untuk batch yang kering,” jawab Mo. “Aku memilih yang lebih lunak karena salep ini perlu diratakan. Tapi aku tidak memakai bahan yang berubah bau atau warna.”
Ia memeriksa seratnya, lalu menekan sedikit di antara dua batang kayu. Setelah yakin, ia meminta Lin menyerahkan mortir. Mo menumbuk bahan kering dengan gerakan pendek dan merata. Ia menghentikan beberapa kali untuk melihat teksturnya, bukan karena ada tanda ajaib yang muncul, melainkan karena bagian kasar yang tersisa akan terasa di kulit.
Lin mengikuti gerakan itu dengan mata. Dalam permainan, satu tombol akan menjalankan animasi dan mengubah bahan menjadi tahap berikutnya. Di sini, Mo harus memeriksa serbuk, menyesuaikan tekanan, dan memastikan tidak ada potongan keras yang tertinggal.
“Apakah semua alkemis bekerja seperti ini?” tanya Lin.
“Tidak. Setiap bahan dan tujuan berbeda.” Mo menambahkan minyak sedikit demi sedikit. “Kau tidak bisa melihat satu proses lalu menyimpulkan semua formula.”
Lin menghapus kata “minyak” yang hampir ia tulis di kolom resep. Ia mengubahnya menjadi “bahan cair kental; nama belum diketahui.”
Mo melirik catatan itu. “Lebih baik.”
Prosesnya tidak berlangsung lama, tetapi Lin melihat beberapa keputusan kecil yang tidak tercantum pada label: kapan berhenti menumbuk, kapan menambah cairan, dan bagaimana menilai apakah adonan terlalu kering. Ia ingin bertanya tentang setiap gerakan, namun menahan diri agar tidak mengganggu tangan Mo.
Setelah campuran menjadi rata, Mo memindahkannya ke wadah. Lin menimbang wadah kembali dan mencatat berat akhirnya. Mo menulis nama salep dan tanggal pada label, tetapi menambahkan bahwa pelanggan harus menggunakannya sebagai pelindung kulit, bukan menganggapnya sebagai pengobatan untuk luka berat.
Pelanggan membayar dan meminta satu salinan nama salep untuk diberikan kepada istrinya. Lin menuliskan nama yang tertera persis seperti yang Mo ucapkan, tanpa menambah petunjuk sendiri. Lelaki itu menerima wadah dan pergi.
Setelah pelanggan menjauh, Lin menatap mortir yang masih memiliki bekas serbuk. “Kalau saya hanya melihat hasil akhirnya, saya tidak akan tahu berapa banyak keputusan yang dibuat.”
“Benar.” Mo membersihkan sisi meja. “Tapi jangan mengira jumlah keputusan kecil berarti kau sudah siap membuatnya sendiri.”
“Saya tidak akan menyentuh tungku.”
“Bagus. Untuk saat ini, kau hanya membantu menyiapkan alat, menjaga kebersihan, dan mencatat apa yang benar-benar kau lihat.”
Lin meminta izin untuk merangkum proses setelah pekerjaan toko selesai. Mo setuju, tetapi mengambil catatan kerja itu untuk memastikan Lin tidak menyalin nama bahan yang belum diketahui. Ia menunjukkan dua baris yang sudah benar dan satu yang masih terlalu pasti.
Lin mencoret tulisan “bahan halus” dan menggantinya dengan “bahan kering ditumbuk sampai teksturnya rata menurut pemeriksaan Mo.”
“Kenapa begitu panjang?” tanyanya.
“Karena saya belum tahu apakah halus adalah nama ukuran atau penilaian.”
Mo mengangguk kecil. “Kau mulai menyadari bahwa kata-kata juga bisa menyembunyikan dugaan.”
Sisa hari diisi transaksi biasa. Lin menerima uang untuk dua kantong penyimpanan, menolak memberi saran kepada seorang petani tentang campuran akar pahit, dan memanggil Mo ketika seorang pelanggan bertanya apakah pil pemulih napas dapat menyembuhkan demam. Mo mengarahkannya ke tabib dan tidak menjual pil itu untuk keperluan tersebut.
Menjelang sore, Lin kembali membaca pamflet label selama waktu luang. Kali ini ia tidak mengejar formula. Ia menuliskan tiga hal yang perlu dibedakan: nama bahan, kondisi bahan, dan tujuan pemakaian. Ketika Mo menutup laci, Lin mengembalikan pamflet dan catatan kerja ke tempat semula.
“Kalau Anda membuat salep seperti tadi, apakah itu alkimia?” tanyanya.
“Sebagian orang akan menyebutnya pekerjaan ramuan. Sebagian alkemis menganggapnya tahap awal. Nama tidak membuat prosesnya lebih sederhana.” Mo menyimpan alat. “Aku membuat salep yang sesuai untuk pelanggan tadi. Itu tidak berarti aku akan mengajarkan resepnya sekarang.”
“Saya paham.”
“Kalau kau ingin belajar, buktikan bahwa kau dapat mencatat bahan tanpa mengarang nama, menjaga alat tetap bersih, dan tidak menjual sesuatu di luar pengetahuanmu. Itu belum menjadikanmu murid. Itu hanya alasan bagiku untuk membiarkanmu melihat pekerjaan lain.”
Lin menerima batas tersebut. Ia tidak mendapatkan resep atau gelar. Namun kali ini ia berada dekat mortir, timbangan, dan keputusan nyata yang mendahului sebuah wadah jadi.
Sore itu, Mo membayar upah satu keping tembaga. Makanan disediakan di toko; Lin menyimpan uangnya bersama tiga keping yang sudah ia miliki. Jumlahnya kini empat. Tidak cukup untuk membeli pil atau membayar pelajaran, tetapi cukup untuk membuat ia terus menghemat tanpa langsung kehilangan seluruh upahnya.
Sebelum naik ke loteng, ia menyalin pengamatannya ke catatan pribadi. Ia menyebut tujuan salep dan apa yang ia lihat, tetapi tidak menulis nama bahan atau takaran yang tidak ia ketahui. Bagian paling bawah ia beri garis tebal: “Belum belajar resep. Belum meracik.”
Dari bawah lantai terdengar Mo mengunci ruang tungku. Lin memandang papan yang memisahkan mereka. Ia tak lagi menganggap tungku sebagai pintu menuju kekuatan yang tinggal dibuka. Di baliknya ada alat, ukuran, kebiasaan, dan tanggung jawab yang belum ia pahami.
Malam itu ia tidur dengan tangan yang masih mencium aroma minyak dan serbuk. Ia belum membuat apa pun. Namun ia telah melihat bahwa jalan menuju alkimia dimulai jauh sebelum api dinyalakan.