Impian Amara untuk bersatu dengan kakak angkatnya akhirnya terwujud juga. Keduanya terikat dalam sebuah pernikahan yang disatukan oleh Abi mereka sendiri.
Sayangnya, Apa yang Amara bayangkan tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Dalam pernikahan ini, Hanya Amara yang menginginkannya. Tapi tidak dengan Fadli Adiputra. Dia tidak pernah menginginkan pernikahan ini sama sekali.
Sikap perhatian yang selalu Fadli berikan berubah menjadi sikap dingin tanpa alasan.
Amara sadar, Bahwa dia bukan pilihan pria itu..
Hingga pada akhirnya, Amara mundur dalam pernikahannya.
Apakah Fadli bahagia atas kemunduran Amara? Atau justru terkurung dalam penyesalan?
•••••
"Kalau pernikahan ini tidak bertahan atas pilihan Abi.. Nanti, Aku akan pertahankan pernikahan ku atas pilihanku sendiri..." Amara Alfhatunnisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Berbohong
Tok
Tok
"Masuk..
Lidya masuk keruangan Fadli dengan membawa beberapa berkas. Begitu membuka pintu, Lidya langsung disambut oleh senyum Fadli yang menawan.
"Ada apa?
"Aku bawa berkas, Kamu bisa cek dulu.." Lidya meletakkan berkas tersebut diatas meja. Seperti biasa, Lidya langsung duduk dikursi yang terletak dihadapan Fadli tanpa diperintahkan.
"Gimana?" Tanya Lidya. Walaupun dia hanya lulusan SMP, Tapi dia akan buktikan kalau dia bisa. Padahal sebenarnya juga tidak..
Fadli mencoba mengecek hasil laporan yang dibuat Lidya. Pria itu memejamkan matanya, Padahal sudah berulang kali Fadli mengajari Lidya membuat laporan yang bagus. Tapi tetap saja belum memuaskan.
Fadli...Fadli, Otak kalau emang du-ngu ya, Du-ngu aja. Mau sekolah dimanapun juga tetep gak nyampe.
"Fadli gimana sama hasil laporanku.. Ini aku udah berusaha loh?
"Udah lumayan.. Kamu pintar sekarang.." Kata pria itu, Padahal sebenarnya juga tidak sesuai sama sekali.
Dipuji pintar oleh Fadli, Tentu saja Lidya merasa senang. Lagipula siapa yang tidak suka dipuji oleh laki-laki seperti Fadli ini.
Walaupun katanya telah menikah dan menjadi seorang suami, Lidya tidak peduli sama sekali. Siapa tahu setelah ini Amara yang akan dihempaskan lalu digantikan oleh dirinya.
"Maaf ya, Gara-gara aku.. Selama ini kamu selalu ribet. Kamu rela begadang buat laporan yang bagus dan semua itu demi aku.. Kamu yang buat, Tapi kamu bilang ke semua orang aku yang bikin.. " Lidya menunduk. Ia yakin dengan ucapannya yang seperti ini jelas membuat Fadli merasa iba.
Lagipula memang benar kan? Lidya masuk ke perusahaan ini lewat Fadli sendiri. Tidak ada ijazah S1 atau S2 yang masuk. Semua Fadli yang mengelola, Ketika ada rapat penting atau apa, Fadli lebih memilih untuk turun tangan sendiri. Karena tidak mungkin kan ia menyuruh Lidya sementara Lidya sendiri belum mahir, Atau lebih tepatnya memang tidak tahu.
Andai para karyawan tahu kalau Lidya hanya tamatan SMP. Sudah pasti Fadli akan di demo oleh para karyawan yang bekerja disana. Termasuk karyawan senior yang mulai bekerja masih di era pimpinan Abi Rafa.
"Gapapa.. Kalau bukan karena aku yang nabrak ayah kamu pada waktu itu. Mungkin sekarang ayah kamu masih sehat dan bisa kerja dengan baik. Tapi, Ya mau bagaimana lagi. Ayah kamu jadi tanggung jawabku sekarang.. Aku akan tetap biayain Ayah kamu sampai benar-benar sembuh.. " Lidya tersenyum, Wanita itu merapikan pakaiannya.
"Ucapan ibuku yang semalam gimana?" Tanya Lidya tentang yang semalam. Fadli menghentikan pergerakannya. Ia menatap Lidya yang langsung menunduk.
"Ucapan yang mana?
"Ucapan tentang masalah itu..
"Pernikahan?" Lidya mengangguk samar. Fadli menghela nafas panjang.
" Aku gak bisa.."
"Kenapa gak bisa?
"Ya, Karena aku udah nikah Lidya..
"Lalu kenapa kalau kamu udah nikah? Aku gapapa kok jadi istri kedua kamu. Lagipula kan, Seorang pria diperbolehkan mempunyai lebih dari satu istri. Mau dua atau tiga istri gak masalahkan?.. " Kata Lidya dengan yakin. Fadli terdiam dengan reaksi yang sedikit terkejut dengan ucapan wanita yang berada dihadapannya ini.
"Kamu mau jadikan aku pria brengsek?" Lidya menggelengkan kepalanya.
"Enggak.. Maksud aku bukan gitu. Cuma kan, Kamu tahu sendiri, Ibu bilang kalau banyak tetangga yang julid dan bully aku. Hanya karena mereka sering lihat kamu kerumah.. Lagian kalau kita nikah, Kamu bisa membiayai ayah tanpa harus khawatir sama yang lainnya.. Kan orang pasti pada mikir kalau kamu biayain mertua sendiri..." Fadli tidak menjawab. Entah kenapa pria itu merasa sikap Lidya sekarang tidak seperti dulu. Ada yang berbeda dengan wanita ini. Bahkan setiap ucapannya ada yang aneh..
"Fadli, Kok kamu diam aja?
"Aku rasa hal seperti ini tidak pernah dibahas lagi. Mengucapkannya memang mudah, Tapi kau harus ingat.. Aku memang seorang yatim piatu..Tapi aku masih punya orangtua angkat. Aku gak mau menyesal nanti..." Lidya mengangguk, Matanya berkaca-kaca..
"Aku paham kok apa yang kamu bicarakan.. Gapapa.. Kalau gitu, Aku pamit keluar dulu..
"Hm.." Lidya bangkit, Wanita itu hendak keluar namun..
"Ohya, Siang ini kita gak sibuk, Kan?
"Kenapa?
"Bisa gak? Temenin aku belanja bulanan.. Bahan dirumah pada habis.." Fadli mengangguk.
"Okey.. Kita pergi setelah ini.." Lidya tersenyum senang. Tidak apa-apa dia belum bisa mendapatkan Fadli sekarang, Tapi ia yakin kalau sebentar lagi dia akan menjadi seorang Nyonya Fadli Adiputra.
...****************...
"Jadi kamu nabrak orang tadi?" Pertanyaan itu dari Mayla Sesama guru sekaligus teman dekat Amara dipesantren.
Keduanya dekat mulai dari jaman Mayla tinggal dipesantren Al Ibrahimi sampai sekarang. Mayla keluar dari pesantren karena ia ikut orangtuanya keluar negeri. Dan itu tidak lama, Namun hubungan mereka tetap dekat sampai sekarang.
"Kamu mau ikut aku gak?
"Kemana?
"Belanja..
"Okey, Aku temenin nanti.."
Mayla merangkul Amara. Dua wanita yang memang seumuran itu sangat dekat sekali. Bahkan mereka juga kembali bersama dengan profesi yang sama.
Saking dekatnya, Mayla tidak ada rasa canggung sama sekali. Walaupun wanita itu memanggil Amara dengan sebutan Ning, Untuk cara bicara sama seperti pertemanan pada umumnya.
Amara meraih benda pipihnya, Ia mencoba mengirim pesan pada Fadli.
"Sibuk gak hari ini?
Tidak ada jawaban apapun. Amara mengangkat kedua bahunya, Mungkin saja suaminya itu sedang sibuk sekarang.
Ting..
Sebuah notifikasi masuk. Fadli membalas pesan Amara. Wanita itu langsung membacanya.
"Kenapa?
"Aku aku mau keluar bareng temenku, Nanti bisa jemput?
Ting..
"Aku sibuk hari ini.. Ada banyak jadwal, Jadi jangan ganggu dulu.." Amara terdiam memerhatikan pesan itu. Entah kenapa Amara merasa ada yang aneh..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Amara tidak membalas pesan dari Fadli. Karena ya, Percuma saja. Sepulang dari mengajar, Amara dan Mayla pergi. Amara menemani Mayla yang katanya ingin belanja..
"Jadi pernikahan kamu dan Mas Fadli lagi gak baik-baik aja?" Amara mengangguk. Sebenarnya dia tak mau menceritakan masalah ini, Namun ia percaya pada Mayla. Dia tidak bisa membukanya dihadapan orang lain.
Lagian dia dan Mayla memang sangat dekat. Mayla juga tidak akan membocorkannya pada orang lain.
Lagipula, Amara belum sanggup menceritakan masalah ini pada Abi dan Ummanya. Tapi bukan berarti Amara tidak akan bercerita.
Dia akan mengatakan yang sejujurnya nanti. Amara bukan wanita yang hanya akan diam saja kalau diperlakukan tidak baik. Apalagi ini yang memulai masalah adalah suaminya sendiri.
"Iya... Dia tidak menginginkan pernikahan ini..
"Terus?
"Ya nanti cerai...
"Ning, Ning serius mau cerai?
"Kenapa emangnya?
"Ya, Enggak Ning.. Kalau itu memang yang terbaik lakukan saja.. Ning Amara harus bahagia. Lagian ya, Ning Amara cantik. Kaya, Pintar.. Pria yang mana yang gak mau..." Amara tersenyum. Dia memang cantik, Dan Amara sadar sekali kalau dia cantik..
Dia juga kaya, Tapi maaf.. Kalau dia dan Fadli benar-benar bukan jodoh. Amara ingin menikahi pria yang setara dengannya. Dari segi paras, Harta dan kebaikan keluarganya.
" Untuk apa pelihara pria yang gak setia.. Sekarang aja udah berani bela wanita lain, Sorry ya.. Cinta boleh, Tapi aku pintar dan gak mau dibodohi cinta..
Itulah prinsip Amara. Dia tidak mau bodoh karena soal cinta saja. Kalau Fadli tidak bisa mencintainya. Dia akan mencari pria yang cintanya lebih besar darinya.
Begitu sampai didalam pusat perbelanjaan. Mayla belanja banyak barang. Mulai dari Pakaian, Tas, Serta semua yang barang yang dibutuhkan.
Amara juga tidak mau kalah, Dia juga banyak berbelanja. Daripada makan batin, Lebih baik bersenang-senang..
"Ning..
"Ya?
"Itu, Bukannya Mas Fadli?" Amara melihat ke arah yang ditunjuk oleh Mayla. Fadli, Pria yang merupakan suaminya itu ternyata tidak sibuk seperti yang dikatakannya. Sibuk yang dimaksud oleh Fadli adalah sibuk menemani Lidya.
"Awas saja kalian..." Kedua tangan Amara terkepal. Ia mengangkat salah satu sudut bibirnya..
"Lihat saja setelah ini...
•
•
•
TBC
heh jalang, siap-siap kamu dan keluarga kamu masuk penjara dan jadi gembel 🤣🤣🤭🤭
hayo tamatlah riwayatmu Lidya
dan kamu Fadli siap siap datang kepengadilan untuk pembatalan pernikahan. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣 senangnya hatiku melihat mereka berdua terpojok