Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.
Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.
Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Terbuka
Dharma melepas dasinya sedikit kasar. Ia bercermin sebentar, lalu mengusap wajahnya.
“Apa sebaiknya aku keluar dari rumah ini agar tidak ada masalah lagi ya, Pak Dharma?”
“Tidak perlu. Dayu butuh teman sepertimu.” Dharma selalu menjadikan Dayu sebagai alasan, padahal sebenarnya ia yang mulai merasa hidupnya kembali berwarna sejak ada Melisa. Dengan semua kejadian ini, Dharma ingin melindungi Melisa dan memastikan perempuan itu hidup dengan aman.
“Aku tahu kebakaran di resto Pak Dharma kemarin itu bukan kebetulan biasa karena korsleting listrik.”
“O ya, lalu apa? Ada yang sengaja membakarnya?” Dharma pura-pura tidak tahu.
“Sepertinya iya. Sebelum menikah denganku, tidak ada yang mengusik usaha Pak Dharma, kan? Aku yakin sekali itu pasti juga terjadi karena ada aku dalam keluarga ini.”
“Kepedean sekali semuanya terjadi gara-gara kamu.”
Melisa mencebik. “Dikasih tahu malah ngatain kepedean.”
Dharma tersenyum saja. Ia mulai suka menggoda Melisa, wajahnya menggemaskan saat kesal begitu. Ia lalu duduk di meja kerjanya, membuka laptop untuk mengerjakan entah apa.
Sementara Melisa, ia berdiri di dekat jendela dan memandangi suasana di luar rumah, memikirkan apa yang harus ia lakukan jika sungguhan diizinkan pergi dari keluarga ini. .
Mereka berdua larut dalam pemikirannya masing-masing.
…
Setelah huru-hara yang telah terjadi, para pembantu tetap bekerja seperti biasa. Hanya saja mereka tidak mendekati atau berbicara dengan Melisa sama sekali. Melisa tidak keberatan dengan itu, ia terbiasa mengurus dirinya sendiri. Jadi, tidak ada yang berubah dalam hidupnya selain menajdi semakin damai.
Saat itu di meja makan, Melisa, Dharma, dan Dayu makan malam bersama. Sebelumnya, Dharma memberitahu Melisa agar Dayu tidak mendengar apapun tentang semua kekacauan yang terjadi.
“Mbak Mel, ayo kita pergi berlibur bertiga. Ke tempat yang jauh, bisa Bromo, bisa Bali, atau terserah kamu deh tempat mana yang belum pernah kamu kunjungi.” Tiba-tiba Dayu berceletuk asal.
“Mm, aku sedang ada kelas yang tidak bisa ditinggal, Dayu. Maaf sekali,” tolak Melisa sopan.
“Yah, sayang banget ya.”
“Mungkin bulan depan, atau awal tahun saja sekalian merayakan tahun baru bersama?” Melisa coba memberi solusi.
“Boleh sih, tapi tahun baru aku sudah ada agenda sama teman-temanku.”
“Biar Papa carikan waktu yang pas buat kita liburan nanti ya.” Dharma yang sejak tadi hanya menyimak, coba menengahi. “Tapi, Mel, kamu ada kelas apa?”
“Kelas memasak,” jawab Melisa malu-malu.
“Kamu mau membuka resto juga?” tebak Dharma.
“Ga mungkin lah, Pa. Memangnya belajar masak cuma buat buka resto? Papa aja punya resto tapi ga bisa masak.”
Melisa tertawa. “Aku cuma mau mengisi waktu luang saja. Rencananya mau bikin video konten masak gitu. Sebenarnya aku suka masak, tapi karena dulu dananya terbatas jadi ga berani coba-coba resep. Kalau zonk malah ga cukup nanti uang bulananku.”
“Oh gitu. Kalau sekarang cobain aja semua masakan, Mbak. Kan uang Papa banyak. Nanti aku yang coba bantu icip rasanya. Kalau sudah oke, lumayan buat bahan pamer ke temen-temen.”
“Apa yang mau kamu pamerin memangnya?” tanya Dharma.
“Mbak Melisalah, aku harus ngasih tahu semua orang kalau istri papaku keren dan jago masak.”
Dharma tersenyum. Melisa juga, ia merasa mulai sepenuhnya diterima dan didukung untuk berkembang dalam keluarga ini. Awalnya, ia memang menikah karena terpaksa. Ternyata itu cara Tuhan untuk memberinya keluarga yang utuh dan hangat.
…
Di dalam kamar, Melisa sudah dalam posisi tidur yang sempurna. Tiba-tiba Dharma memanggilnya.
“Hm?” Melisa menyahut dari dalam selimut. Ia sudah hampir terlelap tadi.
“Sampai kapan kamu mau tidur di sofa?”
Pertanyaan Dharma yang ini sama sekali belum pernah terlintas dalam benak Melisa. Ia tidak menyangka ditanyai seperti itu. Bingung harus menjawab apa, Melisa diam saja. Bahkan ia tidak berani menampakkan wajahnya dari dalam selimut.
“Jangan berpikir macam-macam, aku hanya coba memanusiakan manusia.” Dharma juga terlihat salah tingkah. “Apa rencanamu nanti saat kontrak dengan mama selesai?”
“Belum tahu.” Kali ini Melisa jujur. Ia memang tidak punya rencana apapun, hanya memanfaatkan kekayaan Dharma dan waktu senggang yang ia miliki selama di sini untuk mempelajari banyak hal sampai berkembang jauh sampai batas yang ia sendiri tidak tahu.
“Bagaimana kalau tetap di sini saja. Sepertinya Dayu sangat menyukaimu sampai merencanakan liburan bersama. Tolong pertimbangkan perasaan anak itu.” Dharma bertepuk tangan dalam hatinya sendiri. Ia bisa memberi alasan yang tepat tanpa melibatkan perasaannya sendiri.
Jujur, ia mulai terbiasa hidup bersama Melisa dan tidak mau kehilangan siapapun lagi dalam hidupnya.
“Kalau Pak Dharma sendiri bagaimana?”
“Bagaimana apanya?” Dharma gelagapan, khawatir alasan yang tadi ia sampaikan ketahuan ada maksud terselubungnya.
Kali ini Melisa membuka selimutnya dan melihat ke arah tempat tidur Dharma. “Ya bagaimana? Lupakan soal Dayu dulu. Suatu saat Dayu akan menemukan pasangannya sendiri dan meninggalkan Pak Dharma sendirian, kan? Apa Pak Dharma sudah memikirkan itu?”
“Belum. Di mataku, anak itu masih sangat kecil.” Pandangan Dharma menerawang ke langit-langit kamar. Bayangan Dayu bayi terlintas dalam ingatannya.
“Sudahlah. Kita bahas ini lagi lain kali saja.” Melisa yang merasa pertanyaannya tidak dijawab dengan benar oleh Dharma memilih mengakhiri pembicaraan tidak jelas ini dan melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.
Ketika terpejam, ia kembali mengingat pertanyaan pertama Dharma tadi. Sampai kapan ia akan tidur di sofa begini ya? Melisa bergidik ngeri membayangkan dirinya tidur di ranjang yang sama dengan Dharma. Pria itu memang menggoda, tapi usia mereka terlalu jauh. Melisa yakin dirinya bisa mendapat pasangan yang lebih muda dan lebih keren dari Pak Dharma yang sudah berumur itu.