Marco Maverick membenci wanita cantik. Trauma masa lalu membuat CEO jenius yang hobi bertingkah kocak ini lebih memilih melajang, menyawer live TikTok, dan mengasuh anak sahabatnya. Bahkan saat menyelamatkan wanita mempesona di klub malam, Marco menolaknya mentah-mentah.
Penasaran dengan satu-satunya pria yang berani mencampakkannya, Isabel nekat menyusup ke hidup Marco. Putri konglomerat yang sedang buron itu menanggalkan kemewahannya dan menjelma menjadi 'Lia', sekretaris berpenampilan cupu dan kusam.
Ironisnya, Marco justru menolak pesona Isabel dalam wujud aslinya, dan perlahan jatuh hati pada kesederhanaan Lia. Namun, tak ada kebohongan yang abadi. Ketika topeng sang sekretaris terbongkar, luka lama Marco kembali menganga, menghancurkan semua rasa percaya yang baru tumbuh.
"Apakah seru mempermainkan hatiku, Lia?"
Saat bahaya masa lalu kembali mengincar nyawa Isabel, sanggupkah ia meyakinkan pria itu bahwa cinta tak selamanya pahit, Marco!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Suara riuh tepuk tangan dan siulan ratusan mahasiswa menggema memekakkan telinga di tengah lapangan utama kampus.
Di bawah terik matahari sore, Marco berdiri dengan senyum paling lebar yang pernah ia miliki. Lapangan itu sudah disulap menjadi taman dadakan. Ribuan tangkai mawar merah muda yang mahal, tepat seperti permintaan gadis pujaannya sudah terhampar membentuk simbol hati raksasa.
Di pelukannya, terdapat sebuah boneka beruang seukuran manusia, sekotak cokelat impor eksklusif, dan sebuah kotak beludru kecil berisi cincin rubi yang menguras habis uang sakunya.
Dari ujung koridor, sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul. Alana berjalan anggun menembus kerumunan. Senyumnya mengembang, membuat jantung Marco berdebar begitu kencang hingga rasanya mau meledak.
Begitu Alana berdiri tepat di depannya, tanpa membuang waktu sedetik pun, Marco langsung menjatuhkan satu lututnya ke tanah.
Sorakan mahasiswa makin riuh rendah.
"Alana," ucap Marco lantang, matanya berbinar penuh cinta dan harapan. "Aku sudah menyiapkan semua yang kau minta. Jadi di depan semua orang ini aku bertanya... Alana, apa kamu mau jadi kekasihku?"
Alana menunduk menatap Marco. Senyum manis di wajah gadis itu bertahan selama tiga detik, sebelum akhirnya berubah menjadi seringai dingin yang mengerikan.
Dengan gerakan kasar, Alana merebut kotak beludru dari tangan Marco. Bukannya memakainya, ia justru melemparkan cincin rubi mahal itu jauh-jauh ke tengah lapangan.
Trang!
Marco terkesiap. Namun belum sempat ia memproses apa yang terjadi, Alana menepis kotak cokelat hingga isinya berhamburan ke tanah, lalu menendang boneka beruang raksasa itu hingga jatuh tersungkur.
Gadis itu melangkah maju, dengan sengaja menginjak-injak dan menghancurkan hamparan mawar mahal yang telah disusun Marco sejak pagi buta.
"Alana! Apa yang kau lakukan?!" seru Marco panik, berusaha berdiri.
Namun Alana tidak mempedulikannya. Gadis itu menoleh ke arah sekumpulan mahasiswi populer di pinggir lapangan dan tertawa lepas dengan suara melengking.
"Kalian lihat, kan?!" teriak Alana penuh kemenangan, menunjuk wajah Marco yang pias. "Aku menang! Kalian berutang tas liburan musim panas padaku! Sudah kubilang, aku bisa membuat si bodoh ini berlutut dan menggelar acara pengakuan sebesar dan semahal ini untukku!"
Kerumunan yang tadinya bersorak mendukung, seketika berubah menjadi paduan suara tawa ejekan yang menggema dari segala penjuru.
Marco mematung. Udara di sekitarnya terasa tersedot habis. "T-taruhan? Alana... apa maksud semua ini?"
Alana melipat tangannya di dada, menatap Marco dengan raut luar biasa meremehkan. "Tentu saja ini hanya taruhan, Marco. Kau pikir acara konyol ini nyata?"
"Jadi..." Suara Marco bergetar hebat. Matanya memerah menahan luka yang mengoyak dadanya.
"Jadi selama ini... kau tak pernah menyukaiku? Perhatianmu, kebaikanmu... semuanya palsu?"
"Jelas tidak!" balas Alana cepat dan tajam. "Kau pikir aku benar-benar sudi berpacaran denganmu? Aku mendekatimu hanya karena kau itu target yang paling mudah dimanfaatkan!"
"Dimanfaatkan?" ulang Marco, hatinya hancur berkeping-keping.
"Tentu saja! Selama beberapa bulan ini, aku bisa makan enak di restoran mewah setiap hari! Aku bisa mendapat tas, perhiasan, dan barang-barang bermerek secara gratis berkat kebodohanmu!" Alana tertawa sinis, langkahnya mengitari Marco yang masih terpaku. "Sadar diri, Marco! Coba kau berkaca! Dengan tingkah konyol dan wajahmu yang sama sekali tidak keren itu, mana mungkin primadona kampus sepertiku mau berpacaran denganmu?!"
Tawa ejekan dari kerumunan semakin keras.
"Jadi, dia itu cuma kegeeran?" bisik seseorang tepat dibelakang Marco.
"Harusnya dia sadar diri. Mana mungkin Dewi kampus kita benar-benar jatuh cinta padanya. Lihat wajahnya itu. Selain dompetnya yang tebal, apa lagi yang bisa dia banggakan dari dirinya?"
"Jangan lupa, dia sahabat baiknya Noah. Wajar, jika dia merasa bisa mendapatkan Dewi kampus kita. Sayangnya, dia hanya bermimpi. Dia hanya dimanfaatkan. Dasar bodoh!!!
Tawa itu semakin keras. Sementara, Alana yang berdiri di depan Marco semakin tersenyum penuh kemenangan. Marco tak bisa menemukan gadis baik hati yang kemarin masih menggenggam tangannya dengan erat. Yang dia lihat sekarang hanya iblis berwajah cantik yang benar-benar tega menghancurkannya.
"Oh, dan biar kuberitahu satu rahasia lagi agar kau tidak terlalu percaya diri," bisik Alana, mencondongkan wajahnya ke dekat Marco dengan kejam. "Alasan pertamaku mendekatimu... adalah karena kau sahabat baik Noah."
Marco mendongak, matanya melebar. "Noah?"
"Ya! Noah Alexander!" seru Alana lantang. "Pria yang sebenarnya ingin kudekati adalah dia! Noah baru pria yang pantas untukku. Kami setara. Sama-sama berkelas, sama-sama cantik dan tampan."
Dunianya runtuh. Pijakan di bawah kaki Marco terasa goyah. Ia tidak bisa mendengar apa-apa lagi selain tawa riuh ratusan orang yang mengejek kebodohannya. Hatinya yang memberikan cinta tulus, diinjak-injak lebih parah dari mawar-mawar di tanah.
Tiba-tiba, kerumunan di satu sisi terbelah.
Noah datang. Pria bertubuh tegap dengan wajah tampan yang dingin itu melangkah membelah lapangan. Tatapan mata Noah sangat sulit diartikan saat melihat kekacauan di sana.
Melihat kedatangan Noah, wajah angkuh Alana langsung berubah manis seketika. Ia berlari kecil mendekati Noah, merapikan rambutnya dengan genit.
"Noah! Syukurlah kau datang!" sapa Alana lembut.
"Aku baru saja menolak temanmu ini. Kau tahu, kan, perasaanku sebenarnya hanya un—"
Noah sama sekali tidak memelankan langkahnya. Ia bahkan tidak melirik Alana sedetik pun. Pria itu terus berjalan melewati Alana seolah wanita itu hanyalah angin lalu, dan langsung menghampiri Marco.
Noah membungkuk, menyentuh bahu sahabatnya yang sedang gemetar menatap kehancuran di sekelilingnya.
"Marco..." Panggilan dari Noah terdengar menggema. "Marco..."
Tiba-tiba, suara Noah berubah menjadi lengkingan suara perempuan.
"Tuan Maverick? Tuan Maverick! Bangun, Tuan!"
Kelopak mata Marco langsung terbuka lebar.
Napasnya memburu hebat, dadanya naik turun dengan cepat. Keringat dingin membasahi pelipis dan kerah kemejanya. Ia menoleh dengan panik, matanya yang masih diselimuti kabut trauma menatap liar ke sekeliling.
Bukan lapangan kampus. Bukan mawar yang hancur. Bukan Alana.
Di sampingnya, Lia sedang mencondongkan tubuh, menatapnya dengan raut wajah kebingungan dari balik kacamata tebalnya. Tangan gadis itu masih terulur, baru saja mengguncang bahu Marco.
"Tuan Maverick, Anda tidak apa-apa?" tanya Lia hati-hati, menarik tangannya kembali. "Kita sudah sampai di basement kantor sejak sepuluh menit yang lalu. Tuan terus berkeringat dingin dan mengerutkan kening saat tidur, jadi saya terpaksa membangunkan Anda."
Marco menelan ludah dengan susah payah. Ia mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dengan kedua telapak tangan. Suara tawa kerumunan di mimpinya masih berdengung samar di telinganya, menyisakan rasa sesak yang luar biasa nyata di dadanya.
"Ya... aku tidak apa-apa," jawab Marco parau, suaranya terdengar sangat lelah. "Ayo kembali ke ruangan."
Marco pikir, dia sudah lupa. Marco pikir, dia sudah sembuh. Tapi, pertemuan tak terduga dengan Alana hari ini, kembali menyadarkan Marco. Dia... sama sekali belum selesai dengan luka di masa lalu.