Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Di kediaman keluarga Conti, Amerda duduk di sofa kamarnya dengan wajah tegang. Sejak pagi, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia terus memikirkan kecelakaan yang merenggut nyawa Veronika, perempuan yang seharusnya tidak pernah bertemu dengannya pada hari itu.
Ponsel di telinganya menempel erat, sementara matanya berkali-kali melirik ke arah pintu kamar.
"Aku tidak peduli bagaimana caramu melakukannya!" desis Amerda dengan suara tertahan. "Pokoknya, aku tidak mau pihak Tuan Adam mengetahui kebenarannya. Kau mengerti?" Amerda begitu takut, saat tahu orang yang di tabrak adalah calon istri dari keluarga Maxnore, jelas Amerda takut.
Dari seberang telepon, seorang pria menjawab dengan suara rendah.
[Tenanglah, aku sudah membereskan rekaman CCTV yang bisa mengarah kepada kita. Sejauh yang ku tau, tidak ada rekaman yang memperlihatkan dengan jelas siapa pengemudi mobil saat kecelakaan itu terjadi.]
Amerda mengembuskan napas, tetapi kegelisahan di wajahnya belum menghilang.
"Kau yakin tidak ada yang tertinggal?"
[Aku sudah melakukan apa yang kau minta. Amerda, ada satu hal yang perlu kau pahami.]
"Apa lagi?"
[Kalau Tuan Adam sampai menemukan bukti bahwa kaulah pelakunya, kau tidak akan bisa lolos dari cengkeramannya.]
Amerda terdiam. Pria itu melanjutkan perkataannya, kali ini terdengar lebih serius.
[Kau tahu sendiri siapa Tuan Adam Lorenzo Maxnore. Dia bukan pria yang akan memaafkan seseorang yang telah menyebabkan kematian perempuan yang dicintainya. Kalau kebenaran itu terungkap, dia pasti akan membunuhmu.]
Mendengar ucapan itu, Amerda langsung menggenggam tangannya erat-erat. Kukunya menekan telapak tangan, sementara bayangan wajah Adam yang dingin dan mengintimidasi terlintas dalam benaknya.
Ia mengenal reputasi pria itu. Adam bukan sekadar pengusaha kaya yang memiliki banyak koneksi. Di balik jas mahal dan sikap tenangnya, tersimpan kekejaman yang membuat banyak orang memilih menundukkan kepala daripada berhadapan dengannya. Namun, Amerda tidak mau kehilangan semua yang telah diperjuangkannya.
Terlebih lagi, ia tidak akan membiarkan Gia kembali mengambil tempat yang menurutnya sudah menjadi miliknya.
"Dengarkan aku baik-baik," ujar Amerda dengan suara dingin. "Hancurkan semua bukti sekecil apa pun yang masih tersisa. Jangan sampai ada sesuatu yang bisa menghubungkan kecelakaan itu denganku."
[Amerda, kau tidak bisa terus-menerus mengandalkan kebohongan. Kalau Adam mulai menyelidiki—]
"Kalau begitu, pastikan dia tidak menemukan apa pun!" Suara Amerda meninggi, membuat pria di seberang telepon terdiam.
Ia menurunkan suaranya kembali setelah menyadari emosinya hampir meledak.
"Kita tetap mengikuti rencana awal. Aku tidak mau ada perubahan. Semua orang harus tetap percaya bahwa Gia melarikan diri dengan pria lain pada hari pernikahannya."
[Kau tau di mana sekarang Gia, bukan?"
Amerda tertawa hambar.
"Tentu, itu yang ku mau. Bahkan, aku berharap Gia saat ini telah mati," katanya dengan nada tanpa bersalah.
Ia melirik pantulan wajahnya di cermin besar di seberang sofa. Bibirnya melengkung tipis, tetapi sorot matanya dipenuhi kecemasan.
"Selama Tuan Adam percaya bahwa Gia bertanggung jawab atas kematian Nona Veronika, dia tidak akan pernah melepaskan perempuan itu dengan mudah."
[Jangan terlalu yakin. Perasaan manusia bisa berubah.]
Wajah Amerda seketika mengeras.
"Tuan Adam tidak akan berubah pikiran. Dia mencintai Nona Veronika, dan sekarang Noan Veronika sudah mati karena Gia."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada penuh kebencian.
"Aku sudah terlalu jauh untuk membiarkan suamiku kembali kepada Gia. Ricardo adalah milikku sekarang. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merusak rumah tanggaku, apalagi perempuan yang seharusnya sudah tidak memiliki tempat di hidup kami."
Pria itu menghela napas dari seberang telepon.
[Baiklah, aku akan memastikan tidak ada bukti yang tersisa. Tapi ingat, kalau semuanya terbongkar, jangan berharap aku bisa menyelamatkanmu. Amerda, jangan lupa tujuan pertama kita,]
"Aku tidak membutuhkan nasihatmu. Lakukan saja tugasmu. Aku juga tidak lupa apa tujuan ku!" bentak Amerda, dan Amerda memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban lagi.
Ia meletakkan ponselnya di atas meja, kemudian mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Napasnya memburu, meski berusaha terlihat tenang, rasa takut terus menggerogoti pikirannya. Ia tahu Adam tidak akan berhenti mencari jawaban jika mulai mencurigai sesuatu. Jika pria itu mengetahui bahwa dialah yang berada di balik kemudi mobil pada hari kecelakaan tersebut, tidak akan ada satu pun alasan yang bisa menyelamatkannya.
"Gia, seharusnya kau tidak pernah kembali ke hidupku," gumamnya penuh kebencian.
"Aku akan melakukan sesuatu agar kau tetap berada di sana," senyum licik menghiasi wajah cantik Amerda.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka.
Amerda tersentak, dia segera mengangkat wajah, lalu buru-buru mengambil ponselnya dari atas meja dan menyembunyikan kegelisahan di balik senyuman tipis.
"Mama?"
Nyonya Conti berdiri di ambang pintu. Wajah wanita paruh baya itu terlihat lelah, seolah sejak beberapa hari terakhir ia tidak mendapatkan istirahat yang cukup.
"Ada apa, Ma?" tanya Amerda, berusaha terdengar biasa saja.
Nyonya Conti masuk dan menutup pintu di belakangnya.
"Mama ingin bertanya sesuatu kepadamu."
Amerda menelan ludah. "Tentang apa?"
"Tentang Gia."
Nama itu membuat jantung Amerda berdegup lebih cepat, tetapi ia berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya.
"Kenapa Mama masih membicarakan Gia?"
Nyonya Conti menatap putri angkatnya cukup lama.
"Sudah beberapa hari sejak pernikahanmu dengan Ricardo. Mama sudah mencoba menghubungi Gia berkali-kali, tetapi tidak pernah berhasil. Mama juga tidak tahu di mana dia sekarang."
Amerda memaksakan senyum.
"Mama masih memikirkan dia?"
"Tentu saja!" jawab Nyonya Conti, suaranya meninggi karena kecemasan. "Bagaimanapun, Gia anak Mama. Mama sudah membesarkannya sejak kecil. Apa Mama harus berhenti mencemaskannya hanya karena dia pergi meninggalkan keluarga ini?"
Amerda mengalihkan pandangan.
"Mama, Gia sendiri yang memilih pergi. Dia meninggalkan kita pada hari pernikahannya dan membuat keluarga ini malu. Kita bahkan tidak tahu siapa pria yang membawanya pergi."
"Itulah yang ingin Mama tanyakan." Nyonya Conti melangkah mendekat. "Apa kau benar-benar yakin Gia pergi bersama seorang pria?"
Amerda menegang, "Maksud Mama apa?"
"Mama hanya merasa ada sesuatu yang tidak beres." Wanita itu menghela napas panjang. "Gia memang keras kepala, tetapi Mama mengenalnya. Dia tidak mungkin meninggalkan pernikahannya tanpa alasan yang jelas. Apalagi dia tahu betapa pentingnya pernikahan itu bagi keluarga kita."
Amerda mengepalkan jemari di pangkuannya. Ia tidak menyangka ibunya mulai mempertanyakan kebohongan yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
"Mungkin Gia memang sudah tidak mencintai Mas Ricardo, Ma," jawabnya cepat. "Mungkin selama ini dia hanya berpura-pura."
Nyonya Conti menggeleng pelan.
"Tidak, Mama melihat sendiri bagaimana Gia mempersiapkan pernikahan itu. Dia bahagia, bahkan sehari sebelumnya, dia masih bercerita kepada Mama tentang gaun pengantinnya."
Amerda terdiam.
"Kalau begitu, kenapa dia menghilang begitu saja?" lanjut Nyonya Conti. "Kenapa dia tidak menelepon Mama, tidak mengirim pesan, bahkan tidak memberi kabar bahwa dirinya baik-baik saja?"
Amerda berusaha menahan kekesalannya.
"Mama, Gia sudah dewasa. Dia berhak menentukan hidupnya sendiri."
"Mama berhak mengetahui apakah anak Mama masih hidup dan selamat!"
Ucapan itu membuat Amerda terdiam sesaat. Nyonya Conti kemudian duduk di sofa, menundukkan wajah dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Semalam Mama bermimpi tentang Gia. Dia menangis sambil memanggil Mama. Entah kenapa, sejak bangun tidur, hati Mama terasa tidak tenang."
Amerda menatap ibu angkatnya dengan perasaan campur aduk. Untuk sesaat, rasa bersalah hampir muncul, tetapi segera ia tekan dalam-dalam. Ia tidak boleh membiarkan siapa pun menghancurkan kehidupannya sekarang.
"Mama terlalu banyak berpikir," katanya sambil mendekat. "Gia mungkin sedang bahagia bersama orang yang dipilihnya. Kalau dia ingin kembali, dia pasti akan menghubungi kita."
Nyonya Conti mengangkat wajah.
"Kalau begitu, berikan nomor pria yang membawanya pergi."
Amerda membeku, "Apa?"
"Kalau kau tahu Gia pergi bersama seorang pria, tentu kau tahu siapa pria itu, bukan? Berikan nomornya kepada Mama. Mama hanya ingin memastikan Gia baik-baik saja."
Amerda tidak segera menjawab. Bagaimana mungkin ia memberikan nomor seseorang yang tidak pernah ada. Nyonya Conti menatapnya dengan penuh harap.
"Amerda, Mama mohon. Tolong bantu Mama menemukan adikmu."
Amerda menundukkan wajah, menyembunyikan kepanikan yang semakin sulit dikendalikan.
Di luar kamar, langkah seorang pelayan terdengar melewati lorong. Rumah besar itu kembali sunyi, tetapi bagi Amerda, setiap detik terasa seperti hitungan mundur menuju kehancurannya sendiri. Sebab, semakin lama Gia menghilang dari hadapan keluarga Conti, semakin besar kemungkinan Nyonya Conti mulai mencari kebenaran. Jika ibunya mengetahui bahwa Gia tidak pernah melarikan diri bersama pria lain, kebohongan yang dibangunnya bisa runtuh satu demi satu.
Amerda mengangkat wajah, lalu meraih tangan ibunya dengan senyum yang dipaksakan.
"Percayalah kepadaku, Ma. Gia baik-baik saja."
Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu satu hal. Ia tidak sedang berharap Gia baik-baik saja. Ia justru berharap Gia tidak pernah kembali untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
ngapain nyari amerda dirumah Adam GK langsung tempat mertuanya 🤔
berharap Adam membuka jati diri siapa amerda siih ,,
ayahmu saja menginginkan kematianmu,, tak usah lah jadi orang yang terlalu baik,, karna pada akhirnya hanya akan d injak2 saja .
lngsung ilang ingatan Dy kaki ny kebentur meja ,,
otak ny di kaki sih jdi bgtu sikap ny,, 😒😒😒😒😒😒
Apapun kalian berdua itu,, yg pastinya kalian berdua itu jahat sama Gia.