Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FITNAH BESAR
Lantai marmer panggung terasa makin dingin dan basah oleh genangan darah. Di balik mimbar kayu jati yang kini berlubang-lubang diterjang peluru, Leo terengah-engah. Tangan kirinya menekan kuat luka tembak di pundak kanannya. Rasa panas seperti besi membara menjalar ke seluruh dada, membuat setiap tarikan napasnya memicu rasa sakit yang menusuk.
Trrrttt! Zzzzzt!
Suara desis mikrofon utama yang terhubung kembali ke pengeras suara gedung tiba-tiba memecah suara riuh rendah dari bawah panggung. Suara rentetan tembakan pengawal perlahan terhenti saat Marco mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi di udara.
"Tahan tembakan! Tahan!" teriak Marco seraya menyapu pandangannya ke arah para pengawal yang masih mengacungkan senapan.
Marco melangkah maju, berdiri persis di tengah panggung yang diterangi cahaya temaram lampu darurat. Di bawah kakinya, jasad Don Antonio Valenti terbaring kaku dengan dada bersimbah darah. Marco membungkuk sedikit, mengambil mikrofon genggam yang tergeletak di atas meja bundar di tepi panggung.
Ia mengetuk mikrofon itu dua kali. Suara ketukan kasar bergema keras melintasi seluruh sudut Grand Ballroom, meredam tangisan, gumaman panik, dan langkah kaki para tamu yang masih tertahan di sekitar pintu-pintu keluar yang terkunci.
"Para pimpinan klan, para sekutu, dan seluruh tamu yang terhormat..." buka Marco dengan suara bergetar yang dibuat-buat sarat rasa duka dan guncangan emosi.
Ruangan yang tadinya dipenuhi kekacauan mendadak sunyi senyap. Ratusan pasang mata dari bawah panggung menatap lurus ke arah Marco. Dalam remang lampu darurat, mereka bisa melihat sosok tangan kanan terpercaya klan Valenti itu berdiri dengan wajah memerah, mata berkaca-kaca, dan noda darah melumuri kemejanya.
"Malam yang harusnya menjadi sejarah manis bagi kejayaan kita... baru saja berubah menjadi tragedi paling kelam dalam sejarah klan Valenti," lanjut Marco seraya menunjuk jasad Antonio dengan tangannya yang gemetar. "Don Antonio... pemimpin kita yang amat kita cintai dan hormati... telah gugur."
Gumaman terkejut pecah serentak dari bawah panggung. Para bos klan bawahan saling pandang dengan raut tidak percaya. Sebagian wanita menutup mulut mereka, terperanjat menyaksikan sang Don yang baru beberapa menit lalu mengangkat gelas kini tergeletak tak bernyawa.
"Siapa yang melakukan ini, Marco?!" teriak salah satu bos klan dari wilayah utara dengan suara gundah dari barisan depan. "Siapa bajingan yang berani menyentuh Don di markas kita sendiri?!"
Marco menghela napas panjang dan berat. Ia menundukkan kepalanya sejenak, berpura-pura menyapu air mata di sudut matanya, sebelum kembali menatap kerumunan dengan pandangan sarat fitnah.
"Orang yang membunuh Don Antonio... bukan musuh dari luar," ucap Marco dengan nada dingin yang menggelegar. Ia memutar tubuhnya dan menunjuk lurus ke arah mimbar tempat Leo bersembunyi. "Pelakunya adalah putra kandungnya sendiri... Leo Valenti!"
Seruan heboh dan jeritan kaget langsung meledak dari seluruh penjuru ruangan.
"Tidak mungkin!" teriak salah satu pimpinan senior klan bawahan. "Leo adalah pewaris resminya! Untuk apa dia membunuh ayahnya sendiri?!"
"Itu yang kita semua pikirkan!" balas Marco seraya menaikkan intonasi suaranya hingga menggema keras di pengeras suara. "Kita semua mengira Leo adalah anak yang setia! Tapi ambisi gila telah membutakan matanya!"
Marco melangkah mendekati jasad Antonio dan menunjuk pistol perak rakitan yang tergeletak di marmer.
"Lihat senjata ini!" seru Marco seraya mengarahkan sorotan lampu panggung ke arah pistol perak tersebut. "Ini adalah pistol Custom Sterling milik Don Antonio sendiri. Senjata ini tidak pernah keluar dari brankas baja rahasia di kediaman utama. Hanya ada dua orang di dunia ini yang tahu kode brankas tersebut... Don Antonio dan Leo Valenti!"
Marco menjeda kalimatnya, membiarkan efek dari kebohongan tersebut meresap ke dalam pikiran ratusan orang di bawah panggung.
"Leo menolak menunggu lebih lama," lanjut Marco dengan narasi fiktif yang disusun sangat rapi. "Dia bekerja sama dengan peretas bayaran untuk mematikan seluruh aliran listrik gedung. Di dalam kegelapan pekat, saat kita semua kehilangan arah, Leo menarik senjata rahasia ini dan menembak ayahnya sendiri dari jarak dekat agar dia bisa langsung merebut kekuasaan mutlak tanpa ada yang bisa mengaturnya lagi!"
Di balik mimbar yang remang-remang, Leo mengatupkan rahangnya begitu rapat hingga otot-otot di sekitar wajahnya menegang keras. Rasanya amarah di dadanya lebih membakar ketimbang rasa sakit di pundaknya yang tertembak.
"Pengkhianat busuk..." bisik Leo seraya menahan erangan sakit di tenggorokannya.
Tangan kirinya meraba luka di pundak kanannya. Darah kental terus merembes keluar, membasahi jas dan kemejanya. Ia tahu betul jika ia mencoba berdiri sekarang dan berteriak membela diri, tidak ada satu orang pun di ruangan itu yang akan mempercayainya. Marco telah menyusun semuanya dengan begitu rapi—momen kegelapan, pistol jebakan di dekat jasad ayahnya, dan narasi palsu yang masuk akal bagi orang-orang yang panik.
"Lihat kemejanya yang penuh darah!" teriak Marco lagi, menunjuk ke arah belakang mimbar. "Saat lampu darurat menyala, aku sendiri yang melihat Leo berdiri melintasi jasad ayahnya dengan senjata di tangan! Ketika aku mencoba menghentikannya, dia bahkan menembakku dan para pengawal!"
Marco sengaja menunjukkan lengan jasnya yang sedikit robek akibat gesekan peluru tadi—luka gores ringan yang ia buat sendiri untuk memperkuat bukti sandiwaranya.
"Anak durhaka ini tidak hanya membunuh ayahnya," seru Marco dengan vokal penuh ketegasan yang memukau para anggota klan. "Dia telah mengkhianati darah Valenti! Dia telah menjual kehormatan kita semua demi ambisi pribadinya!"
Para pengawal klan yang berdiri di sekeliling panggung, yang sebelumnya ragu-ragu, kini menatap ke arah mimbar dengan pandangan penuh kebencian dan kemurkaan. Kebohongan Marco telah meracuni pikiran mereka sepenuhnya.
"Sesuai dengan hukum adat klan Valenti!" teriak Marco seraya mengepalkan tangan kirinya tinggi-tinggi. "Dalam situasi darurat kekosongan pimpinan akibat pembunuhan Don, saya, Marco, sebagai tangan kanan utama Don Antonio, mengambil alih kepemimpinan interim klan Valenti!"
Tepuk tangan dan seruan setuju mulai terdengar dari beberapa bos klan bawahan yang memang sudah lama dibeli oleh Marco di bawah meja.
"Dan perintah pertama saya sebagai pimpinan interim!" lanjut Marco dengan mata berkilat penuh dendam. "Leo Valenti bukan lagi bagian dari klan kita! Dia adalah musuh bersama seluruh organisasi di kota ini! Siapa pun yang menemukan atau membunuh Leo Valenti, akan mendapatkan imbalan sepuluh juta dolar dan posisi kapten di klan baru!"
Seruan riuh rendah langsung membanjiri ballroom. Imbalan fantastis dan tuduhan pembunuhan ayah kandung telah mengubah seluruh sekutu dan anak buah ayahnya menjadi pemburu yang haus darah.
"Cari dia! Kepung seluruh gedung!" perintah Marco kepada para pengawal seraya menunjuk ke arah panggung. "Jangan biarkan pembunuh itu keluar hidup-hidup dari gedung ini!"
"Siap, Tuan!" teriak belasan pengawal seraya mulai bergerak maju merapatkan barisan menuju mimbar utama.
Di balik mimbar, Leo menyadari waktunya sudah habis. Jika para pengawal itu mencapai mimbar dalam sepuluh detik ke depan, ia akan dibantai tanpa sempat melakukan perlawanan.
"Aku tidak boleh mati di sini..." gumam Leo seraya memejamkan mata sebentar, memompa sisa-sisa keberanian dan adrenalin di dalam tubuhnya. "Aku harus hidup... demi membalaskan dendam Ayah."
Dengan menggunakan tangan kirinya yang masih berfungsi, Leo merayap di atas marmer yang licin oleh darah. Setiap kali tubuhnya bergeser beberapa sentimeter, rasa sakit luar biasa menghantam pundak kanannya hingga pemandangan di matanya sempat memutih. Namun ia terus memaksa tubuhnya bergerak, merayap rendah menjauhi mimbar menuju balik tirai beludru tebal di bagian belakang panggung.
Di belakang tirai tersebut terdapat sebuah pintu kayu tersembunyi—jalur evakuasi privat yang biasa digunakan oleh keluarga inti klan untuk keluar menuju lorong belakang gedung tanpa terlihat oleh tamu pesta.
"Dia tidak ada di balik mimbar!" teriak salah satu pengawal yang pertama kali mencapai depan mimbar. "Tuan Marco, Leo melarikan diri!"
Marco membelalakkan matanya dan melangkah cepat mendekati mimbar yang kosong, hanya menemukan genangan darah segar yang terseret menuju arah tirai belakang.
"Pintu rahasia!" bentak Marco dengan raut wajah berantakan oleh amarah. "Dia kabur lewat lorong belakang! Kejar dia! Blokir seluruh jalan keluar basement dan pelabuhan!"
"Siap, Tuan!" jawab para pengawal seraya berhamburan menerobos tirai beludru.
Sementara itu, Leo telah berhasil mendorong pintu kayu tersembunyi tersebut dan menyelinap masuk ke dalam lorong layanan belakang yang gelap. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding beton yang dingin, napasnya memburu cepat dan berat.
Di dalam lorong yang sepi itu, suara langkah kaki para pengawal yang berteriak-teriak mengejarnya terdengar makin dekat dari balik pintu kayu.
Leo menatap tangan kirinya yang bersimbah darah ayahnya sendiri. Cincin emas bermotif serigala bersayap yang baru disematkan Antonio di jarinya sejam lalu tampak berkilau redup tertimpa lampu lorong.
"Marco..." bisik Leo dengan nada suara paling dingin yang pernah keluar dari tenggorokannya. Matanya memancarkan amarah murni yang membakar seluruh rasa takut dan sakit di tubuhnya. "Kamu boleh merebut gedung ini malam ini. Kamu boleh memfitnah namaku di depan seluruh kota. Tapi aku bersumpah... aku akan kembali untuk mencabut nyawamu dengan tanganku sendiri."
Dengan menahan luka di bahunya dan langkah kaki yang agak sempoyongan, Leo membalikkan badan dan berlari menembus kegelapan lorong belakang, melangkah menuju pelarian berdarah yang akan mengubah jalan hidupnya selamanya.