Ketika mahkota kekaisaran ternoda oleh keserakahan dan tirani seorang saudara kandung, seorang putri yang terbuang harus bangkit dari abu pembantaian.
Diasingkan sejak lahir di Desa Bunga Lotus, Zhao Lianhua tidak pernah tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah kekaisaran. Namun saat pedang istana membakar rumah dan menghancurkan kedamaiannya, ia terpaksa mengambil pedang demi keadilan rakyat jelata!
Bisakah seorang putri terbuang menumbangkan kerajaan yang dipimpin oleh saudara kandungnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Aliansi Pasukan Merah
Musim gugur telah tiba di Lembah Bunga Lotus. Udara dingin bertiup merontokkan dedaunan keemasan, melapisi tanah lembap yang diselimuti kabut tipis.Lianhua yang kini menginjak usia delapan tahun tumbuh kian anggun dan makin tajam gagasannya.
Meski parasnya memancarkan kelembutan seperti almarhumah ibunya, matanya menyimpan pendar ketegasan yang tak mudah digoyahkan.
Sore itu, kedamaian gubuk Tuan Zhao terusik oleh kedatangan tamu tak diundang. Tiga orang penunggang kuda berkerudung lusuh menerobos gerbang barat desa.
Pakaian mereka terkoyak noda darah yang mengering, dan di punggung mereka terikat pedang panjang yang terbalut kain hitam. Mereka bukan prajurit istana, melainkan utusan dari Kelompok Pemberontak Merah, faksi perlawanan rakyat dari Provinsi Barat yang terkenal keras dan pantang menyerah.
Pemimpin mereka adalah seorang pria bertubuh kekar bernama Panglima Lu, mantan kapten garda depan yang membelot dari istana setelah desanya dibakar oleh pasukan Kaisar Longwei.
Di dalam aula pertemuan desa, udara terasa sangat tegang. Paman Han dan Paman Zhou berdiri pasang badan mengawasi ketiga tamu tersebut dengan tangan tak jauh dari gagang senjata.
Panglima Lu melepaskan tudungnya, dan memperlihatkan wajah yang dipenuhi bekas luka tebasan. Ia berlutut di hadapan Tuan Zhao dengan rasa hormat yang mendalam.
"Panglima Zhao!" seru Lu dengan suara serak yang tertahan. "Sudah sepuluh tahun kami mencari keberadaan Anda! Pasukan Merah di Provinsi Barat berada di ujung tanduk. Pasukan Serigala Hitam telah membantai markas utama kami dan mengepung tiga ribu prajurit rakyat di Lembah Tengkorak! Kami membutuhkan kepemimpinan Anda... Kami memohon Anda memimpin pemberontakan kami!"
Tuan Zhao duduk tenang di atas kursi kayu, sambil menyesap teh hangatnya tanpa mengedipkan mata. Di sampingnya, Lianhua berdiri anggun memegang rol peta wilayah barat.n
"Lu," ucap Tuan Zhao pelan namun berbobot. "Aku sudah bersumpah untuk mengubur pedangku di lembah ini. Lagi pula, pasukan pemberontak yang hanya diikat oleh rasa dendam tanpa strategi matang... hanya akan menjadi umpan gantung bagi Kaisar Longwei."
Panglima Lu mengepalkan tangannya di atas lantai, mukanya memerah guncang. "Kami tidak sekadar berbekal dendam! Kami bertaruh nyawa demi rakyat jelata! Mengapa Anda begitu dingin, Panglima?!"
Sebelum Tuan Zhao sempat menjawab, sebuah suara jernih dan tenang memotong dari samping.
"Karena keberanian tanpa kecerdikan adalah bentuk bunuh diri yang sia-sia, Paman Lu."
Panglima Lu tertegun, lalu menoleh ke arah Lianhua. Ia menyipitkan mata melihat seorang bocah perempuan berumur delapan tahun yang menatapnya tanpa sedikit pun keraguan.
"Siapa anak kecil ini?" tanya Lu agak tersinggung. "Panglima Zhao, kita sedang membicarakan nasib ribuan nyawa rakyat, bukan tempat bermain anak-anak!"
Lianhua melangkah maju dua tindak, kemudian membentangkan gulungan peta Provinsi Barat di atas meja kayu di hadapan Panglima Lu.
"Nama saya Zhao Lianhua," ujar Lianhua dengan senyum tipis yang penuh wibawa. "Dan jika Paman Lu ingin meminta Ayahku memimpin pasukan kalian, pertama-tama... Paman harus membuktikan bahwa pasukan kalian layak untuk diselamatkan."
Anak buah Panglima Lu tertawa meremehkan, namun Lu memicingkan matanya. "Bocah kecil, apa yang kau ketahui tentang medan pertempuran?"
"Saya tahu bahwa tiga ribu prajurit kalian di Lembah Tengkorak sedang dijebak oleh taktik Mengurung Harimau di Gua milik Jenderal Faksi Istana," jawab Lianhua cepat dan tajam.
Lianhua lalu menunjuk satu titik di atas peta. "Lembah Tengkorak hanya memiliki dua jalur keluar: Jalur Tebing Utara yang sempit dan Sungai Merah di Selatan. Jika kalian memaksakan diri menerobos Jalur Utara seperti yang biasa dilakukan kelompok pemberontak yang emosional, Pasukan Serigala Hitam hanya perlu melepaskan hujan panah berapi dari atas tebing. Tiga ribu pasukan kalian akan habis dalam dua jam."
Panglima Lu membelalak kaget. Peta dan taktik yang disebutkan anak delapan tahun ini persis seperti laporan intelijen terakhir yang ia terima dua hari lalu!
"Bagaimana... bagaimana kau bisa tahu posisi dan taktik itu?!" bisik Lu tak percaya.
"Saya membaca laporan pergerakan logistik istana yang melintasi perbatasan tiga hari lalu," jawab Lianhua dengan tenang. "Sekarang, saya berikan Ujian Kelayakan untuk Paman Lu."
Lianhua menatap mata Panglima Lu dengan pandangan yang dalam.
"Jika Paman membawa seratus prajurit tersisa dari sini untuk menyelamatkan tiga ribu orang di Lembah Tengkorak, sementara di saat yang sama pasukan musuh membakar lumbung padi rakyat di desa sebelah... mana yang akan Paman selamatkan terlebih dahulu? Lumbung padi rakyat, atau tiga ribu prajurit kalian?"
Panglima Lu mengepalkan tangannya, lalu membusungkan dada. "Tentu saja tiga ribu prajurit kami! Mereka adalah kekuatan utama perlawanan! Tanpa prajurit, siapa yang akan melawan kerajaan?!"
Lianhua menggelengkan kepalanya dengan pelan, yang memancarkan rasa simpati sekaligus ketegasan.
"Paman Lu gagal."
"Apa?!" seru Lu terkejut.
"Prajurit bertempur untuk melindungi rakyat, bukan rakyat yang dikorbankan demi menyelamatkan prajurit," tegas Lianhua, suaranya menggelegar memenuhi ruangan meski keluar dari sosok tubuh yang kecil. "Jika Paman membiarkan lumbung padi terbakar, rakyat akan mati kelaparan di musim dingin. Prajurit tanpa dukungan dan makanan dari rakyat tidak lebih dari sekadar kelompok penyamun bersenjata!"
Lianhua kemudian menggeser batu catur kayu di atas peta. "Jawaban yang benar adalah: Alihkan aliran Sungai Merah di bagian hulu untuk membanjiri perkemahan musuh di tebing, lalu gunakan lima puluh prajurit untuk mengamankan lumbung padi. Musuh akan panik dan mundur tanpa perlu menumpahkan satu tetes pun darah prajurit di Lembah Tengkorak."
Hening seketika merayapi seluruh ruangan.
Panglima Lu dan dua utusannya membeku di tempat. Otak mereka serasa dihantam petir mendengar analisis taktik yang begitu sempurna, luap logis, dan mengutamakan keselamatan rakyat jelata di atas segalanya, sebuah pemikiran taktik tingkat tinggi yang bahkan jarang dimiliki oleh jenderal veteran istana!
Panglima Lu menatap Lianhua dari kepala hingga kaki, lalu beralih menatap Tuan Zhao yang tersenyum bangga di kursi utama.
"Anak ini... siapakah dia sebenarnya?" bisik Lu bergetar, matanya memancarkan rasa takjub dan hormat yang luar biasa.
"Dia adalah masa depan tanah ini," jawab Tuan Zhao tegas sambil berdiri dari duduknya. "Lu, jika Pasukan Merah kalian ingin bantuan kami, kalian harus bersumpah bukan hanya padaku... tetapi tunduk pada taktik dan kepemimpinan Lianhua saat menyusun rencana pembebasan Lembah Tengkorak."
Panglima Lu tidak ragu lagi. Ia menjatuhkan kedua lututnya ke lantai, dan berlutut penuh hormat di hadapan bocah perempuan berumur delapan tahun itu.
"Hamba, Lu Peng... bersama seluruh Pasukan Merah... bersedia tunduk pada petunjuk dan kebijaksanaan Putri Lianhua!" seru Lu penuh kesetiaan.
Lianhua tersenyum hangat, lalu melangkah mendekat dan membantu Panglima Lu bangkit dari berlututnya dengan kedua tangan mungilnya.
"Bangkitlah, Paman Lu," ujar Lianhua penuh kelembutan. "Mulai hari ini, kita tidak bertempur demi dendam pribadi, tetapi demi mengembalikan senyum dan kedamaian bagi seluruh rakyat jelata di kekaisaran ini."
Bersambung...