Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Seperti Putri Sendiri
Wajah Aynara yang semula cerah perlahan meredup. Perkataan Aksa kembali terngiang di telinganya.
"Ma, perempuan kayak gitu gak pantas jadi istriku. Keluarganya saja kelihatan banget kampungan dan matre."
"Kalau dia jadi istriku selamanya, dia bakal jadiin aku ATM berjalan. Mobil aja keluarganya gak punya. Entah kayak apa rumah mereka. Mungkin cuma gubuk reyot."
"Aku cuma mau menikah sama perempuan yang cantik dan setara denganku. Perempuan yang pantas berdiri di sampingku saat menghadiri perjamuan bisnis."
"Dia? Boro-boro. Dia lebih cocok jadi pembantu daripada jadi istriku."
"Kalau bukan karena warisan, aku gak bakal sudi nikah sama dia."
Dada Aynara terasa sesak, ia menundukkan wajah. "Ma, maaf. Aku... belum siap ketemu Aksa."
Asti langsung menyadari perubahan ekspresi menantunya. Entah mengapa hatinya ikut terasa sedih. Terlebih ketika mengingat bagaimana putranya memperlakukan Aynara.
"Gak apa-apa." Asti menggenggam jemari Aynara dengan lembut. "Kalau kamu belum siap, Mama gak akan maksa."
Aynara perlahan mengangkat wajah. Matanya tertuju pada Asti. Ada rasa lega sekaligus haru karena perempuan itu tidak memaksakan kehendaknya. "Terima kasih, Ma."
Asti tersenyum. "Ah, sudahlah. Sekarang kamu temenin Mama belanja dulu." Ia berdiri sambil meraih tasnya. "Habis itu kita ke spa. Kita manjain diri."
Aynara akhirnya tertawa kecil. "Baik, Ma."
Beberapa saat kemudian, mobil yang dikemudikan Asti meninggalkan area kafe.
Di tengah perjalanan, Asti beberapa kali melirik Aynara. Pandangannya kemudian jatuh pada pakaian yang dikenakan menantunya.
"Baju kamu..."
Asti tampak sedikit bingung bagaimana harus menanyakannya tanpa membuat Aynara tidak nyaman.
Aynara tersenyum kecil. "Ini baju temen, Ma."
"Temen?"
"Iya. Kemarin aku pergi cari kerja. Pas mau pulang, aku gak sengaja ketemu temen lama yang ngasih informasi tentang lowongan pekerjaan."
Aynara menarik napas kecil. "Karena sudah kemalaman, aku akhirnya numpang menginap di kontrakannya."
Asti mengerutkan dahi. "Jadi kamu sekarang numpang tinggal sama temen?"
Aynara mengangguk. "Iya, Ma. Sementara saja sambil nyari kontrakan."
"Dan kamu masih nyari kerjaan?"
"Iya, Ma."
Asti terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata, "Sayang, masa menantu Mama harus numpang di kontrakan temen?"
Aynara menoleh.
"Mama punya apartemen. Mulai hari ini kamu tinggal di sana."
Mata Aynara langsung melebar. "Gak usah, Ma. Nanti aku cari kontrakan sendiri."
"Jangan ditolak." Asti mengatakannya lembut, tetapi tegas. "Kalau kamu menolak, Mama malah merasa kamu gak menganggap Mama sebagai mertua."
"Ma..."
"Mama gak terima alasan."
Aynara akhirnya mengembuskan napas pasrah. Tinggal di apartemen tentu jauh lebih nyaman daripada menumpang di kontrakan Riva. Namun, ia tetap merasa tidak enak terlalu bergantung pada keluarga suaminya. Terlebih, Aksa sendiri sudah jelas tidak menginginkannya.
"Baiklah, Ma."
Asti tersenyum puas. "Nah, gitu dong."
Beberapa detik kemudian, ia kembali berkata, "Di rumah juga ada beberapa mobil. Kalau kamu butuh kendaraan, pilih saja salah satunya."
"Gak usah, Ma."
"Kenapa?" Asti menatap Aynara, sebelum kembali fokus pada jalan di depan. "Kamu gak bisa nyetir?"
"Bisa." Aynara tersenyum kecil. "Dulu waktu kuliah aku pernah ikut kursus mengemudi."
Asti menoleh sekilas. "Untuk apa?"
"Jaga-jaga saja. Kalau nanti kerja di kantor, mungkin kemampuan itu berguna." Aynara kemudian terkekeh. "Kalau kepepet banget, aku juga bisa daftar jadi pengemudi taksi online."
Asti tertawa kecil. "Kamu ini ada-ada saja."
"Kan cuma kemungkinan, Ma."
Asti menggeleng geli. "Kalau kamu butuh pekerjaan, tinggal bilang sama Pak Gunadi. Gak perlu susah-susah mencari sendiri."
Aynara menggeleng. "Aku mau dapat pekerjaan karena usahaku sendiri, Ma."
Asti terdiam sejenak, kemudian mengangguk. "Ya sudah. Mama gak akan maksa." Ia tersenyum. "Tapi kalau nanti belum dapat juga, kamu hubungi Pak Gunadi. Jangan gengsi."
"Iya, Ma."
"Nanti Mama juga akan minta orang nganterin satu mobil ke apartemenmu. Kalau kamu merasa kesepian, kamu boleh ajak temanmu itu tinggal bareng kamu."
Mata Aynara langsung membesar. "Serius, Ma? Aku boleh ajak temenku tinggal bareng aku?"
"Tentu saja." Asti tersenyum. "Asalkan temanmu perempuan, bukan laki-laki."
Aynara terkekeh. "Iya, Ma. Riva memang perempuan."
"Nah, kalau begitu ajak saja. Daripada kamu sendirian di apartemen."
Aynara tersenyum hangat. "Makasih, Ma."
Tak lama kemudian, mobil Asti berhenti di depan sebuah butik. Asti mematikan mesin. "Ayo turun."
Aynara mengerjapkan mata. "Ke sini?"
"Iya. Kamu mau tinggal di apartemen, tapi pakaian aja pinjem punya temen?"
Aynara refleks melihat pakaiannya sendiri. "Di rumah ada, Ma."
"Mama mau beliin buat menantu Mama. Jadi jangan ditolak." Asti sudah lebih dulu turun dari mobil.
Aynara akhirnya mengikuti. Begitu memasuki butik, seorang pramuniaga langsung menyambut mereka dengan ramah.
"Selamat datang, Nyonya."
Asti tersenyum lalu menunjuk Aynara. "Saya mau mencari beberapa pakaian untuk dia."
Pramuniaga itu mengangguk. "Baik, Nyonya. Untuk acara formal atau sehari-hari?"
"Keduanya." Asti kemudian menggandeng tangan Aynara. "Kamu pilih yang kamu suka."
"Ma, jangan terlalu banyak."
Asti menatapnya. "Kenapa?"
"Takut merepotkan."
Asti mengusap punggung tangannya. "Kamu ini menantu Mama, bukan orang asing."
Ia kemudian menunjuk beberapa pakaian yang dipajang. "Ambil yang itu. Sebelah kirinya. Yang di sana juga."
Aynara tersenyum malu. "Ma..."
"Sudah. Jangan banyak protes."
Aynara akhirnya menurut. Satu demi satu pakaian dipilih. Ada beberapa set pakaian kerja, pakaian kasual, hingga beberapa pakaian untuk menghadiri acara resmi.
Setiap kali Aynara mencoba menolak, Asti selalu punya alasan untuk membungkam protesnya. Hingga akhirnya Aynara hanya bisa tertawa pasrah.
Untuk pertama kalinya, berbelanja pakaian bersama seorang ibu terasa begitu menyenangkan baginya. Dan tanpa Aynara sadari, Asti pun diam-diam merasa bahagia.
Seolah-olah hari itu ia bukan sedang menemani menantunya berbelanja. Melainkan sedang mengajak putrinya sendiri.
Usai berbelanja di butik, Asti membawa Aynara menikmati waktu di spa. Setelah beberapa jam memanjakan diri, keduanya akhirnya meninggalkan tempat itu dengan tubuh yang terasa jauh lebih rileks.
Mobil Asti kemudian melaju menuju sebuah apartemen mewah yang berada tidak jauh dari pusat kota. Begitu tiba di area parkir, Asti memarkirkan mobilnya.
Aynara baru saja membuka pintu ketika sebuah mobil berwarna putih mutiara masuk ke area parkir dan berhenti tepat di samping mobil Asti.
Aynara sempat memerhatikannya. Sebuah Mercedes-Benz C-Class tampak terawat sempurna. Desainnya elegan, tetapi tidak berlebihan.
Pintu pengemudi terbuka, seorang pria keluar.
...🔸🔸🔸...
...“Nilai seseorang tidak pernah ditentukan oleh pakaian yang dikenakan, rumah tempat ia tinggal, atau jumlah harta yang dimiliki. Sebab, seseorang yang memiliki hati baik dan ketulusan tetap berharga meski dunia belum melihatnya.”...
...“Ada luka yang tidak sembuh karena waktu, tetapi karena seseorang datang dan memperlakukan kita dengan cara yang seharusnya sejak awal kita terima: dengan hormat, kasih sayang, dan penerimaan.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Regan kemungkinsn besar adalah Arsa. Wajah mirip.
Regan si kembar yang lebih baik kepribadiannya daripada si kembar satunya. Aksa si sombong.
Kalau Regan benar adalah Arsa yang telah dinyatakan meninggal, kini malah yang benar-benar meninggal Aksa.
Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.
Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.
Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.
Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.
Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.
Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.
Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.
Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.
Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.
Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.
Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Doni nanti musuhnya Regan. G
Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.
Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.
Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.
Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.
Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.
Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.
Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.
Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.
Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.
Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.
Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.
Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.
Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.
Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.
Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.
Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.
Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.
Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.
Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.
Aynara memaafkan Aksa.
Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.
Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.
Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.
Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.
Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.
Aynara menyelesaikan ceritanya.
Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.
Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.
Juga tentang pekerjaan Aksa.
Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?
Kondisi Aksa dalam pemeriksaan secara medis baik semua. Dokter minta pasien tetap diobservasi.
Regan tahu kalau dokter merasa ada yang janggal.
Regan benar-benar mendalami perannya. Beberapa pertanyaan dokter dijawab dengan menggeleng.
Mendengar nasehat dari dokter, Regan menjawabnya mengangguk pelan.
Asti dan Aynara jadi memperkenalkan diri biar Aksa yang amnesia tahu siapa kedua wanita itu.
Dokter memeriksa Aksa. Ketika ditanya oleh dokter, jawabnya hanya mengangguk dan diam.
Bikin Asti khawatir saja nih.
Pura-pura panik, tidak tahu harus bicara apa.
Aynara terkejut melihat Aksa yang cuma membuka mulut, ngga ada suara yang keluar.
Aynara dan Asti memang orang asing bagi Aksa palsu. Aman saat ini Aksa menjadi tidak ingat sama mama dan istrinya.
Aksa hilang ingatannya serta suaranya. Itu yang Aynara tahu saat ini.
Suara jadi berbeda juga kalau Aksa bicara.
Regan membuat hidupnya rumit sendiri.