NovelToon NovelToon
PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:988
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 - CERMIN AJAIB DAN RIASAN PENGANTIN

Sejak Segara demam dan aku menjaganya semalaman dengan tangan yang digenggam itu, ada satu hal aneh yang terjadi di istana.

Para selir tidak lagi memandangku dengan tatapan iri atau takut. Mereka memandangku dengan tatapan kagum dan penasaran yang berlebihan.

Setiap pagi, saat aku berjalan ke taman untuk memetik bunga mawar untuk teh, mereka akan mengintip dari balik pilar paviliun mereka dan berbisik-bisik.

"Lihat, itu Gusti Permaisuri Mawar. Yang menyembuhkan anak desa itu."

"Lihat bibirnya, merahnya tidak luntur meski sudah seharian. Katanya itu pewarna dari surga."

"Gusti Kaisar bahkan mau minum obat dari tangannya. Padahal Gusti Kaisar tidak pernah mau minum ramuan dari tabib."

Gosip itu menyebar lebih cepat dari api di musim kemarau.

Puncaknya adalah tiga hari lagi. Pesta Panen Kerajaan akan diadakan di Balairung Langit. Pesta terbesar tahun ini, di mana semua bangsawan dari seluruh penjuru Kerajaan Langit akan datang, membawa hasil panen mereka. Semua selir akan dirias secantik mungkin untuk menarik perhatian Kaisar.

Dan semua selir panik karena mereka tahu, Kaisar Segara El-Bhumi sekarang hanya datang ke Paviliun Mawar untuk minum teh.

Siang ini, saat aku sedang duduk di teras Paviliun Mawar sambil mengoles lipstik merah delima ku di depan cermin kaca hadiah Sistem yang bening dan tidak buram seperti cermin perunggu istana, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki ramai.

Lima orang selir datang bersamaan ke halaman paviliun ku. Di depan mereka adalah Selir Jelita, yang sejak kejadian teh beracun yang gagal itu, sikapnya berubah 180 derajat. Tidak lagi sinis, tapi malah terlihat canggung dan malu.

Mereka semua bersimpuh di depan teras ku.

"Gusti Permaisuri Mawar, maafkan kami mengganggu waktu istirahat Gusti," kata Selir Cempaka, selir yang paling tua dan paling bijak di antara mereka.

Aku kaget dan langsung berdiri. "Ada apa, Selir Cempaka? Silakan duduk, jangan bersimpuh di tanah."

Selir Jelita yang maju paling depan, dengan wajah menunduk. "Gusti Permaisuri... kami... kami ingin belajar. Belajar bagaimana caranya merias wajah seperti Gusti Permaisuri. Agar kami bisa terlihat cantik saat Pesta Panen nanti."

Aku membelalakkan mata. Belajar merias wajah?

Selir Mawar Muda yang paling muda dan paling polos, menambahkan dengan suara pelan, "Gusti Permaisuri, pewarna bibir Gusti itu sangat indah. Tidak luntur saat minum teh. Tidak luntur saat makan. Kami sudah mencoba tumbukan bunga mawar dan buah naga, tapi warnanya pucat dan luntur setelah satu jam. Kami ingin seperti Gusti."

Oh. Jadi mereka ingin lipstik merah delima ku.

Aku menatap lima perempuan cantik di depanku. Dulu mereka adalah sainganku. Dulu mereka adalah orang-orang yang mungkin ingin meracuniku agar bisa menjadi permaisuri. Tapi hari ini, mereka datang dengan wajah polos, tanpa rasa iri, hanya ingin terlihat cantik. Seperti teman-teman perempuan di abad 21 yang ingin belajar make up.

Hati manusiawi ku luluh.

Aku tersenyum dan mengambil cermin kaca bening hadiah Sistem ku yang besar.

"Baiklah. Tapi kalian harus janji, setelah ini kita tidak ada yang iri-irian lagi ya. Kita semua perempuan istana harus rukun. Setuju?" kataku dengan nada santai seperti seorang kakak.

Mereka semua mengangguk cepat dengan mata berbinar.

"Setuju, Gusti Permaisuri!"

Aku menyuruh Mbok menyiapkan tikar besar di teras dan membawa air mawar dan beberapa kain halus.

Lalu, Paviliun Mawar ku yang biasanya sepi dan tenang, siang itu berubah menjadi salon kecantikan abad 21.

Aku memulai dengan Selir Cempaka yang paling tua. "Selir Cempaka, kulit Gusti agak kering, jadi sebelum pakai pewarna, kita pakai air mawar dulu biar lembab ya."

Aku mengoleskan air mawar ke wajahnya dengan kapas. Lalu aku mengambil lipstik merah delima ku. Aku hanya punya dua batang. Satu sudah hampir habis aku pakai setiap hari. Satu lagi masih baru, hadiah dari Sistem yang belum aku buka karena sayang.

Aku membuka yang baru itu dengan berat hati, tapi dengan tulus. Aku mengoleskannya tipis-tipis ke bibir Selir Cempaka.

"Jangan dioles tebal seperti saya, Selir. Cukup di tap-tap saja di tengah bibir, lalu diratakan pakai jari. Biar terlihat natural," ajarku seperti seorang beauty vlogger.

Saat Selir Cempaka melihat wajahnya di cermin kaca bening itu, dia menjerit tertahan.

"Ya ampun! Ini... ini aku? Bibirku merah seperti gadis 17 tahun! Dan cermin Gusti ini... cermin ini bening sekali! Saya bisa melihat pori-pori saya! Cermin perunggu di paviliun saya buram sekali!" jeritnya histeris tapi bahagia.

Selir-selir lain langsung berebut ingin melihat cermin kaca itu.

"Giliran saya, Gusti! Giliran saya!"

Aku merias mereka satu per satu dengan sabar. Selir Mawar Muda yang pipinya tembem, aku ajarkan teknik contour pipi dengan arang halus yang dicampur bedak, agar pipinya terlihat lebih tirus. Selir Kenanga yang matanya sipit, aku ajarkan cara membuat garis mata dengan arang agar matanya terlihat lebih besar.

Dan Selir Jelita, aku rias paling terakhir.

Saat aku merias Selir Jelita, aku bisa melihat kukunya yang dulu ada sisa bubuk putih racun gatal itu, sekarang bersih dan dipotong pendek.

"Selir Jelita, kukunya sudah dipotong ya?" tanyaku pelan sambil mengoles lipstik di bibirnya.

Selir Jelita menunduk malu. "Ya, Gusti Permaisuri. Setelah kejadian teh itu... saya sadar, kecantikan bukan dari menjatuhkan orang lain. Kecantikan itu dari sini." Dia menunjuk hatinya. "Saya ingin belajar dari Gusti, bukan iri pada Gusti."

Aku tersenyum dan memeluknya sekilas. "Cantik sekali, Selir Jelita."

Sore itu, lima selir pulang dari Paviliun Mawar ku dengan wajah yang semuanya merah merona dengan lipstik merah delima ku yang aku bagi tipis-tipis, dan dengan hati yang riang.

Mbok yang melihat dari dapur, berbisik padaku, "Gusti, Gusti memberikan lipstik surga Gusti yang mahal itu pada mereka? Sayang sekali, Gusti. Itu kan hadiah dari dewa."

Aku tertawa dan menatap cermin kaca ku yang kini penuh dengan bekas jari-jari mereka.

"Tidak apa-apa, Mbok. Lipstik akan habis, tapi teman tidak. Lagipula, kalau semua perempuan di istana cantik, Gusti Kaisar pasti senang karena taman bunganya jadi lebih indah, kan?"

Mbok mengangguk-angguk, tidak mengerti.

Dari kejauhan, di koridor menuju Balairung Langit, Segara El-Bhumi berdiri dengan jubah hitamnya, menatap Paviliun Mawar ku yang ramai dengan suara tawa perempuan. Dia tidak masuk, hanya berdiri dan menatap dengan senyum tipis yang tidak pernah dilihat siapa pun sebelumnya.

Pengawal pribadinya berbisik, "Gusti Kaisar, semua selir keluar dari Paviliun Mawar dengan bibir merah seperti Gusti Permaisuri, Gusti. Mereka terlihat... rukun, Gusti."

Segara mengangguk pelan, matanya masih menatapku yang sedang tertawa bersama selir-selir itu di teras.

"Biarkan saja. Jika Kahiyang bisa membuat taman yang penuh dengan bunga yang saling iri menjadi taman yang penuh dengan bunga yang saling memuji... maka biarkan saja. Itu bagus," bisiknya pelan, lalu berbalik pergi.

Di kepalaku, Sistem berbunyi dengan riang.

[MISI SAMPINGAN: MENGUBAH 5 SELIR MENJADI TEMAN - BERHASIL!]

[HADIAH: 1 SET LENGKAP ALAT RIAS MODERN (BEDAK, BLUSH ON, EYELINER) - SUDAH ADA DI KOTAK P3K]

Malam itu, aku membuka kotak P3K ku dan menemukan satu set alat rias modern lengkap di dalamnya. Lengkap dengan cermin lipat.

Aku tertawa. Ternyata, di Kerajaan Langit ini, tidak ada perang yang tidak bisa diselesaikan dengan satu batang lipstik merah delima dan satu cermin ajaib yang bening.

Alurnya memang sangat santai hari ini. Hanya rias-merias di teras.

Tapi ngena sekali, karena untuk pertama kalinya, Paviliun Mawar ku yang dulu sepi dan dijauhi, menjadi paviliun yang paling ramai dengan suara tawa perempuan. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sendirian di istana yang besar ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!