Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.
Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.
Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.
Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.
Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.
Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?
Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Malam telah larut di rumah kecil itu. Hujan yang turun sejak sore tadi sudah reda sepenuhnya, menyisakan bau tanah basah yang masuk dari celah jendela dan suara tetesan air yang jatuh dari ujung genteng ke ember di halaman belakang. Di luar, gang sudah sepi, hanya suara jangkrik.
Arhan masih terjaga setelah Anya tertidur lelap. Di ruang dapur, di bawah lampu gantung kuning yang temaram, ia duduk di depan laptop yang layarnya menyala terang. Di sampingnya ada gelas teh yang sudah dingin, uapnya sudah lama hilang.
Jarinya bergerak cepat di atas keyboard, menulis bab demi bab novelnya yang berjudul Bunga Itu. Novel yang ia tulis untuk penerbit.
"Ayna. Gadis muda itu terlihat sibuk. Mengurus taman bunganya yang indah, yang ia siram setiap pagi sebelum matahari naik," gumam Arhan pelan, bibirnya bergerak mengikuti kalimat yang ia tulis, matanya sudah merah karena menatap layar terlalu lama.
Dari dalam kamar yang pintunya tidak tertutup rapat, terdengar suara pelan, serak, memanggil namanya, memecah keheningan malam.
"Han. Kamu dimana," ucap Anya pelan dari dalam kamar.
Arhan menoleh ke arah kamar, tangannya berhenti di atas keyboard, "Aku di sini An. Di dapur. Tunggu sebentar," jawabnya.
Arhan segera beranjak dari kursi kayu yang berdecit pelan, langkahnya hati-hati agar tidak membangunkan Anya sepenuhnya, lalu berjalan menghampiri Anya.
Di dalam kamar yang gelap, hanya ada cahaya remang dari dapur yang masuk melalui celah pintu, Anya sudah duduk di tepi ranjang, selimut tebalnya turun sampai pinggang, rambutnya berantakan menutupi sebagian wajah.
"Kenapa An?" tanya Arhan, berjongkok di depan ranjang, menatap wajah istrinya.
"Aku mau minum," balas Anya, suaranya kecil.
Arhan segera mengambil segelas air putih yang memang selalu ia siapkan di meja kecil samping ranjang, air yang ia ganti setiap sore sebelum tidur. Lalu memberikannya kepada Anya, dan membantunya duduk lebih tegak, punggungnya disangga bantal agar tidak terjatuh.
Lalu Anya segera meminumnya, tegukan pelan, napasnya terdengar berat.
"Ini jam berapa Han?" tanya Anya setelah meletakkan gelas kembali ke meja.
Arhan pun melihat jam di ponselnya yang tergeletak di atas kasur, cahaya layarnya menyilaukan di kamar yang gelap, "Pukul setengah dua An. Kamu tidur lagi aja," jawab Arhan.
"Kamu kenapa belum tidur? Ini sudah larut Han. Kamu juga butuh istirahat," ucap Anya, matanya menatap Arhan dengan khawatir, tangannya meraih tangan Arhan yang dingin karena lama di depan laptop.
Arhan tersenyum, senyum tipis, mengelus rambut Anya yang tipis itu, rambut yang akhir-akhir ini rontok, "Aku lagi ngetik An. Ngelanjutin novel," jawab Arhan.
Anya memegang tangannya erat, tidak melepas, "Iya aku tau, tapi kamu sebaiknya tidur Han. Besok saja, kamu sudah dari sore di depan laptop," kata Anya.
Arhan mengangguk pelan, "Yaudah. Aku matiin dulu laptop ya An terus tidur bareng kamu. Sebentar saja."
Anya mengangguk dan menarik selimutnya kembali, berbaring pelan, memejamkan mata. Sedangkan Arhan keluar dari kamar, kembali ke dapur, menutup laptopnya, lalu mematikan lampu dapur. Rumah kembali gelap, hanya ada suara jangkrik dari luar dan napas Anya yang pelan.
Saat di kamar, Arhan segera naik ke atas kasur yang sempit itu, kasur yang sudah lama mereka tiduri berdua, yang di tengahnya sudah agak kempes karena usia. Memeluk Anya dari belakang, memeluk tubuh Anya yang hangat di balik selimut tebal.
"Yuk tidur An," ucap Arhan, berbisik pelan di telinga Anya.
Anya mengangguk pelan tanpa membuka mata, "Iya Han," jawabnya, suaranya hampir seperti mengigau.
Tidak lama, Arhan pun mulai mengantuk, matanya terpejam, napasnya menjadi pelan dan teratur, dan masuk ke dalam mimpi, mimpi yang gelap dan hangat karena memeluk Anya.
Langit telah memancarkan cahayanya, cahaya pagi yang putih dan terang masuk dari celah gorden yang tidak tertutup rapat, hari menjelang siang, matahari sudah tinggi, hampir jam sebelas siang. Suara anak-anak tetangga bermain bola di gang terdengar jelas, suara penjual sayur lewat.
Saat membuka mata, kepala Arhan terasa sangat berat, berat sekali seperti ditekan batu besar, berdenyut-denyut di pelipis. Dia merasa demam dan pusing, tenggorokannya kering dan sakit saat menelan, badannya panas dingin, keringat dingin membasahi dahi dan lehernya, kaosnya lembab.
Arhan menoleh ke arah Anya, ke samping ranjang yang biasanya ada Anya tidur memunggunginya. Istrinya itu sudah tidak ada. Tempat tidurnya kosong, selimutnya sudah dilipat rapi persegi empat, bantalnya ditata, tidak ada tanda Anya baru bangun, seperti sudah lama bangun.
"An... Anya, kamu dimana?" panggil Arhan, suaranya serak, parau, ia mencoba duduk tapi tubuhnya tidak kuat, pandangannya gelap.
Dia berusaha duduk, dengan tenaga yang sisa, pandangannya terlihat seperti berputar, dinding kamar berputar pelan, lampu gantung terlihat ganda. Arhan memegang kepalanya dengan kedua tangan, menahan rasa sakit yang berdenyut keras di kepalanya.
Lalu saat ia masih di tepi ranjang, dengan kaki yang menggantung lemas tidak menyentuh lantai, Anya datang dari arah dapur, melangkah ringan, tidak tertatih. Ia membawakan segelas air putih yang bening dan masih dingin, dan sebuah piring kecil berisi telur omelet yang masih mengepul hangat, harum bawang dan mentega, ditaburi daun bawang dan sedikit keju di atasnya.
"Selamat pagi sayang. Kamu sudah bangun?" ucap Anya sambil tersenyum lebar, senyum yang cerah, senyum yang sudah lama tidak Arhan lihat sejak Anya sakit, senyum yang dulu selalu ada setiap pagi.
Arhan mengernyit, matanya menyipit, dahinya berkerut menahan pusing, memastikan wanita di depannya itu adalah Anya, istrinya yang tengah sakit keras, yang kemarin saja masih harus ia papah ke kamar mandi, yang masih pucat dan tidak bisa berdiri lama.
"Anya? Kok... kok kamu bisa masak? Kok kamu bisa jalan sendiri?" tanya Arhan terkejut, suaranya masih serak, matanya membulat tidak percaya, ia menatap piring di tangan Anya.
Anya menggelengkan kepala, meletakkan piring dan gelas di meja kecil, lalu duduk di samping Arhan, mengusap keringat di dahi Arhan, "Nggak tau Han. Pas bangun... pas bangun tadi pagi. Tiba-tiba saja. Tubuhku lebih ringan dan nggak sakit. Nggak pusing, nggak mual, nggak lemas. Kayak dulu lagi, kayak sebelum aku sakit, kayak mimpi," jawabnya, suaranya ceria, matanya berbinar, penuh hidup.
Arhan menatap Anya dari atas sampai bawah, wajahnya tidak pucat lagi, ada rona merah muda di pipinya, bibirnya merah, matanya tidak sayu, rambutnya terlihat lebih berkilau.
"Jangan bercanda An," kata Arhan pelan, hampir berbisik.
"Beneran Han, aku nggak bercanda. Lihat, aku bisa berdiri lama, aku bisa jalan ke dapur, aku bisa masak telur buat kamu," kata Anya sambil berdiri, berjalan memutar di depan Arhan, langkahnya ringan, lalu kembali duduk di sampingnya.
Arhan masih terdiam, memegang tangan Anya, tangan yang kemarin dingin dan gemetar, kini hangat dan kuat genggamannya, kuku-kukunya yang kemarin pucat kini merah muda. Antara bahagia yang meluap sampai ingin menangis keras dan takut yang besar, takut ini hanya keajaiban sesaat, takut ini hanya mimpi siang yang akan hilang jika ia pejamkan matanya lagi,