Enam tahun lalu, Kenzo Roman De Luca kehilangan seorang wanita yang tak pernah berhasil ia lupakan. Yang tak pernah ia ketahui, wanita itu pergi membawa dua kehidupan yang tumbuh menjadi anak-anak genius.
Takdir mempertemukan mereka kembali.
Namun, sebelum Kenzo mengetahui kebenarannya, seorang bocah laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya dengan berani menawari sesuatu padanya.
"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.
Kenzo terpaku, dia tak tahu anak yang sedang memohon kepadanya itu adalah putranya sendiri. Akankah, Kenzo setuju atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Suasana di kantor pusat De Luca Group terasa jauh berbeda dari biasanya. Lorong-lorong dipenuhi langkah kaki yang tergesa, sementara bisikan para karyawan terdengar di setiap sudut.
"Tau nggak? Akun sekuritas milik Tuan Kenzo sempat menjual beberapa saham penting perusahaan kemarin."
"Iya, dari pagi tadi telepon dari klien nggak berhenti. Banyak yang berspekulasi De Luca Group mau bangkrut. Gara-gara masalah kemarin."
"Makanya rapat darurat langsung diadakan."
"Yang aneh, Tuan Kenzo belum datang. Biasanya beliau paling anti telat."
"Iya, bahkan lima menit sebelum rapat dimulai beliau sudah ada di ruang meeting."
Tara yang baru saja keluar dari lift membawa map berisi dokumen hukum mendengar percakapan itu tanpa sengaja. Dia hanya melirik sekilas ke arah para karyawan yang langsung terdiam saat menyadari kehadirannya. Ia berjalan santai menuju ruang kerjanya.
'Bangkrut?' batinnya.
Sebagai pengacara perusahaan, ia tahu kondisi keuangan De Luca Group jauh lebih kuat daripada rumor yang beredar. Penjualan beberapa saham belum tentu berarti perusahaan sedang kolaps. Bisa saja itu bagian dari strategi investasi atau likuiditas.
Namun, yang membuatnya sedikit penasaran justru hal lain.
'Tumben Tuan Kenzo terlambat...'
Tara menatap jam di pergelangan tangannya. Sudah lewat lima belas menit dari jadwal rapat. Dia menghela napas pelan.
'Jangan-jangan...' Pikirannya langsung teringat pada kejadian pagi tadi.
Beberapa jam yang lalu, dirinya dan Kenzo baru saja keluar dari Kantor Catatan Sipil setelah menyelesaikan pendaftaran pernikahan mereka, pernikahan yang dilakukan karena kesepakatan, bukan karena cinta.
Sudut bibir Tara bergerak tipis.
'Apa dia terlambat gara-gara urusan pendaftaran nikah tadi?' gumamnya dalam hati.
'Kalau memang begitu ... berarti untuk pertama kalinya, CEO yang terkenal disiplin itu telat karena aku. Padahal, jelas-jelas tadi dia pulang lebih dulu dari sana,'
Entah kenapa pikiran itu membuat Tara merasa sedikit canggung. Namun, ia segera menggeleng pelan.
"Sudahlah, mau telat karena apa pun, itu bukan urusanku. Aku di sini cuma mau kerja. Selama gajinya masuk setiap bulan, aku bisa tahan menghadapi bos paling sombong sedunia itu."
Baru saja Tara hendak masuk ke ruang divisi hukum, suara pintu lift utama terbuka. Seluruh kepala yang berada di lobi langsung menoleh. Suasana yang tadinya dipenuhi bisik-bisik mendadak berubah sunyi.
Dari dalam lift, Kenzo keluar dengan langkah tenang mengenakan setelan jas hitam yang rapi. Wajahnya tetap datar, seolah tidak terjadi apapun, yang di ikuti oleh Digo dibelakang. Tatapannya tajam menyapu seluruh ruangan hingga membuat para karyawan spontan menundukkan kepala.
"Selamat pagi, Tuan Kenzo."
"Selamat pagi, Tuan."
Kenzo hanya mengangguk singkat tanpa menghentikan langkahnya. Saat melewati Tara, langkahnya sempat melambat sepersekian detik. Tanpa menoleh kepadanya, dengan suara pelan yang hanya bisa didengar Tara, ia berkata,
"Masuk ke ruang rapat, segara! Kamu ikut rapat,"
Lalu ia kembali berjalan seolah tak pernah mengatakan apa pun. Tara hanya memandang punggung pria itu sambil mendengus pelan.
"Nyuruh orang kayak nyuruh asisten pribadinya aja..."
Meski menggerutu, ia tetap menggenggam map di tangannya dan melangkah mengikuti Kenzo menuju ruang rapat, tanpa menyadari bahwa rapat darurat pagi itu akan menjadi awal terungkapnya siapa dalang di balik penjualan saham yang mengguncang nama besar De Luca Group. Meksipun, Tara dan Kenzo sudah tahu pelakunya.
Ruang rapat utama di lantai paling atas itu dipenuhi suasana yang tegang. Meja konferensi panjang telah ditempati para petinggi De Luca Group. Para dewan direksi, kepala divisi, manajer, staf HRD, hingga sekretaris perusahaan sudah hadir sejak beberapa menit yang lalu.
Tak seorang pun berani mengobrol keras. Semua hanya saling bertukar pandang, menunggu sang CEO datang.
Pintu ruang rapat terbuka.
Kenzo melangkah masuk dengan wajah tenang, diikuti Digo yang membawa tablet berisi laporan. Seketika seluruh peserta rapat berdiri.
"Selamat pagi, Tuan Kenzo."
Kenzo mengangguk singkat. "Pagi, duduk."
Semua kembali duduk. Beberapa detik kemudian, pintu kembali terbuka. Tara masuk sambil membawa map dokumen di pelukannya. Tatapan hampir seluruh ruangan langsung beralih kepadanya.
"Dia pengacara baru itu, ya?"
"Baru dua hari bekerja sudah ikut rapat direksi?"
"Biasanya yang hadir cuma tim legal senior."
"Kenapa Tuan Kenzo membawanya?"
Bisikan-bisikan pelan mulai terdengar. Tara berusaha mengabaikannya. Dengan tenang ia berjalan menuju kursi yang telah disediakan di sisi tim legal. Meski baru dua hari bekerja, ia tetap menjaga ekspresi profesional.
Sementara itu, di ujung meja, Digo sedikit membungkuk ke arah Kenzo.
"Semua sudah hadir, Tuan. Direksi lengkap, kepala divisi lengkap, termasuk tim legal."
Kenzo menerima tablet dari Digo tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Bagaimana perkembangan harga saham sejak pasar dibuka?"
"Masih turun sekitar tiga koma delapan persen, Tuan. Rumor mengenai penjualan saham kemarin menyebar lebih cepat dari perkiraan."
"Media?"
"Sudah mulai menghubungi humas. Beberapa investor besar juga meminta penjelasan."
Kenzo menutup tablet itu perlahan.
"Biarkan mereka menunggu. Kita selesaikan masalah internal lebih dulu."
"Baik, Tuan."
Digo lalu berdiri tegak di samping layar presentasi. Seluruh peserta rapat kembali memusatkan perhatian ke arah depan. Suasana menjadi begitu sunyi hingga suara pendingin ruangan terdengar jelas.
Kenzo menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu menyapu seluruh ruangan dengan tatapan tajam.
"Rapat darurat ini saya buka."
Tak ada seorang pun yang berani bersuara.
"Semalam," ucap Kenzo tenang, "akun sekuritas perusahaan menjual sejumlah saham strategis De Luca Group tanpa persetujuan saya."
Kalimat itu membuat beberapa direksi saling berpandangan.
"Tindakan tersebut telah memicu kepanikan di pasar. Investor mengira perusahaan ini sedang mengalami krisis."
Kenzo berhenti sejenak, tatapannya perlahan menyapu wajah para peserta rapat, seolah mengamati reaksi satu per satu.
"Sebelum kita membahas langkah selanjutnya..."
Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja.
"Saya ingin memberi tau terlebih dahulu siapa yang membobol akun sekuritas De Luca Group,"
Suasana rapat berubah semakin menegangkan. Tak seorang pun berani mengangkat kepala, sementara Tara mulai membuka map dokumennya, bersiap mencatat setiap perkembangan yang mungkin berujung pada penyelidikan hukum di dalam perusahaan.
"Orang itu adalah anak saya" lanjut Kenzo bangga. Namun, seluruh orang yang berada di tempat itu terkejut dan suasananya menjadi hening seketika.
"Hah? Siapa?" ulang salah satu staf dengan suara yang setengah berbisik. Karena semua orang tahu, Kenzo belum menikah apa lagi punya anak, sangat mustahil.
diumumkan begitu aja
anugerah apa bencana yaaa?😱🤣🤣🤣
Kenzo nih tipe orang yg GK suka basa basi muter muter,, cus pokoknya lgsg beres ya kan 🤭
Setuju,,... pengumuman pernikahanmu harus segera d sebar luaskan ....,, biar ga ad yg berani godain mommy Tara 😅