Clara Nagendra, siswi berprestasi dengan senyum tempelan sempurna, hidup dalam rumah dingin yang hanya memuja adiknya, Thea. Di balik nilai 98 dan piala emas, ia menyembunyikan gagal ginjal kronis stadium 4 dalam diary biru lusuhnya. Hanya Nenek Kamila dan tiga sahabatnya yang melihat lukanya. Pertemuannya dengan Kim Seokjin, ketua geng motor yang ditakuti, mengubah segalanya. Dari musuh jadi rumah. Dari taman belakang yang bersih hingga janji rumah kecil bernomor 7 di Lembang, Clara akhirnya menemukan tempat pulang — bukan gedung, melainkan pelukan yang tidak menuntutnya sempurna. Sebuah kisah tentang luka yang tak terlihat, cinta yang menjadi tempat istirahat, dan rumah yang tertinggal namun tetap menyala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 — Rahasia di Ruang Rumah Sakit
Hari itu jadwal kontrol Clara yang beneran. Bukan kontrol yang dimajuin, tapi kontrol bulanan yang harus bawa hasil lab lengkap.
Clara udah janji sama Mutiara dari seminggu lalu.
"Mut, temenin gue ya hari Kamis. Ke RSUD Harapan lagi. Jam 8 pagi. Jangan telat."
Mutiara angguk. "Iya, gue udah izin les. Gue temenin."
Clara gak bilang ke Nenek. Gak bilang ke Mama Papa. Bilangnya ke sekolah ada lomba olimpiade. Padahal mau ke RS.
Jam 7 pagi, mereka ketemu di halte deket rumah Clara. Clara pake masker, pake hoodie gede biar gak keliatan pucet banget. Mutiara bawa bekal roti.
Di angkot, Clara diem. Tangannya dingin. Megangin amplop coklat isi hasil lab yang udah sebulan dia kumpulin.
"Ra, lo deg-degan ya?" tanya Mutiara.
Clara angguk. "Takut, Mut."
"Gak apa, gue di sini."
Sampe RSUD Harapan, poli Nefrologi udah rame. Bau obat sama bau antiseptik campur jadi satu. AC dingin banget.
Clara daftar. Dapet antrian nomor 17. Masih lama.
Mereka duduk di kursi tunggu yang keras itu. Clara nyender ke bahu Mutiara.
"Mut, kalau nanti hasilnya jelek, jangan nangis ya di depan dokter. Gue malu."
"Gue gak nangis. Lo yang jangan nangis."
Dua jam nunggu. Akhirnya dipanggil.
"Clara Nagendra!"
Clara masuk. Mutiara ikut masuk karena Clara minta ditemenin.
Di dalem, dokternya masih sama. Dokter Maya. Umur 40-an, kacamata, baik tapi to the point.
"Clara, duduk. Hasil lab kemarin udah keluar semua ya."
Clara nyodorin amplop.
Dokter Maya buka. Baca satu-satu. Lama. Mukanya serius.
Mutiara ngeliatin dari samping. Jantungnya deg-degan.
Dokter Maya taruh kertasnya. Ngeliatin Clara.
"Clara, kamu tau kan kamu sakit apa?"
Clara angguk pelan. "Gagal ginjal kronis, Dok."
"Iya. Stadium 4. Mendekati stadium 5."
Mutiara langsung nahan napas. Gak ngerti stadium-stadium, tapi denger angka 4 sama 5 tuh udah serem.
"Jadi ginjal kamu fungsinya udah di bawah 20 persen, Ra. Yang normal 100 persen. Makanya kamu sering mual, pusing, capek, pinggang nyut-nyutan. Itu semua karena racun di badan kamu gak kebuang sempurna."
Clara nunduk. Tangan ngeremas rok.
"Terus harus gimana, Dok?" tanya Mutiara, suaranya kecil.
Dokter Maya ngeliatin Mutiara, terus balik ke Clara.
"Kita harus siapin untuk cuci darah. Hemodialisis. Minimal 2 kali seminggu. Dan... kamu harus jaga makan ketat. Gak boleh garam banyak, gak boleh minum banyak. Dan yang paling penting, kamu gak boleh capek. Sekolahnya harus dikurangin aktivitas beratnya."
Clara diem.
"Dan satu lagi, Clara. Kamu harus ngomong sama orang tua kamu. Ini gak bisa kamu hadepin sendirian. Kamu butuh pendamping. Butuh biaya. Butuh donor kalau nanti mau transplantasi."
Kata donor itu bikin Clara langsung tegak.
"Donor, Dok?"
"Iya. Transplantasi ginjal. Itu jalan terbaik buat umur kamu. Tapi itu nanti. Sekarang fokus cuci darah dulu biar kondisi kamu stabil."
Mutiara udah nangis pelan di sebelah Clara. Gak bersuara. Cuma air mata netes.
Clara malah gak nangis. Dia bengong. Ngeliatin hasil lab di meja dokter.
Gagal ginjal kronis. Stadium 4. Cuci darah. Transplantasi.
Kata-kata itu muter-muter di kepala dia.
"Dok, boleh gak... jangan bilang Mama Papa dulu?"
Dokter Maya kaget. "Kenapa?"
"Di rumah lagi fokus ke adek saya, Dok. Adek saya juga sakit. Kalau Mama tau saya sakit gini juga, Mama bisa shock. Boleh saya yang atur dulu ngomongnya?"
Dokter Maya ngela napas panjang. "Clara, ini serius. Gak bisa ditunda-tunda."
"Saya tau, Dok. Kasih saya waktu seminggu ya. Seminggu aja. Saya janji ngomong."
Dokter Maya akhirnya angguk. "Seminggu. Jangan lebih. Kalau kamu pingsan lagi di sekolah, langsung ke IGD ya."
"Iya, Dok."
Mereka keluar dari ruangan dokter. Bawa resep obat yang lebih banyak. Bawa jadwal cuci darah yang masih kosong, belum diisi tanggal.
Di lorong RS, Clara jalan pelan. Mutiara papah dia.
Sampe di bangku tunggu yang sepi deket apotek, Clara akhirnya jebol. Nangis. Kenceng. Gak ditahan lagi.
Mutiara meluk dia. Erat.
"Ra... Ra..."
"Mut, gue mau cuci darah, Mut. Gue masih SMA, Mut. Gimana?"
"Gak apa, Ra. Gak apa. Kita jalanin bareng ya. Gue temenin tiap cuci darah. Gue janji."
Clara nangis terus. Orang-orang di lorong ngeliatin, tapi bodo amat.
Abis agak tenang, Clara ngusap muka. Ngeliatin Mutiara.
"Mut, janji satu hal lagi ya."
"Apa?"
"Jangan bilang siapa-siapa. Jangan bilang Diana sama Safira dulu. Jangan bilang Nenek dulu. Apalagi..."
Clara berhenti.
"Apalagi Seokjin."
Mutiara kaget. "Kenapa Seokjin jangan? Dia kan peduli sama lo."
"Justru karena dia peduli, Mut. Kalau dia tau gue gagal ginjal kronis stadium 4, dia bakal ngeliat gue beda. Kasian. Atau dia bakal ngerasa bersalah karena selama ini nyuruh gue istirahat doang, gak bisa bantu apa-apa. Gue gak mau dia ngasihani gue. Gue pengen dia inget gue sebagai Clara yang ketawa lepas di Pensi kemarin, bukan Clara yang harus cuci darah 2 kali seminggu."
Mutiara nangis lagi. "Ra, tapi kalau dia tau nanti dari orang lain, dia bakal lebih sakit hati tau."
"Gak apa. Biarin gue yang kasih tau nanti. Kalau udah siap. Sekarang belum. Gue belum siap diliat kayak orang sakit. Gue pengen masih jadi Clara yang biasa aja di depan dia. Boleh ya?"
Mutiara angguk. Berat banget janji ini.
"Iya, Ra. Gue janji. Rahasia ini cuma kita berdua sama dokter yang tau."
Mereka pulang naik angkot. Sepanjang jalan Clara nyender di bahu Mutiara. Tidur. Capek banget abis nangis.
Sampai halte deket rumah Clara, Mutiara ngingetin.
"Obatnya diminum ya, Ra. Jangan dibuang lagi. Sama jadwal cuci darahnya jangan lupa dipikirin. Seminggu loh janji sama dokter."
Clara angguk. "Iya."
"Terus janji lo, jangan maksain diri lagi. Kalau pusing di sekolah bilang gue."
"Iya."
Clara turun. Jalan masuk gang sendirian. Plastik obat di tangan.
Di rumah, Nenek lagi nyapu teras.
"Clara, dari mana? Katanya lomba olimpiade?"
Clara senyum tempelan. "Iya Nek, lomba. Tadi mampir perpus."
Nenek ngeliatin plastik obat di tangan Clara. Tapi gak nanya. Cuma angguk.
Malamnya, Clara di kamar. Buka diary biru.
Tulisannya berantakan. Habis nangis.
Hari ini gue divonis gagal ginjal kronis stadium 4.
Fungsi ginjal gue tinggal di bawah 20%.
Dokter bilang harus siap cuci darah 2x seminggu.
Gue masih 17 tahun, Di. Harus cuci darah.
Gue takut banget. Tapi gue gak bisa bilang ke Mama Papa. Thea lagi sakit juga.
Gue cuma bilang ke Mutiara. Dan Mutiara janji jaga rahasia.
Terutama jangan bilang ke Seokjin. Gue gak mau Seokjin tau gue sehancur ini. Gue pengen dia inget gue yang ketawa di taman, bukan yang nangis di RS.
Mungkin gue egois. Tapi boleh ya gue egois sekali ini aja? Boleh ya gue simpen rahasia ini dulu?
Clara tutup diary. Naruh di bawah bantal bareng resep obat yang banyak itu.
HP nya geter.
Seokjin: Hari ini lomba olimpiade gimana? Menang?
Clara baca chat itu. Lama. Pengen cerita. Pengen bilang "Kak, gue abis dari RS, ginjal gue udah stadium 4."
Tapi gak jadi.
Clara: Menang kok. Juara 1.
Seokjin: Pinter. Traktir es teh dong besok.
Clara: Iya, besok ya.
Clara matiin HP. Tarik selimut. Nangis lagi pelan-pelan sendirian.
Di luar kamar, Nenek denger suara isak kecil. Mau ketuk pintu, tapi gak jadi. Nenek tau Clara butuh nangis sendirian dulu malam ini.
Di kamar sebelah, Thea udah tidur pulas. Mama Vania masih mijitin kaki Thea sambil nonton TV.
Gak ada yang tau, di kamar ujung, anak pertama mereka baru aja dapet vonis yang bisa ngubah seluruh hidupnya.
Dan dia milih simpen sendiri. Biar gak ada yang ngasihani. Terutama Seokjin.