NovelToon NovelToon
Tangis Digerbang Pesantren

Tangis Digerbang Pesantren

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: eka sundari

Seorang anak perempuan bernama Aira harus menelan kenyataan pahit saat orang tuanya memutuskan untuk memasukkannya ke pesantren. Di usianya yang masih belia, ia belum siap berpisah dari rumah, dari kenyamanan, dan dari kasih sayang yang selama ini selalu dekat.
Hari pertama di pesantren menjadi awal dari luka yang tak terlihat. Di balik seragam rapi dansenyum yang dipaksakan, Aira menyimpan tangis yang ia pendam setiap malam. Rasa rindu, kesepian, dan ketakutan perlahan menggerogoti hatinya. Ia bahkan sempat berpikir untuk menyerah dan pulang.
Namun, di tengah air mata itu, Aira mulai menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—ketenangan dalam doa, kekuatan dalam ilmu, dan arti dari sebuah perjuangan. Ia belajar bahwa tidak semua perpisahan adalah kehilangan, dan tidak semua tangisan adalah kelemahan.Perjalanan Aira di pesantren bukan hanya tentang menuntut menuntut ilmu, tetapi tentang menemukan jati diri, menguatkan hati,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

surat cinta dari anak pondok

Hari-hari dijalani dengan bahagia di balik tembok pesantren. Tanpa terasa, purna sudah satu bulan pertama Aira mengecap kehidupan sebagai seorang santri. Suasana pondok yang tadinya terasa asing, kini berangsur hangat oleh kepungan rutinitas melantunkan bait-bait kitab, derai tawa bersama teman sekamar, dan aroma minyak kayu putih di sepertiga malam.

Namun, ada satu hal yang paling dinanti oleh seluruh penghuni pondok minggu ini: jadwal kunjungan wali santri akhirnya resmi dibuka. Desas-desus itu menyebar secepat angin sore, menghidupkan lorong-lorong asrama dengan riak antusiasme yang tak terbendung. Semua santri sibuk membayangkan detik-detik saat sosok yang paling mereka rindukan melangkahkan kaki melewati gerbang utama.

Di balik meja kerjanya yang menumpuk berkas kantor, ponsel milik Ayah Aira bergetar singkat. Layar yang tadinya gelap mendadak menyala, menampilkan notifikasi pesan masuk dari nomor istrinya.

Ibu: "Pang, ada pesan dari pondok. Assalamualaikum ibu.. ini surat dari Aira."

Sebuah foto lembaran kertas bergaris yang ditulis dengan tinta pulpen biru terlampir di bawahnya. Tulisan tangan Aira—agak miring ke kanan dengan lengkungan khas yang sangat dihafal ayahnya.

Membaca baris demi baris, dada sang ayah berdesir hangat. Di rumah, Ibu yang baru saja mengirimkan foto tersebut melangkahkan kaki mendekati meja kerja suaminya sambil membawa dua cangkir teh hangat.

"Sudah dibaca suratnya, Yah?" tanya Ibu lembut, mendudukkan diri di kursi sebelah.

Ayah menatap , matanya sedikit berkaca-kaca namun garis bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang tak mampu disembunyikan. "Sudah, Bu. Anak gadis kita ini... baru sebulan di sana, bahasanya di surat kok sudah puitis sekali. Katanya kalau malam suka memandang bintang dari jendela kamar, terus ingat masakan Ibu sama candaan Ayah di meja makan."

"Iya, tadi waktu Ibu baca pertama kali juga langsung terharu sampai menetes air mata ," dengan nada pelan sambil terkekeh halus. "Dia nulisnya pakai nada merajuk, khas Aira banget. 'Aira kangen peluk Ibu, kangen dengerin Ayah ngomel kalau Aira bangunnya kesiangan'. Padahal di sana pasti dia bangun paling awal buat tahajud."

"Dia juga menanyakan kabar kita berulang kali di paragraf kedua," tambah Ayah, ibu jarinya mengusap layar ponsel, mengagumi kejujuran rasa rindu putrinya. "Dia khawatir Ibu capek, khawatir Ayah terlalu sibuk kerja sampai lupa makan siang."

"Tapi coba Ayah geser ke halaman kedua foto surat itu. Dibaca sampai bawah," bisik Ibu dengan nada jenaka, menyenggol pelan lengan suaminya.

Ayah menggeser gambar di layar ponselnya. Di bagian bawah surat, tepat di bawah tanda tangan Aira yang dihiasi gambar emotikon tersenyum, terdapat judul tebal yang ditulis menggunakan huruf kapital: DAFTAR BEKAL KUNJUNGAN PERTAMA (WAJIB ADA!).

Senyum kecil di wajah Ayah perlahan berubah menjadi kekehan renyah saat membaca poin-poin yang tertera di sana.

"Masya Allah, Bu... ini daftar permintaan atau daftar belanjaan sembako toko kelontong?" seloroh Ayah sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Ibu tertawa memecah keheningan ruangan. "Ibu juga kaget waktu baca tadi, Yah! Poin nomor satu aja sudah minta rendang daging buatan Ibu yang pedasnya sedang, harus dua toples sedang biar bisa dibagi sama teman sekamarnya."

"Terus ini apa lagi?" Ayah membacakan baris berikutnya dengan intonasi jenaka. "'Keripik kentang balado buatan Ayah, susu kotak rasa cokelat satu karton, sabun mandi wangi lavender, kemeja putih cadangan, sama... buku novel terbitan terbaru'?"

"Ada catatan kecilnya lagi di bawahnya, Yah. Coba baca tulisan yang dikurung itu," sahut Ibu, matanya berbinar-binar.

"'(Catatan khusus untuk Ayah ganteng: Jangan lupa bawa camilan manis yang banyak ya, Yah. Di sini habis mengaji suka mendadak lapar malam-malam. Aira janji bakalan makin rajin hafalan jus 30-nya!)'" Ayah membacakannya secara utuh, lalu tertawa lepas. Rasa lelah akibat pekerjaan seharian seketika menguap begitu saja.

"Dasar aira. Ada saja alasannya buat minta camilan ekstra," ujar Ayah, matanya masih menatap deretan daftar permintaan Aira.

"Tapi gimana, Yah? Hari Minggu besok kita berangkat pagi-pagi, kan?" tanya Ibu, memastikan persiapan logistik mereka. "Besok Sabtu Ibu mau mulai belanja bahan-bahan rendang ke pasar. Ayah yang bagian borong keripik sama susu kotaknya di minimarket, ya?"

"Siap, Bu....," balas Ayah tersenyum "Jangankan cuma rendang sama keripik, kalau anak kesayangan Ayah minta dibawakan satu toko-tokonya pun rasanya ingin Ayah bungkuskan. Yang penting dia betah, kerasan, dan berkah ilmunya di sana."

"Aamiin," sahut Ibu tulus. "Melihat dia sudah bisa menyesuaikan diri dan tetap ceria seperti ini saja rasanya plong banget hati Ibu, Yah. Kerinduan sebulan ini rasanya langsung terbayar tuntas."

Ayah mengangguk pelan, menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. Dipandanginya sekali lagi foto surat dari Aira di layar ponsel. Akhir pekan yang ditunggu-tunggu tinggal menghitung hari, dan rumah kecil itu kini dipenuhi aroma antisipasi untuk sebuah pelukan hangat yang sangat rindukan di gerbang pesantren.

 

Pintu kamar mandi putri berderit pelan saat Aira melangkah keluar dengan handuk terlilit di kepala dan mukena yang tersampir di lengannya. Suasana koridor asrama sudah mulai sepi; gema pujian menjelang azan Magrib dari masjid utama membungkus malam yang merayap turun.

Namun, baru beberapa langkah Aira berjalan, sebuah suara tegas dan dingin menghentikan derap kakinya.

"Aira!"

Aira tersentak. Ia menoleh perlahan dan mendapati Ukhti Inggit,pengurus bagian kedisiplinan asrama yang paling disegani,berdiri di ujung lorong dengan lipatan tangan di dada dan tatapan mata yang tajam.

"airaaaaa kenapa, mandi jam segini? Kemari kamu!" tegas Ukhti Inggit, mengisyaratkan dengan telunjuknya agar Aira mendekat.

Dengan langkah gontai dan kepala tertunduk, Aira berjalan menghampiri sang pengurus. Dadanya berdebar kencang. Ia tahu betul aturan emas di pondok ini.

"Tahu larangan pesantren tidak boleh mandi saat mendekati atau pas azan Magrib, kan?"

tanya Ukhti Inggit begitu Aira berdiri di hadapannya.

Suaranya tidak membentak, tetapi ketegasannya cukup untuk membuat Aira menelan ludah.

"Selain dari segi kesehatan kurang bagus, waktu Magrib itu singkat, Aira. Harusnya jam segini kamu sudah siap di shaf depan untuk iktikaf dan baca Al-Qur'an, bukan baru basah-basahan di kamar mandi."

Aira meremas ujung mukenanya, berusaha mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan situasi sebenarnya tanpa terdengar seperti mencari alasan.

"Afwan, Ukhti..." cicit Aira pelan, matanya masih menatap lantai yang dingin.

"Bukan maksud Aira mau melanggar aturan..."

"Lalu kenapa baru mandi sekarang? Dari tadi sore ke mana saja?"

pangkas Ukhti Inggit, menatap Aira menunggu penjelasan.

"Tadi sore... kan Aira baru pulang dari jadwal belajar kelompok dan halaqah, Ukhti,"

terang Aira terbata-bata.

"Terus... Aira sama anak-anak kamar Khadijah sempat olahraga sebentar di lapangan belakang buat peregangan badan. Pas selesai, waktu sudah keburu mepet banget. Baju Aira lengket dan penuh keringat, jadi Aira ndak nyaman kalau langsung pakai mukena buat sholat. Makanya Aira nekat mandi cepat-cepat...Ukhti."

Ukhti Inggit menghela napas panjang. Ketegangan di raut wajahnya sedikit mengendur mendengar kejujuran santri kelas pertama itu, meski ketegasan dalam sikapnya tetap terjaga.

"Aira, Ukhti paham kamu habis olahraga dan badan merasa gerah,"

ujar Ukhti Inggit dengan nada suara yang lebih lembut namun tetap menancapkan poin penting. "Tapi manajemen waktu itu bagian dari pendidikan kamu di sini. Kalau tahu jadwal belajar padat dan Magrib makin dekat, olahraganya ditunda atau dipersingkat. Jangan dipaksakan sampai mengorbankan waktu utama untuk ibadah."

"baik, Ukhti... Aira mengaku salah,"

bisik Aira penuh penyesalan.

"Ya sudah. Sekarang cepat pakai mukena anti langsung lari ke masjid sebelum iqamah berkumandang,"

titah Ukhti Inggit sambil menepuk pelan bahu Aira.

"Tapi ingat, ini peringatan pertama. Catat di benakmu, jangan diulangi lagi. Besok-besok, atur waktumu lebih baik."

"baik, Ukhti Inggit. Terima kasih... Afwan sekali lagi," jawab Aira lega, lalu dengan cekatan mengangguk hormat sebelum bergegas berlari kecil menuju kamarnya untuk bersiap.

------

Hari besar yang ditunggu seluruh santri pun tiba..yakni jadwal KUNJUNGAN...

Mereka semua bersiap ...., menanti ,...dan penuh harap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!