Selama sua tahun, Kiara menjalin hubungan dengan Vino, hubungan mereka berjalan dengan sangat baik, bahkan sampai bertunangan. Namun tiga bulan terakhir semua perhatian Vino beralih kepada wanita bernama Shela. Wanita yang katanya adalah keponakan Vino yang baru datang. Kiara meredam cemburu, menelan kekecewaan, dan terus percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.
Namun, pengorbanan ada batasnya. Kebohongan yang terus dikemas rapi akhirnya terkuak saat Kiara menemukan fakta bahwa kedekatan Vino dan Sheila melampaui ikatan keluarga yang selama ini digembar-gemborkan. Di titik itulah Kiaramenyadari, dia bukan sekadar dikhianati, melainkan tak pernah benar-benar dijadikan yang utama.
Tanpa amarah yang meledak-ledak, Kiara memilih meletakkan kembali seluruh perasaannya. Dia mengembalikan semua kenangan dan melangkah pergi. Saat Vino akhirnya tersadar dan mencoba mengejar, Kiara hanya menyisakan satu kenyataan dingin. Masa berlaku cintanya telah habis, dan tidak ada kesempatan kedua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiara 11
Suara deru mobil Vino yang memasuki garasi disambut oleh atmosfer rumah yang terasa sangat tegang. Baru saja pintu utama terdorong, langkah Vino langsung terhenti. Di ruang tengah, Ibu Indah bersama dengan Pak Dimas duduk sambil meminum teh, sementara Rania, adik bungsunya, duduk di sofa seberang wajah bersungut-sungut menahan kesal.
"Kamu benar dari rumah Kira? Kenapa cuma sebentar? Bagaimana keadaan Kiara?" tanya ibunya.
Vino menarik napas panjang, mengangguk pelan seraya melangkah mendekat.
"Iya, Ma. Vino beneran ke rumah Kiara. Memangnya Vino kemana lagi?" ujar Vino lemas dan duduk di sebelah adiknya.
"Bagaimana keadaan Mbak Kiara? Awas kalau Mas bohong nggak ke rumah Mbak Kiara dan malah terhasut dengan cerita menyedihkan si Shela dan Tante Reni!" potong Rania cepat. Gadis itu berdiri, menatap kakaknya dengan tatapan penuh kejengkelan dan rasa frustrasi.
"Mas tahu tidak, gara-gara kelakuan Mas yang kekanak-kanakan dan manipulatif itu, aku juga ikut kena getahnya!"
Vino mengerutkan dahi, menatap adiknya bingung.
"Maksud kamu apa, Ran?"
"Mak Kiara menolak bertemu aku, Mas! Sudah tiga hari ini!" suara Rania mulai meninggi, menahan tangis yang hendak pecah lagi.
"Setiap kali aku ke rumahnya atau telepon, Bu Anisa cuma bilang Kiara lagi istirahat atau tidak mau diganggu. Dan Mas tahu kenapa? Rania tadi tidak sengaja dengar dari Papa kalau Mbak Kiara mikir aku ikut menyembunyikan soal Shela! Mbak Kiara pikir aku tahu Mas bohongi dia dan sengaja tutup mulut!"
Dada Vino rasanya seperti dihantam batu besar.
"Ran... Mas tidak pernah bilang kamu tahu..."
"Tapi kenyataannya Mbak Kiara mikir begitu, Mas Vino!" sela Rania hysteris.
"Mbak Kiara itu sudah seperti kakak kandungku sendiri! Dia yang selalu ada buat aku waktu Mas sibuk atau acuh. Dan sekarang, hanya karena Mas sibuk mengurusi 'sepupu' tidak jelas itu, Mbak Kiara jadi meragukan aku juga! Dia mikir satu keluarga kita komplotan buat membohongi dia!"
"Rania, jaga bicaramu sama Masmu," tegur Ibu Indah, walau nadanya tak kalah dingin saat pandangannya beralih menatap Vino tajam.
"Tapi Rania benar, Vin. Kamu bukan cuma merusak hubunganmu sendiri, tapi kamu merusak nama baik keluarga kita di mata Kiara dan keluarganya."
Ibu Indah berdiri dari duduknya, melangkah menghampiri anak sulungnya itu. Sorot matanya memancarkan rasa kecewa yang amat mendalam dari seorang ibu yang merasa gagal mendidik anaknya.
"Mama kurang mengajari kamu apa, Vino?" ucap Ibu Indah dengan suara bergetar.
"Papa dan Mama dari kecil selalu mengajarkan kamu untuk jadi laki-laki yang jujur, yang tahu cara menghargai perempuan. Kiara itu anak yang luar biasa baik, santun, dan sangat menjaga perasaan keluarga kita. Bagaimana bisa kamu menomorduakan calon istrimu sendiri demi wanita lain, yang bahkan kamu tahu persis dia bukan darah daging keluarga ini?!"
"Ma, Vino tahu Vino salah besar..." bisik Vino, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Tindakanmu kemarin itu kekanak-kanakan! Kamu mengabaikan permata yang sudah siap mendampingi hidupmu demi keluarga yang kamu tahu sendiri ingin menghancurkan keluarga ini! Kamu tahu siapa Reni kan? Bahkan dia sering membuat cerita palsu yang manipulatif di depan kakekmu hingga ibumu selalu di salahkan ataas perbuatan yang ta pernah di lakukannya sama sekali. Makanya Papa selalu menjauhkan kalian dari mereka. Tapi kenapa di belakang kami kamu malah mendekat kepada anak dari Tari yang sama-sama manipulatifnya dengan alasan kasihan?"
"Buka mata dan pikiran kamu Vino! Dia bilang tak punya siapa-siapa? Apa kamu lupa siapa dia sebelum datang ke sini? Bahkan dia juga pernah bekerja di luar kota! Jangan bodoh dan gampang terpengaruh oleh orang-orang seperti itu! Kamu pintar kamu bisa memilah mana yang jujur dan tidak! Jangan sampai kamu terlambat dan menyesal!" Kali ini sang ayah Pak Dimas yang bicara.
"Beruntung Pak Haidar masih membeerikan kamu kesempatan dan tidak membatalkan lamaran kalian! Jika kamu memang mencintai Kiara berusahalah untuk meyakinkan kembali Kiara! Jika kamu tak sungguh-sungguh lebih baik kamu putuskan saja. Jangan sakiti Kiara lebih dari ini. Apalagi kalau sampai kalian sudah menikah tapi kamu tak berubah juga. Mama adalah orang pertama yang sakit hati melihat Kiara di sakiti oleh kamu. Lebih baik mama melihat Kiara bahagia dengan pria lain daripada harus melihat Kiara di sakiti oleh anak Mama sendiri. Kiara terlalu berharga!"
"Maaa..." Vino tak mengira jika keluarganya juga sekecewa ini kepada dia.
Vino memandangi satu per satu wajah orang-orang di ruangan itu. Papanya yang biasanya tenang kini menatapnya dengan kekecewaan mendalam, Mamanya yang matanya mulai berkaca-kaca menahan amarah, serta Rania yang masih terisak pelan sambil memalingkan wajah.
Rasa bersalah yang sejak tadi mengendap kini berubah menjadi sesak yang luar biasa menghimpit dadanya. Kebodohannya tidak hanya menghancurkan kepercayaan Kiara, tetapi juga meretakkan fondasi kehormatan keluarganya sendiri. Rasa kasihannya yang buta pada Shela dan Tante Reni telah dimanfaatkan, memakan dirinya bulat-bulat hingga membuahkan kehancuran sebesar ini.
"Ma... Pa... Ran..." suara Vino bergetar hebat, air matanya akhirnya menetes tak terbendung.
"Vino minta maaf. Vino benar-benar minta maaf. Vino ngaku salah, Vino bodoh, Vino dibutakan sama rasa kasihan yang salah tempat..."
"Vino tahu kata maaf dari Vino tidak ada harganya lagi sekarang. Tapi Vino sumpah, Demi Tuhan, Vino sama sekali tidak pernah bermaksud melibatkan Rania atau menjadikan keluarga kita komplotan kebohongan ini. Vino yang simpan semuanya sendiri, Vino yang bodoh karena gampang percaya sama manipulasi mereka."
Vino lalu menggeser duduknya, menatap Rania dengan mata memerah.
"Ran... Mas mohon, jangan benci Mas selamanya. Mas bakal jelaskan semuanya ke Kiara. Mas bakal bilang ke dia kalau kamu tidak tahu apa-apa, kalau kamu sama sekali tidak terlibat. Mas tidak akan biarkan Mbak Kiara kamu salah paham dan jauh sama kamu, Ran. Mas yang salah, cuma Mas."
Rania menyapu air matanya dengan kasar, menatap kakaknya dengan tatapan terluka.
"Bukan cuma soal Rania, Mas! Mas paham tidak sih? Mbak Kiara itu trauma! Dia merasa dibohongi sama orang yang paling dia percaya. Gimana Mas bisa sejelas itu menutup mata dari kejahatan Tante Reni dan Shela yang dari dulu cuma mau memorot dan merusak keluarga kita?"
Pak Dimas meletakkan cangkir tehnya ke atas meja dengan dentang pelan namun berwibawa. Suasana seketika kembali hening.
"Papa tidak mau mendengar alasan apa pun lagi tentang Shela atau ibunya," tegas Pak Dimas, suaranya tenang namun mengandung ketegasan penuh ancaman.
"Mulai hari ini, detik ini, jika Papa tahu kamu masih berhubungan, membantu, atau sekadar merespons pesan dari Shela dan Reni... Papa sendiri yang akan mencoret nama kamu dari keluarga ini dan mencabut semua fasilitasmmu. Kamu sudah cukup dewasa untuk tahu mana racun dan mana obat dalam hidupmu."
"Vino sudah putuskan semua kontak sama mereka, Pah! Kemarin Vino sudah tegaskan ke Shela untuk tidak pernah menemui atau menghubungi Vino lagi," sahut Vino cepat, suaranya mantap meski tenggorokannya terasa menyengat.
"Vino sudah blokir semua akses mereka. Dan divisi tempat Shela juga sudah di jauhkan dari Vino,"
Ibu Indah menghela napas panjang, mengusap sudut matanya yang basah dengan tisu.
"Mama tidak peduli lagi soal Shela, Vin. Yang Mama pusingkan sekarang adalah mental Kiara. Kamu tidak tahu seberapa hancurnya anak itu waktu pingsan dan merancau di rumah. Dia merasa dirinya yang kurang, padahal kamu yang tidak tahu diri!"
Ibu Indah melangkah mendekat, berdiri tepat di depan Vino yang masih menunduk.
"Dengar Vino. Kesempatan dari Pak Haidar itu bukan formalitas. Itu ujian terakhir buat kamu sebagai laki-laki. Kamu punya waktu untuk membuktikan kalau kamu bukan cuma jantan di mulut, tapi juga dalam perbuatan. Sembuhkan luka Kiara, bangun kembali kepercayaan dia dari nol. Dan ingat... jangan pernah paksa Kiara untuk buru-buru menerima kamu lagi. Biarkan dia bernapas, biarkan dia melihat ketulusan kamu tanpa ada paksaan."
Vino mengangguk dalam-dalam.
"Baik, Ma... Vino paham. Vino janji. Karena Vino juga sangat mencintai Kiara dan tak ingin kehilangan Kiara,"
"Satu lagi," tambah Ibu Indah tajam.
"Soal Rania... besok Mama sendiri yang akan datang ke rumah Kiara untuk menjelaskan kalau Rania sama sekali tidak tahu apa-apa. Mama tidak akan biarkan kebodohan kamu merusak hubungan Rania dan Kiara yang sudah seperti saudara."
Rania tidak menjawab, ia hanya menunduk seraya menyeka sisa air matanya, walau raut wajahnya sedikit melunak mendengar ketegasan sang Mama.
"Sekarang masuk kamar kamu," perintah Pak Dimas pendek.
"Bersihkan diri, renungkan semua ucapan Mama dan Papa. Besok, mulai perjuanganmu dari awal kalau kamu memang masih merasa sebagai laki-laki yang punya harga diri."
"Baik, Pa, Ma... Ran, Mas masuk dulu," bisik Vino pelan.
Dengan langkah kaki yang terasa berat dan dada yang membatu oleh penyesalan, Vino melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Ketika pintu kamar tertutup rapat, Vino menyandarkan tubuhnya di balik pintu, membiarkan tubuhnya meluruh ke lantai dingin.
Di dalam kegelapan kamarnya, dia memandangi foto dirinya dan Kiara yang terpajang rapi di atas meja kerja dan dinding kamar foto di mana Kiara tersenyum begitu lepas dan penuh cinta padanya. Senyum yang kini telah ia hilangkan dengan tangannya sendiri.
Vino mengepalkan tangannya rapat-rapat, mengusap air mata yang kembali menetes. Penundaan pernikahan ini bukan lagi sekadar peringatan, melainkan pertaruhan seluruh masa depannya. Dan berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan ada lagi Vino yang lemah, gampang dimanipulasi, dan menyakiti wanita yang menjadi jalan bahagianya.
atasan dan rekan kerja well come dengan kedatangan kamu, Kiara.Semoga kesuksesan kamu ada di sini dan menemukan jodoh yang setia.
lingkungan baru n suasana baru, org² baru
nanti km ketularan rabies ,,