NovelToon NovelToon
Hiraisin: Legenda Pedang Kilat

Hiraisin: Legenda Pedang Kilat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Penyelamat
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: Astrius

Dianggap sampah tanpa bakat. Dikhianati oleh seniornya sendiri. Dan dipaksa menyaksikan kematian sang guru di depan mata.
Hiraisin hanyalah murid terbuang di Sekte Awan Putih yang dianggap tak punya masa depan karena meridian tubuhnya terluka. Namun, di tengah gempuran brutal pasukan Raja Kegelapan, darah Hiraisin menetes di atas hulu pedang patah berkarat—membangunkan rahasia purba yang lama tertidur.
Segel di tubuhnya hancur. Petir dari langit menyambar, membakar meridiannya dan membangkitkan legenda yang telah lama punah: Pedang Kilat.
Kini, dengan luka pengkhianatan di dada dan percikan listrik yang sanggup merobek malam, Hiraisin memulai perjalanan darah. Di hadapannya berdiri jutaan pengikut iblis, para jenderal mengerikan, dan Raja Kegelapan yang menguasai takhta dunia.
Satu tebasan telah lahir. Dan kegelapan tak akan pernah sama lagi.
"Saat dunia dikuasai bayang-bayang, kilat adalah satu-satunya keadilan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astrius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebangkitan Pedang Kilat Sejati

Pilar cahaya ilahi berwarna ungu keemasan meluncur menembus langit-langit batu Altar Utama, membelah awan hitam pekat di atas Lembah Badai Purba hingga membumbung tinggi menembus batas atmosfer. Di pusat pancaran cahaya suci itu, Inti Pedang Kilat Pertama perlahan-lahan melepaskan bentuk padat kristalnya, melebur menjadi gumpalan cairan energi murni yang memancarkan pendar hangat tak terhingga.

Cairan energi purba itu meluncur turun menyusuri lengan kiri Hiraisin, merayapi pembuluh darahnya, dan bersemayam tepat di pusat Dantiannya.

BOOOOOOM!

Sebuah ledakan konseptual bergema di dalam jiwa Hiraisin. Rasa sakit yang biasanya mengiringi pemaksaan tenaga batin mendadak lenyap sepenuhnya. Sebaliknya, sensasi kehangatan yang amat murni mengalir ke seluruh sudut tubuhnya, memusnahkan sisa-sisa racun Vane, kotoran sihir hitam, dan kerusakan jaringan yang selama ini membebani fisiknya.

Dantian Hiraisin yang pernah retak dan rapuh kini meleleh dan terlahir kembali menjadi sebuah wadah energi yang kokoh bagaikan intan purba. Di sekeliling Dantian tersebut, jaringan meridiannya terekonstruksi secara sempurna, menjelma menjadi Meridian Kilat Purba—saluran energi transenden berukir Runa ilahi yang mampu menampung arus listrik tak terbatas tanpa pernah mengalami kebocoran.

Di saat yang bersamaan, pedang patah berkarat milik Hiraisin yang tergeletak di sudut ruangan mendadak bergetar hebat.

CLANG!

Pedang tua itu melayang kencang melintasi ruangan, meluncur lurus dan mendarat dengan sangat pas di dalam genggaman tangan kanan Hiraisin.

Seketika itu juga, pecahan energi dari Inti Pedang Kilat Pertama menyembur masuk ke dalam bilah pedang berkarat tersebut. Lapisan karat tebal, retakan parah, dan warna kusam di permukaannya terkelupas bagaikan sisik ular tua yang berganti kulit. Dari titik patahan bilahnya, energi ungu keemasan memadat dan mengeras, membentuk kembali separuh bilah pedang yang hilang menjadi utuh sempurna!

Bilah pedang itu kini berdiri tegap sepanjang empat kaki, terbuat dari logam rahasia berwarna perak kehitaman yang memancarkan kilau dingin mematikan. Di sepanjang poros bilahnya, terukir ukiran Runa Kilat Suci yang menyala membara oleh pendar ungu keemasan—sebuah pedang utuh yang sempurna, Pedang Kilat Purba.

Hummm...

Aura keberadaan Hiraisin melonjak drastis, menerobos batas kemampuan mortalnya. Tekanan tenaga batinnya yang tadinya berada di ranah bawah kini melejit hebat, melompati tingkatan demi tingkatan hingga mendarat dengan kokoh di Puncak Ranah Jiwa Pedang.

Niat pedang (Sword Intent) di sekeliling tubuhnya begitu pekat hingga udara di sekitarnya membiaskan jutaan percikan kilat mikro yang sanggup merobek batu obsidian hanya dengan kibasan jubahnya.

Hiraisin mendaratkan kedua kakinya secara perlahan di atas tanah Altar Utama. Rambut hitamnya yang panjang melambai-lambai ditiup angin badai suci, dan sepasang matanya kini menyala terang oleh warna ganda ungu keemasan yang memancarkan wibawa seorang penguasa elemen sejati.

"Bagaimana... bagaimana mungkin?!"

Di ujung ruangan, Zevran merayap keluar dari balik puing-puing dinding obsidian yang hancur. Tubuh abu-abunya bersimbah darah kehitaman, dan sepasang matanya yang serba hitam membelalak penuh horor ketakutan saat menatap sosok Hiraisin yang berdiri di tengah pilar cahaya.

"Kau hanyalah manusia biasa! Bagaimana bisa jiwamu menyatu sempurna dengan Inti Pedang Kilat Pertama?!" raung Zevran dengan suara parau bercampur panik yang amat sangat.

Hiraisin tidak membalas ucapan itu dengan kata-kata. Ia melangkah maju secara perlahan. Setiap injakan kakinya di atas lantai batu memicu gelombang getaran guntur rendah yang menggetarkan fondasi kuil.

"TIDAK! AKU TIDAK AKAN KALAH DI SINI!" jerit Zevran histeris.

Menyadari bahaya mematikan yang mengancam nyawanya, Utusan Abyss itu membakar seluruh sisa Sihir Darah Abadi dan esensi jiwanya. Cairan darah hitam di sekeliling kuil menyembur naik, membungkus tubuh Zevran dan membentuk wujud monster raksasa berlengan delapan setinggi sepuluh meter yang memegang sabut-sabut darah bermata api.

"Mati kau, Pewaris Petir! Sihir Abyss: Pembantaian Delapan Neraka!" raung monster darah Zevran seraya mengayunkan delapan tangannya menghantam lurus ke arah Hiraisin.

Dua belas penyihir Bintang Hitam yang tersisa di dalam kubah penjara Liora menjerit panik, mencoba membantu serangan komandan mereka dengan melemparkan panah-panah sihir hitam.

Hiraisin menatap serangan raksasa yang datang menerjang dengan pandangan mata yang sangat tenang. Ia tidak menyalurkan Qi-nya dengan emosi yang meledak-ledak. Ia hanya mengangkat Pedang Kilat Purba yang kini utuh di tangan kanannya, lalu mengayunkannya ke depan dalam satu tebasan vertikal yang sangat sederhana.

"Tebasan Kilat Purba: Pembalasan Langit."

FLASH!

Dunia di dalam Altar Utama seolah kehilangan seluruh warnanya selama sepersekian detik.

Bukan sekadar bentrokan tenaga batin biasa, tebasan Hiraisin memancarkan gelombang tebasan kilat ungu keemasan setinggi puluhan meter yang membelah ruang dan waktu. Garis cahaya suci itu memotong lurus menembus serangan monster darah Zevran, membelah delapan tangannya, dan merobek tubuh raksasa itu hingga ke akar jiwanya.

"TIDAKAAAAGH!"

Jeritan terakhir Zevran bergema memilukan di udara sebelum tubuh raksasanya dan seluruh sihir darah hitam meledak menguap menjadi abu putih. Gelombang tebasan itu meluncur terus ke belakang, menyapu dua belas penyihir Bintang Hitam dan meratakan seluruh sisa barikade musuh hingga tak tersisa sedikit pun jejak keberadaan mereka.

Keheningan total mendadak melingkupi Altar Utama.

Aroma busuk sihir hitam dan racun darah sirna seketika, digantikan oleh aroma keasaman ozon murni yang menyejukkan jiwa.

Dan di saat yang bersamaan, sebuah fenomena ajaib terjadi di luar kuil.

Pusaran awan hitam abadi yang telah menyelimuti Lembah Badai Purba selama puluhan ribu tahun perlahan-lahan terbelah dan melenyap. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sinar matahari pagi yang hangat dan cerah menerobos masuk, menyinari pelataran batu dan pepohonan arang di Hutan Kilat Merah. Angin badai yang tadinya meraung buas kini berubah menjadi hembusan angin sepoi-sepoi yang membawa kehidupan baru.

Badai abadi di Lembah Badai Purba... telah resmi mereda. Sang Pewaris Petir telah bangkit kembali.

Hiraisin menghembuskan napas panjang, perlahan-lahan menyarungkan Pedang Kilat Purba ke dalam sarung di punggungnya. Pendar cahaya ungu keemasan di matanya meredup secara bertahap, kembali menjadi warna hitam kelam yang tajam dan tenang.

Ia berjalan mendekati Liora yang terbaring lemah di sudut ruangan. Hiraisin berlutut di sampingnya, lalu menempelkan telapak tangannya di dahi Liora, mengalirkan Qi Petir Purba yang kini telah bersifat menyembuhkan dan murni hangat.

"Ehh..." Liora melenguh pelan. Warna kemerahan hangat perlahan kembali ke pipinya yang tadinya pucat pasrah.

Saat Liora membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah sosok Hiraisin yang berdiri gagah dengan pedang utuh berukir Runa suci di punggungnya.

"Hiraisin... kau... kau berhasil?" bisik Liora penuh rasa haru dan takjub.

"Kita berhasil, Liora," jawab Hiraisin seraya membantunya mendudukkan tubuh. "Terima kasih atas bantuanmu. Tanpa formasi penjaramu, aku tidak akan pernah punya kesempatan menyentuh artefak ini."

Liora tersenyum anggun, memandangi sekeliling kuil yang kini diterangi cahaya mentari. "Ordo Penjaga tidak salah memilih pewaris... Kau benar-benar telah membangkitkan kembali kekuatan petir sejati."

Namun, tepat saat keduanya hendak melangkah keluar dari kuil Altar Utama, Runa Kilat Suci di hulu pedang Hiraisin mendadak bergetar halus.

Hummm...

Sebuah gelombang ingatan kuno dan pendar visi masa depan terproyeksikan secara langsung ke dalam benak Hiraisin.

Dalam penglihatan batin tersebut, Hiraisin melihat pemandangan samudera luas berair hitam pekat dengan ombak raksasa yang mengamuk hebat—Wilayah Lautan Hitam. Di dasar jurang lautan yang paling dalam, tampak pendar cahaya biru gelap dari Artefak Pedang Kilat Kedua yang terkunci di dalam istana bawah air kuno.

Namun visi itu tidak berhenti di sana.

Gambaran batin Hiraisin bergeser menembus kegelapan Wilayah Abyss. Di dalam sebuah istana benteng tengkorak raksasa, tampak sosok bertubuh besar yang dibungkus Zirah Kegelapan Abadi perlahan-lahan membuka sepasang matanya yang berwarna merah menyala dari atas tahta batu.

Dia adalah Jenderal Ravaka!

Sang jenderal iblis telah merasakan hancurnya jiwa Zevran dan kebangkitan penuh dari Inti Pedang Kilat Pertama.

"Pewaris Petir..." suara bergema parau Jenderal Ravaka terdengar menembus visi batin Hiraisin. "Bawalah artefak itu kepadaku... sebelum aku sendiri yang datang meratakan tulang-tulangmu!"

FLASH!

Visi batin itu terputus seketika. Hiraisin membuka matanya, mengepalkan tangan kanannya erat-erat pada hulu pedangnya.

"Ada apa, Hiraisin?" tanya Liora yang menyadari perubahan raut wajah rekannya.

"Artefak kedua berada di Wilayah Lautan Hitam," jawab Hiraisin dengan pandangan mata yang dingin dan penuh kesiapsiagaan. "Dan Jenderal Ravaka... sudah mulai bergerak secara pribadi."

Liora mengangguk tegas, menyimpulkan jarum-jarum peraknya kembali ke dalam kantong. "Kalau begitu, tujuan kita selanjutnya sudah jelas. Kita harus tiba di Lautan Hitam sebelum pasukan utama Ravaka mengepung wilayah lautan."

Hiraisin melangkah keluar dari pilar pintu Altar Utama, menatap membentangnya pemandangan benua di bawah naungan langit biru yang cerah.

Arc pertempuran di Lembah Badai Purba telah usai. Namun perang sejati untuk membebaskan Benua Tianlan dari cengkeraman Raja Kegelapan... baru saja memasuki babak yang paling menentukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!