Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.
Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.
Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Hari Minggu itu, langit Jakarta tampak begitu bersih, seolah merestui janji yang diucapkan Langit tadi malam.
Seperti perkataannya, hari ini dia akan mengajak Bumi untuk fitting baju pengantin seharian penuh.
Sebuah agenda yang sempat membuat Bumi mendengus, mengklaim bahwa memilih baju tidak butuh waktu lebih lama daripada menurunkan mesin motor.
Mobil sedan mewah milik Langit berhenti tepat di depan sebuah butik terkenal di kawasan elit Jakarta Selatan.
Butik itu bukan sembarang tempat.
Papan namanya yang minimalis namun elegan menandakan bahwa tempat ini hanya melayani kaum elit.
Langit turun lebih dulu, disusul oleh Bumi yang melangkah santai dengan jaket denim longgar dan celana jins yang sedikit bernoda pelumas di bagian ujungnya.
Rambut Bumi bahkan hanya disisir seadanya dengan jari.
Saat mereka melangkah masuk, denting loncek pintu butik menyambut.
Beberapa pekerja wanita yang sedang menata gaun dan jas langsung menoleh.
Pandangan mereka awalnya berbinar saat melihat Langit—sang CEO wanita muda yang wajahnya kerap menghiasi majalah bisnis papan atas.
Namun, begitu pandangan mereka bergeser ke pria di sampingnya, riak skeptis langsung terbaca jelas di wajah mereka.
Bisik-bisik halus mulai menjalar di antara para pekerja butik.
"Itu, calon suaminya Bu Langit?"
"Kok penampilannya begitu? Seperti montir jalanan."
"Apa Bu Langit sedang melakukan proyek amal?"
Mereka tidak percaya jika calon suami dari seorang CEO wanita muda yang terkenal dengan standar tingginya adalah sosok seperti Bumi.
Seorang pemuda yang auranya dianggap terlalu 'jalanan' untuk bersanding dengan kemewahan Langit.
Bumi mendengar bisikan-bisikan itu.
Telinganya tajam, terlatih di lingkungan bengkel yang bising.
Namun, Bumi tidak marah. Dia memaklumi dengan bijak.
Alih-alih tersinggung atau menjaga jarak, Bumi justru menoleh ke arah dua pekerja yang sedang berbisik ketakutan karena tertangkap basah.
Bumi memasang wajah sedingin es, menatap mereka tajam selama tiga detik hingga suasana canggung mencekik ruangan.
Lalu, dengan suara beratnya yang datar, dia berkata, "Mbak, tenang saja. Oli di celana saya ini jenis premium. Kalau tidak sengaja kena sofa butik ini, sofanya malah jadi antipeluru."
Para pekerja itu tertegun sejenak sebelum akhirnya meledak dalam tawa kecil.
Gaya dingin Bumi yang dipadukan dengan lelucon konyol bernada datar itu seketika mencairkan ketegangan.
Dia punya cara unik untuk menghidupkan suasana tanpa harus kehilangan wibawanya yang misterius.
"Sudah, jangan menggoda karyawan disini. Masuk sana, desainer utamanya sudah menunggu di ruang ganti," ucap Langit sambil menepuk pelan lengan Bumi, menyembunyikan senyum gelinya.
Bumi mendengus pelan, lalu melangkah masuk ke dalam ruang ganti VIP, membawa setelan jas hitam custom-made yang sudah disiapkan khusus berdasarkan ukuran kasar yang dikirim Langit minggu lalu.
Hampir tiga puluh menit berlalu. Langit duduk di sofa beludru sambil menyesap teh kamomil.
Ketika tirai beludru tebal ruang ganti akhirnya bergeser terbuka, dan Bumi melangkah keluar mengenakan setelan jas hitam tersebut, suasana butik mendadak sunyi senyap.
Teh di cangkir Langit hampir saja tumpah. Waktu seolah berhenti berputar.
Bumi Mahardika telah bertransformasi total. Struktur rahangnya yang tegas kini terekspos sempurna tanpa bayangan topi pudar yang biasa dipakainya.
Tubuhnya yang tegap proporsional terbalut dengan sangat pas oleh potongan jas mahal itu, menegaskan dada bidang dan bahunya yang kokoh.
Ketampanannya yang di atas rata-rata—yang selama ini sengaja dia sembunyikan di balik baju bengkel berminyak dan debu jalanan—kini terpancar tanpa ampun.
Langit terpana tanpa sanggup berkedip. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
Pemuda jalanan yang sering dia lihat tertidur di bawah kolong mobil ini sekarang terlihat jauh lebih terhormat, lebih berkarisma, bahkan dibandingkan dengan seluruh pengusaha muda dan anak konglomerat yang pernah Langit temui di pesta-pesta bisnisnya.
Bukan hanya Langit, tetapi semua orang yang membantu di dalam butik pun tidak percaya dengan hasil karya mereka sendiri. Jas itu nampak begitu sempurna saat dipakai oleh Bumi.
Yang paling memikat adalah ketika Bumi menyingkap sedikit pergelangan tangannya, guratan tato hitam yang menjalar hingga ke leher bagian belakang tidak merusak penampilan itu.
Sebaliknya, tato di tubuhnya justru melengkapi kesempurnaan penampilannya, memberikan kesan gagah, maskulin, dan berbahaya di saat yang bersamaan.
Di antara keheningan yang luar biasa itu, bisik-bisik kembali terdengar.
Namun kali ini, nadanya berubah seratus delapan puluh derajat.
Kebanyakan dari mereka menatap Langit dengan pandangan iri yang amat sangat, berbisik penasaran ingin bertanya pada Langit, dari mana dia bisa mendapatkan laki-laki sesempurna ini.
Seorang desainer senior butik itu akhirnya memberanikan diri mendekati Langit sambil berbisik kagum,
"Bu Langit, maaf saya lancang. Tapi, Ibu dapat laki-laki sesempurna ini dari belahan bumi mana? Dia seperti model papan atas internasional."
Langit tidak bisa menahan binar bangga di matanya.
Dia hanya tersenyum manis, melirik ke arah Bumi yang sedang menatap bayangannya sendiri di cermin besar dengan wajah tanpa ekspresi.
"Saya mendapatkannya dari surga yang mungkin dilupakan oleh manusia," jawab Langit dengan nada lembut namun penuh penekanan.
Mendengar jawaban puitis dan tulus dari Langit, Bumi yang sedang merapikan kerah jasnya sedikit tertegun.
Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk senyuman tipis yang sangat menawan.
Dia berbalik, menatap Langit lekat-lekat melalui pantulan cermin dan secara langsung. Di balik sikap cueknya, Bumi tahu betul betapa wanita hebat di depannya ini sangat menghargainya.
Langit tidak pernah melihatnya sebagai montir miskin, Langit melihat jiwanya.
Namun, bukan Bumi namanya jika membiarkan suasana romantis itu bertahan terlalu lama hingga menjadi melankolis.
Bumi berjalan mendekati Langit dengan langkah tegap, namun tangannya dengan santai masuk ke dalam saku celana bahan mahalnya.
Dia membungkuk sedikit, menyejajarkan wajahnya dengan Langit yang masih duduk terpaku di sofa.
"Bagaimana, CEO Langit? Apa penampilan saya sudah cukup membuat saham perusahaan Anda naik besok pagi?" tanya Bumi dingin, namun matanya berkilat jenaka.
Langit tertawa kecil, memukul pelan dada bidang Bumi yang terbalut jas.
"Sahamku bisa melonjak kalau kamu berjanji tidak akan memakai jas ini sambil memegang kunci inggris di bengkel nanti."
"Wah, itu sulit," sahut Bumi datar sambil menegakkan tubuhnya kembali.
"Jas ini punya aerodinamis yang bagus. Kurasa kalau aku dipakai kolong mobil, pergerakanku saat membetulkan knalpot akan jauh lebih efisien. Ditambah lagi, ventilasi kainnya membuat ketiak tidak mudah berkeringat saat menghadapi mesin yang mogok."
Para staf butik yang mendengar celotehan Bumi langsung tertawa bebas.
Mereka menyadari bahwa di balik wajah tampan nan dingin yang sanggup mengintimidasi siapa saja itu, Bumi adalah sosok yang sangat membumi, humoris, dan tidak jaim.
"Bumi, tolong ya, jas ini harganya setara dengan tiga motor matic baru," keluh Langit sambil berdiri, memperbaiki posisi dasi kupu-kupu Bumi yang sedikit miring.
Jarak mereka yang dekat membuat Langit bisa menghirup aroma maskulin Bumi yang kini bercampur parfum mahal butik.
"Hanya tiga motor? Murah sekali. Kupikir setara dengan satu ekskavator,"
balas Bumi acuh tak acuh, membuat desainer yang berdiri di dekat mereka tersedak ludahnya sendiri.
Bumi kembali menghadap cermin, memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan.
"Tapi jujur saja, Langit. Baju ini terlalu ketat di bagian bahu. Bagaimana kalau nanti di pelaminan tiba-tiba ada musuh menyerang dan aku harus melakukan tendangan memutar? Jas ini bisa robek di bagian bokong."
Langit menggeleng-gelengkan kepalanya, menahan senyum yang membuat pipinya pegal. "Kita mau menikah, Bumi Mahardika. Bukan mau syuting film laga. Tidak akan ada musuh yang menyerangmu di hotel bintang lima."
"Siapa tahu? Mantan-mantan pacarmu yang cemburu karena kalah tampan denganku mungkin saja menyewa pembunuh bayaran,"
kata Bumi dengan nada yang sangat serius, seolah hal itu benar-benar ada dalam rencana kontingensinya.
"Aku tidak punya mantan sebanyak itu, Montir Sombong," cetus Langit, wajahnya merona merah.
Suasana butik yang awalnya tegang dan penuh penilaian sinis kini berubah total menjadi hangat dan penuh tawa.
Kehadiran Bumi dengan segala keunikan karakternya berhasil menghidupkan ruangan tersebut.
Dia tidak perlu mengubah dirinya menjadi orang lain untuk diterima di dunia Langit.
Dengan jas mewah atau baju bengkel berminyak, dengan tato maskulinnya dan lelucon konyolnya, Bumi tetaplah Bumi langit malam yang kokoh, yang siap menjaga Langit-nya kapan saja.
Setelah menyelesaikan beberapa penyesuaian akhir pada jasnya, Bumi menatap Langit yang sedang menyelesaikan pembayaran di kasir.
Senyum di wajah wanita itu tidak pernah luntur sejak Bumi keluar dari ruang ganti.
Bumi berjalan mendekatinya, menggandeng tangan Langit dengan erat.
"Sudah selesai urusan bajunya?" tanya Bumi.
"Sudah" jawab langit manis.
"Bagus. Karena memakai baju elit ini membuat perut jalanku mendadak keroncongan. Aku tahu warung soto babat yang enak di dekat sini. Kita ke sana pakai jas ini."
"Bumi! Jangan gila!"
Dan tentu saja Bumi hanya bercanda, selanjutnya giliran Langit yang akan memilih gaun pengantinnya.
Komennya dong kak, yang banyak ya, jangan lupa LIKE dan HADIAH nya.