Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Brak!
Suara hantaman besi yang saling beradu terdengar sangat memekakkan telinga.
Truk besar dari arah belakang menabrak mobil hitam milik Adrian tanpa ampun.
Kaca mobil pecah berserakan ke segala arah.
Tubuh Adrian terlempar ke depan dan kepalanya membentur kursi dengan sangat keras.
Darah segar mengalir dari pelipisnya menutupi sebelah matanya.
Pandangan Adrian mulai kabur dan nafasnya terasa sangat sesak.
"Tuan Adrian," panggil sopirnya dengan suara yang sangat lemah.
Adrian mencoba membuka mulutnya untuk menjawab tapi tidak ada suara yang keluar.
Semuanya perlahan berubah menjadi gelap gulita.
Sementara itu di ruang tengah keluarga Ayodhya.
Lula sedang duduk di atas karpet berbulu sambil menyusun balok-balok kayu bergambar huruf.
Cakra duduk di depannya sambil memakan keripik kentang dengan berisik.
Dewa sedang bersandar di sofa sambil bermain game di ponselnya.
Kriuk kriuk.
"Lula, huruf A ditaruh di sebelah huruf B, bukan di atas huruf C," tegur Cakra sambil mengunyah.
Lula memiringkan kepalanya bingung.
"Tapi Lula maunya bikin menara tinggi Kak Cakra," jawab Lula polos.
Tiba-tiba dada Lula terasa sangat sesak seolah ada batu besar yang menimpanya.
Prang.
Balok kayu di tangan Lula jatuh berserakan ke lantai.
Mata bulat Lula langsung menatap lurus ke arah jendela kaca besar yang menghadap ke jalan raya.
Dari kejauhan, Lula melihat sebuah kabut hitam yang sangat pekat dan besar membubung tinggi ke langit.
Kabut itu jauh lebih besar dan lebih pekat dari kabut yang pernah dia lihat sebelumnya.
"Itu kabut jahat," gumam Lula dengan suara bergetar.
Air mata langsung menggenang di pelupuk mata Lula tanpa bisa ditahan.
"Kak Adrian," panggil Lula sambil menangis keras.
Tangisan yang tiba-tiba itu membuat Cakra tersedak keripik kentangnya.
Uhuk uhuk!
Cakra memukul dadanya sendiri lalu menatap adiknya dengan panik.
"Lula kenapa menangis? Ada yang sakit? Jarimu terjepit balok kayu?" tanya Cakra beruntun.
Dewa langsung melempar ponselnya ke sofa dan berlutut di depan Lula.
"Hei bocah cengeng, ada apa? Siapa yang membuatmu menangis?" tanya Dewa dengan nada galak tapi wajahnya panik.
Lula menunjuk ke arah jendela luar dengan tangan kecilnya yang bergetar.
"Kak Adrian dimakan kabut hitam besar," tangis Lula histeris.
"Kak Adrian kesakitan, dia mau mati!"
Ucapan Lula membuat Cakra dan Dewa saling berpandangan dengan wajah bingung.
"Lula bicara apa? Kak Adrian kan sedang kerja di kantor," bujuk Cakra mencoba menenangkan.
Namun tangisan Lula semakin keras hingga nafasnya tersengal-sengal.
Arini dan Baskoro yang mendengar keributan itu berlari tergesa-gesa dari lantai dua.
"Ada apa ini? Kenapa Lula menangis sampai seperti itu?" tanya Arini khawatir.
Arini langsung mengangkat tubuh Lula dan memeluknya erat-erat.
"Lula bilang kak Adrian dimakan kabut hitam Ma, dia bilang kak Adrian mau mati," lapor Dewa dengan wajah tegang.
Jantung Baskoro berdegup kencang mendengar ucapan Dewa.
Baskoro sudah membuktikan sendiri ramalan Lula tentang jebakan kontrak dan pohon bonsai.
Jadi jika Lula mengatakan Adrian dalam bahaya, maka itu pasti benar-benar terjadi.
Kring kring kring!
Suara telepon rumah di atas meja ruang tengah tiba-tiba berdering sangat nyaring.
Semua orang langsung terdiam dan menatap telepon itu dengan perasaan takut.
Baskoro melangkah maju dengan tangan sedikit gemetar lalu mengangkat gagang telepon itu.
"Halo, dengan kediaman keluarga Ayodhya di sini," sapa Baskoro berusaha tenang.
Suara di seberang sana membuat wajah Baskoro seketika berubah pucat pasi.
"Apa? Di jalan mana? Bagaimana kondisinya sekarang?!" bentak Baskoro dengan suara menggelegar.
Arini memeluk Lula semakin erat sambil menahan napasnya.
"Bawa anak saya ke Rumah Sakit Medika sekarang juga, saya akan segera ke sana!" perintah Baskoro lalu menutup telepon dengan kasar.
Baskoro menoleh menatap keluarganya dengan mata yang memerah.
"Mobil Adrian ditabrak truk di jalan, kondisinya sangat kritis," ucap Baskoro dengan suara serak.
Arini langsung lemas dan hampir jatuh jika Cakra tidak menahan bahunya.
"Adrian," isak Arini tidak percaya.
Dewa mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kita harus ke rumah sakit sekarang Pa," kata Dewa dengan nada dingin menahan amarah.
"Cakra, Dewa, kalian ikut Papa."
"Arini, kamu tunggu di rumah bersama Lula, jangan ke mana-mana," perintah Baskoro tegas.
Lula menggelengkan kepalanya dengan kuat di pelukan Arini.
"Lula mau ikut! Lula bisa usir kabut hitamnya!" teriak Lula ngotot.
"Lula bisa sembuhkan Kak Adrian seperti Lula sembuhkan Mama!"
Baskoro menatap mata bulat anak itu yang dipenuhi air mata dan tekad yang kuat.
Baskoro teringat bagaimana istrinya selamat dari kematian berkat sentuhan tangan kecil ini.
"Baik, bawa dia, kita berangkat sekarang," putus Baskoro tanpa banyak berpikir lagi.
Mobil keluarga Ayodhya melaju membelah kemacetan kota Jakarta dengan kecepatan penuh.
Sesampainya di Rumah Sakit Medika, mereka langsung berlari menuju ruang gawat darurat.
Bau obat antiseptik yang menyengat langsung menusuk hidung mereka.
Di depan pintu ruangan operasi, Bastian sudah berdiri dengan wajah kalut.
Bastian masih memakai jas dokter putihnya yang kini terdapat bercak darah.
"Bastian, bagaimana keadaan kakakmu?!" tanya Arini sambil menangis histeris.
Bastian memeluk ibunya dengan erat untuk memberikan ketenangan.
"Kondisinya sangat buruk Ma, tulang rusuknya patah dan ada pendarahan di otaknya."
"Dokter senior sedang berusaha menstabilkannya, tapi mereka bilang harapannya sangat tipis," jelas Bastian dengan suara bergetar.
Sebagai mahasiswa kedokteran yang magang di rumah sakit ini, Bastian tahu betul betapa parahnya luka itu.
Secara medis, kemungkinan kak Adrian untuk selamat tidak sampai sepuluh persen.
Brak!
Baskoro meninju tembok rumah sakit dengan sangat keras hingga tangannya berdarah.
"Siapa yang berani melakukan ini pada putraku?!" geram Baskoro dengan mata penuh amarah.
"Polisi bilang ini murni kecelakaan beruntun Pa," ucap Bastian pelan.
"Tidak mungkin, sopir kita sudah sangat berpengalaman, ini pasti disengaja!" bantah Dewa dengan nada tinggi.
Lula turun dari gendongan Arini dan menatap pintu ruang operasi yang tertutup rapat.