Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.
Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.
Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.
Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.
Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?
Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesialan Reno
“Benar-benar memalukan! Kita pasti viral besok pagi!” seru salah seorang saudara Lestari dengan wajah merah padam.
Rombongan keluarga Reno kini berkumpul di sebuah lapangan dengan rumah Reno setelah meninggalkan kediaman keluarga Sultan.
“Ibu benar! Bukannya menjadi keluarga gubernur, kita malah dipermalukan seperti ini,” sahut seorang adik sepupu Reno dengan nada kesal. “Kalau tahu Gubernur Zea tidak menyukai Kak Reno, aku tidak akan sesumbar kepada teman-teman kuliahku bahwa sebentar lagi kita menjadi keluarga pejabat!”
“Sudah, jangan menyalahkan keadaan terus!” timpal seorang wanita lain. “Kita datang jauh-jauh, sudah berdandan rapi, membawa hantaran, bahkan menyewa mobil. Sekarang apa hasilnya? Pulang dengan keadaan nalu!”
Keluarga besar yang sebelumnya begitu bersemangat mendukung rencana lamaran itu kini mulai menunjukkan wajah asli mereka. Tidak ada lagi senyum dan pujian kepada Reno, sebab mereka merasa telah dipermalukan di depan banyak orang.
Salah seorang saudara Lestari kemudian menunjuk wanita paruh baya itu dengan wajah kesal. “Lestari, kamu harus bertanggung jawab atas kejadian ini! Bukankah kamu yang paling bersemangat menyuruh kami ikut?”
Lestari langsung melotot. “Lho, kenapa malah saya yang harus bertanggung jawab? Seharusnya Zea yang bertanggung jawab! Dia yang menolak lamaran kami dan mempermalukan keluarga ini!”
“Enak saja kamu bicara!” sahut seorang pria dari keluarga besar mereka. “Jelas ini semua salah kalian. Anak kalian ketahuan punya hubungan dengan perempuan lain, tetapi masih berani datang melamar bu gubernur dengan percaya diri!”
“Benar! Memangnya perempuan mana yang mau menerima laki-laki seperti itu?” tambah seorang wanita. “Apalagi kalau sudah tahu selama ini Reno hanya memanfaatkan kebaikan Zea.”
Reno yang sejak tadi diam langsung mengangkat wajah. “Tolong jangan menyalahkan saya sepenuhnya. Saya juga tidak menyangka Zea akan bereaksi seperti itu.”
“Tidak menyangka bagaimana?” bentak saudaranya. “Kamu pikir kami tidak tahu masalahmu dengan Citra? Gara-gara kelakuanmu, sekarang kami semua ikut menanggung malu!”
Lestari semakin geram mendengar putranya disudutkan. “Sudah, jangan terus menyalahkan Reno! Dia juga sedang berusaha memperbaiki hubungan dengan Zea.”
“Memperbaiki hubungan atau mengejar hartanya?” sindir salah seorang kerabat.
Wajah Lestari langsung berubah masam. Ia hendak membalas, tetapi saudara yang lain sudah lebih dahulu mengangkat ponselnya.
“Pokoknya saya tidak mau tahu. Uang sewa rental mobil harus kalian bayar semuanya sesuai perjanjian!” tegasnya. “Jangan sampai kami yang menanggung biaya akibat rencana kalian yang gagal.”
Lestari membelalakkan mata. “Enak saja! Bayar masing-masing, dong. Kalian juga yang menggunakan mobil itu, jadi kalian yang harus membayar!”
“Lho, Lestari! Jangan pura-pura lupa!” seru saudaranya. “Kamu sendiri yang bilang, sewa mobil saja dulu. Nanti kalau lamaran sukses, semua biaya akan diganti oleh keluarga Zea!”
“Benar! Kamu juga yang menjanjikan kami akan mendapatkan keuntungan karena menjadi keluarga gubernur!” timpal yang lain.
Lestari langsung kehilangan kata-kata. Ia memang sempat membanggakan kemungkinan menjadi besan keluarga Sultan, bahkan menjanjikan bahwa segala biaya tidak akan menjadi masalah setelah Reno menikahi Zea.
“Lagi pula, siapa yang menyuruh kalian percaya begitu saja?” balas Lestari akhirnya.
“Ya karena kamu yang mengajak kami!” sahut seorang wanita dengan nada tinggi. “Sekarang jangan cuci tangan. Kami mau uang sewa mobil diganti!”
Perdebatan semakin memanas. Beberapa orang mulai menagih biaya pakaian, perjalanan, hingga hantaran yang mereka bawa, seolah-olah semua kerugian itu harus ditanggung keluarga inti Reno.
Reno yang sejak tadi hanya diam akhirnya ikut terseret. “Kalian jangan begitu, kita ini keluarga. Apalagi aku juga gak punya uang sebanyak itu.”
“Kalau begitu, minta kepada ibumu!” jawab salah seorang saudara. “Bukankah selama ini kalian selalu membanggakan hubungan dengan Zea? Sekarang mana hasilnya?”
Puspa ikut mengerutkan kening. “Kenapa jadi kami yang harus membayar semuanya? Aku juga tidak punya uang sebanyak itu!”
“Ya, kalian harus ikut bertanggung jawab!” seru kerabat lainnya. “Jangan hanya mau menikmati keuntungan kalau berhasil, tetapi ketika gagal semua orang disuruh menanggung sendiri.”
Lestari mengusap wajahnya dengan kasar. Ia benar-benar tidak menyangka rencana yang semula dibayangkannya akan membawa keuntungan besar justru berubah menjadi pertengkaran keluarga.
Sementara itu, di sebuah provinsi lain, suasana sebuah perusahaan besar tampak sibuk seperti biasa. Di lantai teratas gedung tersebut, seorang pria tampan dengan setelan jas gelap duduk di balik meja kerjanya, menatap layar komputer dengan ekspresi dingin.
Pria itu adalah Zayn, kakak kembar Zea sekaligus seorang CEO yang dikenal tegas dalam mengambil keputusan. Sejak pagi, ia telah menerima laporan mengenai kedatangan keluarga Reno ke rumah orang tua mereka, termasuk rekaman singkat yang mulai beredar di media sosial.
Tatapan Zayn mengeras ketika melihat beberapa unggahan yang menyudutkan adiknya. Ia segera mengambil ponsel dan menghubungi seseorang yang bertanggung jawab atas tim komunikasi perusahaan.
“Take down semua berita yang memuat informasi palsu tentang Gubernur Zea. Aku tidak mau ada berita buruk yang menyudutkan adikku hanya demi mencari perhatian.”
“Baik, Bos. Kami akan segera menindaklanjuti dan menghubungi pihak terkait untuk meminta koreksi atas informasi yang tidak benar.”
Zayn menyandarkan punggungnya, tetapi ekspresi wajahnya tetap dingin. “Pastikan fakta yang sebenarnya juga disampaikan. Aku tidak ingin ada orang yang menggunakan nama Zea untuk membuat sensasi.”
“Siap, Bos!”
Panggilan berakhir, dan Zayn kembali menatap layar ponselnya. Ia kemudian membuka kontak sang adik, berniat menghubunginya setelah seluruh urusan perusahaan selesai.
“Dasar Zea,” gumamnya pelan. “Baru beberapa hari tidak diawasi, sudah membuat keributan lagi.”
****
Di kediaman keluarga Sultan, suasana mulai kembali tenang setelah rombongan Reno benar-benar meninggalkan halaman rumah. Namun, Zahra masih tampak kesal ketika duduk di ruang keluarga bersama Zea, Althaf, dan Kakek Sultan.
“Untung saja sifat asli keluarga itu terlihat sebelum kalian benar-benar menikah,” omel Zahra sambil menggeleng. “Bunda tidak bisa membayangkan bagaimana kalau kamu sudah menjadi menantu mereka. Jangan sampai nasibmu seperti Bunda dulu.”
Zea yang sedang menikmati segelas jus langsung mengangkat sebelah alis. “Memangnya Bunda kenapa?”
Althaf yang duduk di samping Zahra mendadak terbatuk kecil. Kakek Sultan justru terkekeh sebelum menjawab dengan santai, “Bundamu dulu pernah ditinggalkan calon suaminya tepat pada hari pernikahan.”
Zea langsung membelalakkan mata. “Hah?! Serius, Kek?”
“Serius,” jawab Kakek Sultan sambil mengangguk. “Calon suaminya ternyata menghamili perempuan lain. Jadi, tepat pada hari pernikahan, laki-laki itu tidak datang dan meninggalkan bundamu begitu saja.”
Zea menoleh cepat kepada Zahra. “Bunda pernah mengalami hal seperti itu? Kok Zea baru tahu?”
Zahra mengembuskan napas, lalu melirik suaminya yang sejak tadi berusaha menahan senyum. “Itu cerita lama, Nak. Bunda tidak pernah menyangka orang yang sudah berjanji menikahi Bunda ternyata bisa melakukan hal seperti itu.”
“Lalu bagaimana Bunda bisa menikah dengan Papa?” tanya Zea penasaran.
Kakek Sultan kembali tertawa kecil. “Nah, setelah kejadian itu, Kakek minta menggantikan mempelai pria itu dengan papamu. Dulu Papa kamu juga dingin sekali, tetapi rupanya bisa meluluhkan hati bundamu.”
Zea langsung menoleh kepada sang ayah. “Papa? Dingin? Berarti sifat Kapten Es Batu Sagara, itu turunan, dong?”
Althaf mengangkat alis. “Kenapa tiba-tiba membawa nama pengawalmu?”
“Tidak apa-apa, Pa. Cuma teringat saja.”
Zahra kemudian merangkul lengan suaminya dengan senyum penuh arti. “Tapi, kalau dipikir-pikir, berkat kejadian itu Bunda justru bisa menikah dengan papamu yang dingin ini. Jadi, ada hikmahnya juga.”
Althaf menatap istrinya dengan lembut. “Kalau begitu, berarti Papa harus berterima kasih kepada laki-laki yang dulu meninggalkan Bunda.”
“Jangan macam-macam kamu!” Zahra langsung mencubit pelan lengan suaminya.
Zea tertawa melihat tingkah kedua orang tuanya. “Aduh, romantis sekali. Padahal tadi Bunda masih marah-marah sampai mengancam menyiram orang pakai air panas.”
“Memangnya kamu mau Bunda diam saja ketika ada orang yang memaksa menikahkanmu?” Zahra menoleh tajam.
“Tidak, Bunda. Zea justru bangga!” jawab Zea cepat sambil mengacungkan jempol.
Kakek Sultan menggeleng geli. “Kalian berdua memang sama saja. Satu bar-bar di kantor gubernur, satu lagi bar-bar di rumah.”
“Lho, Kakek juga tadi mendukung Bunda, kok!” protes Zea.
“Sudah, sudah. Jangan mulai lagi,” ujar Althaf sambil tertawa.
Zahra kembali merangkul lengan suaminya, lalu menatap Zea dengan lebih lembut. “Pokoknya, Nak, Bunda hanya ingin kamu mendapatkan laki-laki yang benar-benar tulus. Bukan seseorang yang mendekat karena jabatan, harta, atau kemudahan yang bisa dia dapatkan darimu.”
Senyum Zea perlahan melembut. Ia mengangguk kecil, memahami bahwa kemarahan sang bunda sejak tadi sebenarnya berasal dari rasa sayang dan kekhawatiran.
“Iya, Bunda. Zea janji akan lebih berhati-hati.”
tp psti malu nya luar biasa kan setealh terllu pwrcaya diri ahahahaA🤣🤣🤣
SOOOOOKOOOR
mau tanding apa lagi bel diri gas ken zea
jangan di kira bukan dari militer zea tak tau apa2 justru karna itu dia di latih sedemiaknrup untk melindungi diri nya s dri sudah tajir dari orok kali 🤣🤣🤣🤣
mlh ini pura2 polos
hadeh mboh lah rumit wis asli
piye terusan jal
kyo2 arep meledug kompore 🤣🤣🤣🤣
aaaahhh kira2 apa lagi ya
Zea atau kau Soraya? 😏