Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peta Kekuatan Pavilion Timur
Sinar matahari pagi menembus celah gorden sutra Pavilion Timur, membiaskan garis-garis emas di atas meja kayu oak yang dipenuhi gulungan perkamen. Aurelia duduk di kursi berpelapis beludru merah, tangannya memegang pena bulu dengan tinta hitam. Di hadapannya terbentang lembaran kertas berisi struktur silsilah, nama-nama selir, dan fraksi-fraksi bangsawan yang menguasai istana interior.
Di kehidupan sebelumnya, Aurelia sama sekali tidak peduli pada peta politik ini. Bagi gadis naif Montclair saat itu, dunia istana hanyalah tempat bermain di mana ia cukup menjadi yang paling cantik dan paling disayangi Raja. Ketidakpedulian itulah yang membuatnya menjadi buta, tuli, dan akhirnya mudah dibantai tanpa sempat melakukan perlawanan.
Namun kini, di bawah kepemimpinan barunya atas takdirnya sendiri, Aurelia menggarisbawahi nama demi nama dengan ketepatan seorang jenderal perang.
"Marta," panggil Aurelia tanpa mengalihkan pandangan dari perkamennya.
Marta, yang sedang menyeduh teh bunga chamomile tanpa racun di meja samping, bergegas mendekat. "Iya, Nona Muda?"
"Bacakan laporan yang kau dapatkan dari para pelayan senior di dapur utama tadi pagi," perintah Aurelia dingin. "Aku ingin tahu susunan kekuatan faksi di Pavilion Timur dan Istana Interior saat ini."
Marta menelan ludah, lalu menarik napas panjang. Sejak diancam dan dijadikan mata-mata pribadi oleh Aurelia, pelayan muda ini bertindak sangat cekatan karena takut kepalanya terpisah dari leher.
"B-baik, Nona Muda," bisik Marta sembari mengingat-ingat. "Saat ini, faksi terkuat di istana interior sepenuhnya dipegang oleh Selir Keagungan, Lady Genevieve. Beliau berasal dari keluarga Duke Vance dari wilayah barat—faksi militer tertua yang menyokong tahta Raja Julian."
"Genevieve..." Aurelia menggarisbawahi nama wanita itu dengan tinta tebal. "Wanita yang berlagak bagaikan Ratu, padahal statusnya hanya selir tertua. Lanjutkan."
"Di bawah Lady Genevieve, ada Faksi Menengah yang tadinya dipimpin oleh Selir Evelyn dari faksi perdagangan selatan. Namun sejak insiden racun teh kemarin, faksi itu kacau balau," lanjut Marta. "Selir Evelyn saat ini dikurung di kediamannya, dan para selir kecil yang tadinya berlindung di belakang Evelyn mulai mencari perlindungan baru."
Aurelia menyunggingkan senyum tipis. "Satu tatanan domino telah jatuh. Lalu bagaimana dengan faksi-faksi kecil lainnya?"
"Ada Selir Celeste dari faksi utara, Nona Muda. Beliau terkenal sangat sombong, berpikiran pendek, dan sangat dekat dengan para bangsawan konservatif. Lalu ada Selir Beatrice dari wilayah timur yang menyukai sihir herbal dan kosmetik. Dan yang paling terasing..." Marta jeda sejenak, menatap Aurelia dengan ragu. "...adalah Selir Vivienne."
Jemari Aurelia yang memegang pena bulu terhenti seketika.
Vivienne.
Nama itu mengirimkan getaran dingin ke dalam ingatan Aurelia. Di kehidupan lalunya, Vivienne adalah selir yang paling tenang, jarang muncul di jamuan makan, dan selalu bersikap netral. Namun di akhir masa hidup Aurelia, Vivienne-lah yang diam-diam menjadi sekutu tersembunyi yang membantu mempercepat kejatuhannya.
"Mengapa Vivienne terasing?" tanya Aurelia, suaranya tenang namun matanya berkilat tajam.
"Keluarga Selir Vivienne hanyalah bangsawan tingkat Count kecil di wilayah perbatasan utara, Nona Muda. Beliau tidak memiliki sokongan dana yang besar maupun pengaruh politik di dewan," terang Marta. "Sebab itulah faksi Lady Genevieve sering mengabaikannya, dan selir-selir lain kerap menindasnya secara halus."
Aurelia menyandarkan punggungnya ke kursi beludru. Tatapannya menerawang menembus jendela kamar.
Menarik, batin Aurelia. Di kehidupan lalu, Vivienne yang terasing ini memanfaatkan kebenciannya pada seluruh isi istana untuk menusuk dari belakang. Daripada membiarkannya bergerak di bawah tanah seperti dulu, lebih baik aku menariknya ke dalam cengkeramanku lebih awal.
"Siapkan gaun terbaik untuk siang ini, Marta," ujar Aurelia tiba-tiba.
"Nona Muda hendak menghadiri acara apa siang ini? Bukankah tidak ada jadwal jamuan dari Lady Genevieve?"
"Aku tidak butuh undangan jamuan untuk melangkah," sahut Aurelia sembari berdiri dari kursinya. "Kita akan berjalan-jalan ke Pavilion Utara—kediaman Selir Celeste. Dan setelah itu, aku ingin mengamati dari dekat bagaimana Lady Genevieve mengelola dewan interior."
Aurelia berjalan mendekati cermin besar di sudut ruangan. Pantulan dirinya mengenakan gaun sutra berwarna biru tua (navy) berkerah tinggi dengan sulaman benang perak nampak sangat berwibawa. Garis wajahnya yang tegas dipadu dengan polesan tipis di bibirnya membuat kecantikannya terasa dingin, sukar digapai, dan penuh misteri.
"Nona Muda..." Marta memberanikan diri bertanya, "apakah Nona Muda tidak takut tindakan ini akan memicu amarah Lady Genevieve? Beliau sangat tidak menyukai selir baru yang bergerak melampaui batas."
Aurelia terkekeh pelan—sebuah suara halus yang sarat akan dominasi yang angkuh.
"Genevieve mengira dirinya adalah penguasa tunggal di istana interior ini hanya karena Julian tidak pernah mempedulikan urusan selir-selirnya," ucap Aurelia pelan, mengelus mahkota kecil bertatahkan permata biru di rambutnya. "Tapi dia lupa, keluarga Montclair memiliki pengaruh ekonomi sebesar sepertiga dari wilayah kerajaan ini. Ayahku menopang kas istana, sementara aku berada di sini untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku."
Ia memutar tubuhnya, menatap Marta dengan pandangan yang membuat pelayan itu langsung menundukkan kepala.
"Genevieve ingin bermain sebagai Ratu? Maka aku akan menjadi dalang yang mengendalikan alur permainannya," bisik Aurelia dengan senyuman dingin. "Biarkan dia merasa aman di atas tahta kayunya sedikit lebih lama. Semakin tinggi dia memanjat, akan semakin hancur badannya saat kutarik jatuh nanti."
Aurelia mengibaskan gaun biru tuanya, melangkah keluar dari kamar peraduan dengan ketukan langkah kaki yang teratur dan tegas.
Di sepanjang koridor Pavilion Timur, para pengawal pribadi berseragam zirah perak yang ditugaskan oleh Raja Julian kemarin kini berdiri berbaris rapi. Begitu melihat Aurelia keluar, seluruh pengawal itu serta-merta menegakkan tubuh dan membungkuk hormat dengan penuh kesetiaan.
Aurelia melirik para pengawal itu dari sudut matanya. Julian mengira menempatkan pasukan ini adalah untuk melindunginya sekaligus mengawasinya. Namun bagi Aurelia, keberadaan pasukan kerajaan di bawah kendalinya ini justru menjadi bukti legalitas pertama bahwa pengaruhnya di istana telah mulai diperhitungkan.
"Perjalanan menuju tahta tidak bisa dicapai hanya dengan membunuh musuh yang lemah seperti Evelyn," gumam Aurelia dalam hati saat melangkah menembus udara pagi istana yang dingin. "Satu per satu faksi ini harus kulumpuhkan. Dan hari ini, permainan di Pavilion Utara akan segera dimulai."
Langkah ketat sepatu bot para pengawal bersahut-sahutan di belakangnya, menciptakan gaung yang berwibawa di sepanjang lorong pualam. Tatapan para pelayan yang bersimpuh di sisi jalan tak lagi menyorotkan iba, melainkan kepatuhan yang pekat. Aurelia bisa merasakan perubahan atmosfer istana ini: kehadiran barisan zirah perak dari Raja bukan hanya menjadi benteng pelindung, tetapi juga panggung kecil yang menegaskan bahwa sang Putri Montclair kini bukan lagi sekadar pajangan yang bisa dikesampingkan. Setiap derap langkah prajurit di belakangnya seolah-olah mengumumkan pada seluruh penghuni istana bahwa kekuasaannya tengah merayap naik tanpa bisa dihentikan.
Di ujung koridor penghubung, Aurelia menghentikan langkahnya sejenak tepat di hadapan jendela lengkung raksasa yang mengarah ke taman tengah. Dari kejauhan, ia melihat sosok Selir Celeste yang sedang berkumpul bersama para pengikutnya di balik naungan gazebo utara, tampak asyik tertawa sembari mengamati para pelayan yang lalu-lalang. Wanita itu tidak tahu bahwa hari ini, ketenangan palsunya akan direbut secara paksa. Aurelia menyentuh permukaan kaca jendela yang dingin, membiarkan pantulan bayangannya menyatu dengan pemandangan taman di luar sana—sebuah gambaran visual tentang bagaimana ia akan segera menguasai setiap sudut wilayah kerajaan ini.
"Marta," bisik Aurelia halus tanpa menoleh, suaranya hampir menyerupai hembusan angin sore yang mematikan. "Pastikan langkahmu tetap tenang dan bersiaplah menyaksikan bagaimana orang-orang sombong itu meruntuhkan martabat mereka sendiri. Di panggung yang kubuat hari ini, tidak akan ada ruang bagi mereka yang lemah."
Dengan kibasan gaun biru tuanya yang tampak megah bagai lautan dalam, Aurelia kembali melangkah maju menerobos dinginnya koridor istana, siap menancapkan pengaruhnya lebih dalam di Pavilion Utara.
~ To Be Continue