NovelToon NovelToon
DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.

Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa cinta bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.

Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.

Talak.

Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.

Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.

Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Bayangan Amanda di Benak Kamil

Dr. Akmal menutup map berkas di tangannya, lalu berdiri dengan senyum puas.

"Selamat bergabung ya, Mbak. Semoga Mbak dan tim bisa berkembang di sini.”

Raya mengangguk sopan, masih sedikit tak percaya semuanya berjalan secepat ini.

"Besok sudah bisa mulai kerja. Kalau mau, sekarang tim lagi mau ke sana. Mbak Raya ikut saja. Nggak buru-buru, kan? Mereka beberapa karyawan lama dari sini dan karyawan baru juga seperti Mbak Raya.”

"Oh nggak, Dok,” jawab Raya cepat, berusaha terlihat tenang meski hatinya masih berdebar.

"Baik. Ikuti saya, ya. Saya kenalkan ke tim di klinik.”

Raya berdiri, merapikan sedikit bajunya, lalu mengikuti langkah dr. Akmal keluar dari ruangan. Lorong klinik itu masih terlihat baru—catnya bersih, pencahayaannya terang, dan aroma khas tempat perawatan kecantikan samar tercium.

Tak lama, mereka sampai di sebuah ruangan cukup luas. Beberapa orang sudah berkumpul di sana—perawat, admin, dan beberapa staf lainnya. Obrolan kecil langsung mereda saat dr. Akmal masuk.

"Teman-teman,” ujar beliau, “ini Mbak Raya, manager keuangan kita yang baru. Mulai besok beliau akan bergabung di sini.”

Beberapa orang langsung tersenyum ramah, mengangguk, bahkan ada yang menyapa pelan. Tapi di sudut lain, terdengar bisik-bisik halus yang nyaris tak terdengar.

"Itu kan… yang sempat viral itu, ya…”

"Iya, kayaknya dia deh…”

"Serius? Kok bisa di sini…”

Raya jelas menangkap potongan-potongan suara itu. Sekilas, pandangannya sempat beralih ke arah mereka. Namun hanya sepersekian detik.

Ia kembali memasang ekspresi tenang. Seolah tak terjadi apa-apa. Seolah semua itu tidak penting.

Dalam hatinya, ia sudah menyiapkan diri sejak awal—kalau masa lalunya mungkin akan terus mengikutinya. Tapi hari ini, ia memilih untuk berdiri sebagai dirinya yang sekarang.

"Salam kenal,” ucap Raya, suaranya stabil.

Satu per satu mereka menyalami Raya. Ada yang hangat, ada yang sekadar formal, dan ada juga yang masih menatap dengan rasa penasaran.

Tapi Raya tidak goyah. Baginya, ini bukan tentang apa yang orang pikirkan. Ini tentang kesempatan.

Dan kali ini… ia tidak akan menyia-nyiakannya.

"Mbak Raya bawa kendaraan?” tanya dr. Akmal sambil melirik ke arah parkiran.

"Iya, Dok. Saya pakai motor.”

"Baik. Kuncinya titipkan saja ke security, biar security yang bawa. Mbak Raya ikut mobil bersama tim.”

"Iya, Dok,” jawab Raya patuh.

Beberapa menit kemudian, Raya sudah duduk di dalam mobil bersama beberapa anggota tim. Suasananya cukup hidup—ada yang mengobrol ringan, ada yang sibuk dengan ponselnya, dan ada juga yang sesekali melirik ke arah Raya dengan rasa penasaran yang belum benar-benar hilang.

Sementara itu, Raya lebih banyak diam.

Tatapannya lurus ke depan, tapi pikirannya ke mana-mana. Semua ini terasa terlalu cepat.

Baru kemarin ia masih penuh kekhawatiran… dan sekarang, ia sudah duduk di sini, dalam perjalanan menuju tempat kerjanya yang baru, dengan posisi yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Sebuah anugerah. Dan entah kenapa… juga terasa seperti ujian.

Mobil melaju mulus hingga akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan besar dengan desain modern. Kaca-kaca tinggi memantulkan cahaya siang, tulisan nama klinik terpampang elegan di bagian depan.

Raya turun perlahan. Matanya langsung menyapu bangunan itu. Cantik. Bersih. Berkelas. Tanpa sadar, ia menarik napas pelan.

"Ini… tempat aku kerja?” gumamnya dalam hati.

"Yuk, Mbak,” salah satu staf mengajaknya masuk.

Begitu melangkah ke dalam, suasana klinik terasa hidup. Interiornya didesain estetik, dengan perpaduan warna-warna lembut dan pencahayaan hangat. Aroma wangi yang menenangkan langsung menyambut.

Raya diajak berkeliling.

Dari ruang resepsionis, ruang treatment, hingga beberapa ruangan khusus yang dilengkapi alat-alat canggih.

Namun saat mereka menuju bagian belakang, suasananya berubah lebih dinamis. Di sana, aktivitas terlihat jauh lebih padat.

Gudang penyimpanan skincare dan alat kosmetik tampak luas dan tertata rapi, tapi juga sangat sibuk. Beberapa orang sedang fokus packing produk, membungkus pesanan dengan cepat dan rapi.

Di sisi lain, ada beberapa ruangan kecil dengan pencahayaan khusus—ternyata digunakan untuk live media sosial.

Beberapa staf terlihat sedang siaran langsung, berbicara dengan penuh semangat di depan kamera, mempromosikan produk dengan gaya yang sudah sangat terlatih.

"Ini bagian operasional dan marketing digital kita, Mbak,” jelas salah satu tim.

Raya mengangguk pelan, matanya memperhatikan semuanya dengan seksama.

Tempat ini… bukan sekadar klinik. Ini seperti sebuah sistem besar yang bergerak cepat. Dan sekarang, ia ada di dalamnya. Ia kembali menguatkan dirinya.

Apa pun yang orang bicarakan di luar sana…

Di sini, ia akan membuktikan siapa dirinya sebenarnya.

***

Sore itu Kamil sedang rebahan di kamarnya. Proses permohonan pencabutan laporan sudah beres dilakukan. Tapi dia masih ingat perbincangan antara dirinya ada Hakim setelah beres meminta tanda tangan Aldo.

Pintu mobil tertutup cukup keras, menyisakan ketegangan yang belum benar-benar reda. Mesin dinyalakan, dan mobil perlahan meninggalkan area rumah sakit menuju kantor polisi.

Di dalam mobil, suasana terasa berat.

Hakim menyandarkan punggungnya, lalu menoleh sekilas ke arah Kamil yang duduk di kursi samping. Wajah adiknya itu terlihat kaku, rahangnya mengeras seperti menahan sesuatu.

"Mil,” ucap Hakim akhirnya, memecah keheningan, “kamu nggak salah menyukai wanita model Amanda begitu?”

Kamil langsung menoleh cepat. Nada itu… terdengar seperti menghakimi.

"Emang kenapa dia?” jawabnya, tersinggung.

Hakim menghela napas pelan, lalu kembali fokus ke jalan.

"Ya lihat aja. Dandanannya… super seksi gitu. Belum tentu lho Papa setuju.”

Kamil mendengus pelan, jelas tak suka arah pembicaraan itu.

"Sudahlah, nggak usah bahas itu dulu.”

Bukannya berhenti, Hakim justru melanjutkan, suaranya kali ini lebih tegas.

"Dia juga semangat banget jeblosin kamu ke penjara. Padahal kalau proses ini dilanjutkan, dia juga yang bakal viral. Semua orang bisa tahu kalau dia masukin cowok ke apartemennya.”

Ucapan itu membuat suasana semakin dingin. Kamil menatap ke depan, tapi pikirannya jelas terusik.

"Belum tentu juga si Aldo itu nginep di sana, Bang,” bantahnya, meski suaranya tak lagi sekuat tadi.

Hakim tersenyum tipis, tapi bukan senyum hangat.

"Dia nggak membantah kok.”

"Gak mungkin lah Amanda melakukan hal yang nggak baik. Selama kita dekat juga, dia nggak pernah aneh-aneh. Selalu menjaga diri… disentuh aja nggak mau.”

Hakim melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalan. Sudut bibirnya sedikit terangkat, tapi bukan karena lucu—lebih ke arah menyadari sesuatu yang Kamil belum mau lihat."

"Itu karena kamu bukan cowoknya, Mil.”

Ucapan itu jatuh pelan… tapi menghantam keras.

Kamil terdiam.

Kalimat itu menggantung di udara. Tak ada lagi yang berbicara setelahnya.

Mobil terus melaju, tapi kali ini terasa lebih sunyi—seolah masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Kamil mengepalkan tangannya pelan.

Entah kenapa… untuk pertama kalinya, ia mulai meragukan sesuatu yang selama ini ia yakini.

"Benarkah Amanda mengajak Aldo nginap di apartemennya? Terus di sana apa yang mereka lakukan?" Pikiran Kamil tak karuan mengingatnya.

Happy reading guys.... Bantu support novel aku yang lainnya yah!!! Ada yang sudah tamat juga lho. Terima kasih sebelumnya.🙏🏼🙏🏼🥰

1
Bang Gono
setiap brrbiatan ada balasan adik laka Podo ae
Siti Saodah
gak apa-apa wajar si Amanda dapat karma jga karna dia jga udah nyakitin orang lain
Siti Saodah
ini lebih parah keluarga gak punya 🫣,klo dulu masih mending keluarga Kamil sampe ngamuk ke si Kamil lah ini malah di dukung bilangnya kebahagiaan putri nya aneh
Siti Saodah
kalo di pikir pikir keluarga Si Amanda jga gak punya malu, harusnya dia minta maaf minimal ke keluarga nya si Kamil
Siti Saodah
si Amanda egois kali dia milih Aldi biar bagai manapun Jamil yng telah lebih dulu mau menikahinya terlepas dari semua kesalahan nya terhadap raya ini kan beda cerita
Siti Saodah
pergilah ke bandung Aldo dan batalkan pernikahan nya, biar si Kamil ngerasain di permalukan,tapi di Nanda jga jangan di bikin bahagia karena ada andil dia menghancurkan Raya meskipun secara gak sengaja
Siti Saodah
kaya nya ini bakan terulang lagi deh sekarang si Manda yang kabur sama Aldo,
Siti Saodah
harus nya si Andra nembak dulu ke raya,jangan main klaim aja calon istri,raya kan jdi Gimanaa gitu
Siti Saodah
ih gak tau malu bangett
Siti Saodah
dasar gak punya malu, mungkin udah putus urat malunya,gak adik nya gak kakak nya sama saja
bunda DF 💞
bagus bangeet lho ceritanya,, awal baca ga expect sebagus inii. otw baca karya othor yg lainnya
Siti Saodah
si Kamil nyangka nya dia di jebak lalu si Manda langsung hamil anak nya, tapi apa dia gak ngerasain klo si Manda udah bolong
Siti Saodah
bandara lagi Thor
Siti Saodah
karma sudah mulai satu persatu
Siti Saodah
cepat lah Thor beri si Kamil pelajaran,dengan mengetahui si Manda hamil bukan anak nya
Siti Saodah
kalo tau si Amanda hamil ana orang lain, pasti si Kamil nyesel udah ninggalin Raya demi seorang jalang
Siti Saodah
si Kamil bukan cuma buta mata tapi buta hati masa gak bisa bedain mana gadis mna yng udah dol
Siti Saodah
nah kan emang si Kamil bodoh ngelepasin berlian demi batu kerikil,bekas lagi
Siti Saodah
emang bener yng di ucapkan mamii nya, soalnya si Amanda ke si Kamil jga welcome ,gak tegas kaya PHP gitu
Arie
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!