NovelToon NovelToon
Transmigrasi Jadi Karakter Villain Di Dalam Novel

Transmigrasi Jadi Karakter Villain Di Dalam Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Harem / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Younglord

Marcus, seorang pemuda dengan hidup yang berantakan, tewas secara konyol hanya karena terpeleset oleh sampah di apartemennya sendiri.

Namun takdir justru mempermainkannya. Alih-alih pergi ke akhirat, ia malah terbangun di tubuh Leon Von Anhart, seorang karakter villain dari novel yang baru saja ia maki-maki habis-habisan.

Menjadi Leon adalah mimpi buruk.
Selain reputasinya sebagai sampah masyarakat yang dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri, tubuh ini juga menyimpan kondisi yang mengenaskan: gagal jantung kronis yang membuatnya divonis hanya memiliki sisa hidup 365 hari.

Dengan waktu hidup yang tinggal satu tahun, reputasi yang sudah hancur, serta sebuah layar sistem aneh yang memaksanya berbuat baik demi bertahan hidup, Marcus terpaksa melawan takdirnya sendiri.

Masalahnya, dunia ini tidak membutuhkannya sebagai pahlawan.
Dunia ini hanya membutuhkan Leon, seorang villain yang kelak akan menjadi monster sekaligus ancaman bagi dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Younglord, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26

Pagi menyapa dengan semburat oranye yang menyentuh gerbang tinggi kediaman Anhart.

Leon berdiri tegap mengenakan kemeja hitam satin dengan ornamen perak di bagian dada, dibalut jubah hitam tebal berbulu putih di bagian kerah yang memberikan kesan dingin sekaligus berwibawa.

Eiryn berdiri di hadapannya dengan mata yang sedikit sembab, namun ia berusaha tetap tegar. Ia menyodorkan sebuah bingkisan kain rapi ke tangan Leon.

"Tuan, jangan lupa memakannya di perjalanan," ucap Eiryn pelan.

Leon menerima bingkisan itu, merasakan kehangatan yang menjalar dari benda tersebut ke telapak tangannya. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman langka yang hanya ia tunjukkan pada Eiryn.

"Aku akan sering kembali, jadi tunggulah aku di sini," ucap Leon lembut.

Eiryn mengangguk pasti, jemarinya meremas ujung gaunnya. "Baik, Tuan. Saya akan selalu menunggu kepulangan Anda."

Suasana perpisahan yang tenang itu pecah oleh suara ketukan keras dari jendela kereta kuda yang terparkir tak jauh dari mereka. Sebuah kereta kuda modis dengan lambang harimau perak yang berkilau.

"Hey, cepatlah!..." Julian berteriak dari dalam kereta dengan nada kesal. Wajahnya yang kaku melongok keluar, merasa terhambat karena Leon tak kunjung masuk.

Leon menghela napas pendek. Ia menatap Eiryn untuk terakhir kalinya pagi itu. "Aku pergi."

"Ya, hati-hati di jalan, Tuan," balas Eiryn dengan suara tulus.

Saat Leon memutar tubuh dan hendak melangkah naik ke kereta, instingnya mendadak tajam. Ia merasakan sebuah tatapan yang berat dari arah mansion. Leon mendongak sejenak ke arah jendela besar di lantai atas.

Di sana, di balik kaca bening yang megah, berdiri sosok Duke Darius von Anhart. Sang ayah hanya berdiri mematung dengan tangan di belakang punggung. Mereka saling bertatapan selama beberapa detik.

Tanpa sepatah kata pun, Leon memutus kontak mata itu dan masuk ke dalam kereta. Pintu tertutup dengan suara gedebuk yang solid.

"Jalan!" perintah Julian tegas kepada masinis.

Cetak!

Suara lecutan cemeti bergema, dan kereta pun mulai bergerak meninggalkan gerbang mansion. Eiryn berdiri mematung di pinggir jalan, menatap debu yang beterbangan hingga kereta itu hilang ditelan tikungan jalan ibukota.

Kereta kuda itu melaju stabil, membelah jalanan berbatu menuju Akademi Asterlyn. Di dalam kabin yang mewah, suasana terasa sangat canggung.

Julian duduk tegak dengan tangan bersilang di dada, matanya terpejam rapat seolah-olah keberadaan Leon di depannya adalah gangguan yang ingin ia hapus.

Leon sama sekali tidak terganggu. Ia meraih bingkisan kain dari Eiryn dan membukanya. Aroma manis dan gurih dari biskuit rumahan langsung menyeruak, memenuhi ruang sempit kereta.

"Hey, kau mau?" tawar Leon santai sambil menyodorkan biskuit itu ke arah Julian.

Julian perlahan membuka matanya. Ia melirik sekilas ke arah makanan sederhana tersebut dengan tatapan dingin yang merendahkan.

"Aku tidak menyukai makanan seperti itu," sahut Julian pendek, lalu kembali menutup matanya.

Leon hanya mengangkat alisnya. Ia teringat salah satu detail dalam novel yang pernah ia baca, Julian von Anhart adalah sosok perfeksionis yang sangat menjaga citra bangsawan.

Dia sangat membenci hal-hal yang berbau rakyat jelata, termasuk camilan rumahan tanpa kemasan mewah.

"Begitu ya, Sayang sekali," gumam Leon.

Ia mengambil satu keping biskuit dan menggigitnya.

Kres! Kres!

Suara renyah itu terdengar sangat nyaring di tengah keheningan kabin. Leon mengunyah dengan nikmat, merasakan tekstur biskuit yang pas di lidah.

Seperti biasa, masakan Eiryn memang tidak pernah gagal. Rasanya selalu enak dan memberikan ketenangan tersendiri bagi Leon.

Mendengar suara kunyahan yang berisik itu, salah satu kelopak mata Julian sedikit terbuka. Ia melirik Leon yang tampak sangat menikmati makanannya.

Meski wajahnya tetap datar dan angkuh, Julian diam-diam menelan ludahnya sendiri. Aroma mentega dan gula yang terpanggang itu ternyata cukup menggoda indra penciumannya.

Namun, gengsi seorang putra mahkota keluarga Anhart jauh lebih besar. Julian kembali memejamkan mata dengan rapat, mempererat silangan tangannya di dada, seolah sedang bertarung melawan rasa lapar yang tiba-tiba muncul.

Leon yang menyadari hal itu hanya tersenyum tipis di balik biskuitnya. Ia sengaja mengunyah sedikit lebih lambat, menikmati pemandangan kakaknya yang sedang berusaha keras mempertahankan martabat bangsawannya.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, pemandangan di luar jendela kereta mulai berubah.

Hutan-hutan yang sepi berganti dengan deretan bangunan batu yang megah dan jalanan yang semakin ramai.

Tak lama kemudian, kota besar itu pun terlihat. Inilah Valthera, ibu kota terbesar sekaligus jantung dari kerajaan Arvencia.

Di pusat kota ini pula, berdiri kokoh Akademi Asterlyn, tempat di mana para jenius dan bangsawan ditempa menjadi ksatria pelindung kerajaan.

Leon sedikit menyondongkan tubuhnya ke jendela. Matanya menatap menara-menara tinggi yang ujungnya seolah menembus awan.

Kemegahan Arvencia benar-benar terasa dari sini, dengan panji-panji kerajaan yang berkibar tertiup angin di setiap sudut benteng.

Kereta terus melaju hingga mencapai gerbang utama Valthera. Masinis segera menunjukkan token perak berlambang keluarga Anhart kepada para ksatria penjaga. Tanpa banyak tanya, gerbang raksasa itu terbuka lebar, menyambut kedatangan salah satu keluarga berpengaruh di Arvencia.

Begitu masuk, suasana benar-benar berbeda dengan Ibukota Silverhold. Valthera jauh lebih hidup dan didominasi oleh para bangsawan yang berlalu-lalang dengan pakaian mewah.

Bangunan-bangunan di sini berdiri sangat megah, dengan arsitektur batu putih yang dipadukan dengan ukiran emas yang berkilau tertimpa cahaya matahari.

Leon menatap pemandangan itu tanpa berkedip. Ibukota pusat ini adalah tempat di mana kekuatan dan status adalah segalanya.

Kereta terus melaju melintasi jalanan protokol yang bersih hingga akhirnya struktur bangunan yang paling ikonik terlihat di kejauhan.

Akademi Asterlyn.

1
Mr. Wilhelm
Emm ... Keknya ini termasuk Plot armor gk sih? 🤔
Manstor
Nih aku kasih bintang 5 ya thor untuk ceritanya, aku harap novelnya bisa sampai tamat ya~ soalnya seru banget👍👍
SilentLore: Tentu aja pasti, Makasih banyak yaa🙏
total 1 replies
Manstor
waduh🙈
Manstor
Wah seru nih🤩👍
SilentLore: Maksih kaka🙏 udah tertarik baca
total 1 replies
Ryukia
ceritanya menarik
SilentLore: Terima kasih banyak!
Senang sekali kalau ceritanya bisa bikin kakak tertarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!