NovelToon NovelToon
A Feeling Rising In Chaos

A Feeling Rising In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Misteri / Hari Kiamat / Fantasi / Romansa / Action
Popularitas:49
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.

Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Empat Belas — Alpha yang Tersenyum

Selamat membaca cerita baruku, semoga kalian suka ya..

Satu persatu mereka mulai melompat ke atap sebelah. Dan tepat saat mereka meninggalkan permukaan, pintu atap gudang itu jebol sepenuhnya, kawanan kanihu membanjiri atap area gudang gedung Akasia. Namun langkah mereka semua menjadi lebih gesit melompati beberapa atap menuju atap lain walaupun tinggi tapi itu tidak membuat mereka berhenti.

Begitu kaki terakhir mendarat di atap berikutnya, Jay langsung memberi isyarat untuk tidak berhenti. Namun kali ini tidak ada kawanan yang langsung mengejar. Tidak ada jeritan maupun derap patah yang membanjiri atap.

Mereka semua bergerak cepat menjauh dari gedung gudang Akasia, bergerak tanpa menoleh lagi.

Angin menghantam wajah mereka saat melompati atap demi atap. Beberapa jaraknya sempit, cukup satu langkah panjang. Beberapa lainnya lebih tinggi, membuat mereka harus memanjat pipa air atau menarik satu sama lain dari tepi beton yang rapuh.

Regan membantu salah satu yang paling belakang. Niki menahan nafas setiap kali Lyno melompat, karena Arsya tak pernah benar-benar melepas posisi di dekat adiknya. Jay tetap di depan.

Ia menghitung jarak, menghitung waktu, menghitung kemungkinan.

Tiga atap lagi.

Dua.

Satu.

Begitu mereka tiba di atap bangunan yang lebih tinggi dan lebih jauh dari area akasia Jay akhirnya mengangkat tangan, memberi tanda berhenti. Semua langsung merunduk.

Sunyi.

Tidak ada gerakan atau tanda -tanda kanihu akan mengejar mereka maupun mendekati mereka, hanya suara angin dan nafas delapan manusia yang masih hidup. “Kenapa mereka tidak mengejar?” bisik salah satu dari kelompok Lyno.

Jay menoleh ke arah gedung gudang Akasia di kejauhan. Dari sini terlihat jelas–kawanan kanihu masih bergerak di atap gudang itu namun rapi, tidak liar seperti awal mereka mengejar mereka. Beberapa berdiri di tepi, kepala mereka miring patah-patah, seperti mendengarkan sesuatu yang tidak bisa didengar manusia.

Mereka tidak menyebar maupun turun, mereka berkumpul. “Bukan tidak mengejar,” ucap Jay pelan. “Mereka sedang menunggu.”

Arsya merasakan dingin menjalar di tengkuknya. “Menunggu apa?” Jay tidak langsung menjawab. Tatapannya tajam ke satu titik. Di tengah kawanan itu ada sosok yang berdiri lebih tegak, tidak membungkuk, tidak bergerak liar. Kepalanya perlahan terangkat.

Mata pucatnya menatap lurus ke arah mereka. Walau jarak cukup jauh, Arsya bisa merasakan seolah tatapan itu menembus jarak. Subjek Alpha.

Ia tidak bergerak, ia hanya melihat, sampai akhirnya, Arsya melihat sang Alpha Kanihu tersenyum, dan itu sangat terlihat menyeramkan.

Jay menatap tujuh orang lainnya satu per satu, memastikan tidak ada yang terluka parah. Tatapannya sempat terhenti pada tangan Arsya.

Genggaman itu begitu erat seolah jika dilepas satu detik saja, Lyno akan hilang lagi. Ada sesuatu yang bergerak di dada Jay. rasa asing. Tidak nyaman namun ia menekannya dalam-dalam.

Sekarang bukan waktunya. Ia menarik nafas dan mengalihkan fokus. “Malam hari, kita akan bergerak menuju hutan.”

Semua langsung menoleh padanya.

“Di belakang gedung ini, ada hutan lama. Dulu itu area buruan dari banyaknya manusia. Sekarang kosong.. Atau setidaknya tidak terlalu padat kanihu.” Jay menunjuk arah barat laut. “Kita sudah diincar Alpha. Itu artinya mereka bisa melacak pola gerak kita.”

Niki menyilangkan tangan.” jadi kita masuk ke wilayah liar?”

“Justru itu,” jawab Jay tenang. “Hutan akan menyamarkan aroma tubuh kita. Angin tidak terperangkap seperti di kota. Tanah basah, daun, lumpur—itu semua membantu.”

Regan menelan luda. “Tapi jarak pandang kita juga terbatas.”

“Lebih baik terbatas tapi tidak terkepung,” sahut Jay singkat. Lyno mengangguk pelan. “Kalau kita tetap di kota, mereka bisa menjepit dari segala arah.”

Arsya akhirnya melepaskan sedikit genggamannya, tapi tetap duduk dekat adiknya. “Kita istirahat sampai gelap?” Jay mengangguk pelan. “Kita cari bangunan terakhir sebelum perbatasan hutan. Bertahan sampai matahari benar-benar turun.”

Angin kembali berhembus, lebih dingin.

Di kejauhan, gedung Akasia masih terlihat. Dan di atap gudang, sosok itu masih berdiri tidak bergerak. Seperti dia sedang memberi waktu, Jay menyipitkan mata. “Alpha bukan tipe yang gegabah,” gumamnya pelan. “Kalau dia membiarkan kita pergi… berarti dia sudah menghitung sesuatu.”

Niki menoleh cepat. “Maksudmu kita sedang diarahkan?” Jay tidak menjawab langsung. Tatapannya kembali ke arah hutan gelap yang membentang di belakang deretan gedung. “Kalau iya,” katanya akhirnya, “maka kita harus bergerak lebih cerdas dari yang ia per-kirakan.”

“Cara kita turun gimana? Ga mungkin kita harus masuk kedalam gedung ini bukan?” salah satu teman Lyno, yang seusia dengan pemuda itu.

Pertanyaan itu membuat semua terdiam sejenak. Gedung yang mereka pijak sekarang tinggi. Terlalu tinggi untuk sekedar lompat turun. Tangga darurat kemungkinan berada di dalam, dan masuk kedalam berarti—resiko.

Jay berjalan ke tepi atap, berjongkok, mengamati sisi bangunan dengan teliti. Matanya menyapu dinding beton, pipa air, balkon kecil, hingga kanopi di lantai bawah.

“Ada jalur luar,” ujarnya pelan. Semua mendekat.

Di sisi kiri gedung, terlihat deretan balkon apartemen yang menjorok tidak terlalu jauh. Beberapa pintunya terbuka, beberapa tertutup. Di antara balkon itu, ada pipa pembuangan besar yang menempel dari atas sampai ke bawah.

Niki menyeringai tipis. “Kita turun kayak pencuri.”

“Lebih baik jadi pencuri hidup daripada pemberani mati,” balas Jay datar. Regan terlihat ragu. “Delapan orang… kuat?”

“Kita turun bergantian. Yang paling ringan dulu,” kata Jay cepat. “Lyno, kamu dulu. Regan di bawah jadi penahan. Kalau ada suara atau gerakan mencurigakan, kita naik lagi.”

Arsya langsung menoleh. “Aku ikut turun kedua.” Jay sempat ingin membantah, tapi ia tahu nada suara Arsya tidak memberi ruang untuk larangan. Ia hanya mengangguk pendek. “Jangan panik. Pegang pipa, injak balkon satu per satu. Jangan lompat langsung kalau jaraknya terlalu jauh.”

Angin kembali berhembus.

Di kejauhan, kota masih tampak sunyi.

Terlalu sunyi.

Lyno sudah bersiap di tepi, menurunkan tubuhnya perlahan, kaki mencari pijakan balkon pertama. Semua menahan nafas, satu langkah. Turun dan berhasil. Jay tetap mengawasi sekitar, telinganya siaga.

Lyno memberi isyarat dari balkon pertama—aman.

Regan menyusul turun, lalu satu persatu yang lain mengikuti. Gerakan mereka lebih hati-hati sekarang. Tidak terburu, tidak gegabah. Setiap pijakan diuji lebih dulu sebelum berat tubuh dipindahkan.

Jay masih di atas, matanya tidak hanya mengawasi jalanan. Ia mengawasi pola. Gedung di seberang, jendela yang terbuka dan atap yang terlalu sunyi.

Karena jika Alpha memang membiarkan mereka pergi. Itu bukan karena kehilangan jejak melainkan karena perhitungan. Jay mengingat kembali dokumen yang mereka baca semalam. “Subjek mulai berpikir terlalu mandiri.”

Bukan sekedar insting melainkan Alpha belajar, beradaptasi, dan menganalisis. Kebiasaan mereka berpindah lewat atap…sudah dilakukan berulang kali. Jika mereka bisa membaca pola kawanan, maka Alpha pun bisa membaca pola manusia.

“Jay!” bisik Niki dari bawah. “Cepat!”

Jay baru menurunkan tubuhnya ke balkon terakhir. Saat kakinya menyentuh lantai balkon lantai dua, ia membeku sejenak. Di kejauhan—di atap tiga gedung dari posisi mereka ada siluet berdiri. Tinggi dan diam.

Menghadap ke arah jalur biasa mereka ambil jika berpindah atap. Bukan ke arah mereka sekarang, ke arah jalur kebiasaan. Jay menyipitkan mata. Bukan mengejar, bukan mengamuk, Alpha sedang memotong rute. Ia tidak mengejar mangsa. Ia memprediksi.

Jay turun hingga lantai dasar dan mendarat tanpa suara. Semua sudah berkumpul di sudut sempit antara dinding dan kontainer sampah besar. Arsya langsung menatap wajahnya. “Apa?” Jay menggeleng pelan. “Kita tidak lewat atap lagi setelah ini.”

Niki mengernyit. “Tadi katanya—”

“Rencana berubah.” Jay menatap ke arah barisan gedung yang biasanya mereka gunakan. “Alpha belajar.”

Sunyi sejenak.

Angin berdesir melewati lorong belakang gedung. “Kita masuk jalur tanah. Gang sempit, saluran air, dan langsung potong ke hutan. Jangan lurus, jangan konsisten, jangan ulang pola.”

Lyno menelan ludah. “Berarti dia benar-benar berpikir seperti kita?”

Jay menatap gelapnya gang di depan mereka. “Bukan seperti kita,” ujarnya pelan. “Mungkin… lebih sabar dari kita.”

Dan untuk pertama kalinya, yang mereka lawan bukan sekedar makhluk buas. Tapi sesuatu yang sedang berevolusi.

Terima kasih sudah membaca, jangan lupa like dan votenya.. Kita lanjut besok yaa jam 10am

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!