Sekuel dari kisah Ivanka ( Izinkan Aku Bahagia )
Saat manusia di hadapkan antara nyaman dan cinta mungkin tak akan sulit untuk memutuskan tapi saat harus memilih antara orang tua atau cinta siapa kah yang akan kalian pilih ?
Itu juga yang harus Widya hadapi dimana iya harus terjebak antara cinta dan baktinya pada seorang ayah terlebih cintanya ternyata terlarang untuk bisa iya gapai.
Cinta seperti apa yang sedang di hadapi Widya dan akankah seseorang yang Abah hadirkan mampu menghilangkan cinta yang salah itu menjadi sebuah cinta murni yang utuh ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R-kha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luluh
Pada dasarnya tidak ada saudara yang akan membenci saudaranya sendiri kecuali ada alasan kuat di balik itu semua tapi tetap saja saat tau saudara kita sakit dan mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir mereka Wisnu pun coba mengesampingkan rasa sakit dan kecewanya untuk kembali bertemu dengan Bram.
" baik dok " ucap Wisnu yang akan mengingat pesan dokter Herman untuk tak memancing sisi agresif Bram agar Bram tak sampai kambuh.
" ibu temani ?" tanya Bu Vira yang juga ingin melihat kondisi Bram yang sudah satu bulan tidak iya temui.
" biarkan Wisnu sendiri " ucap Wisnu yang tak ingin kedatangannya bersama dengan Bu Vira malah memancing ingatan buruk Bram dan bisa membuatnya kembali depresi.
" baiklah " ucap Bu Vira yang mencoba percaya pada Wisnu dan semuanya akan tetap baik baik saja.
Wisnu pun berjalan menuju ruang isolasi Bram diantar seorang suster yang tadi sempat mengantar dirinya dan Bu Vira menuju ruang dokter.
" silahkan masuk tapi tetap jaga jarak karena pasien kadang tak bisa di duga " ucap suster itu sambil membuka pintu ruang isolasi dan mempersilahkan Wisnu masuk, baru setelah itu pintu ruang isolasi pun kembali di tutup.
" terima kasih sus " ucap Wisnu tapi tatapannya terkunci ke arah Bram yang terlihat jauh berbeda dari yang terakhir iya lihat beberapa tahun yang lalu.
" kenapa kamu bisa sampai seperti ini Bram " ucap Wisnu lirih tapi kakinya kini melangkah mendekat ke arah ranjang tempat tidur dimana tubuh Bram harus di ikat agar Bram tak lagi melukai dirinya.
" Bram " panggil Wisnu yang jujur hatinya terasa teriris melihat kondisi Bram saat ini.
" mas, itu benar kamu ?" tanya Bram yang ternyata masih bisa mengenali Wisnu sebagai kakaknya.
" apa kamu masih mengenal mas ?" tanya Wisnu yang kini sudah ada tepat di samping tempat tidur Bram.
" tentu saja, Bram sudah menunggu saat ini begitu lama " ucap Bram dengan pancaran penuh penyesalan saat menatap Wisnu.
" bagaimana keadaan mu saat ini ?" tanya Wisnu yang tak memiliki rasa takut saat berada di dekat Bram.
" seperti yang mas lihat " ucap Bram yang terlihat lemah bahkan tatapan mata Bram saat ini terlihat kosong.
" mas, Bram minta maaf karena apa yang sudah Bram lakukan pada mas dulu " ucap bram yang tak ingin sampai menyesal karena tak sempat meminta maaf pada Wisnu atas apa yang sudah iya lakukan pada kakaknya.
" mas sudah memaafkan mu jauh sebelum kamu meminta maaf " ucap Wisnu yang merasa sikap Bram sedikit aneh tapi Wisnu coba mengabaikan apa yang iya rasakan saat ini.
" maafkan ibu yang terus membela Bram sekalipun Bram melakukan kesalahan hingga melukai hati mas " ucap Bram lagi
" jangan mengingat apalagi memikirkan masa lalu " ucap Wisnu yang ingin adik laki lakinya bisa kembali pulih seperti sebelumnya.
" fokus pada kesehatan dan kesembuhan mu dan kembali lah pada kami dengan hati yang baru " ucap Wisnu yang benar benar tulus memaafkan Bram dan juga ibunya setelah melihat apa yang terjadi pada ibu dan Bram saat ini.
" andai Bram masih memiliki waktu, Bram pasti akan berusaha untuk bisa kembali sehat dan sembuh seperti dulu " ucap Bram yang merasa waktu yang iya miliki tidak banyak lagi.
" Bram titip ibu " ucap Bram sambil mengulurkan tangannya ke arah Wisnu tapi baru saja akan Wisnu raih, tangan Bram tiba tiba saja mengepal sempurna seolah menyalurkan rasa sakit yang tak mungkin bisa Bram bagi dengan siapapun.
" kamu kenapa Bram " ucap Wisnu panik.
" jaga ibu, mas " ucap Bram di sisa tenaga yang iya miliki saat ini.
" mas panggilkan dokter dulu " ucap Wisnu yang langsung bangkit dari duduknya untuk memanggil dokter Herman yang Wisnu pikir jika apa yang terjadi pada Bram saat ini adalah reaksi tubuh biasa yang sering Bram tunjukan jika sedang kambuh.
" dok, dokter tolong " ucap Wisnu sambil berteriak dari ambang pintu ruang isolasi sambil terus melihat ke arah Bram yang terus merintih kesakitan bahkan tubuh Bram terus menggeliat seolah ingin melawan rasa sakit yang Bram rasakan dari kanker usus yang terus menggerogoti tubuh bagian dalamnya.
" Bram kenapa mas ?" tanya Bu Vira yang langsung berlari mendekat ke arah Wisnu yang masih menunggu dokter Herman untuk melihat kondisi Bram saat ini.
" Wisnu tidak tau Bu, tiba tiba saja Bram kesakitan " ucap Wisnu yang menduga jika penyakit kanker yang Bram derita sedang bereaksi.
" tolong beri jalan dan tolong tunggu di luar " ucap dokter Herman dan beberapa perawat yang kini sudah masuk ke dalam ruang isolasi Bram dan salah satu suster pun menutup pintu ruang isolasi agar dokter bisa mengecek kondisi Bram saat ini.
" apa yang terjadi pada Bram, mas ?" tanya Bu Vira yang khawatir jika kedatangan Wisnu malah memperburuk kondisi kejiwaan Bram saat ini.
" semuanya baik baik saja bahkan Bram terlihat normal karena Bram masih mengenali Wisnu dan bahkan Bram juga meminta maaf atas apa yang pernah iya lakukan dulu dan meminta Wisnu menjaga ibu " jelas Wisnu panjang lebar.
" lalu kenapa tiba tiba saja kondisi Bram seperti ini ?" tanya Bu Vira yang masih tak bisa tenang sebelum melihat jika Bram baik baik saja.
" mungkin saja penyakit yang Bram miliki sedang kambuh " ucap Wisnu yang tak ingin ibunya sampai berpikir jika karenanya lah kondisi Bram kembali memburuk.
" semoga adikmu baik baik saja " ucap Bu Vira sambil menatap ke arah pintu ruang isolasi yang masih tertutup rapat.
" Bram pasti baik baik saja Bu " ucap Wisnu sambil merangkul Bu Vira dimana untuk pertama kalinya sejak dirinya memutuskan untuk menjauh dari Bu Vira Wisnu mau mendekati ibunya lagi.
" kamu yakin ?" tanya Bu Vira sambil menatap ke arah anak sulungnya.
" kita sama sama berdoa ya Bu, semoga Bram kuat dan bisa kembali bersama dengan kita dalam keadaan baik baik saja " ucap Wisnu yang tak bisa menjanjikan apapun apalagi saat mengingat tatapan kosong yang Bram tunjukan padanya.
Hampir setengah jam dokter Herman melakukan tindakan untuk menyelamatkan Bram tapi sayangnya nyawa Bram tak bisa di tolong karena penyakit kanker usus Bram yang sudah sampai di tahap akhir.
" beri tahu keluarga pasien jika pasien tidak bisa di selamatkan " ucap dokter Herman sambil menutup tubuh Bram dengan kain putih rumah sakit.
" baik dok " ucap suster yang sempat mengantar wisnu untuk bertemu dengan Bram, suster pun membuka pintu ruang isolasi dan di hadapannya sudah berdiri Wisnu dan Bu Vira yang menunggu kabar tentang kondisi Bram saat ini.
" bagaimana kondisi Bram, sus ?"
✍🏻✍🏻✍🏻 apa Bu Vira akan bisa menerima kenyataan jika Bram tak bisa di selamatkan ? Dan apakah Bu Vira akan menyalakan Wisnu atas kepergian Bram ?
Pantengin terus ya ceritanya biar R-kha lebih semangat lagi update nya
Jangan lupa like dan tinggalkan jejak biar R-kha lebih semangat lagi update nya
Love you moreee 😘 😘 😘