Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akrom Kafa Bihi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik Rekaman
Angin sore berhembus dingin di area proyek yang setengah jadi itu. Langit Jakarta kembali menggelap, seolah menyimpan rahasia yang belum siap diungkap.
Aluna masih berdiri terpaku menatap layar tablet yang baru saja dimatikan oleh Komisaris Rendra.
Nama itu masih menggema di kepalanya.
Cemalia.
Wanita yang beberapa minggu terakhir selalu muncul seperti bayangan gelap dalam hidupnya.
Namun ia tidak pernah menyangka bayangan itu kini muncul dalam kematian ayahnya sendiri.
“Tidak mungkin…” bisik Aluna hampir tanpa suara.
Arkan berdiri di sampingnya, wajahnya tetap tenang. Namun siapa pun yang mengenalnya cukup lama akan tahu—rahangnya yang menegang menandakan pikirannya sedang bekerja keras.
Komisaris Rendra menyilangkan tangan di depan dada.
“Kami masih menyelidiki rekaman itu,” katanya. “Tapi sejauh ini tidak ada keraguan bahwa wanita itu memang Cemalia Pratama.”
Aluna menoleh ke arah Arkan.
“Kenapa dia ada di sini?” suaranya gemetar.
Arkan tidak langsung menjawab.
Ia menatap bangunan proyek di depan mereka, seolah mencoba menyusun potongan puzzle yang semakin rumit.
“Ada kemungkinan dia hanya kebetulan datang,” kata Rendra.
Arkan langsung menggeleng.
“Cemalia tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Namun begitu ia mengucapkannya, ia menyadari sesuatu.
Ia mengenal Cemalia lebih dari siapa pun di tempat itu.
Dan justru karena itulah, hatinya semakin tidak tenang.
Rendra menatap keduanya bergantian.
“Masalahnya bukan hanya wanita itu,” katanya.
Arkan mengangkat alis.
“Apa maksud Anda?”
Rendra membuka tablet lagi, menampilkan bagian lain dari rekaman.
“Pria yang bersamanya adalah Dimas Pradana.”
Nama itu kembali membuat udara terasa lebih berat.
Dimas adalah salah satu manajer proyek paling senior di perusahaan Arkan. Ia sudah bekerja di Wijaya Group hampir sepuluh tahun.
Bahkan ayah Arkan pernah menyebutnya sebagai orang yang sangat bisa dipercaya.
“Apakah Dimas sudah dipanggil?” tanya Arkan.
“Belum,” jawab Rendra. “Kami masih mengumpulkan bukti sebelum melakukan interogasi resmi.”
Arkan mengangguk.
Keputusan yang masuk akal.
Namun sesuatu di dalam dirinya mengatakan bahwa waktu mereka mungkin tidak banyak.
Ia menatap kembali bangunan proyek itu.
Di tempat inilah ayah Aluna jatuh.
Atau… dijatuhkan.
Aluna menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya.
“Apakah ayah saya pernah mengenal Cemalia?” tanyanya.
Arkan menoleh.
“Setahuku tidak.”
Rendra menggeleng.
“Sejauh ini kami juga belum menemukan hubungan langsung.”
Aluna menatap tanah basah di depan mereka.
Semakin banyak yang ia pelajari, semakin sedikit yang ia pahami.
Jika ayahnya tidak mengenal Cemalia…
Kenapa wanita itu berada di sini pada malam kejadian?
Angin bertiup lagi, membawa aroma semen dan tanah basah.
Tiba-tiba seorang petugas polisi mendekat dengan wajah serius.
“Pak Komisaris.”
Rendra menoleh.
“Ada apa?”
“Kami menemukan sesuatu di dalam gudang proyek.”
Semua orang langsung menatapnya.
“Apa?” tanya Rendra.
Petugas itu terlihat sedikit ragu sebelum menjawab.
“Beberapa dokumen.”
“Dokumen apa?”
“Dokumen kontrak proyek.”
Arkan langsung mengerutkan kening.
“Kontrak proyek seharusnya disimpan di kantor pusat.”
“Betul,” kata petugas itu. “Itu juga yang membuat kami curiga.”
Mereka semua berjalan menuju gudang proyek.
Gudang itu berada di sisi bangunan utama, sebuah ruangan besar dengan pintu besi yang sedikit berkarat.
Di dalamnya terdapat beberapa meja kerja, rak-rak besi, dan tumpukan material konstruksi.
Di salah satu meja, beberapa map dokumen sudah dibuka oleh petugas.
Rendra mengambil salah satunya.
“Ini kontrak kerja sama proyek ini.”
Arkan berdiri di sampingnya, membaca sekilas.
Nama perusahaan klien tercantum jelas.
Semuanya terlihat normal.
Namun ketika ia membuka halaman terakhir, matanya tiba-tiba menyempit.
“Apa?” tanya Rendra.
Arkan menunjuk satu bagian kecil.
“Tambahan anggaran ini.”
Rendra membaca lebih teliti.
Jumlahnya tidak kecil.
Bahkan cukup besar untuk proyek seperti ini.
“Tambahan ini disetujui oleh siapa?” tanya Rendra.
Arkan menunjuk tanda tangan di bawahnya.
Nama itu kembali membuat suasana berubah.
Dimas Pradana.
Aluna yang berdiri di belakang mereka ikut melihat dokumen itu.
“Apakah ini berarti dia terlibat?” tanyanya.
Arkan tidak langsung menjawab.
Namun pikirannya mulai menyusun kemungkinan baru.
Tambahan anggaran.
Manajer proyek.
Cemalia di lokasi kejadian.
Semua potongan itu belum membentuk gambar utuh.
Namun satu hal mulai terasa jelas—
Ada sesuatu yang disembunyikan dalam proyek ini.
Tiba-tiba suara ponsel Arkan berbunyi.
Ia melihat layar.
Nama yang muncul membuat ekspresinya sedikit berubah.
“Ayah.”
Ia mengangkat telepon.
“Ada apa?”
Suara berat Tuan Wijaya terdengar dari seberang.
“Aku baru saja menerima laporan dari direktur keuangan.”
Arkan menatap dokumen di tangannya.
“Laporan apa?”
“Ada transaksi mencurigakan dalam proyek yang sedang kau periksa.”
Arkan langsung berdiri lebih tegak.
“Berapa besar?”
Tuan Wijaya terdiam beberapa detik sebelum menjawab.
“Lebih dari lima puluh miliar.”
Mata Arkan menyipit.
Itu bukan sekadar penyimpangan kecil.
Itu korupsi besar.
“Siapa yang menyetujui transfernya?” tanya Arkan.
Jawaban yang datang dari telepon membuat udara di ruangan itu terasa membeku.
Nama yang disebutkan adalah—
“Cemalia Pratama.”
Arkan perlahan menutup telepon.
Semua orang menatapnya.
“Ada apa?” tanya Aluna.
Arkan menatapnya dalam-dalam.
“Uang proyek ini… mengalir ke perusahaan milik Cemalia.”
Aluna merasakan jantungnya seperti dipukul.
“Jadi dia benar-benar terlibat…”
Namun Arkan menggeleng pelan.
“Belum tentu.”
“Kenapa?”
Arkan menatap dokumen kontrak sekali lagi.
“Karena Cemalia tidak punya akses langsung ke proyek ini.”
Rendra mengerutkan kening.
“Maksud Anda?”
Arkan menutup map itu dengan pelan.
“Artinya ada seseorang di dalam perusahaan yang membantunya.”
Hening memenuhi gudang proyek.
Jika itu benar—
Berarti ada pengkhianat di dalam Wijaya Group.
Dan orang itu mungkin sudah sangat dekat dengan mereka selama ini.
Angin malam mulai masuk melalui celah pintu gudang.
Di luar, langit semakin gelap.
Namun badai yang sebenarnya baru saja mulai.
Karena di tempat lain, seseorang sedang memandangi berita penyelidikan proyek itu melalui layar laptop.
Wanita itu tersenyum tipis.
Cemalia Pratama menutup laptopnya dengan santai.
“Sepertinya permainan ini mulai menarik.”
Ia berdiri dan berjalan menuju jendela apartemennya yang mewah.
Lampu-lampu kota Jakarta berkilauan di bawah sana.
“Arkan…” gumamnya pelan.
“Kalau kau ingin membuka rahasia lama… kau harus siap dengan apa yang akan kau temukan.”
Ia mengambil ponselnya dan mengirim satu pesan singkat.
Pesan itu hanya berisi tiga kata.
“Rencana kedua. Sekarang.”
Beberapa detik kemudian, balasan datang.
Dan ketika Cemalia membaca isi pesan itu, senyum di wajahnya semakin dalam.
Karena permainan yang mereka mulai bertahun-tahun lalu…
Akhirnya hampir mencapai babak berikutnya.
Sementara itu, di gudang proyek yang sunyi, Arkan berdiri memandangi dokumen di tangannya.
Ia belum tahu satu hal penting.
Bahwa orang yang mereka cari…
Mungkin jauh lebih dekat dari yang ia bayangkan.
Dan jika dugaan itu benar—
Maka pengkhianatan terbesar dalam hidupnya…
Akan segera terungkap.
End Bab 31🔥
di bab 2 dijelaskan klo ayah Aluna tidak bisa hadir di pernikahan Aluna karena kesehatan yang belum stabil, tapi di bab ini menjelaskan klo ayah Aluna meninggal di tempat proyek? yang benar mana nih?