Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit Perut
Aku meletakan kota kurma muda di meja sofa apart. Melepas kardigan yang tadi membalut tubuhku. "Itu apa?" tanya kak Satya matanya tertuju pada kota kurma muda di meja.
"Kurma muda." jawabku singkat. Sambil menenteng bungkusan masakan yang tadi kita beli untuk makan malam.
Kak Satya berjalan di belakangku, kemudian ia mencuci tangannya di wastafel. "buat apa?". tanyanya lagi.
"Biar cepet hamil." singkat padat jujur.
kak Satya terdiam sejenak. Aku berjalan menuju sofa menenteng beberapa gelas untuk minum. Lalu kemudian kak Satya menyusulku membawa beberapa piring.
"Dari siapa?" ia bertanya kembali sambil menuangkan kuah soto ke dalam mangkuk. Aroma soto yang wangi menyeruak ke hidungku. Membuat perutku menjadi lapar sekali.
Tanganku cekatan mengisi piring sandrina dan kak Satya dengan nasi hangat. "Dari temen ibu, nitip ke Leona." ucapku. "drina makannya mau sama apa?, soto atu bebek goreng."
"Soto aja ma." ucap sandrina pelan. Sepertinya dia sudah mengantuk, karena tidak tidur siang. seharian bermain bersama Kenzo.
"Kamu kak..?"
Aku tidak bertanya pada kak Satya. laki laki itu sudah mengambil satu paha bebek goreng.
"Hah...mama ndra pedes.." sandrina ber hah.. Kepedesan. Mungkin tidak sengaja sendoknya nyemplung ke dalam sambel.
Aku menyodorkan segelas air pada Drina dan kemudian membantunya minum. "Ganti sendoknya na, yang itu kena sambel." drina nurut dan kemudian mengganti sendok dengan yang bersih.
Di sebelahku kak Satya yang terus-terusan menyendok sambal. Jika tidak salah sudah tiga kali dia mengambil sambal. Padahal sambal ini cukup pedas.
"Kak!. Nanti sakit perut" ucapku mengingatkan.
"Aman" Katanya singkat.
Setelah makan. Kak Satya berinisiatif untuk mencuci piring. Sedangkan aku mengantar sandrina ke kamar.
"Gosok gigi dulu na" ucapku.
Sepertinya sandrina sudah ngantuk sekali. dilihat dari matanya sudah memerah.
Dengan langkah gontai drina menurut dan memasuki kamar mandi untuk menggosok gigi, cuci kaki dan muka. Sambil menunggu sandrina di kamar mandi aku menyiapkan piyama untuk drina pakai.
Keluar dari kamar mandi drina langsung mengganti bajunya.
"udah, sebelum tidur baca do'a dulu na"
"Bismillahirrahmanirrahim bismika allahumma ahya wa amut" ucapnya kemudian langsung memejamkan mata. Aku menyelimutinya. Kemudian mengecup keningnya.
Aku mematikan lampu kamar, kemudian diganti dengan lampu tidur.
Keluar dari kamar drina. kondisi ruangan sudah bersih dan rapi. Tidak ada piring bertumpuk. Tidak ada bekas noda yang tersisa. Kak Satya yang membereskannya.
Aku memasuki kamar dan melihat kak Satya yang sudah bersantai di atas kasur dengan laptop di depannya. Tanpa banyak bicara aku pergi mengambil baju dalam lemari kemudian menggantinya di kamar mandi sekalian mencuci muka dan lainnya.
Setelah itu aku menghempaskan tubuhku di kasur sebelah kak Satya yang masih berkutat dengan laptopnya.
"Kak gimana tadi mobil ayah?" aku membuka obrolan. Bertanya prihal mobil ayah yang rusak. kak Satya mengurusnya tadi.
"Rusak parah di bagian depan. Tapi syukurnya yang nabrak tanggung jawab. Menanggung biaya perbaikan mobil sepenuhnya." ucapnya dengan pandangan yang masih tertuju pada layar laptop.
Aku bisa bernafas lega. Syukurnya yang nabrak mobil ayah bertanggung jawab.
Aku memandangi pria di sampingku. Setidaknya jika dia tidak menganggapku sebagai istrinya. Namun dia baik pada ayah dan ibu. Ayah dan ibu di rumah sakit saja semua yang ngurus adalah kak Satya, walaupun sibuk dengan pekerjaannya tapi kak Satya menyempatkan waktunya untuk itu semua. Sampai mengurus laporan ke kantor polisi sehingga si pelaku penabrak bisa bertanggung jawab.
"Kak..." ucapku pelan. Tanganku sibuk memilih bantal kecil di depanku.
Kak Satya menoleh.
"Makasih udah ngurus semuanya." Mungkin ada guratan sedih di wajahku.
Kak Satya mengangguk seraya pandangannya kembali tertuju pada layar laptop. "Sudah tugas ku ndra. Ayah dan ibu adalah orangtuaku juga."
Deg...
Lagi lagi hatiku kembali berdenyut.
Hangat.
***
"Ndra. Kamu punya minyak angin?" Kak Satya bertanya padaku sambil memegangi perutnya.
Aku yang sedang membereskan tempat tidur menoleh. "Buat apa kak?". Aku yang kurang peka atau gimana. Sedari tadi kak Satya bolak balik kamar mandi.
"Sakit perut." jawabnya sambil berjalan menuju toilet.
Aku terbelalak kaget. Ingin ketawa tap kasihan juga.
Kak Satya keluar dari kamar mandi dengan wajah yang masih meringis. Kasihan juga.
"Nih minyak angin nya." Aku menyerahkan minyak angin itu pada kak Satya. Kak Satya menerimanya kemudian langsung membalur di perutnya.
"Muntah ga kak?"
Kak Satya menggeleng. "Tolong.. balur di punggung" ucapnya sambil memberikan botol minyak angin padaku.
Aku mengangguk kemudian mengusapkan minyak angin di punggungnya. "Kalau gak muntah berarti bukan masuk angin. ini makan sambel kebanyakan malem."
"Tunggu aku buatin oralit dulu." kak Satya mengangguk dan duduk di sofa samping samping tempat tidur.
Aku berjalan menuju dapur, tapi sebelumnya aku menengok kamar sandrina terlebih dahulu. Apakah anak itu sudah bangun apa belum.
"Na langsung mandi ya!" ucapku seraya berlalu menuju dapur.
Aku mengisi gelas dengan air hangat setengan sendok teh gula dan sejumput garam kemudian mengaduknya perlahan.
Selesai. Aku kembali menuju kamar dan mendapati kak Satya yang sedang meringis memegangi perutnya.
"Nih.. Kak di minum."
Tanpa banyak tanya dia menurut kemudian meneguk habis air garam dan gula itu.
"Apa ini?, aneh rasanya."
"Larutan garam dan gula, kalau diare obatnya ini. Ini cukup ampuh kak." ucapku seraya meraih gelas kosong dari kak Satya.
"Istirahat gak ke kantor?"
Kak Satya mengangguk sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
Aku berjalan mengambil selimut kemudian menyelimuti tubuh kak Satya.
"Kak!, aku antar dulu drina sekolah ya"
"Hem.."
Aku berbalik.
Dan...
Jemarinya menarik tanganku.
"Makasih ndra..." sangat halus
Dukung terus novel ku ya, dengan like, komen, subscribe dan vote. Itu sangat berarti untuku terimakasih🙏🏻