Dua jiwa yang terjepit di antara tuntutan menjadi "Pria Baja" dan "Wanita Porselen" bertemu dalam sebuah kepura-puraan yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peluru di balik Cangkir Teh
Pertemuan keluarga besar Baskoro bukanlah sekadar arisan atau makan siang biasa. Ini adalah "sidang paripurna" bagi siapa pun yang ingin menjadi bagian dari klan tersebut. Diadakan di kediaman utama yang bergaya kolonial di Menteng, suasana siang itu terasa gerah meski mesin pendingin ruangan bekerja maksimal. Para tante dengan sanggul tinggi dan perhiasan yang berkilau lebih terang dari masa depan mereka, duduk melingkar di sofa beludru, siap menguliti setiap gerak-gerik Laras.
Laras datang mendampingi Arka. Kali ini,atas saran Arka melalui pesan singkat semalam, Laras tidak mengenakan jeans. Ia memakai gaun selutut berwarna merah marun warna favoritnya yang potongannya tegas dan elegan. Ia tidak ingin memberi celah bagi mereka untuk menyerang penampilannya, namun ia tetap mempertahankan identitasnya.
"Ingat," bisik Arka saat mereka melangkah masuk. "Jangan biarkan mereka melihatmu ragu. Mereka seperti hiu; setetes darah keraguan, dan mereka akan mencabikmu." "Aku sudah terbiasa menghadapi mandor bangunan yang galak, Arka. Para tante ini hanya mandor dengan versi parfum yang lebih mahal," balas Laras tenang, meski jemarinya sedikit dingin.
Di tengah ruangan, Doni sudah berdiri dengan segelas es teh di tangan, dikelilingi oleh beberapa kerabat muda. Begitu melihat kedatangan Arka dan Laras, senyumnya mengembang sejenis senyum yang dimiliki predator saat melihat mangsanya masuk ke jebakan.
"Ah, ini dia! Pasangan yang paling dibicarakan se-Jakarta," seru Doni, suaranya cukup keras untuk menarik perhatian seluruh ruangan. "Laras, kamu tampak luar biasa hari ini. Merah marun memang warna yang... berani. Sangat menggambarkan kepribadianmu yang 'liar' di lapangan konstruksi, ya?"
Laras hanya membalas dengan senyum tipis. "Terima kasih, Doni. Di lapangan, warna berani memang diperlukan agar tidak mudah tertimbun debu."
"Berbicara soal lapangan," Doni meletakkan gelasnya, lalu merogoh kantong jasnya. Ia mengeluarkan beberapa lembar foto yang dicetak dengan kualitas tinggi. "Tadi pagi aku tidak sengaja melihat arsip lama dari teman media. Aku menemukan foto-foto yang sangat menarik tentang calon menantu Jenderal kita ini."
Doni meletakkan foto-foto itu di atas meja marmer tengah, sehingga para tante dan Jenderal Baskoro yang duduk di dekat sana bisa melihatnya dengan jelas.
Foto itu memperlihatkan Laras dua tahun lalu di sebuah lokasi proyek di pinggiran kota. Ia mengenakan kaos oblong yang basah oleh keringat, celana kargo yang penuh lumpur, dan ia tampak sedang beradu argumen dengan seorang pria kekar sambil menunjuk-nunjuk kerah baju pria tersebut. Di foto lain, Laras tampak sedang duduk di warung pinggir jalan bersama para kuli bangunan, tertawa sambil memegang gelas plastik berisi kopi hitam.
Suasana ruangan mendadak membeku. Seorang tante dengan kacamata berantai emas mendengus pelan. "Astaga... Laras, ini kamu? Benar-benar seperti tidak ada tata kramanya. Duduk bersama buruh di pinggir jalan?" Baskoro mendekat, matanya menatap foto itu dengan tajam. Rahangnya mengeras. "Laras, bisa kamu jelaskan ini? Apa ini cara kamu menjaga kehormatan keluarga saat bekerja?"
Laras merasa darahnya mendidih. Ia ingin berteriak bahwa di foto itu ia sedang membela hak para pekerja yang upahnya dipotong oleh subkontraktor nakal. Ia ingin bilang bahwa duduk di warung adalah cara terbaik untuk mendengar keluhan mereka. Namun, sebelum kata-kata itu keluar, Arka sudah melangkah maju. Arka mengambil salah satu foto tersebut, memperhatikannya dengan saksama, lalu justru tersenyum bangga sebuah reaksi yang tidak diduga oleh siapa pun, termasuk Doni.
"Papa lihat ini?" Arka menunjukkan foto di mana Laras sedang membentak pria kekar itu. "Pria ini adalah mandor yang mencoba menggelapkan dana semen di proyek Laras. Dia mencoba mengintimidasi Laras karena dia pikir Laras 'hanya perempuan'. Tapi lihat apa yang Laras lakukan? Dia tidak takut. Dia berdiri di sana, melindungi aset perusahaan dan integritasnya."
Arka meletakkan foto itu kembali ke meja. "Soal duduk di warung kopi? Itu namanya kepemimpinan, Pa. Dia tidak memerintah dari menara gading. Dia turun ke bawah, merangkul orang-orang yang berkeringat untuknya. Bukankah itu yang selalu Papa ajarkan padaku tentang kepemimpinan militer? .
Baskoro terdiam. Logika Arka memutarbalikkan narasi negatif Doni menjadi sebuah pujian maskulin yang sangat disukai Baskoro."Dan Doni," Arka menoleh ke arah sepupunya itu dengan tatapan yang bisa membekukan api. "Terima kasih sudah membawakan foto-foto ini. Ini membuktikan bahwa aku tidak salah pilih. Aku tidak butuh istri yang hanya tahu cara memegang tas branded. Aku butuh pendamping yang punya nyali untuk bertarung di dunia nyata."
Doni ternganga. "Tapi Arka, lihat penampilannya! Dia tampak seperti... seperti perempuan murahan yang tidak punya kelas di sana!" "Murahan?" Arka mendekati Doni, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Hati-hati dengan lisanmu, Don. Di foto itu, dia sedang bekerja dengan jujur. Justru orang yang mengambil foto diam-diam dan menyebarkannya dengan niat menjatuhkan lah yang tidak punya kelas. Benar kan, Pa?"
Baskoro berdehem, lalu menoleh ke arah Doni. "Arka benar. Doni, jangan buang waktuku dengan gosip murahan. Laras melakukan tugasnya. Selama dia tahu kapan harus memakai gaun dan kapan harus memakai helm proyek, itu bukan masalah."
Serangan Doni patah total. Para tante yang tadi siap menghakimi kini justru mulai berbisik tentang betapa "tangguhnya" calon menantu Baskoro.
Setelah ketegangan mereda, Arka mengajak Laras ke teras samping untuk mencari udara segar. Laras bersandar di pilar beton, napasnya yang tertahan sejak tadi akhirnya keluar dengan lega.
"Terima kasih lagi, Ka," bisik Laras. "Aku hampir saja meledak dan memaki Doni tadi."
"Kalau kamu memaki, dia menang," Arka menyandarkan tubuhnya di samping Laras. Tangannya masih gemetar tipis tanda bahwa ia juga sedang berjuang mengendalikan emosinya sendiri. "Pasal 3, Laras. Aku sudah janji akan menjadi perisaimu."
Laras menatap Arka. Pria ini baru saja mempertaruhkan posisinya di depan ayahnya untuk membela "versi jelek" dari dirinya versi yang selama ini ia sembunyikan karena malu. "Kamu tadi bilang aku 'singa' lagi," Laras tersenyum tipis. "Padahal di foto itu aku benar-benar berantakan."
"Berantakan tapi nyata," Arka menoleh, matanya bertemu dengan mata Laras. "Lebih baik berantakan tapi jujur, daripada rapi tapi penuh kepalsuan seperti mereka di dalam sana."
Untuk sesaat, mereka hanya diam, menikmati suara angin yang berdesir di antara pohon-pohon besar di Menteng. Di tengah kepungan standar ganda dan penghakiman sosial, mereka menemukan sebuah pulau kecil yang aman: satu sama lain.
Namun, di dalam ruangan, Doni tidak menyerah. Ia meremas foto-foto itu dan membuangnya ke tempat sampah. "Oke, Arka. Kamu bisa membela masa lalunya sebagai mandor. Tapi mari kita lihat bagaimana kamu membela 'masa lalu' yang satu lagi. Masa lalu yang bahkan tidak kamu ketahui."
Doni mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah folder tersembunyi berisi foto Laras di sebuah klub malam beberapa tahun lalu, sedang dipeluk oleh seorang pria asing.
Pertempuran baru saja dimulai, dan kali ini, pelurunya mengandung racun yang bisa menghancurkan kepercayaan yang baru saja tumbuh di antara Arka dan Laras.