Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.
Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.
Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Terakhir di Balik Senyap
Dua hari setelah keputusan Ardhana untuk mengajukan penawaran resmi, pasar bergerak seperti kawanan burung yang terkejut oleh suara tembakan.
Saham Aurora kembali merosot.
Media bisnis internasional mulai berspekulasi: Apakah ini awal dari akhir Aurora Holdings?
Alina membaca berita-berita itu dengan wajah datar. Ia sudah terbiasa dengan sorotan. Yang membuatnya gelisah bukan opini publik, melainkan keheningan dari Daniel.
Terlalu sunyi.
Dan keheningan dalam dunia bisnis sering kali berarti satu hal—sesuatu sedang disiapkan.
Di ruang rapat sementara mereka di Singapura, Arsen menutup laptopnya dengan ekspresi serius.
“Kita punya masalah.”
Alina menoleh. “Apa lagi?”
“Dewan direksi Aurora mengumumkan rapat luar biasa malam ini. Mereka akan merilis pernyataan resmi besok pagi.”
Alina mengernyit.
“Pernyataan tentang apa?”
“Belum jelas. Tapi sumber kita bilang ada restrukturisasi besar.”
Alina terdiam beberapa detik.
Restrukturisasi bisa berarti banyak hal—penggantian CEO, penjualan besar-besaran, atau langkah agresif terakhir untuk mempertahankan kendali.
“Apakah Daniel sedang dikorbankan?” gumamnya.
Arsen mengangkat bahu tipis. “Atau dia sedang menyiapkan serangan balik.”
Malam itu, Alina tidak bisa tidur.
Ia berdiri di balkon lagi, memandang laut yang gelap seperti tinta.
Arsen keluar menyusulnya.
“Kau memikirkan dia?” tanyanya pelan.
“Bukan dia,” jawab Alina. “Aku memikirkan apa yang belum kita lihat.”
Arsen menyandarkan siku di pagar balkon. “Kita sudah mengamankan dua aset strategis. Investor besar mendukung kita. Apa lagi yang bisa mereka lakukan?”
Alina menoleh, matanya tajam.
“Menghancurkan reputasi.”
Arsen terdiam.
Itu satu-satunya celah yang belum disentuh.
Jika Aurora tidak bisa menang secara finansial, mereka bisa menyerang secara personal.
“Rahasia keluargamu?” tanya Arsen hati-hati.
Alina menggeleng. “Itu sudah terbuka. Tidak lagi efektif.”
“Lalu?”
Ia terdiam.
Dan saat itulah ponselnya bergetar.
Nomor tak dikenal.
Alina menatap layar beberapa detik sebelum menjawab.
“Ya?”
Suara di ujung sana rendah dan tenang.
“Jika Anda ingin tahu isi pengumuman besok, kita perlu bicara sekarang.”
Alina tidak menunjukkan reaksi.
“Siapa ini?”
“Orang yang tahu Daniel tidak lagi memegang kendali.”
Pertemuan itu terjadi di sebuah lounge hotel yang hampir kosong menjelang tengah malam.
Pria yang duduk di hadapan Alina mengenakan jas rapi, wajahnya sulit ditebak.
“Saya bagian dari dewan,” katanya pelan. “Dan saya tidak ingin perusahaan ini tenggelam karena ego satu orang.”
Alina menyilangkan tangan.
“Langsung saja.”
Pria itu menatapnya tajam.
“Besok pagi, Aurora akan mengumumkan pengunduran diri Daniel Wijaya sebagai CEO.”
Alina tidak terkejut sepenuhnya, tapi tetap terasa seperti pukulan yang nyata.
“Dan?”
“Kami akan membuka pembicaraan resmi untuk merger.”
Kali ini Alina benar-benar terdiam.
“Merger?” ulangnya.
“Bukan aliansi. Bukan kerja sama sementara. Merger penuh dengan Ardhana.”
Arsen yang duduk di sampingnya menyela, “Dengan posisi siapa sebagai pemimpin?”
Pria itu tersenyum tipis. “Itu yang ingin kami negosiasikan.”
Alina menatapnya lama.
Merger berarti bukan sekadar mengambil aset.
Itu berarti menyatukan dua kekuatan besar.
Dan juga menyatukan dua sejarah yang penuh konflik.
“Kenapa sekarang?” tanyanya pelan.
“Karena kami tahu Anda bukan tipe yang menghancurkan tanpa rencana. Jika Aurora jatuh, pasar akan goyah. Banyak pihak terdampak. Merger bisa menyelamatkan nilai bagi semua.”
Alina menimbang setiap kata.
“Dan Daniel?”
“Dia tidak akan lagi berada di struktur kepemimpinan.”
Keheningan panjang terjadi.
Arsen menoleh ke Alina, mencari reaksinya.
Merger adalah langkah yang lebih besar dari sekadar akuisisi.
Itu mengubah peta industri.
Tapi juga mengikat mereka pada masa lalu.
“Apa jaminannya ini bukan trik?” tanya Arsen dingin.
Pria itu mengeluarkan dokumen tipis dari mapnya.
“Draft awal. Kami siap memberikan mayoritas saham kepada Ardhana dalam struktur baru.”
Alina menatap dokumen itu tanpa menyentuhnya.
Mayoritas saham berarti kendali.
Kendali berarti akhir dari ancaman.
Namun juga berarti tanggung jawab yang jauh lebih besar.
“Kami butuh jawaban sebelum pengumuman resmi besok,” tambah pria itu.
Kembali ke kamar hotel, suasana terasa lebih berat dari sebelumnya.
Arsen meletakkan dokumen di meja.
“Ini kesempatan untuk mengakhiri semuanya,” katanya.
“Atau memulai sesuatu yang lebih besar,” balas Alina.
Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap lantai.
Merger berarti tidak ada lagi perang terbuka.
Tidak ada lagi permainan bayangan.
Tapi juga tidak ada lagi jarak aman.
“Apa yang kau inginkan sebenarnya?” tanya Arsen lembut.
Alina menatapnya.
“Aku ingin stabilitas. Aku ingin tidak lagi hidup dalam kewaspadaan.”
“Dan merger bisa memberimu itu.”
“Ya. Tapi dengan harga.”
Arsen duduk di sampingnya.
“Kita akan memimpin bersama.”
Ia tersenyum samar.
“Kau terlalu yakin.”
“Aku tidak yakin,” jawab Arsen jujur. “Tapi aku tahu satu hal—kau tidak pernah lari dari tanggung jawab.”
Alina menarik napas panjang.
Jika ia menerima merger, ia tidak hanya menang.
Ia akan membentuk ulang industri.
Namun apakah ia siap membawa beban dua perusahaan raksasa?
Ponselnya kembali bergetar.
Pesan berita masuk lebih cepat dari yang diperkirakan.
Breaking News: Aurora Holdings Akan Mengumumkan Restrukturisasi Besar Pagi Ini.
Waktu hampir habis.
Alina berdiri, berjalan kembali ke balkon.
Angin malam terasa lebih dingin.
“Aku tidak ingin mengulang kesalahan generasi sebelumnya,” katanya pelan.
Arsen berdiri di belakangnya.
“Kau tidak akan.”
“Bagaimana kau bisa begitu yakin?”
“Karena kau tidak bergerak dari ketakutan. Kau bergerak dari pilihan.”
Alina terdiam.
Pilihan.
Bukan paksaan.
Bukan balas dendam.
Pilihan.
Ia berbalik menghadap Arsen.
“Jika kita melakukan ini, kita melakukannya dengan syarat kita.”
Arsen tersenyum tipis. “Tentu saja.”
Alina mengambil ponselnya.
Mengetik pesan singkat kepada pria dari dewan tadi.
Kami bersedia membuka negosiasi. Tapi struktur kepemimpinan akan ditentukan oleh kami.
Beberapa detik kemudian, balasan masuk.
Dipahami.
Alina menatap layar itu lama.
Ini bukan akhir perang.
Tapi ini mungkin akhir dari cara lama bertarung.
Ia menatap Arsen.
“Kita tidak hanya akan menang.”
Arsen mengangkat alis.
“Kita akan mengubah aturannya.”
Lampu kota di kejauhan masih berkilauan.
Dan di tengah malam yang penuh keputusan itu, Alina sadar—
Langkah terakhir bukan tentang menjatuhkan lawan.
Melainkan tentang memastikan ia tidak lagi harus bertarung sendirian.
(BERSAMBUNG)