NovelToon NovelToon
Friendzone With Idol

Friendzone With Idol

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Cinta Murni / Kekasih misterius
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Daftar Blokir Keramat

Malam itu juga, sekembalinya dari acara agensi dengan hati yang hancur, Takara menghubungi atasannya di kantor pusat Brisbane. Ia meminta mutasi mendadak dengan alasan kesehatan keluarga, memohon agar staf senior lain dikirim ke Seoul untuk melakukan tahap finishing dan peresmian jembatan.

Di apartemen Takara yang mulai sunyi karena beberapa barang sudah dikemas ke dalam koper, Arlo berdiri di ambang pintu kamar dengan wajah yang masih menyisakan lebam kebiruan.

"Kamu bener-bener mau pergi secepat ini?" tanya Arlo, suaranya terdengar berat.

"Proyeknya tinggal menghitung hari, Ra. Kenapa nggak nunggu sampai peresmian?"

Takara berhenti melipat bajunya. Ia menatap Arlo dengan tatapan memohon. "Kalau aku nunggu sampai peresmian, aku nggak yakin bisa pergi, Arlo. Jake nggak akan lepasin aku, dan aku... aku nggak mau kamu kena pukul lagi cuma karena jagain aku."

Arlo mengepalkan tangan, ingin sekali melarang, namun ia tahu Takara benar. Berada di sini hanya akan membuat luka mereka bertiga semakin menganga.

"Aku harus stand by di sini sampai serah terima kunci selesai," ucap Arlo pelan. "Tapi setelah itu, aku bakal langsung ke Brisbane. Aku nggak akan biarin kamu sendirian di sana."

Takara mendekat, memeluk Arlo erat. "Makasih, Arlo. Maafin aku karena selalu bikin kamu di posisi sulit."

Pukul empat pagi, saat Seoul masih terlelap dalam dinginnya subuh, Takara melangkah keluar dari apartemennya. Ia tidak membawa banyak barang, hanya satu koper besar dan kenangan yang ingin ia tinggalkan.

Ia tidak mengirim pesan pada Jake. Ia tidak menelepon Leah atau Tante Dami. Baginya, pamit hanya akan membuka ruang untuk negosiasi yang tidak akan pernah ia menangkan.

Di dalam taksi menuju Incheon, Takara menatap gedung agensi yang menjulang tinggi dari kejauhan. Di sana, di salah satu lantai, mungkin Jake sedang beristirahat setelah latihan atau mungkin sedang menatap langit malam yang sama.

"Selamat tinggal, Jake. Jadilah bintang yang paling terang, tapi tolong, jangan cari gue lagi," bisik Takara dalam hati sebelum taksi itu melaju menjauh.

Dua hari kemudian, Jake yang baru saja menyelesaikan jadwal pemotretan pagi, berlari menuju area proyek. Ia membawa sebuah surat permintaan maaf yang sudah ia tulis semalaman. Ia ingin memperbaiki semuanya, ia ingin meminta maaf pada Arlo dan Takara secara jantan.

Namun, yang ia temukan di lokasi bukan Takara, melainkan seorang pria paruh baya berkebangsaan Australia yang sedang memeriksa sketsa jembatan.

"Di mana Takara?" tanya Jake dengan napas terengah-engah pada salah satu staf.

"Takara sudah kembali ke Australia kemarin pagi, Jake. Posisinya digantikan oleh Mr. Henderson," jawab staf itu dengan bingung.

Dunia Jake seolah runtuh seketika. Ia mencoba menghubungi nomor Takara, namun yang terdengar hanyalah suara operator: Nomor yang Anda tuju tidak aktif.

Jake beralih menatap Arlo yang sedang mengawasi pekerja di ujung jembatan. Dengan langkah penuh amarah dan keputusasaan, ia menghampiri Arlo.

"DI MANA DIA?!" bentak Jake, menarik kerah baju Arlo.

"Gue harus susulin," gumam Jake, matanya bergetar hebat. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: membawa Takara kembali. Ia tidak bisa membayangkan hidup di Seoul tanpa bayangan Takara yang mengawasinya dari kejauhan.

"Jangan. Biarin dia sendiri dulu," ujar Arlo lirih, namun penuh penekanan. Arlo menatap Jake dengan tatapan kasihan, bukan karena Jake seorang idola, tapi karena Jake adalah pria yang tidak sadar betapa egoisnya dia selama ini.

Arlo maju satu langkah, menatap tepat ke manik mata Jake yang mulai berkaca-kaca.

"Lo tahu seberapa besar dia cinta sama lo?" tanya Arlo dengan nada sarkas yang tajam.

"Selama ini lo bebas berekspresi, lo bebas mau lakuin apa pun, lo bebas pergi ke mana pun tanpa pernah mempertimbangkan perasaan Takara dalam setiap keputusan besar lo. Lo pikir karier lo itu cuma perjuangan lo sendiri? Enggak, Jake. Itu juga pengorbanan Takara yang milih buat jadi 'bayangan' biar lo tetap bersinar."

Jake terdiam, lidahnya mendadak kelu.

"Dan lo?" lanjut Arlo, suaranya semakin rendah namun menusuk. "Lo selalu marah kalau dia punya teman baru. Lo posesif kalau dia nggak bisa keluar main sama lo. Lo mau dia selalu ada pas lo butuh, tapi lo nggak pernah benar-benar ada pas dia butuh pelukan yang nggak perlu disembunyiin. Menurut lo, dia harus hidup dalam ruang tunggu selamanya? Nunggu sampai kontrak lo selesai? Nunggu sampai lo punya waktu luang?"

Setiap kalimat Arlo seperti pisau yang menguliti ego Jake. Jake teringat bagaimana ia sering merajuk jika Takara sibuk dengan tugas kuliahnya dulu, atau bagaimana ia merasa dikhianati saat melihat Takara tertawa dengan pria lain, padahal ia sendiri sering dikelilingi oleh ribuan wanita yang memujanya.

"Dia punya hidup, Jake. Dia punya mimpi buat jadi arsitek hebat, bukan cuma jadi 'sahabat pendiam' seorang bintang K-pop," pungkas Arlo. Ia memperbaiki kerah kemejanya yang berantakan, lalu berbalik meninggalkan Jake yang berdiri mematung di tengah area proyek yang berisik.

Jake jatuh terduduk di atas tumpukan kayu material. Hatinya hancur. Ia baru menyadari bahwa selama belasan tahun ini, ia bukan hanya mencintai Takara, tapi ia telah memenjarakan gadis itu dalam sebuah harapan semu yang ia beri nama "persahabatan".

Sementara itu, di Brisbane, Takara baru saja mendarat. Udara Australia yang hangat menyambutnya, sangat berbeda dengan musim dingin Seoul yang membekukan. Ia menghirup napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa sesak di dadanya.

Ia menghidupkan ponselnya yang sempat mati selama belasan jam penerbangan. Ratusan notifikasi masuk, mayoritas dari Jake.

📲 Jake: Ra, lo di mana?

📲 Jake: Tolong jangan pergi kayak gini.

📲 Jake: Gue minta maaf. Gue bakal lakuin apa aja.

Takara menatap pesan-pesan itu dengan mata sembab. Tangannya gemetar saat ia memilih opsi "Hapus Semua" dan kemudian melakukan hal yang paling sulit dalam hidupnya: Memblokir nomor Jake.

"Cukup, Jake. Gue nggak mau nunggu lagi," bisiknya pada angin bandara.

Air mata Takara jatuh membasahi layar ponselnya, menciptakan distorsi pada nama "Jake" yang kini terkunci dalam daftar blokir. Menekan tombol itu rasanya seperti mencabut separuh nyawanya sendiri.

Bagi Takara, Jake bukan sekadar sahabat atau idola global yang dipuja jutaan orang. Jake adalah memori tentang rumah. Saat Takara pertama kali menginjakkan kaki di Brisbane dengan rasa asing dan ketakutan, Jake-lah yang mengulurkan tangan. Jake adalah orang yang berdiri paling depan saat Takara diganggu di sekolah, orang yang menggantikan sosok ayah yang telah lama tiada untuk melindunginya dari kerasnya dunia.

Dahulu, setiap kali Takara merasa hancur, ia hanya perlu menoleh ke samping, dan Jake ada di sana. Namun sekarang, Jake adalah sumber kehancurannya.

Takara melangkah keluar dari bandara, menghirup aroma eucalyptus yang khas. Setiap sudut kota ini bicara tentang Jake. Taman tempat mereka belajar naik sepeda, kedai kopi tempat mereka merayakan kelulusan, hingga dermaga tempat Jake pertama kali pamit untuk mengejar mimpinya ke Korea.

"Gue harus kuat," bisik Takara, menyeka pipinya yang basah. "Gue nggak bisa hidup dalam bayang-bayang perlindungan lo selamanya, Jake."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!