NovelToon NovelToon
Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / CEO / Penyesalan Suami / Romantis / Romansa / Cintapertama
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Itz_zara

Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.

Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.

Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.

“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”

Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Jalan-Jalan Sama Oma

Hari ini memang jadwal Binar berangkat lebih awal dari biasanya, jadi mau tak mau Samira harus mengantarkannya lebih pagi.

Ia menuntun Binar masuk ke dalam mobil, membantu memasangkan sabuk pengaman dengan teliti, memastikan kaitannya terkunci dengan baik. Setelah itu barulah ia berputar ke sisi pengemudi dan duduk di belakang setir.

Mesin mobil dinyalakan.

Pelan-pelan kendaraan itu meninggalkan halaman rumah.

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil dipenuhi suara nyanyian kecil Binar. Anak itu bernyanyi riang lagu yang ia pelajari di sekolah, suaranya belum sepenuhnya tepat nada, tapi terdengar tulus dan cerah. Sesekali ia menggoyangkan bahunya mengikuti irama yang hanya ia dengar di kepalanya.

Samira melirik dari sudut mata.

Senyum tipis terbit di bibirnya.

“Bibi,” panggilnya lembut.

“Iya, Ma?” sahut Binar tanpa berhenti bernyanyi.

“Nanti Papa nggak bisa jemput sayang. Tapi Bibi tenang aja, nanti Oma yang jemput Bibi sama Mama. Habis itu kita ke mall, main, ya. Oke?”

Binar langsung berhenti bernyanyi.

Matanya membulat penuh antusias.

“Oma jemput? Beneran?”

Samira mengangguk kecil. “Iya, beneran. Tadi Oma sudah bilang sama Mama.”

Wajah Binar langsung bersinar seperti lampu kecil yang dinyalakan.

“Horeee!”

Ia menepuk-nepuk pahanya sendiri kegirangan, lalu kembali bernyanyi kali ini lebih keras dan lebih semangat.

Samira terkekeh pelan.

Ia memang sudah menduga reaksi itu.

Kalau sudah mendengar kata Oma dan Opah, dunia Binar langsung berubah jadi taman bermain. Orang tua Samudra memang selalu punya tempat khusus di hati cucu satu-satunya itu. Mereka tidak pernah pelit waktu, tidak pernah pelit perhatian. Berbeda dengan...

Samira menghentikan pikirannya sendiri.

Tangannya sedikit mengerat di setir.

Tadi pagi, sebelum berangkat, ia sempat membuka ponselnya. Ada pesan dari Sinta ibu mertuanya. Isinya singkat, tapi hangat:

"Nanti Mama jemput Binar, ya. Kita ajak jalan-jalan. Kamu ikut juga."

Tanpa berpikir panjang, Samira langsung membalas setuju.

Entah kenapa, setiap bersama mertuanya, ia selalu merasa… sedikit lebih ringan. Tidak perlu terlalu menjaga ekspresi. Tidak perlu takut salah bicara. Perempuan itu memperlakukannya seperti anak sendiri, bukan sekadar menantu.

Mobil berhenti di lampu merah.

Samira melirik kaca spion.

Binar sedang bersandar santai di kursinya, masih bersenandung kecil sambil memainkan ujung pita rambutnya.

“Nggak sabar ke mall ya?” tanya Samira.

“Iyaaa!” jawab Binar cepat. “Bibi mau main perosotan, mau es krim, mau balon juga!”

Samira tersenyum. “Banyak banget maunya.”

“Hehe.”

Lampu berubah hijau.

Mobil kembali melaju.

Tak lama kemudian, gedung sekolah Binar sudah terlihat di depan. Beberapa orang tua tampak menurunkan anak-anak mereka. Suasana pagi itu ramai tapi hangat suara tawa anak-anak, guru yang menyambut di gerbang, dan tas-tas kecil berwarna-warni berayun di punggung mungil.

Samira memarkir mobil di tepi.

Ia turun lebih dulu, lalu membuka pintu belakang untuk Binar.

“Ayo, sayang.”

Binar turun dengan semangat, langsung menggandeng tangan ibunya.

Sebelum masuk gerbang, ia tiba-tiba berhenti.

Samira menunduk. “Kenapa?”

Binar memeluknya.

Tiba-tiba saja.

Pelukan kecil itu datang tanpa aba-aba.

“Mama nanti jangan lupa ikut sama Oma ya,” bisiknya.

Samira terdiam sepersekian detik.

Hatinya menghangat.

“Iya,” jawabnya pelan sambil mengusap punggung anak itu. “Mama ikut.”

Binar melepas pelukan, lalu melambaikan tangan sebelum berlari kecil masuk ke halaman sekolah.

Samira tetap berdiri di sana.

Memperhatikan.

Sampai sosok kecil itu benar-benar hilang di balik pintu kelas.

Barulah ia berbalik menuju mobil.

•••••

“Omaaa!” teriak Binar begitu melihat Sinta berdiri di dekat gerbang sekolah dengan Samira.

Wajah kecil itu langsung berseri. Ia berlari kecil menghampiri, tasnya bergoyang di punggung.

Sinta tertawa hangat, lalu merentangkan tangan. “Hai sayangnya Oma. Hari ini siap kita bermain?”

“Siap, Oma!” jawab Binar dengan semangat, matanya berbinar-binar.

Samira yang berjalan di belakang hanya bisa tersenyum melihat pemandangan itu. Hatinya selalu terasa hangat setiap kali melihat betapa tulusnya kasih sayang ibu mertuanya kepada Binar.

“Mama lagi nggak sibuk ya sampai ngajakin aku sama Binar jalan-jalan?” tanya Samira pelan, setengah bercanda.

Pertanyaan itu justru membuat Sinta menoleh cepat, alisnya sedikit terangkat.

“Memang kenapa kalau Mama yang ajak kamu jalan-jalan?” balasnya. “Mama kan nggak pernah sibuk. Di rumah terus. Jadi kalau Mama mau ajak menantu sama cucu Mama jalan-jalan… kamu nggak suka ya?”

Samira langsung menggeleng cepat, menahan tawa. Ia tahu nada itu bukan marah sungguhan lebih seperti protes manja khas seorang ibu yang ingin diperhatikan.

“Bukan gitu, Mah,” katanya lembut. “Maksudnya Samira takut Mama capek.”

Sinta mendengus kecil, tapi sudut bibirnya melengkung. “Mama nggak capek kalau buat menantu sama cucu Mama.”

“Ih, Mama bisa aja deh…” Samira tertawa kecil.

Hubungan mereka memang seperti ini hangat, santai, nyaris tanpa jarak. Bahkan kadang terasa lebih dekat dibanding hubungannya sendiri dengan Samudra. Dan fakta itu… entah kenapa selalu membuat hati Samira terasa sedikit perih sekaligus bersyukur di waktu yang sama.

“Ya sudah,” ujar Sinta sambil meraih tangan Binar. “Sekarang kita berangkat. Putri kecil Oma mau main apa di mall nanti?”

Binar langsung melonjak kecil kegirangan.

“Mauu…” ia berpikir keras, keningnya berkerut lucu. “Mau main perosotan! Terus mau naik kereta! Terus mau es krim! Terus mau balon! Terus mau—”

“Oalah, banyak amat,” sela Sinta sambil tertawa. “Nanti mallnya capek lho kalau Binar main semuanya.”

Binar ikut tertawa, lalu memeluk lengan neneknya.

“Yang penting sama Oma sama Mama,” katanya polos.

Kalimat sederhana itu membuat langkah Samira terhenti sepersekian detik.

Dadanya menghangat.

Sinta menoleh ke Samira, matanya melembut. Tanpa berkata apa-apa, ia meraih tangan menantunya itu juga, menggenggamnya ringan.

“Ayo,” katanya pelan. “Hari ini kita senang-senang.”

Samira mengangguk.

Samira benar-benar merasa ingin tersenyum tanpa beban.

•••••

Di dalam mobil, Binar duduk di tengah kursi belakang, diapit oleh Sinta dan tas kecilnya. Ia terus bercerita tanpa henti tentang sekolah, teman-temannya, juga lagu baru yang ia hafal. Sinta mendengarkan dengan sabar, sesekali menimpali dengan pertanyaan yang membuat Binar semakin semangat.

Sementara itu, Samira menyetir dengan tenang, sesekali melirik ke kaca spion.

Pemandangan di belakangnya membuat sudut bibirnya naik pelan.

“Mama,” panggil Sinta tiba-tiba.

“Iya, Mah?”

"Kamu juga nanti ikut main ya. Jangan cuma nemenin terus duduk. Hari ini kita happy-happy."

Samira tersenyum tipis. “Iya, Mah."

“Janji?”

“Iya, janji.”

Sinta mengangguk puas.

Beberapa menit kemudian, mobil memasuki area parkir mall. Begitu mesin dimatikan, Binar langsung berseru, “Sampaiiii!”

Ia hampir membuka pintu sendiri kalau saja Sinta tidak menahannya.

“Pelan-pelan, Nona kecil,” ujar Sinta. “Kita turun bareng.”

Mereka turun bersama.

Begitu pintu mall terbuka dan hawa dingin AC menyambut, mata Binar langsung berbinar seperti menemukan dunia baru.

“Omaaa,” bisiknya penuh takjub, “kita main sekarang?”

Sinta menunduk sedikit, tersenyum penuh kasih. “Iya. Tapi Oma mau tanya dulu.”

“Apa?”

“Cucu Oma mau main yang mana dulu?”

Binar menatap sekeliling, matanya bergerak cepat dari satu wahana ke wahana lain. Ada arena permainan warna-warni di sudut, ada kereta mini melintas, ada mesin capit boneka berkilau.

Ia menunjuk jauh ke depan dengan penuh keyakinan.

“Mau itu!”

Samira dan Sinta mengikuti arah jarinya.

Dan mereka langsung tahu hari itu tidak akan pulang cepat.

Karena petualangan kecil Binar… baru saja dimulai.

•••••

“Eh, ya ampun…”

“Kenapa, Nak?” tanya Sinta khawatir.

Samira menepuk dahinya pelan. “Aku lupa ngabarin Mas Samudra kalau aku mau jalan sama Mama.”

Kebiasaan itu membuat Sinta tersenyum tipis. Ia sudah hafal betul.ke mana pun Samira pergi, perempuan itu selalu memberi kabar pada suaminya. Bukan karena diminta. Bukan juga karena diwajibkan. Tapi karena Samira memang seperti itu: menjaga, menghormati, dan memastikan tak ada yang merasa diabaikan.

“Ya sudah, sekarang kamu izin aja. Telepon,” ujar Sinta santai. “Biar cepat dijawab.”

Samira ragu sejenak. “Mending kirim pesan aja deh, Mah.”

“Kenapa pesan?” Sinta mengerutkan kening. “Nanti malah nggak tahu. Kalau HP-nya di-silent gimana? Telepon aja.”

Samira terdiam.

Bukan karena tidak tahu harus bagaimana.

Melainkan karena ia tahu… jawabannya.

Ia tidak ingin menjelaskan pada Sinta bahwa hubungan mereka sebenarnya tidak sedekat itu. Bahwa telepon tiba-tiba justru terasa seperti mengganggu. Bahwa ada jarak tak kasat mata yang selalu ia jaga dengan hati-hati.

“Pesan aja deh, Mah,” katanya akhirnya lembut. “Takut ganggu Mas Samudra lagi kerja. Siapa tahu lagi ada klien.”

Sinta menghela napas kecil, lalu mengangguk. “Ya sudah deh terserah kamu. Yang penting kamu kabarin dulu. Nanti kalau ada apa-apa sama kamu, dia malah nyalahin Mama,” ujarnya setengah bercanda.

Samira tersenyum kecil, lalu membuka ponselnya.

Jarinya mengetik cepat:

"Mas, aku izin pergi sama Mama ke mall sama Binar ya."

Ia menatap layar beberapa detik sebelum menekan kirim.

Centang satu.

Lalu centang dua.

Ia mengembuskan napas pelan dan hendak memasukkan ponselnya ke dalam tas.. ting!

Notifikasi masuk.

Samira berhenti. Matanya turun lagi ke layar.

Pesan balasan dari Samudra.

Hanya satu kata.

"Boleh."

Samira menatap kata itu lebih lama dari seharusnya.

Boleh.

Bukan iya hati-hati.

Bukan jangan capek.

Bukan jaga Binar ya.

Hanya… boleh.

Namun anehnya... dada Samira tetap terasa hangat.

Ia mengunci layar, lalu memasukkan ponselnya ke tas dengan gerakan tenang.

“Udah?” tanya Sinta.

Samira mengangguk. “Udah, Mah.”

“Dia bilang apa?”

Samira tersenyum kecil. “Boleh.”

Sinta ikut tersenyum puas. “Nah gitu dong. Suami harus tahu istrinya pergi ke mana.”

Samira hanya mengangguk pelan.

Padahal dalam hati, ia tahu... bagi Samudra, mungkin itu bukan soal izin.

Mungkin itu hanya… formalitas.

•••••

“Masukkk!” seru Binar tiba-tiba sambil meloncat kecil.

Kedua wanita itu tertawa bersamaan.

Sinta menggandeng tangan cucunya. “Ayo, Putri Oma. Tadi katanya mau main apa dulu?”

Binar langsung menunjuk ke arah arena permainan anak yang penuh warna.

“Ituuuu!”

“Oh, playground,” ujar Sinta. “Baiklah. Kita ke sana dulu.”

Samira berjalan di sisi mereka, memperhatikan langkah kecil Binar yang penuh semangat. Hatinya terasa ringan setidaknya untuk hari ini, ia bisa melupakan sejenak semua rasa lelah yang biasanya diam-diam ia pendam.

Saat mereka sampai di depan arena bermain, Binar langsung berbalik.

“Mama, boleh main lama?” tanyanya penuh harap.

Samira berjongkok agar sejajar dengan tinggi anaknya. Ia merapikan poni kecil di dahi Binar.

“Boleh. Tapi nanti kalau capek bilang ya.”

“Oke!”

Binar langsung berlari masuk begitu penjaga membuka pintu pagar kecil.

Sinta dan Samira berdiri di luar pagar, memperhatikan.

Beberapa detik mereka sama-sama diam.

Lalu Sinta berkata pelan, tanpa mengalihkan pandangan dari cucunya...

“Kamu capek nggak, Nak?”

Samira sedikit terkejut. “Hah?”

“Capek jadi kuat terus.”

Kalimat itu begitu pelan… tapi tepat.

Samira tidak langsung menjawab.

Ia menatap Binar yang sedang tertawa di dalam arena bola warna-warni.

Lalu ia tersenyum.

“Enggak kok, Mah.”

Sinta menoleh.

Ia tahu jawaban itu tidak sepenuhnya jujur.

Tapi ia juga tahu—

Samira bukan tipe orang yang akan mengaku lelah.

Jadi Sinta hanya menggenggam tangan menantunya pelan.

“Kalau capek,” katanya lembut, “istirahat di Mama ya.”

Dan entah kenapa… mata Samira langsung terasa hangat.

•••••

Hai Semuanya!

Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!

Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.

Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!

Terima Kasih!

1
Favmatcha_girl
Huhuhu🥺 kasihan nya
Favmatcha_girl
Lagi bahagia sayang🥺
Favmatcha_girl
Lagi kasmaran mungkin😅
Favmatcha_girl
Masakin batu dan kayu aja🤭
Favmatcha_girl
Baik dong kan ajaran ibu yang baik😍
Favmatcha_girl
Anak lagi masa pertumbuhan🥺
Itz_zara: Iya nih makannya makan banyak
total 1 replies
Favmatcha_girl
Tumben ngomong maaf🤭
Itz_zara: Jarang ya😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gengsi aja digedhein😑
Itz_zara: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Emang cantik, baru tau ya, lo🤭
Itz_zara: Selama ini dia tutup mata🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gas lah ma jodohin aja Samira sama duda kaya raya🤭
Itz_zara: Hahaha Duren kan ya🤭
total 1 replies
Favmatcha_girl
Rasain deh🤭 gak diinget anak
Itz_zara: Rasakan😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Gemes banget si kamu😍
Itz_zara: Maacih🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Santai Pak jawabnya 😡
Itz_zara: Gak bisa😆
total 1 replies
Favmatcha_girl
Kasihan pasti dah anggap mantu kaya anak sendiri 🥺
Itz_zara: Udah sayang level tinggi kak🥰
total 1 replies
Favmatcha_girl
Kaku bener kek kanebo kering😑
Itz_zara: Hahahha biasalah😆
total 1 replies
Sutri Ana
hhmmm manis bangeeet samudra, seneng deh 🥰🥰🥰
Sutri Ana
pokoknya ceritanya seruuu 🥰🥰🥰
Sutri Ana
🥰🥰🥰
Itz_zara: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Sutri Ana
samudera belum menyadari cintanya utk Samira 😇😇
Itz_zara: Masih ketutup gengsi dan ketidakpekaan🙏
total 1 replies
Sutri Ana
samudra mmg egonya segede gunung Semeru 😇😄😄
Itz_zara: Kalo Samira sabarnya seluas samudra🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!