Karya terbaru Gurania Zee yang menceritakan tentang gadis tidak peka dan cinta segitiga antara Aluna, Arsen dan Prasha Arzelio.
memiliki kisah yang sedikit rumit perihal rahasia misteri kematian ayahnya dan adanya permainan bisnis yang menjadikannya sebuah kunci utama dari misteri tersebut. dan Cinta yang mulai tumbuh perlahan. Aluna seorang gadis yang polos tanpa sadar menjadi pusat permainan dalam dunia bisnis mendiang ayahnya. yang jauh lebih besar dari semua intriks itu bahkan paling tidak menyadari akan hal yang paling sederhana yaitu, perasaannya sendiri. karena terkadang misteri dalam hidup, bukanlah rahasia dari kisah masa lalu melainkan hati yang terlambat menyadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 ADPH
Brugh
Akak!
Arden Maharana terjatuh dilantai luar rumah sakit, belum juga masuk ruangan rawatnya, dirinya sudah tergeletak tak berdaya.
Aluna langsung panik, melihat kakak satu satunya begitu rapuh. Ia langsung bergerak cepat meminta pertolongan. Dengan sigap para petugas medis langsung berlari membawa brankar dan memindahkannya seraya menggotong tubuh Arden untuk dibawa keruang gawat darurat.
Dengan wajah cemas, menunggu hasil pemeriksaan dari dokter yang menanganinya. Sudah lama Arden menderita penyakit langka. Sementara kehidupannya sudah tidak lagi seperti saat mendiang ayahnya masih jaya.
Semenjak Arif Maharana meninggal dunia, kehidupan keluarga Aluna berubah seratus delapan puluh derajat. Perusahaan yang telah lama dibangun sudah tidak bisa lagi terkendali.
Aluna kelas tiga SMA, baru saja menginjak 17 tahun satu minggu lalu, sementara Arden sudah tak sanggup lagi mengurus perusahaan semenjak tubuhnya terus digerogoti oleh penyakit yang menyiksanya.
Dokter keluar lebih dulu dan membuka pintu ruangan IGD tersebut, "Nona, pasien sudah sadar."
kalimat itu membuat lega Aluna saat itu. Akan tetapi dokter melanjutkan lagi dengan suara pelan dan hati hati. "ada apa dokter, bagaimana kondisi kakak saya?" "dokter menjawab dengan berat hati "ada kemungkinan kakak nona terkena gangguan memori, dan penyakit langka yang pasien alami harus segera cepat ditangani"
Aluna berkali kali menelan ludahnya dengan susah payah. Langkahnya begitu berat ketika hendak memasuki ruang rawat sang kakak.
Disaat Aluna masuk, Arden sedang duduk bersandar, terlihat nampak pucat dan tatapannya kosong, seolah sedang menerawang menelaah setiap sudut ruangan yang tidak ia kenali. Tatapan keduanya pun bertemu.
Terasa datar, tidak hangat seperti dulu. tidak juga mengenali sosok Aluna. "Siapa kamu? Tanya Arden.
Seakan dihantam oleh kenyataan yang begitu pahit, seperti terhantam palu. Tak kuasa menahan airmatanya. Dengan suara bergetar ia berkata "Aku Aluna kak"
"Aluna?,"..
"Maaf,..aku tidak ingat"
"Kak,..aku Luna adiknya akak, Luna Maharana Putria, adikmu kak." ucap Aluna sambil berjalan mendekat ke arah sang kakak.
Arden hanya memandangnya tak lebih dari sekedar orang asing, yang mencoba mengarang kisah ataupun cerita. Bukan dari kehilangan melainkan dari sebuah penolakan yang akhirnya kisah mereka dimulai penuh perjuangan dan airmata.
Ruangan biru langit rumah sakit, dengan ciri khas bau anti septik yang begitu menyeruak. Entah kenapa kepalanya terasa berat, acapkali menghirup aroma itu. Ada sesuatu yang tak bisa Arden raih, baik itu suara, bayangan atau mungkin wajah.
Berusaha keras untuk mengingat dan mencerna setiap kali Aluna berbicara, namun yang muncul hanyalah kosong.
"Tadi kamu bilang kamu adikku, tapi kenapa aku tidak mengenalimu sama sekali, ingat pun tidak?"
sambil menatap lembut pada gadis berambut panjang tersebut.
"Aku juga enggak tau kak"
"Ayah?, dimana ayah Luna?"
"Ayah sudah enggak ada kak, sudah lama tiada"
Hening
Alat monitor dengan ritme yang stabil dan berbunyi pelan seirama. "Sekarang hanya kita berdua saja kak, aku tidak punya siapa siapa lagi, selain kakak, kalau kakak tidak ingat sama Luna, Luna sedih kak"
Arden hanya bisa memejamkan mata, dan menghembuskan nafasnya pelan. "Kak, saat ayah tiada aku menemukan ini diatasnya ayah, ada surat untuk kakak."
"Suratnya belum luna baca, karena Luna ingin kakak saja yang membacanya, karena surat itukan ditujukannya untuk kakak, bukan untuk luna."
Dengan tatapan kosong, Arden pada akhirnya meraih kertas itu, masih tersimpan rapi didalam amplop. kemudian Arden membukanya perlahan.
"Untuk anakku Arden & Aluna tersayang anak ayah.
Arden, ayah tau kamu begitu lelah, Maafkan ayah nak, kamu tidak perlu pura pura kuat untuk membuat ayah tenang, Nak, jika kamu sudah membaca surat ini tandanya ayah sudah tidak ada disisi kalian, satu pesan ayah temuilah anak teman ayah dia bernama Prasha Arzelio, dengan kamu bertemu anak sahabat ayah itu insya Allah sakitmu akan terobati dan kelak Aluna dewasa nikahkanlah dia dengannya"
"Ayah tau ini tidak mudah untuk kalian, tapi cobalah pikirkan kesehatanmu dan masa depan adikmu, ini bukan soal perjodohan karena bisnis melainkan ayah ingin kalian ada yang melindungi terutama adikmu Aluna*
Hening
Arden terus mengulang nama yang tercantum pada kertas tersebut, Aluna ikut membacanya tadi, dia berulang kali menelan ludah, antara mengerti dan bingung.
Aluna yang tidak peka seringkali membuat siapapun tepok jidat, dan Arden baru menyadari akan hal itu. Setelah tinggal lagi bersama Aluna semenjak keluar dari rumah sakit.
"Keluarga Raharjo Subroto itu pengusaha batu bara terbesar dikalimantan, seingat Luna ayah bersahabat dengan mereka dan mereka punya perjanjian gitu kak, tapi Luna tidak tau perjanjian apa" jujur Luna.
Arden tidak bisa tidur dengan tenang, pikirannya masih terbawa pada secarik kertas yang telah dibacanya, nama Prasha terus terngiang dipikiran Arden.
Dan Arden merasa heran mengapa ayahnya sampai membalas tentang perlindungan, ada apa sebenarnya yang terjadi, mengapa mereka tidak bisa hidup bebas seperti orang orang pada umumnya?
Hari itu Arden sudah keluar dari rumah sakit, setelah satu minggu dirawat, bersyukur ada ayah angkatnya yang bantu membiayai rumah sakit, Aluna tidak sampai bersusah payah lagi.
Melihat foto-foto yang terpajang di area kamarnya, Arden langsung menitikkan air matanya, dalam benaknya mengapa ia lupa pada adiknya, apa benar Aluna adik kandungnya, mengapa ia tidak ingat sama sekali. Ia merutuki dirinya sendiri, seakan merasa bersalah karena tidak mengenal Aluna, yang tersisa hanyalah rasa tertekan maupun rasa ingin tau.
Keluar dari rumah sakit, karena merasa tidak nyaman dengan segala bau khas yang begitu menyeruak, dan karena rasa penasarannya. Tiga hari kemudian, Arden mengajak Aluna untuk mencari alamat tempat tinggal Prasha Arzelio
Dan satu satunya petunjuk adalah alamat yang tertulis disurat tersebut, di kota xx. Rumahnya yang begitu besar dan gerbang yang tinggi menjulang. Aluna ikut, tapi hatinya begitu ragu.
Mobil mereka berhenti didepan rumah berpagar hitam, berkali kali Aluna menelan ludah saking takjubnya dengan rumah tersebut.
"Seriusan ini kak, rumahnya gede banget" polos Aluna. Arden menekan bel, yang menempel tidak jauh dari area pojokan menempel di dinding dekat pagar.
Kemudian keluarlah pria berkumis tipis l, rambutnya cepak, berjalan sok gagah yang dipaksakan. Lagi lagi Luna menelan ludahnya. Arden berpikir itu Prasha tapi Luna tidak percaya akan hal itu.
Yang dia bayangkan seorang Prasha yang berwajah Oriental Korea. Tapi yang ia lihat malah tampang mas mas Jawa. Sudahlah disitu Aluna dibuat shok. Tapi mau bagaimana lagi mau kabur juga sepertinya sudah tidak bisa.
Dari pakaian sih rapi, berjas membuat Aluna dan Arden jadi berpikir ulang dan meyakini bahwa itu Prasha. Luna hanya mengerutkan kening.
Baik Luna dan Arden pada akhirnya hanya menelaah sambil berjalan berputar mengelilingi tubuh pria itu.
Bima yang diperintahkan untuk beracting sebagai Prasha malah menghancurkan segalanya.
Logat Jawa yang medhok tidak bisa membohongi semuanya. Bima yang berdiri kaku saat Arden dan Aluna menatapnya dengan detail membuat nyalinya untuk berbohong saat itu seketika ciyut.
Aluna mengedip, bertambahlah Bima kikuk, saya mencari pria bernama Prasha Arzelio, apakah mas ini orangnya? Tanya Arden.
Setelah lama memperhatikan bima yang tak lain adalah sopir pribadinya, yang berakting menjadi dirinya gagal total. Dengan langkah kaki tegas berwibawa ia menemui Aluna dan Arden, saat itu juga.
Aroma maskulinnya begitu menyeruak ke hidung Aluna, "beda ya kalo anak sultan mah lewat juga baunya bau mahal" batin Aluna.
"Ini loh mas mba, mas Prasha yang kalian cari" ucap bima. “Pantesan ga cocok."
Ia langsung senyum senyum sendiri. “Hehe… salah frekuensi katanya.” Dan sebelum siapa pun bisa mencegah, Bima berdiri di depan Arden dengan gaya dibuat-buat. “Saya Prasha Arzelio.” Arden menatapnya lama. Aluna memandangi tompelnya yang mencolok di pipi kiri.
Ada sesuatu yang terasa… tidak pas. Arden membuka surat dan menatap lagi nama itu. “Prasha Arzelio,” ucapnya pelan. “Betul!” kata Bima mantap.
Detik itu juga. Prasha asli berdiri di belakangnya, menatap adegan itu dengan ekspresi tidak percaya.
Aluna mendekat satu langkah. “Kalau kamu Prasha… kenapa kamu punya logat Jawa kental sementara profil perusahaan bilang kamu lulusan luar negeri?”
Bima membeku. Arden menyipitkan mata. Sunyi satu detik. Dua detik. Tiga.
Lalu..
“Yah ketahuan deh hehehe."
"Ya.Tuhan sepertinya ini akan panjang." batin Prasha.
Drama absurd usai, Psasa asli mempersilahkan duduk di ruang tamu kediaman nya.
"Ayah kaian.dan ayah saya pernah membuat suatu kesepakatan lama akan tetapi tidak memaksa hari secepatnya juga."
"Apa itu? Tanya Aluna polos.
"Pernikahan kita."
"Hah!, bercanda kali ah."
Arden hanya diam dilanjut dengan Prasha berbicara lagi. Kita harus saling melindungi," ucap Prasha lagi.
"dengan cara itu kah?." tanya Aluna.
"ya."
Hening lagi.
Tapi ayah tidak pernah bilang apa apa."
"ya, ayahmu memang belum mengatakannya karena suatu hal saat itu, makanya beliau menulis surat untuk kakakmu kan."
Aluna tidak suka segala sesuatu tanpa persetujuannya lebih dulu. Tapi ia juga tidak ingin mengecewakan ayahnya.
"begini saja kalian tinggallah disini dulu untuk sementara waktu, aku juga tidak memaksa, lagi pula aku juga baru mengenal kalian.
"Aku tidak ingat apapun Prasha, maaf."
"Tidak apa aku mengerti, kamu terlihat sedang kurang sehat, aku sudah lama menunggu kalian jadi tenang saja, pengobatanmu akan berjalan lancar, sekarang kalian sudah menjadi tanggung jawab ku," jelas Prasha.
Kalau dipaksa tuh kayak kerbau dong mas."
Saat obrolan ringan berjalan, tak lama dada Arden merasa tidak baik baik saja, dan ia merasakan pusing yang teramat sangat saat itu. Prasha menyadari kondisinya sedang tidak baik baik saja pada calon kakak iparnya.
Dengan cepat ia langsung menyuruh bima memanggil dokter pribadinya.
Sunyi.
Arden kini berada di kamar tamu kediaman Prasha, ia hanya menatap kosong ruangan itu dan sekelilingnya.
Aluna tak bisa lagi menahan tangisnya, "kak, kakak lupa lagi sama aku?."
Arden hanya terdiam, ia hanya menatap kosong Aluna.
"Kak aku ini adikmu, sadarlah kak, Luna enggak punya siapa siapa lagi selain kakak."
Bersambung