Anggika Rosalia, gadis cantik berusia 27 tahun, baru kembali dari Jakarta dan harus menerima kenyataan dijodohkan dengan calon kepala desa. Luka hatinya belum sembuh setelah ditinggal menikah sang kekasih, ditambah gosip kejam yang melabelinya perawan tua. Demi kepentingan masing-masing, Rosalia akhirnya menikah kontrak dengan Mario Langit Pradana, pria tampan yang membutuhkan pasangan untuk maju sebagai lurah. Lalu, bagaimana kelanjutan rumah tangga mereka? Saksikan kisah selengkapnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alergi Seafood
“Terima kasih banyak, Dok,” ucap Anggika dengan napas lebih ringan.
Perawat membantu membersihkan sisa gel USG di perutnya menggunakan tisu hangat.
“Sudah ya, Mbak,” katanya lembut.
Anggika turun dari bed pemeriksaan lalu duduk kembali di samping Mario. Tangannya masih digenggam erat.
Dokter Mira kembali menatap rekam medis di meja.
“Karena siklus haidnya mulai membaik tapi masih relatif pendek dan belum sepenuhnya stabil, saya akan lanjutkan terapi untuk membantu menyeimbangkan hormon.”
Mario langsung fokus.
“Obatnya apa saja, Dok?”
“Saya resepkan pil hormonal kombinasi dosis rendah untuk membantu mengatur siklus haid dan menekan kadar androgen berlebih,” jelas dokter tenang.
“Selain itu vitamin D, karena pada pasien PCOS sering ditemukan kadar vitamin D rendah yang bisa memengaruhi metabolisme dan fungsi ovarium.”
Anggika mengangguk pelan.
“Saya juga tambahkan asam folat 400–800 mcg per hari,” lanjut Dokter Mira.
“Meskipun belum program hamil aktif, asam folat sebaiknya sudah dikonsumsi sebelum kehamilan untuk mencegah risiko gangguan perkembangan saraf janin.”
Mario terlihat berpikir.
“Dok, tadi sempat disebut soal resistensi insulin. Itu bagaimana?”
Dokter Mira tersenyum, lalu menambahkan,
“Betul. Pada banyak pasien PCOS ada kecenderungan resistensi insulin. Karena itu saya tambahkan metformin dosis rendah dulu.”
“Metformin? Bukannya itu obat diabetes, Dok?” tanya Mario sedikit ragu.
“Awalnya memang digunakan untuk diabetes tipe 2,” jawab dokter.
“Tapi pada PCOS, metformin membantu meningkatkan sensitivitas insulin, menurunkan kadar insulin berlebih, dan secara tidak langsung membantu menyeimbangkan hormon serta memperbaiki ovulasi.”
Mario mengangguk pelan.
“Berarti ini membantu peluang hamil juga ya, Dok?”
“Bisa membantu, terutama kalau memang ada resistensi insulin,” jelas dokter.
“Tapi tetap harus disertai pola makan seimbang, olahraga rutin minimal 30 menit sehari, tidur cukup, dan pengelolaan stres.”
Anggika bertanya hati-hati,
“Efek sampingnya bagaimana, Dok?”
“Metformin kadang menyebabkan mual ringan, perut tidak nyaman, atau diare di awal penggunaan,” jawab dokter jujur.
“Karena itu diminum setelah makan, dan kita mulai dari dosis kecil supaya tubuh beradaptasi.”
Mario menoleh pada Anggika.
“Berarti aman diminum sebelum menikah, Dok?”
“Aman,” tegas dokter.
“Yang penting diminum sesuai aturan dan jangan menghentikan sendiri tanpa konsultasi.”
Anggika kembali bertanya pelan,
“Kalau setelah menikah kami ingin langsung mencoba punya anak bagaimana, Dok?”
“Kita evaluasi tiga bulan ke depan,” jawab Dokter Mira.
“Kalau siklus sudah lebih stabil dan ada tanda ovulasi teratur, kalian bisa mencoba secara alami dulu. Kalau belum, nanti kita bisa bantu dengan induksi ovulasi.”
Mario tersenyum lega.
“Berarti harapan itu ada ya, Dok?”
Dokter Mira tersenyum hangat.
“Harapan selalu ada. PCOS bukan vonis mandul. Banyak pasien saya dengan kondisi serupa berhasil hamil dengan terapi dan disiplin gaya hidup.”
Anggika menarik napas panjang.
“Terima kasih, Dok. Saya jadi jauh lebih tenang.”
“Bagus. Calon pengantin tidak boleh stres berlebihan,” ujar dokter sambil tersenyum.
“Fokus dulu ke akadnya dua hari lagi.”
Mereka tertawa kecil.
“Silakan tebus obat di apotek bawah. Kontrol satu bulan lagi ya, supaya kita evaluasi respons terhadap metformin dan terapinya.”
“Iya, Dok. Terima kasih,” ucap Mario dan Anggika bersamaan sebelum keluar dari ruangan dengan hati yang jauh lebih lega.
Mereka menuju kasir untuk menyelesaikan administrasi, lalu mengambil obat di apotek rumah sakit. Setelah semuanya selesai, Mario menggenggam kantong obat itu dan mereka berjalan turun ke parkiran.
Begitu sampai di mobil, Mario membuka pintu untuk Anggika.
“Kamu mau makan siang apa?” tanya Mario sambil menyalakan mesin.
Anggika memasang sabuk pengaman lalu menoleh dengan mata berbinar.
“Aku pengen seafood. Udah lama banget nggak makan seafood.”
Mario mengangkat alis.
“Seafood? Tadi katanya lagi jaga pola makan.”
“Seafood kan protein,” Anggika membela diri cepat. “Selama nggak pakai saus aneh-aneh dan nggak digoreng tepung tebal, aman.”
Mario tersenyum miring.
“Wah, calon istriku sekarang makin disiplin ya.”
“Ih, jangan gitu. Sekali-sekali boleh dong. Aku kangen cumi bakar sama udang saus padang… tapi sausnya dipisah aja deh.”
“Siap, Nyonya Langit Pradana,” goda Mario.
“Yang penting jangan ngambek lagi cuma gara-gara aku salah pilih restoran.”
Anggika memutar bola mata.
“Aku tuh bukan ngambek, cuma sensitif.”
“Sensitif level dewa,” celetuk Mario cepat.
“Mas!” Anggika menepuk lengannya pelan.
Mario tertawa kecil.
“Yaudah, kita cari seafood yang bersih dan nggak terlalu berminyak. Kamu boleh makan, tapi porsinya tetap dijaga.”
“Kok kamu jadi cerewet banget?”
“Kan aku mau kamu sehat. Dokter tadi juga bilang jaga pola makan.”
Anggika terdiam sebentar lalu tersenyum lembut.
“Mas… makasih ya. Kamu serius banget soal aku.”
Mario menoleh sekilas sebelum kembali fokus ke jalan.
“Ya iyalah. Dua hari lagi kamu jadi istriku. Aku harus jagain kamu dari sekarang.”
Pipi Anggika memerah.
“Gombal.”
“Fakta,” jawab Mario santai.
Mobil pun melaju meninggalkan area rumah sakit, membawa mereka menuju restoran.
Di dalam mobil, Mario melirik ke arah Anggika yang tampak bersemangat.
“Nggak mungkin aku bilang kalau aku alergi seafood. Kasihan dia, kelihatan banget lagi pengen,” batin Mario sambil menghela napas pelan.
Anggika tersenyum lebar.
“Kamu kok diem aja sih? Nyariin restoran yang enak ya?”
“Iya, nyari yang paling bersih. Biar calon istriku puas,” jawab Mario santai, menyembunyikan kegelisahannya.
Tak lama, mereka sampai di restoran seafood terkenal di kota itu. Aroma bakaran ikan dan udang langsung menyambut.
Mereka duduk berhadapan. Pelayan datang membawa buku menu.
“Mau pesan apa, Sayang?” tanya Mario.
“Cumi bakar, udang saus padang tapi sausnya dipisah, sama kerang rebus. Kamu apa?”
Mario menelan ludah.
“Sama aja deh. Biar adil.”
Anggika tersenyum puas.
“Tumben nggak protes.”
“Selama kamu senang, aku ikut aja.”
Beberapa menit kemudian makanan datang. Anggika makan dengan lahap, sesekali menyuapi Mario.
“Nih coba, enak banget.”
Mario memakan udang itu walau ragu. Awalnya biasa saja. Tapi beberapa menit kemudian wajahnya mulai terasa panas dan gatal.
Anggika yang sedang meminum air tiba-tiba berhenti.
“Mas… kamu kenapa? Kok pipinya merah-merah?”
Mario berusaha tersenyum.
“Nggak apa-apa, mungkin kepedesan.”
“Ini bukan pedes, ini merahnya beda.” Anggika berdiri sedikit dari kursinya, panik. “Leher kamu juga muncul bentol.”
Mario akhirnya mengaku pelan.
“Aku… alergi seafood.”
Anggika membeku beberapa detik.
“APA?”
Beberapa pengunjung menoleh.
“Kamu alergi?!” suaranya mengecil tapi tetap tegas. “Kenapa nggak bilang dari tadi?”
Mario mengangkat bahu ringan walau wajahnya makin memerah.
“Kamu kelihatan pengen banget makan. Aku nggak tega.”
“Mas, ini bukan soal tega!” Anggika mulai panik. “Alergi itu bisa bahaya. Kamu minum obat antihistamin nggak?”
“Ada di mobil… biasanya kalau kambuh aku minum.”
Anggika langsung meraih tasnya.
“Ayo ke mobil sekarang. Kita berhenti makan.”
“Gi, makanannya—”
“Bodo amat sama makanannya!” potong Anggika tegas. “Aku lebih peduli kamu.”
Mario menatapnya, antara terharu dan gatal di seluruh wajahnya.
“Kamu marah?”
“Iya aku marah! Tapi aku juga khawatir,” jawab Anggika sambil setengah menarik tangannya.
Di parkiran, Mario bersandar di mobil sementara Anggika sibuk mencari obat di dashboard.
“Ini minum sekarang,” katanya sambil membuka botol air.
Mario menelan obat itu lalu menatap Anggika yang wajahnya terlihat cemas.
“Maaf ya…” ucap Mario pelan.
Anggika menatapnya tajam tapi matanya berkaca-kaca.
“Jangan pernah sembunyiin hal penting kaya gini lagi. Kalau sampai kamu kenapa-kenapa gimana?”
Mario tersenyum lembut meski masih sedikit gatal.
“Berarti kamu sayang banget ya.”
Anggika mendengus kesal.
“Masih sempat-sempatnya kamu gombal.”
Tapi tangannya tetap menggenggam tangan Mario erat, memastikan pria itu baik-baik saja.