Cassia Bellvania Anahera adalah personifikasi keanggunan di SMA Kencana, dengan rambut panjang yang menjadi simbol harga diri dan kasih sayang kakaknya, Kalingga. Namun, dunia Cassia yang berwarna merah muda seketika berubah menjadi kelabu saat ia mendapati kekasihnya, Zidane, dan sahabatnya, Elara, mengkhianatinya. Penghinaan Zidane terhadap dirinya—yang dianggap hanya sebagai "pajangan membosankan"—memicu ledakan luka yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai yang berbisik
Bunga hitam itu tergeletak di meja belajar Cassia, memancarkan aroma kematian yang kontras dengan harum kamarnya. Cassia meremas catatan dari Elara hingga hancur. Gadis itu tidak takut, tapi dia mulai menyadari bahwa Elara bukan lagi sekadar gadis pencemburu yang picik. Elara telah berubah menjadi parasit yang siap menghancurkan apa pun agar dia tidak jatuh sendirian.
Keesokan paginya, suasana di markas The Valkyries—gudang rahasia Zelene—terasa sangat tegang. Zelene sedang sibuk memindai wajah-wajah yang terekam di CCTV gudang distribusi semalam.
"Cassie, lihat ini," Zelene memutar rekaman yang sudah diperjelas. "Tiga orang yang menyerang kalian semalam memang anak buah Zidane. Tapi, lihat motor yang menunggu di kejauhan."
Zelene menunjuk sebuah motor besar dengan logo Skorpion.
"Skorpion?" Talishia mengernyit. "Itu bukan geng sekolah. Itu sindikat balap profesional yang sering terlibat dalam kasus pencucian uang dan perdagangan suku cadang ilegal di perbatasan."
"Elara nggak mungkin punya akses ke sana sendirian," gumam Cassia. "Ada orang lain yang membiayainya."
Di sisi lain kota, di sebuah gedung tua yang mewah, Elara berdiri di depan seorang pria yang duduk di kursi kebesaran. Pria itu jauh lebih tua dari Zidane, dengan tato kalajengking di lehernya. Dia adalah Dante, pemimpin Skorpion sekaligus mantan musuh bebuyutan orang tua Cassia di masa lalu.
"Gudang itu hanya peringatan," suara Dante berat dan serak. "Kalingga mungkin mewarisi bisnisnya, tapi dia tidak punya 'tangan besi' seperti ayahnya. Dan adiknya... si Phantom itu... dia punya bakat yang bisa kita manfaatkan."
"Aku ingin mereka hancur, Dante. Bukan dimanfaatkan," Elara menyela dengan nada menuntut.
Dante tertawa, suara yang membuat bulu kuduk Elara merinding. "Mereka akan hancur saat mereka sadar bahwa mereka bekerja untukku tanpa mereka ketahui. Teruslah mendekati Kalingga sebagai 'korban', Elara. Buat dia semakin curiga pada Galaksi."
Sore itu, Cassia pulang sekolah dan menemukan Kalingga sedang termenung di beranda rumah mereka. Di tangannya ada sebuah foto lama—foto ayah dan ibu mereka yang sedang tersenyum.
"Kak?" panggil Cassia lembut.
Kalingga mendongak, matanya terlihat lelah. "Cassie, kamu ingat kenapa Papa melarang kita main motor saat kita kecil?"
Cassia duduk di samping kakaknya. "Katanya berbahaya."
"Bukan cuma itu," Kalingga menghela napas. "Papa punya musuh. Orang-orang yang iri dengan kesuksesan perusahaan distribusi kita. Dulu, Papa pernah mengalahkan seseorang dalam balapan taruhan demi menyelamatkan aset perusahaan. Orang itu bersumpah akan mengambil segalanya dari keluarga Kencana."
Jantung Cassia berdegup kencang. "Siapa namanya, Kak?"
"Dante. Tapi dia sudah lama menghilang setelah Papa meninggal. Kakak cuma takut... sabotase gudang semalam bukan sekadar kenakalan Vipers."
Cassia menggenggam tangan Kalingga. Dia ingin menceritakan soal logo Skorpion yang ditemukan Zelene, tapi dia tahu Kalingga akan langsung mengurungnya di rumah jika tahu bahaya yang mengintai sudah sejauh ini.
"Kita akan baik-baik saja, Kak. Kita punya satu sama lain."
"Iya," Kalingga tersenyum, meski matanya tetap waspada. "Tapi mulai besok, Kakak akan tugaskan dua orang kepercayaan Pak Guntur untuk menjagamu di sekolah secara diam-diam. Kakak nggak mau ambil risiko."
Malamnya, Cassia menyelinap keluar untuk menemui Galaksi di bengkel Mang Dadang. Dia menceritakan semua yang dia tahu tentang Dante dan Skorpion.
Galaksi yang sedang mengelas rangka motor berhenti seketika. Ia melepaskan topeng lasnya, wajahnya terlihat sangat serius. "Kalau Dante benar-benar kembali, ini bukan lagi soal balapan liar, Cassie. Ini perang."
"Aku harus tahu apa rencana mereka selanjutnya, Kak," ucap Cassia mantap.
"Nggak. Kali ini lo dengerin gue," Galaksi memegang kedua bahu Cassia, menatapnya dengan intensitas yang tak tergoyahkan. "Dante bukan Zidane. Dia nggak akan segan-segan bikin kecelakaan beneran di lintasan. Gue bakal minta anak-anak Acheron untuk mulai patroli di sekitar rumah lo."
"Tapi Kak Lingga bakal curiga kalau lihat Acheron di sana!"
"Biar gue yang urus Lingga. Sekarang, lo pulang. Dan Cassie..." Galaksi menarik Cassia ke dalam pelukan singkat yang sangat protektif. "Jangan pernah pergi sendirian tanpa earpiece lo menyala. Never."
Saat Cassia pulang, dia tidak menyadari bahwa di ujung jalan, sebuah mobil hitam dengan kaca gelap sedang memperhatikannya. Di dalamnya, Elara tersenyum sambil memegang ponselnya, memotret momen kebersamaan Cassia dan Galaksi.
Pesan terkirim ke Kalingga: "Lihat, Kak? Galaksi masih terus membawa Cassie ke bengkel gelap itu di tengah malam. Apa Kakak masih percaya dia menjaga Cassie?"
Happy reading sayang...
Baca cerita bebu yang lain...
Annyeong love...