Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Pagi itu, Arcelia tidak membuka media sosial.
Ia tahu. Ia tidak perlu melihat untuk tahu video itu sudah menyebar. Tapi dunia nyata tidak bisa dihindari. Begitu ia melangkah ke lorong sekolah, bisik-bisik langsung terdengar.
“Itu dia.”
“Videonya lihat nggak?”
“Galak banget ternyata.”
Langkah Arcelia melambat sesaat.
Hanya sesaat. Lalu ia melanjutkan berjalan.
Bahu tegak.
Wajah tenang.
Jangan beri mereka kepuasan.
Kaelion sudah menunggunya di dekat kelas.
“Sudah lihat?” tanyanya pelan.
“Tidak.”
“Bijak.”
Arcelia menatapnya.
“Seberapa parah?”
Kaelion terdiam beberapa detik sebelum menjawab.
“Mereka potong kalimatmu. Dibuat seolah-olah kau merendahkan orang.”
Arcelia menghembuskan napas perlahan.
“Tentu saja.”
Ia masuk kelas tanpa berkata lagi.
Pelajaran pertama terasa lebih berat dari biasanya. Beberapa siswa menatapnya terang-terangan.
Ada yang tersenyum sinis.
Ada yang pura-pura tidak peduli tapi jelas memperhatikan.
Saat istirahat, dua siswi mendekatinya.
“Video itu asli nggak sih?” tanya salah satu dengan nada pura-pura polos.
“Asli,” jawab Arcelia tenang.
Mereka saling pandang, seolah menang.
“Tapi dipotong,” lanjut Arcelia tanpa mengubah ekspresi.
Hening sesaat.
“Aku tidak merendahkan siapa pun.”
Nada suaranya stabil.
Tidak defensif.
Tidak emosional.
Dua siswi itu akhirnya pergi tanpa komentar lagi.
Jantung Arcelia berdetak kencang.
Tangannya dingin.
Tapi ia tidak runtuh.
Di rumah,
Suasana berubah ketika Bang Kaiven menunjukkan video itu pada orang tua mereka.
Mama Mirella menutup mulutnya pelan. “Ini sudah keterlaluan.”
Papa Alveron menatap layar dengan tatapan yang jarang Arcelia lihat—dingin dan keras.
“Mereka menyerang anak kita sekarang,” katanya pelan.
Arcelia duduk di sofa, mencoba tetap kuat.
“Aku nggak apa-apa kok Ma, Pa, Bang.”
Mama Mirella langsung memeluknya. “Kamu tidak perlu pura-pura kuat saat di rumah Sayang.”
Kalimat itu hampir membuat Arcelia menangis.
Hampir.
“Aku cuma nggak mau mereka pikir aku goyah.”
Papa Alveron duduk di depannya.
“Dengar baik-baik,” katanya tegas tapi lembut. “Nama kita bisa difitnah. Reputasi bisa diserang. Tapi karakter tidak bisa dihancurkan oleh potongan video.”
Arcelia menatap papanya.
“Kalau orang sudah percaya?”
“Orang yang mengenalmu tidak akan percaya.”
Sunyi sejenak.
Dan Arcelia sadar, yang membuatnya paling takut bukan hinaan orang asing. Tapi kemungkinan keluarganya ikut menanggung beban karena dirinya.
Malam itu, ponselnya bergetar lagi.
Pesan dari Selena.
Sekarang rasanya lebih personal, ya?
Arcelia membaca tanpa ekspresi.
Ia membalas pelan.
Kau butuh menyerang anak sekolah untuk merasa menang?
Balasan datang cepat.
Perang tidak mengenal usia.
Arcelia tersenyum tipis.
Kau salah. Perang juga soal batas. Dan kau baru saja melewatinya.
Beberapa detik tidak ada jawaban.
Lalu satu kalimat muncul.
Buktikan.
Arcelia mematikan layar.
Ia berdiri di balkon kamarnya. Angin malam menyapu wajahnya.
Suara hatinya berbicara pelan.
Kalau aku terus hanya bertahan, dia akan terus menyerang.
Ia masuk kembali ke kamar. Mengambil laptop.
Membuka rekaman asli dari kejadian di lorong, yang kebetulan juga direkam oleh salah satu anggota kelompok proyek untuk dokumentasi tugas.
Versi lengkapnya menunjukkan konteks utuh. Ia menatap layar cukup lama. Lalu menekan tombol unggah. Tanpa caption panjang.
Hanya satu kalimat:
“Versi lengkap. Tanpa potongan.”
Jantungnya berdetak keras saat video itu mulai diproses.
Ia tahu ini risiko. Tapi ia juga tahu, diam bukan lagi pilihan.
Beberapa menit kemudian, notifikasi mulai berdatangan. Komentar berubah arah.
“Oh ternyata beda konteks.”
“Diputarbalikkan.”
“Yang upload awal manipulatif banget.”
Arcelia duduk di kursinya. Menutup mata. Menghela napas panjang.
Untuk pertama kalinya sejak tahap kedua dimulai, ia tidak merasa terpojok. Ia merasa… melawan.
Di sisi lain kota,
Selena menatap layar ponselnya. Ekspresinya tidak lagi setenang biasanya. Arcelia tidak hanya bertahan. Ia mulai membalas. Dan permainan yang tadi terasa sepihak… Kini berubah menjadi duel terbuka. Duel terbuka itu tidak berlangsung sunyi.
Paginya,
Nama Arcelia muncul di beberapa akun gosip sekolah.
Bukan lagi sebagai “siswi sombong”
melainkan sebagai “korban manipulasi.”
Narasi berbalik.
Cepat.
Terlalu cepat.
Kaelion duduk di bangku taman belakang sekolah saat Arcelia menghampirinya.
“Reaksi?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Terbagi,” jawab Kaelion. “Sebagian membelamu. Sebagian bilang kau sengaja cari simpati.”
Arcelia tersenyum tipis.
“Tentu saja.”
Ia sudah memperhitungkan itu. Di dunia yang haus drama, kebenaran bukan tujuan utama. Atensi adalah segalanya.
“Tapi ada yang aneh,” lanjut Kaelion.
“Apa?”
“Video awalnya dihapus.”
Arcelia menoleh cepat.
“Dihapus?”
“Ya. Akun anonim itu menghilang.”
Hening beberapa detik.
Selena.
Itu terlalu cepat untuk sekadar kebetulan. Arcelia mengeluarkan ponselnya.
Tidak ada pesan baru.
Tidak ada sindiran.
Tidak ada ejekan.
Sunyi.
Dan justru itu yang membuatnya waspada.
Siang harinya,
Arcelia dipanggil ke ruang BK. Bukan karena pelanggaran. Tapi karena “kekhawatiran.” Guru BK berbicara lembut, menanyakan kondisinya.
Arcelia menjawab jujur.
Ia tidak hancur.
Ia tidak depresi.
Ia hanya lelah.
Setelah percakapan selesai, sebelum keluar ruangan, guru itu berkata pelan, “Kadang orang menyerang bukan karena kau salah. Tapi karena kau berdiri di tempat yang ingin mereka ambil.”
Kalimat itu melekat.
Di rumah,
Suasana sedikit lebih ringan. Bang Kaiven bahkan bercanda.
“Lumayan. Followers kamu naik Dek.”
Arcelia menatapnya datar.
“Serius banget sih.”
Mama Mirella menyela, “Ini bukan bahan bercanda loh.”
Tapi Papa Alveron justru tertawa kecil.
“Kadang humor yang menjaga kita tetap waras Sayang.”
Arcelia tersenyum kecil.
Rumah ini selalu menjadi penyeimbangnya.
Malamnya,
Pesan akhirnya datang.
Dari Selena.
Bagus. Kau cepat belajar.
Arcelia membaca tanpa emosi.
Belajar apa?
Balasan muncul.
Bahwa permainan ini bukan soal benar atau salah. Tapi siapa yang lebih kuat bertahan.
Arcelia mengetik perlahan.
Kau salah lagi.
Titik tiga muncul.
Koreksi aku. Kau pikir ini permainan. Aku tidak bermain.
Sunyi beberapa detik.
Lalu satu kalimat terakhir dari Selena:
Kalau begitu bersiaplah. Karena aku juga tidak.
Layar kembali gelap.
Arcelia menatap bayangannya di kaca jendela. Ia tidak lagi merasa seperti gadis yang terpojok. Ia merasa seperti seseorang yang berdiri di ambang sesuatu yang lebih besar.
Bukan sekadar perang citra.
Bukan sekadar adu komentar.
Ini sudah menyentuh harga diri.
Dan Arcelia tahu satu hal, Selena tidak akan menyerang dengan cara yang sama dua kali.
Artinya…
Gelombang berikutnya akan lebih halus.
Lebih dalam.
Lebih berbahaya.
Di sisi lain kota,
Selena mematikan laptopnya. Di layar terakhir sebelum gelap, terpampang satu dokumen.
Judulnya sederhana:
“Tahap Ketiga.”
Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, Arcelia bukan satu-satunya yang merasa tegang. Karena permainan ini tidak lagi tentang menjatuhkan. Tapi tentang siapa yang akan bertahan ketika semuanya runtuh.
Pagi itu hujan turun tipis di Lumin.
Arcelia Virellia bangun lebih cepat dari biasanya. Suara air mengenai atap terdengar pelan ritmis, menenangkan. Ia duduk di tepi tempat tidur beberapa detik, menatap jendela.
Ini belum selesai.
Ia berdiri, merapikan tempat tidur sendiri seperti biasa. Hal kecil, tapi membuatnya merasa tetap memegang kendali. Setelah mandi, ia turun ke dapur dengan rambut masih setengah basah.
Mama Mirella sudah di sana, menyeduh teh.
“Kamu kurang tidur Sayang,” ujar sang mama tanpa menoleh.
“Sedikit Ma.”
Bang Kaiven Virellia masuk sambil menguap lebar. “Kalau duel mental bikin begini tiap hari, bisa kurus kamu.”
“Mulutmu Bang,” Arcelia mendesah, tapi sudut bibirnya terangkat.
Elvarin Virellia yang paling kecil muncul dengan hoodie kebesaran. “Kak Lia sekarang viral.”
“Diam dan makan,” kata Papa Alveron Virellia tegas, walau nada suaranya tidak keras.
Meja makan pagi itu hangat, tapi ada ketegangan tipis yang tak diucapkan siapa pun. Semua tahu nama keluarga mereka sedang diperhatikan.
Di sekolah,
Suasana berbeda. Tatapan orang-orang berubah. Bukan lagi sekadar penasaran. Sekarang mereka menghitung.
Mengukur.
Menilai.
Kaelion Ravert berdiri di dekat loker ketika Arcelia datang.
“Kau lihat berita kecil tadi pagi?” tanyanya pelan.
“Apa lagi?”
“Ada isu baru. Tentang investasi ayahmu.”
Arcelia berhenti.
Dadanya mengencang, tapi wajahnya tetap tenang.
“Isu bagaimana?”
“Dibilang ada konflik kepentingan.”
Hening.
Jadi ini tahap ketiga? batinnya.
Serangan bukan ke dirinya. Tapi ke keluarganya. Itu jauh lebih tajam.
Siang harinya,
Notifikasi di ponselnya tidak berhenti. Artikel kecil, akun gosip lokal, komentar-komentar yang setengah menuduh.
Arcelia duduk di tangga belakang sekolah, memejamkan mata sejenak.
Jangan panik. Jangan reaktif.
Kaelion duduk di sebelahnya tanpa bicara.
“Papamu aman?” tanyanya akhirnya.
“Papa tidak pernah ceroboh.”
“Selena?”
Arcelia membuka mata.
“Dia tidak akan menyerang kalau tidak punya sesuatu. Entah nyata atau dibuat seolah nyata.”
Kaelion menatapnya beberapa detik. “Kalau ini makin besar, keluargamu bisa jadi target publik.”
“Aku tahu.”
Itu yang membuatnya marah.
Bukan takut.
Marah.
Malamnya,
Ruang kerja Papa Alveron Virellia terang lebih lama dari biasanya. Arcelia berdiri di depan pintu, ragu.
Lalu mengetuk.
“Masuk.”
Di dalam, Papa Alveron duduk dengan beberapa berkas terbuka.
“Papa sudah tahu?” tanya Arcelia.
Papa Alveron tersenyum kecil. “Papa selalu tahu lebih dulu.”
“Ini karena aku?”
“Tidak.” Jawabannya cepat. Tegas. “Ini karena kita mulai naik. Orang yang merasa terancam akan mencari celah.”
Arcelia menatap meja itu. Untuk pertama kalinya, ia melihat lelah di wajah papanya. Bukan lelah fisik. Lelah karena harus selalu kuat.
“Papa tidak marah?”
“Pada siapa? Pada ambisi kita sendiri?” Papa Alveron berdiri dan mendekatinya. “Lia Sayang, keluarga ini bukan rapuh. Kita dibangun dari kerja keras, bukan ilusi.”
Hening sejenak.
“Kalau mereka menyerang lagi?”
Papa Alveron menatapnya dalam. “Kita hadapi. Bersama.”
Kata itu menenangkan, tapi juga berat. Karena artinya, badai belum lewat.
Di tempat lain,
Selena Ravert menatap layar laptopnya. Senyumnya tipis. Ia tidak menyentuh Arcelia langsung. Ia menyentuh fondasinya.
“Sekarang kita lihat,” gumamnya pelan.
Namun yang tak ia duga, Arcelia tidak menangis malam itu. Tidak panik. Ia membuka laptopnya sendiri. Membaca ulang setiap komentar. Mencatat pola. Mencari sumber awal. Kalau kau bermain cerdas… aku juga bisa.
Lampu kamarnya padam lewat tengah malam. Tapi di dalam dirinya, sesuatu menyala. Bukan kemarahan. Bukan dendam. Melainkan kesadaran.
Ini bukan lagi tentang duel remaja. Ini tentang reputasi. Tentang nama Virellia. Dan Arcelia tidak akan membiarkan siapa pun, menodai nama itu tanpa perlawanan.
Berikutnya tidak akan hanya soal bertahan. Ia akan mulai menyerang balik. Diam-diam. Terukur. Dan tepat sasaran.
makasih udah mampir🙏
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....