Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.
Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.
Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.
Thx udah mampir🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Malam yang Enggan Usai
Dan justru setelah itu—aku tidak bisa tidur.
Lampu kamar sudah lama kupadamkan. Ponsel kutaruh terbalik di meja. Selimut kutarik sampai dada. Tapi pikiranku tidak mau diam. Setiap kali aku memejamkan mata, yang muncul bukan gelap—melainkan potongan-potongan kecil malam ini. Dapur yang hangat. Tatapannya yang tenang. Suaranya di balik pintu. Dan ciuman singkat yang terasa jauh lebih panjang di kepalaku.
Aku menghela napas, lalu bangkit.
Dengan langkah pelan, aku meraih selimut dari ujung kasur, menyampirkannya di bahu, dan membuka pintu kamar tanpa suara. Rumah terasa sunyi, hanya cahaya redup dari ruang tamu yang menyelinap ke lorong. Aku mengikuti cahaya itu.
Haruka ada di sana.
Duduk di sofa, laptop terbuka di pangkuannya, kacamata bertengger di hidungnya. Rambutnya sedikit berantakan—tidak seperti biasanya. Lampu meja menyala kecil, cukup untuk membuat garis wajahnya tampak lembut.
Aku berhenti dua langkah darinya.
Ia menoleh. Terkejut sepersekian detik. Lalu alisnya mengernyit pelan. “Kenapa belum tidur?”
Tanpa menjawab, aku melangkah maju dan—sebelum ia sempat bergerak—aku duduk di pangkuannya.
Ia membeku.
Selimutku jatuh menutupi sebagian tubuh kami. Aku bersandar, menemukan posisi yang nyaman seperti sudah biasa melakukannya sejak lama. Kepalaku tepat di dadanya, telingaku menangkap detak jantungnya yang sedikit lebih cepat dari tadi.
“Kenapa?” tanyanya lagi, kali ini lebih pelan.
Aku menguap kecil, pura-pura. “Nggak bisa tidur.”
Ia menarik napas panjang. Tangannya terangkat sejenak, ragu, lalu akhirnya bertumpu di punggung sofa. “Alya…”
“Hm?”
“Kamu sadar kamu sedang duduk di mana?”
Aku mengangguk kecil tanpa mengangkat kepala. “Iya.”
“Dan kamu tetap di situ.”
“Iya.”
Ia terdiam. Beberapa detik berlalu. Aku bisa merasakan otot dadanya mengendur perlahan. Akhirnya, satu tangannya turun, menyentuh punggungku—tidak memeluk, hanya menahan agar aku tidak jatuh.
“Kamu sering begini kalau tidak bisa tidur?” tanyanya.
“Enggak,” jawabku jujur. “Biasanya aku memaksa sampai tertidur.”
“Dan malam ini?”
“Malas memaksa.”
Ia menghembuskan napas kecil. “Kamu berbahaya.”
Aku tersenyum. “Katanya kamu akan terbiasa.”
Ia tertawa pelan, hampir tak terdengar. “Kamu mengingatnya.”
“Tentu.”
Aku menggeliat sedikit, mencari posisi lebih nyaman. Selimut bergeser, membuat jarak kami semakin dekat. Aku merasakan hangat tubuhnya, stabil, menenangkan. Laptopnya masih terbuka, tapi layarnya kini tidak menarik perhatianku sama sekali.
“Kamu lagi kerja?” tanyaku.
“Sedikit,” jawabnya. “Tapi bisa ditunda.”
Aku mengangkat kepala, menatapnya. “Aku ganggu?”
Ia menatap balik. Lama. Lalu menggeleng. “Tidak.”
Aku kembali menyandarkan kepala. Tangannya kini lebih berani—meluncur ke punggungku, mengusap pelan, ritmenya lambat. Seolah ia sendiri sedang belajar bernapas dengan caraku.
“Haruka,” panggilku pelan.
“Hm?”
“Kalau aku ketiduran di sini… nggak apa-apa?”
Ia menatap ke arah lain sejenak. “Sofanya sempit.”
“Aku kecil.”
“Kamu aktif.”
Aku tertawa kecil. “Aku bisa diam. Kadang.”
Ia menghela napas. “Kalau kamu jatuh?”
“Kamu kan ada.”
Kalimat itu membuatnya diam. Aku tahu, karena sentuhan di punggungku berhenti sepersekian detik—lalu kembali, lebih hati-hati.
“Baik,” katanya akhirnya. “Tapi jangan lama-lama.”
Aku mengangguk kecil, lalu—tanpa berpikir panjang—melingkarkan tanganku di pinggangnya. Gerakan spontan. Refleks. Seperti sesuatu yang sudah seharusnya terjadi.
Ia menegang.
“Alya.”
“Sebentar,” gumamku. “Aku dingin.”
Padahal aku tidak.
Ia tidak membantah. Tidak juga melepaskan. Hanya menurunkan kepalanya sedikit, dagunya hampir menyentuh rambutku. Aku bisa mencium aroma sabunnya—bersih, menenangkan.
Beberapa menit berlalu dalam diam. Laptopnya tertutup. Lampu meja diredupkan. Rumah kembali sunyi.
“Kamu tenang sekarang?” tanyanya.
“Iya,” jawabku jujur. “Lebih dari tadi.”
Ia mengangguk. Tangannya mengusap punggungku sekali lagi. “Kalau begitu… tarik napas yang dalam.”
Aku menurut. Satu. Dua.
Detak jantungnya mulai melambat. Aku ikut melambat.
“Haruka,” panggilku lagi, suaraku sudah setengah mengantuk.
“Hm?”
“Terima kasih… sudah ada.”
Ia tidak langsung menjawab. Lalu, sangat pelan, “Terima kasih sudah datang.”
Aku tersenyum kecil. Mataku tertutup.
Tubuhku bergerak sedikit—bukan sadar sepenuhnya, lebih seperti refleks orang yang mencari posisi paling nyaman. Kepalaku bergeser perlahan, mengikuti hangat yang kurasakan. Sampai akhirnya wajahku menemukan lehernya. Aku menempelkan bibirku di sana, diam, tanpa maksud apa-apa selain… tinggal.
Ia tersentak kecil.
“Alya—”
Aku lebih dulu berbicara, suaraku lembut dan malas, hampir seperti gumaman.
“Aku lebih nyaman kalau bibirku di sini,” kataku jujur. “Kamu wangi banget.”
Ia terdiam.
Aku bisa merasakan dadanya naik turun, napasnya sedikit tertahan. Tangannya yang tadi diam di punggungku kini menegang, seolah ragu apakah harus menahan atau melepaskan.
Beberapa detik berlalu.
“Kamu benar-benar,” katanya akhirnya, suaranya rendah, “sudah lupa dengan kontrak itu, ya?”
Aku membuka mata sedikit, tapi tidak menjauh.
“Aku sudah membuangnya jauh-jauh,” jawabku tanpa ragu. “Entah ke mana. Dan aku nggak berniat nyari.”
Ia menghela napas panjang. Bukan kesal. Lebih seperti seseorang yang menyerah pada sesuatu yang memang tidak bisa ia kendalikan lagi.
“Alya,” katanya pelan, “kamu akan ketiduran.”
“Memang niatnya itu,” jawabku santai.
Ia tertawa kecil—pelan sekali, tapi aku merasakannya. Getaran kecil di dadanya.
“Kalau begitu, kamu harus tidur di kasur. Bukan di sini.”
Tangannya bergerak, bersiap mengangkatku. Aku langsung melingkarkan lenganku lebih erat di pinggangnya, refleks, seperti anak kecil yang tidak mau dipindahkan.
“Tidak mau,” gumamku.
“Kamu tidak bisa tidur di pangkuanku semalaman.”
“Bisa,” bantahku. “Aku ringan.”
“Kamu keras kepala.”
“Aku nyaman.”
Ia berhenti bergerak.
Lampu ruang tamu redup. Jam dinding berdetak pelan. Dunia terasa mengecil, hanya menyisakan kami berdua dan percakapan yang tidak ingin selesai.
“Kamu kenapa tidak mau ke kamar?” tanyanya, lebih lembut sekarang.
Aku mengangkat wajah sedikit, cukup untuk menatapnya. Matanya tidak setajam biasanya. Tidak ada jarak dosen, tidak ada sikap dingin. Hanya seseorang yang sedang menatap orang lain terlalu lama.
“Karena kalau di kamar,” kataku jujur, “aku sendirian lagi.”
Ia tidak langsung menjawab.
Tangannya yang tadi menahan kini berubah posisi—bukan mengangkat, tapi menahan lebih pasti. Seolah ia memutuskan untuk tetap tinggal di tempat itu bersamaku, setidaknya untuk sementara.
“Kamu tidak sendirian,” katanya akhirnya. “Aku di rumah.”
Aku tersenyum kecil. “Iya. Tapi rasanya beda.”
Ia mengangguk pelan, seakan mengerti lebih dari yang ia katakan.
“Kamu ini,” katanya lirih, “selalu membuat hal sederhana jadi sulit.”
Aku tertawa kecil, lalu kembali menyandarkan wajahku di lehernya. Kali ini tidak bergerak. Hanya diam.
“Haruka,” gumamku lagi.
“Hm?”
“Kalau aku ketiduran di sini… jangan dipindahin dulu, ya.”
Ia ragu beberapa detik. Lalu berkata,
“Sepuluh menit.”
Aku mengangguk, meski ia mungkin tidak melihatnya. “Deal.”
Tangannya akhirnya bergerak—mengusap punggungku pelan, ritmenya lambat dan hati-hati. Bukan pelukan yang mengekang. Hanya cukup untuk mengatakan: aku di sini.
Kelopak mataku terasa berat.
Sebelum benar-benar tertidur, aku sempat mendengarnya berkata sangat pelan—lebih ke dirinya sendiri daripada padaku,
“Seharusnya aku tidak membiarkan ini.”
Tapi tangannya tidak berhenti bergerak.
Dan aku pun tertidur di sana, di pangkuannya, dengan dunia yang akhirnya terasa cukup aman untuk diabaikan sebentar....