Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 3 TANDA TANGAN DI ATAS TAKDIR
Ruang keluarga itu lebih sempit dari rumah besar keluarga pewaris, tapi suasananya jauh lebih pengap.
Udara seolah menempel di kulit.
Bukan karena panas—melainkan karena tatapan menusuk.
Gadis itu duduk di kursi kayu tanpa sandaran empuk. Punggungnya tegak, bukan karena percaya diri, tapi karena sudah terbiasa menahan diri. Di hadapannya, meja makan yang sudah kusam dipenuhi wajah-wajah yang sejak awal tidak pernah ramah.
Map kontrak nikah tergeletak di tengah meja.
Putih.
Rapi.
Terlalu bersih untuk keputusan yang kotor.
Ibunya duduk di sisi kanan, tangan terlipat, dagu terangkat. Seolah hari ini ia bukan ibu yang memarahi, tapi perwakilan keluarga besar.
“Baca pelan-pelan, jangan ada yang terlewat kata demi katanya” kata ibunya, nadanya dibuat resmi. “Biar nggak salah paham. Biar Bapak ibumu ini tidk repot bila nanti ada masalah yang kau timbulkan. Dan jangan pernah berfikir untuk meminta bantuan bapak ibumu ini”
Gadis itu mengangguk kecil.
Ia membuka map itu.
Huruf-huruf hitam menyambut matanya.
Kaku.
Formal.
Tidak ada satu pun kata yang menyebut perasaan.
Suara seorang bibi terdengar dari ujung meja.
“Hei..!!! Baca yang keras, jangan hanya didalam hati. Biar kita semua dengar.”
Gadis itu menelan ludah.
“Iya, Tante.”
Ia mulai membaca. Suaranya pelan, tapi jelas.
“Pihak pertama dan pihak kedua sepakat untuk melangsungkan pernikahan kontrak paling lama dalam jangka waktu—”
“Sebulan..... ke depan,” potong pamannya sambil terkekeh. “Pendek amat. Cocok sih.”
Tawa kecil menyebar.
Gadis itu melanjutkan, seolah tidak mendengar.
“dengan jangka waktu menikah selama...... si gadis terdiam, ”Hei lanjutkan... jangan diam saja, emang enak digantung gini”, ïya tante, dengan jangka waktu menikah selama 2 tahun—selama jangka waktu yang ditentukan demi kepentingan pihak pertama.”
Ibunya mengangguk puas.
“Ya jelas. Kita ini cuma numpang nama.”
Bibi yang lain menyeringai.
“Sudah bagus masih dipakai.”
Gadis itu berhenti sebentar. Jarinya gemetar, tapi ia tetap membaca.
“Pihak kedua tidak berhak menuntut harta, jabatan, maupun perlakuan istimewa—”
“Nah, ini penting,” kata pamannya sambil menunjuk kertas. “Biar kau nggak kebablasan nanti.”
Ibunya melirik tajam ke arah gadis itu.
“Kamu dengar sendiri, kan?”
“Iya, Bu.”
“Bagus. Jangan sampai sok merasa beruntung. Sok kaya. Sok penting”
Gadis itu melanjutkan.
“Pihak kedua wajib menjaga sikap, tidak mencampuri urusan keluarga pihak pertama, dan tidak menimbulkan masalah—”
“Masalah?” bibi itu tertawa pendek. “Dari sananya saja sudah masalah.”
Yang lain ikut tertawa.
“Untung orangnya nggak neko-neko,” sambung bibi yang sama. “Coba kalau dapat yang cerewet, wah… repot.”
Ibunya ikut menyela, suaranya lembut tapi tajam.
“Dia ini dari kecil sudah tahu diri. Nggak berani macam-macam.”
Kata tahu diri diulang lagi.
Selalu itu.
Gadis itu menunduk sedikit, lalu membaca bagian terakhir.
“Pihak kedua wajib mengakhiri pernikahan tanpa tuntutan apa pun setelah masa kontrak berakhir.”
Sunyi sejenak.
Pamannya menghela napas panjang, dramatis.
“Kasihan juga, ya.”
Nada suaranya tidak kasihan sama sekali.
“Tapi mau gimana,” lanjutnya. “Namanya juga hidup. Kalau bukan begini, kamu mau jadi apa?”
Bibi di sebelahnya menyahut,
“Paling juga nanti balik lagi ke rumah ini. Tapi ya… jangan harap disambut.”
Ibunya menatap gadis itu dari atas ke bawah.
“Kamu dengar sendiri, kan? Ini bukan cerita sinetron. Jangan kebanyakan mimpi.”
Gadis itu mengangguk.
“Iya, Bu.”
Pamannya bersandar, menyilangkan tangan.
“Saya cuma mau tanya satu hal.”
Ia menatap gadis itu lama, seolah mencari-cari kesalahan.
“Kamu sadar posisi kamu di sini?”
Gadis itu tidak menjawab.
Pamannya mendecak.
“Sadar atau nggak?”
Ibunya menyahut cepat,
“Sadar, sadar. Anak saya ini nggak bodoh.”
Pamannya tersenyum miring.
“Bagus. Karena perempuan seperti kamu itu… gampang hilang tempat.”
Kalimat itu jatuh pelan.
Tapi berat.
“Kalau bukan karena nasib baik,” lanjutnya, “kamu pikir orang kaya itu mau lihat kamu dua kali?”
Bibi tertawa kecil.
“Lihat sekali saja mungkin sudah berat.”
Ibunya ikut tertawa.
“Ya jangan begitu. Dia juga ada gunanya.”
Ia menoleh ke gadis itu.
“Kamu kan nurut.”
Gadis itu menunduk.
Ibunya mendekat, suaranya dipelankan tapi tetap menusuk.
“Dari semua anak di rumah ini, cuma kamu yang paling cocok.”
“Cocok untuk apa?” tanya bibi pura-pura polos.
Ibunya tersenyum.
“Cocok untuk disuruh.”
Tawa kembali pecah.
Gadis itu merasa telinganya berdenging.
Tapi ia tetap diam.
Pengalaman mengajarinya satu hal:
kalau ia membalas, mereka akan lebih puas.
Ibunya mendorong pulpen ke arahnya.
“Tanda tangan.”
Gadis itu menatap pulpen itu lama.
Bukan karena ragu.
Tapi karena tahu—setelah ini, tidak ada jalan kembali.
“Kenapa?” ibunya menyipitkan mata. “Masih mikir?”
Gadis itu menggeleng.
“Tidak, Bu.”
“Ya sudah. Jangan drama.”
Ia mengambil pulpen. Tangannya sedikit gemetar.
Satu tarikan napas.
Lalu—tanda tangan itu tercetak. Bermaterai.
Nama lengkapnya.
Jelas.
Rapi.
Seolah ia benar-benar setuju.
Pamannya bersiul pelan.
“Wah, resmi.”
Bibi lain mengangguk.
“Mulai sekarang, hidupmu bukan milikmu lagi.”
Ibunya menarik map itu, menutupnya cepat.
“Bagus. Jangan sampai bikin malu keluarga.”
Gadis itu berdiri.
“Kalau begitu… aku ke kamar.”
Ibunya melambaikan tangan.
“Pergi sana. Jangan keluyuran.”
Saat gadis itu melangkah pergi, suara ibunya menyusul dari belakang.
“Oh ya.”
Gadis itu berhenti.
“Mulai sekarang,” kata ibunya santai, “jangan sok jadi anak kami lagi. Kamu sudah ada yang punya.”
Langkah gadis itu terasa berat saat menaiki tangga.
Di kamar, ia duduk di tepi ranjang. Tangannya memegang jari sendiri. Tinta tanda tangan itu masih terasa hangat—seolah menempel di kulit.
Air matanya tidak jatuh.
Ia tidak memberi mereka kepuasan itu.
Di tempat lain, di ruangan yang jauh lebih luas dan dingin, map kontrak yang sama dibuka kembali.
Pemuda itu berdiri di depan meja besar, membaca cepat.
“Dia sudah tanda tangan,” lapor asistennya.
Pemuda itu mengangguk.
“Bagus.”
Asisten ragu sejenak.
“Keluarganya… tidak keberatan?”
Sudut bibir pemuda itu terangkat tipis.
“Justru mereka paling senang.”
Ia menutup map itu.
“Perempuan seperti itu tidak akan melawan.”
Ia berbalik.
“Dan tidak akan meminta apa-apa.”
Asisten terdiam.
Pemuda itu menatap jendela.
Di luar, hujan mulai turun.
“Besok,” katanya dingin, “bawa dia ke rumah.”
Asisten mengangguk.
Di dua rumah berbeda, dua tanda tangan yang sama-sama tidak disertai cinta telah mengikat dua nasib.
Satu merasa diselamatkan.
Yang lain merasa… dibuang dengan rapi.
Dan tidak satu pun dari mereka tahu—
bahwa kata-kata paling kejam belum benar-benar dimulai.
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid