NovelToon NovelToon
Titik Penghubung

Titik Penghubung

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: prasetya_nv

sebuah kehancuran adalah sebuah derita bagiku, seperti kutukan akan kelakuan berat masa laluku. nyatanya itu hanyalah sebatas prasangka. _Ailavati Keysa Maharani.

wajah datar tampak acuh adalah penguat ku, aku terlalu takut untuk dikasihani sebagai alasan pertemanan ku. hidupku telah luluh lantah atas kehancuran.~Alga Mahensa Putra

Di sinilah kisahku dimulai.
Aku Aila Putri cantika yang memiliki trauma akan masalalu, yang di pertemukan dengannya Alga Mahensa Putra.

Pria yang memiliki parasa tampan dan berwajah datar.
Akankah Aku bisa bersamanya?
Apakah ego kita yang akan sama sama menyakiti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetya_nv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

gadis baru

Hari berganti dan aku tetap sama menjadi murid SMA Pelita Harapan. Dengan baju batik ciri khasnya itu aku berjalan di parkiran sekolah itu. Aku melenggang dengan angkuh di setiap langkahku. Semua murid di sekolah itu masih sama. Memandangku dengan tatapan itu. Tapi itu tidak membuatku ragu.

Aku buka  gadis yang akan tertunduk lemah saat tertindas. Aku menjadi gadis yang keras karena semua itu.

"La, tunggu aku" Teriak orang dari belakangku. Aku berhenti saat mengenal suara itu. Dia sahabatku Tanala.

"Kenapa kamu sendiri? " Tanya Tanala saat dia sudah berhasil menyusulku. Aku diam teringat beberapa waktu kalau saat aku masih bersiap Alga menghubungiku. Dia tidak bisa menjemputku.

"Alga tidak bisa menjemputku" Aku memberikan jawaban atas pertanyaannya dengan sendu. Seperti ada yang hilang dalam diriku. Aku terlalu sulit memahami diriku sendiri

"Ada yang hilang ya La? " Tebakan Tanala telat sekali. Ada yang hilang taoi entah itu apa. Aku bingung untuk menjawabnya.

" Kamu merasa kehilangan Alga La. Kamu sadar tapi kamu belum bisa mengakuinya." Lagi lagi Tanala paham dengan perasaanku. Aku terlalu ragu untuk maju.

Aku hanya diam saat Tanala asyik menebak perasaanku untuk Alga. Dari kejauhan aku melihatnya. Dia yang sedari tadi di bicarakan Tanala denganku telah tiba.

"Gadis itu. " Aku bergumam.

Tanala mendengarkan gumaman ku. Dia terheran menatapku. Aku jelas mengingat gadis itu. Dia gadis di tempat makan itu.

"Kamu baik baik saja? " Tanala menggenggam tanganku untuk membuatku lebih tenang. Aku memperhatikan mereka berdua yang berboncengan melewatiku. Aku tidak menjawab Tanala. Aku fokus dengan pikiranku. Semua orang menatapku yang terdiam dengan pandangan kosong.

"Gadis itu cantik"...

"Gadis itu cocok dengan Alga."

"Gadis itu sangat anggun"..

" Alga jelas pantas dengan gadis itu. "

"Kasihan sekarang dia di buang oleh Alga"

"Gadis gila aja gaya mau sama Alga"

Berbagai cuitan itu aku mendengarnya. Aku berpura pura tuli tidak mendengarkannya. Walaupun hatiku kecilku berkata mereka seperti do ciptakan untuk berjalan bersama. Itu sempurna.

"Dia serasi ya Na? " Aku berkata kepada Tanala. Masih dengan menatap Alga yang berjalan dengan gadis itu. Alga menggenggam tangan gadis itu dengan lembut.

"Kamu belum mendengar penjelasannya La. " Dia menenangkanku dengan kata kata yang membuatku sadar. Siapakah aku?  Apa ada hak untukku marah?.

Sejauh ini aku hanya menjadi dua orang yang bersama tanpa ikatan. Aku terlalu nyaman seperti dengan hubunganku dengannya.

"Bukan hakku untuk meminta penjelasan padanya." Aku menjawabnya sambil melanjutkan langkahku. Aku merasa terbuang karena ucapan mereka di parkiran tadi. Wajahku terlihat lelah untuk sekedar bercerita.

" La, aku boleh minta tolong? " Laki laki di depanku yang saat ini tidak ingin ku temui tepat berada di depanku. Aku terkejut akan hal itu. Aku mencoba terlihat biasa dengan tersenyum tipis ke arahnya. Dan gadis itu tetap mengikuti Alga  seperti anak yang mengikuti induknya. Gadis itu tersenyum sangat manis kepada ku.

Aku tidak bisa menolaknya. Aku berusaha sekuat tenaga menahan bulir bening itu yang akan luruh. Mataku perih, tapi aku tidak bisa untuk berkedip. Aku takut bulir bening yang menggenang itu akan luruh.

"Apa? Mengapa aku? " Aku menahan mati matian suaraku agar tetap sama. Aku harus menyembunyikan semua itu.

"Dia Naina. Dia sekelas denganmu. Ajak dia." Alga mengenalkan gadis itu.

Aku mematung entah bagaimana aku akan menjawabnya. Aku melangkah meninggalkannya. Lantas menjawabnya setelah melewatinya.

" Suruh dia menyusulku." Aku berkata datar tanpa menoleh sedikitpun ke Alga. Tanala yang peka oleh situasi menggandeng gadis itu yang di sebut Naina.

Hariku terasa berantakan hari ini, aku terdiam dengan mata kosong saat aku duduk di kelasku. Perjalananku ke kelas  terasa sangat lambat. Di setiap jalan mereka berkicau. Mereka seakan paham dengan hidupku. Alur hidupku pun tanpa aku pahami. .

Sentuhan di pundakku membuatku menoleh. Terlihat kini Tanala sudah duduk di sampingku.

" Kayaknya lo butuh jalan entar. " Tanala paham bahwa aku membutuhkan hiburan. Dia mengajakku pergi untuk jalan nanti.

"Oke, ajak Gilang dan Aldi gue kangen. " Sepertinya aku rindu dengan mereka. Pertemuan ku dengan mereka terhitung sudah lama.

"Aku akan menghubungi mereka. " Dengan cekatan Tanala menghubungi dia sahabatnya untuk bertemu.

Aku menghela nafas, jarum jam seakan berputar lambat. Aku tengah kebosanan menunggu bel kelas berbunyi. Aku celinguk an melihat ke sana kemari. Dan mataku berhenti pada gadis itu. Dia begitu ramah, terbukti sekarang dia mulai menemukan teman.

"La, saingan lo cakep juga. " Ucap teman kelasku yang berada di depanku. Aku diam tanpa membalas cuitannya. Terasa percuma berbicara dengannya.

" Jangan dengarkan dia!. " Perintah Tanala tanpa bantahan.

Suara bising dalam ruangan ini menghilang. Tepat saat wanita cantik dengan khas seragam coklat itu melenggang di depan sana. Dia penyelamat ku. Tanpa aku perlu menjelaskan kepada mereka aku terbebaskan.

Aku mendengarkan semua perkataan wanita di depan sana dengan seksama. Dia sangat lihai mengayunkan tinta hitam di depan sana. Sambil menerangkan semua yang harus ku mengerti.

Waktu terus berlalu seiring suara dentingan jam di dinding sana. Kini kelas di bubarkan. Aku ingin pergi menenangkan diri. Pikiranku belum bener bener pulih.

" Tanala, aku titip dia. " Aku menitipkan Naina dengan Tanala. Aku bangkit berdiri. Meninggalkan kelas itu. Berharap lukaku tertinggal. Aku berjalan dengan tergesa gesa. Bertarung dengan waktu.

"Jangan sekarang" Batinku berbisik.

Aku harus berada di sana sebelum dia menemukanku. Aku tidak ingin pertemuan itu terjadi. Aku bukan lari tapi aku belum siap.

Sampailah aku di tempat ini, sunyi. Aku menyukainya. Tanpa bising yang harus ku dengar. Tanpa drama yang harus ku lihat.

Aku duduk dengan tenang sambil memandang langit. Awan berkabut menghiasinya. Sebentar lagi air dari sana akan berjatuhan membawa kenangan yang tak seharusnya hadir.

" Pengecut memang, tapi aku ragu. Biarlah semua mengalir indah." Monolog ku denga  pandangan yang kosong menerawang jauh di atas sana.

Aku telah kehilangan semua. Ayah yang mengorbankan nyawanya dan Aksara yang pergi meninggalkanku. Aku takut dia, lentera ku akan pergi.

Seperti terbayang bagaimana dia pergi berjalan gagah meninggalkanku yang bukan siapa siapa ini. Aku teramat takut untuk kehilangan kembali. Dia sangat berati dalam hidupku.

Aku takut karena rasa penuh harapku kini menjadi lukaku. Ada hal yang aku membuatku tidak bisa tidur. Aku hanya takut. Takut kembali sendiri. Tapi, disinilah aku. Tempat sempi yang membuatku tenang dan damai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!