Satu di Hati.
Kamu seperti matahari,
Hangat di pagi hari,
Menyengat di siang hari,
Meredup saat senja hari.
Namun kamu tetap satu di hati.
# Red_Dexter (pinterest)
Kisah cinta ringan antara Erick dan Jeny. Bagi Erick, Jeny adalah mataharinya, ia tidak bisa hidup tanpanya.
Keraguan, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Jeny.
Senja, waktu favorit Jeny, dan Erick memastikan bahwa Jeny harus melihat kearahnya saat senja.
Kisah nyata seorang kenalan, dengan bumbu dramatisasi, untuk menemani kamu melepas penat menjelang tidur agar bermimpi indah tentang cinta.
Full of love,
Author ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom fien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasiakan ya...
Selama perjalanan aku mencerna apa yang baru terjadi, aku berpikir bagaimana menghadapi om dan tante.
"Jen aku masih belum mau pulang ke rumah, kita kencan dulu yuk, kita kan baru jadian Jen."
"Besok bukannya jadwal kakak ke Surabaya lagi? Lagipula kita tinggal serumah kak."
"Iya sih, ya... baiklah."
"Jen, salah satu alasan aku mau ditempatkan di Surabaya itu karena kamu Jen. Papa tadinya mau memperkerjakan seorang profesional saja, tapi aku yang meminta papa untuk belajar bisnis disana. Pertama aku akan lebih cepat belajar jika jauh dari bayang-bayang papa, kedua itu perusahaan papamu suatu saat mau tidak mau kamu akan kembali ke Surabaya, aku ingin bisa menjadi pahlawanmu saat itu."
"Memang sejak kapan kakak suka aku?"
"Aku selalu menganggapmu cantik semenjak pertama kita berkenalan, waktu kamu punya pacar pertama kali saat smu, aku mulai menilai orang yang menyukaimu. Apa dia cukup baik untuk kamu, apa dia benar-benar tulus menyukaimu, apa dia pantas untuk kamu. Saat itu kupikir itu hanya perasaan kakak ke adiknya. Kemudian aku berusaha melupakan perasaan itu, dan belajar keluar negri. Aku sempat berpacaran 2x selama disana."
"Tapi kamu orang pertama yang aku ingin nikahi Jen. Bukan berarti aku ga tulus sama mantanku, cuma aku belum pernah kepikiran untuk menikah selama pacaran dulu. Aku tau aku menyukaimu saat kamu datang dan tinggal di rumahku. Tapi saat itu aku masih bekerja di luar dan baru memutuskan untuk menetap di Jakarta. Aku sempat ragu apa perasaan ini cinta lawan jenis atau kakak beradik. Aku juga pernah menjadi seorang pengecut dengan perasaanku ke kamu, orangtuaku sudah menganggapmu anak sendiri apalagi semenjak om pergi. Aku harus yakin kalau perasaanku bukan karena nafsu saja, tapi perasaan untuk selamanya, susah senang, sakit, aku mau kamu baik dan buruknya, selamanya Jen."
"Jadi aku berada dititik ini sekarang sudah melalui perjalanan dan pergulatan yang panjang. Aku jujur saat mengatakan ga mau pacaran dan langsung menikah, tapi aku tau aku ga bisa memaksakan keinginanku Jen."
"Ooo... aku... ", ucapku bingung.
"Mmm... kak, makasih untuk segala yang sudah kakak lakukan untuk aku. Aku punya permintaan, aku tau permintaanku akan membuat kakak kecewa... mmm...."
"Bilang aja jujur, seburuk apapun aku mau kamu jujur Jen."
"Mmm... boleh ga kita merahasiakan hubungan kita, cukup Belva aja yang tau, aku mohon kak."
"Kenapa?."
"Hubungan kita saat ini unik, aku belum siap menghadapi pertanyaan yang aku sendiri bingung dengan jawabannya"
"Apa kamu akan merahasiakan hubungan kita di lingkungan pertemanan kamu juga?"
"Iya kalau orang itu kenal sama keluarga kamu."
"Jadi kalau itu teman-teman smu atau lingkungan kampus kamu akan bilang kamu udah punya pacar?"
"Iya."
"Termasuk senior kamu?"
"Iya."
"Ok baiklah, aku setuju merahasiakannya."
"Sungguh?"
"Ya, sungguh Jen"
"Terima kasih kak."
"Sekarang kita udah sampai di rumah Jen, sebelum masuk dan berpura-pura bersikap biasa, aku minta pelukan sebagai upah menjaga rahasia."
"Kak, nanti kalau ada yang lihat gimana?"
"Ga ada siapa-siapa Jen."
Aku memeluknya sebentar.
"Kak udah, nanti ada yang lihat.", ucapku mendorongnya menjauh.
"Jen, diluar fakta unik hubungan ini, tapi sekarang aku benar-benar resmi jadi pacarmu kan?"
"Ya kak."
"I love you Jen", tapi aku hanya tersenyum menanggapinya dan melangkah keluar dari mobil.