NovelToon NovelToon
SUAMIKU TERNYATA CEO

SUAMIKU TERNYATA CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari dari Pernikahan / Percintaan Konglomerat / Cinta Beda Dunia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nana Bear

Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.

Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.

Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Sekadar Singgah

Seminggu setelah pertemuan itu…

Hidup Kevin kelihatan normal.

Kerja.

Antar-jemput sekolah.

Belanja.

Masak.

Tapi kepalanya?

Berisik banget.

Karena di rumah sekarang ada satu suara yang nggak pernah absen.

“Ayah, tante suka warna apa?”

“Ayah, tante bisa masak nggak?”

“Ayah, kalau tante punya rumah, kita boleh main nggak?”

Cantika resmi jadi tim tante rumah sakit.

Kevin cuma bisa senyum tipis tiap dengar itu.

Kadang pengen bilang,

“Cantik… hidup nggak sesimpel itu.”

Tapi buat anak kecil?

Memang sesimpel itu.

Kalau suka ya dekat.

Kalau sayang ya tinggal bareng.

Kalau kangen ya ketemu.

Nggak ada ego.

Nggak ada trauma.

Malam itu Kevin duduk di teras sambil ngopi.

Angin pelan. Rumah sunyi.

Ponselnya bunyi.

Siska.

Kevin, maaf ganggu. Cantika gimana hari ini?

Kevin baca dua kali sebelum balas.

Baik. Sekolahnya lancar.

Beberapa detik.

Aku boleh video call nggak? Cuma bentar. Kalau kamu nggak keberatan.

Kevin diam lama.

Ini bisa jadi kebiasaan.

Tapi… dia tahu Cantika bakal senang.

Akhirnya ia masuk kamar.

“Cantik… bangun bentar.”

Cantika ngucek mata. “Kenapa, Yah?”

“Mau video call sama tante?”

Mata itu langsung berbinar.

“Mauuu!”

Layar menyala.

Wajah Siska muncul.

Rambut diikat seadanya. Tanpa make up berlebihan.

Tapi senyumnya tulus banget.

“Hai…” suaranya pelan.

“Tanteeee!” Cantika mendekat ke layar sampai hampir nabrak kamera.

Siska ketawa kecil. “Ih, kaget aku.”

Kevin cuma jadi penonton. Pegang ponsel.

“Kamu udah makan?”

“Udah! Ayam goreng!”

“Wah, tante nggak dibagi.”

“Dateng sini dong!”

Suasana sempat hening setengah detik.

Siska cuma senyum. “Nanti ya.”

Kevin memperhatikan.

Nggak maksa.

Nggak drama.

Cuma hadir.

Lima belas menit cukup.

“Udah ya, Cantik. Besok sekolah.”

Cantika peluk layar sebelum panggilan ditutup.

“Jangan ilang!”

Siska terdiam sesaat.

“Nggak.”

Panggilan berakhir.

Cantika rebahan lagi.

“Ayah…”

“Iya?”

“Ayah jangan marah sama tante ya.”

Kevin kaget. “Siapa bilang Ayah marah?”

“Cantika tahu kok.”

Anak kecil kadang ngerti tanpa dijelasin.

Kevin keluar kamar.

Ponsel bunyi lagi.

Dia seneng banget.

Kevin balas singkat.

Iya.

Lalu pesan lain masuk.

Kevin… aku boleh jujur?

Ia tarik napas.

Silakan.

Aku takut kamu cuma izinin aku dekat sama Cantika… tapi kamu sendiri masih jauh banget.

Kevin berdiri di bawah langit malam.

Angin terasa lebih dingin.

Memang aku masih jauh.

Balasan cepat.

Karena kamu nggak percaya lagi?

Kevin mengetik pelan.

Aku cuma nggak mau kejadian lama keulang.

Beberapa menit nggak ada balasan.

Lalu—

Aku nggak akan pergi lagi.

Kevin langsung balas.

Jangan datang kalau cuma mau singgah.

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi.

Aku datang bukan buat singgah.

Kevin baca kalimat itu lama banget.

Kata-kata gampang.

Bukti yang susah.

Beberapa hari kemudian.

Mereka ketemu lagi di Taman Kota.

Kali ini bukan karena janji satu jam.

Tapi karena Siska minta izin… dan Kevin mengangguk.

Cantika langsung lari peluk lagi.

Seolah nggak pernah ada jarak.

Siska bawa kotak kecil.

“Aku bikin puding,” katanya malu-malu.

Cantika langsung teriak, “Serius?!”

Kevin angkat alis. “Kamu bisa masak sekarang?”

Siska nyengir. “Belajar.”

“Buat siapa?”

“Buat diri sendiri.”

Kevin diam.

Cantika makan dengan ekspresi lebay.

“Enakkkk!”

Siska kelihatan lega banget.

Kevin nyicip sedikit.

Diam.

“Nggak gagal.”

Siska hampir nangis lega. “Kupikir kamu bakal bilang aneh.”

Kevin hampir senyum.

Cantika main gelembung sabun nggak jauh dari mereka.

Siska tarik napas.

“Aku nggak mau cuma jadi ‘tante rumah sakit’.”

Kevin menoleh pelan.

“Aku tahu aku nggak bisa langsung jadi ibu buat dia,” lanjut Siska.

“Aku juga tahu kamu belum tentu mau nerima aku lagi.”

“Terus?”

“Aku cuma mau kesempatan buat buktiin kalau aku berubah.”

Kevin menatapnya lama.

“Kamu berubah karena nyesel… atau karena siap?”

Siska diam beberapa detik.

“Aku dulu pergi karena takut miskin. Takut capek. Takut hidup susah.”

“Sekarang?”

“Sekarang kehilangan kalian lebih sakit.”

Sunyi.

Angin lewat lagi.

“Kamu sadar kan,” Kevin suaranya rendah,

“kalau kamu datang lagi terus pergi lagi… yang hancur bukan cuma aku.”

Siska angguk cepat. “Aku sadar.”

“Cantika udah cukup kehilangan.”

Mata Siska basah.

“Aku nggak akan ninggalin dia lagi.”

Kevin berdiri, jalan beberapa langkah, lalu balik.

“Aku nggak janji apa-apa.”

“Aku nggak minta janji.”

“Tapi kalau kamu mau ada di hidupnya… kamu harus konsisten.”

Siska langsung jawab,

“Aku bakal datang. Nggak cuma pas lagi kangen.”

Kevin menatapnya lama.

“Kita lihat.”

Bukan iya.

Bukan tidak.

Tapi cukup buat hari ini.

Cantika lari kembali.

“Ayah! Tante! Lihat gelembungnya banyak banget!”

Siska berdiri bantu meniup gelembung.

Kevin melihat dari jarak kecil.

Untuk pertama kalinya…

pemandangan itu nggak bikin dadanya panas.

Cuma bikin dia takut berharap.

Malamnya sebelum tidur.

“Ayah…”

“Iya?”

“Kalau tante jadi ibu aku beneran, Ayah seneng nggak?”

Kevin diam lama banget.

“Kalau itu bikin kamu bahagia… Ayah pasti seneng.”

Cantika senyum puas.

“Berarti Ayah nggak benci tante lagi?”

Kevin tersenyum tipis.

“Benci itu capek, Cantik.”

“Berarti Ayah sayang?”

Kevin nggak jawab.

Cantika sudah keburu tidur.

Kevin duduk lama di tepi kasur.

Ia sadar satu hal.

Siska memang pernah salah besar.

Tapi sekarang… dia berusaha.

Dan Kevin harus memilih.

Tetap berdiri di masa lalu.

Atau pelan-pelan melangkah.

Karena yang dipertaruhkan bukan cuma hatinya.

Tapi hati anak kecil…

yang cuma pengen satu hal sederhana.

Keluarga.

Dan kalau Siska cuma datang untuk singgah…

Kevin nggak akan kasih kesempatan kedua.

Tapi kalau Siska benar-benar pulang…

Mungkin.

Hanya mungkin.

Pintu itu belum terkunci sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!