“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KI 12
Raka tiba di pabrik di Subang.
Setelah melakukan meeting singkat, ia mengenakan rompi safety dan helm keselamatan, lalu langsung turun ke area produksi untuk melakukan inspeksi lapangan.
Beberapa teknisi mengikuti di belakangnya. Langkahnya mantap. Ingatannya melayang ke 10 tahun lalu, saat ia masih menjadi karyawan kontrak. Ia pernah ikut memanggul karung gula, membenarkan posisi forklift, dan bekerja tanpa banyak suara.
Waktu itu ia menikah dengan Miranda, saat statusnya masih karyawan kontrak.
Raka adalah lelaki penuh ambisi. Sepulang kerja, ia mengikuti kuliah malam selama enam tahun. Empat tahun ia menuntaskan pendidikan sarjana, lalu melanjutkan ke jenjang magister. Kariernya melesat cepat. Dari karyawan kontrak, ia diangkat menjadi karyawan tetap, masuk ke jajaran manajemen, hingga akhirnya menduduki posisi general manager. Jabatan itu sudah enam bulan ia emban.
Setiap berangkat kerja, selalu ada doa yang dibisikkan padanya, “Semoga kamu sukses, Mas.”
Hati Raka bergetar mengingat itu.
Padahal waktu miranda mengucapkan doanya dengan tulus Dia tidak pernah benar benar memperhatikannya.
Baginya miranda hanyalah jalan agar dia memiliki rumah warisan kakek Sagara.
“Pak Raka, kita sudah sampai,” ujar Pak Agus, Kepala Engineering.
“Jadi, di mana titik kerusakannya?” tanya Raka lugas.
Pak Agus menunjuk ke bagian mesin pompa.
“Filter pompa ada delapan unit yang rusak, Pak. Baru dua bulan pemakaian sudah jebol. Kotoran masuk ke sistem, bikin mesin overheat, dan daya sedotnya turun drastis,” jelas Pak Agus dengan nada serius.
Dahi Raka mengernyit.
“Ini kan tanggung jawab vendor. Pengadaan filter seharusnya menjadi tanggung jawab mereka,” ucap Raka dengan raut kecewa.
“Vendor-nya PT Jaya Perkasa, Pak,” jawab Pak Agus.
Raka mengerutkan dahi lebih dalam.
“Bukankah itu perusahaan Andika?” tanyanya. Andika adalah kakak Lina.
“Benar, Pak. Saya sudah beberapa kali mengajukan komplain, tapi beliau justru memarahi saya. Katanya, dia saudara Bapak, jadi saya tidak berhak mengatur,” jawab Pak Agus. Nada suaranya terdengar kecewa dan tertahan.
“Sialan. Baru diberi proyek sekali, sudah mengecewakan,” gumam Raka dalam hati.
Ia mengembuskan napas kasar. “Apa masih bisa diservis?” tanyanya kemudian.
“Masih bisa, Pak. Tapi paling kuat hanya sekitar satu minggu. Menurut saya, lebih baik diganti. Ongkos bongkar pasangnya juga mahal,” terang Pak Agus dengan pertimbangan teknis.
Raka mengambil salah satu filter yang rusak.
“Ini kualitasnya jelek sekali, Pak. Saya tidak percaya ini impor dari Jerman. Kalau bukan dari Cina, paling ini hasil modifikasi dari material lokal,” lanjut Pak Agus.
Raka mengamati filter itu dengan saksama. Ia pernah menjadi teknisi. Ia paham betul kualitas barang.
“Sial. Dari nomor serinya jelas ini buatan Cina. Padahal di kontrak sudah tercantum spesifikasinya,” pikir Raka.
“Baik. Untuk sementara kita servis dulu. Produksi harus tetap jalan,” putus Raka tegas.
Pak Agus hanya mengangguk. Ia sadar, dirinya orang lapangan, bukan pengambil keputusan.
Setelah memberikan pengarahan dan beberapa instruksi teknis, Raka meninggalkan pabrik.
Dalam perjalanan pulang, ia terus menelepon Andika, tetapi tak satu pun panggilan diangkat. Padahal, sebelum mendapatkan proyek ini, Andika hampir setiap jam menghubunginya.
Sambil menyetir, Raka menelepon Lina.
“Lina, bilang sama kakakmu. Dia harus bertanggung jawab atas barang yang sudah dimasukkan ke pabrik,” ujar Raka dengan nada kesal.
“Raka, kamu kan general manager. Bilang saja ke atasanmu kalau kerusakan bukan dari filternya, tapi operatornya yang ceroboh,” jawab Lina enteng.
“Kamu gila, Lina,” bentak Raka. “Siapa pun operatornya akan sama kalau mesinnya memang jelek. Berapa orang yang harus aku pecat kalau alasannya seperti itu? Itu tidak profesional. Kakakmu benar-benar keterlaluan.”
“Ya masa kakakku harus ganti baru, Raka. Bukannya untung, malah buntung. Kamu ini GM, jangan polos-polos amat. Tutupi saja masalah ini. Atau bilang pompanya yang rusak, bukan filternya. Sekalian kakakku bisa dapat proyek pengadaan pompa,” ujar Lina tanpa beban.
“Kamu mau aku dipecat, Lina?” suara Raka meninggi. “Semua pembelanjaan itu real time. Kantor pusat di India memantaunya langsung. Pokoknya aku tidak mau tahu. Dalam dua hari, kakakmu harus belanja barang sesuai spesifikasi. Di kontrak jelas harganya dua ratus juta, sementara realisasi filter yang dikirim paling tujuh puluh lima juta. Kakakmu terlalu banyak ambil untung.”
“Kamu jadi GM begini amat. Tidak bisa diandalkan,” balas Lina kesal.
“Kalau tidak ada itikad baik dari kakakmu, aku akan laporkan ke polisi. Di kontrak sudah jelas, kalau barang tidak sesuai spesifikasi, kami akan ambil langkah hukum,” ucap Raka dingin, lalu langsung memutus sambungan telepon.
Di seberang sana, Lina diliputi kekesalan. Ia sudah menerima komisi tiga puluh juta dari kakaknya. Jika kakaknya harus membeli ulang barang sesuai spesifikasi, uang itu pasti akan diminta kembali.
Di dalam mobil, Raka meremas setir. Perutnya terasa perih. Saat itu baru ia sadar, ia melewatkan sarapan dan makan siang.
“Sial. Baru kali ini aku mengalami kekacauan seperti ini,” pikirnya.
Hujan turun semakin deras. Jarak pandang berkurang, membuat Raka tak bisa memacu mobil dengan cepat. Rasa mual perlahan menyeruak.
..
..
Di Jakarta, setelah menghabiskan makanannya, Miranda bersandar lelah. Perutnya terasa kenyang, tetapi pikirannya justru semakin penuh. Pandangannya kosong, menatap jalanan tanpa benar-benar melihat apa pun.
“Aku harus menghasilkan uang,” gumam Miranda lirih.
Pikiran buruk sempat melintas.
“Apa aku mengemis saja?”
Ia langsung menggelengkan kepala kuat-kuat, seolah menolak kemungkinan itu bahkan sebelum menguat di benaknya.
“Aku punya kepala, kaki, dan tangan. Aku tidak boleh mengemis,” bisiknya tegas pada diri sendiri.
Pilihan lain muncul. Ia teringat pasar.
“Apa aku kembali ke pasar dan jadi kuli panggul?”
Namun rasa takut segera menyergap. Ingatannya kembali pada kejadian kemarin, saat di pasar Cikarang ia hampir dipukuli preman hanya karena dianggap mengganggu usaha mereka.
“Di sana saja banyak preman, apalagi Jakarta,” ucapnya dengan napas tertahan. “Astaga, aku harus bertahan. Tapi bagaimana caranya?”
Miranda mengusap wajahnya yang mulai terasa panas.
“Apa aku jadi pembantu rumah tangga saja, ya?”
Mendadak senyum tipis terbit di bibirnya. Pekerjaan itu terasa paling masuk akal, paling aman, dan paling sesuai dengan dirinya. Namun senyum itu perlahan memudar ketika ia teringat satu kenyataan pahit. KTP dan ijazahnya raib akibat jambret.
“Tanpa itu semua, siapa yang mau menerimaku,” desahnya lemah.
Kepalanya terasa berdenyut.
“Astaga, aku harus apa?” pikir Miranda putus asa.
Saat itulah dua orang melintas di hadapannya. Seorang perempuan dan seorang anak kecil, masing-masing memanggul karung besar. Karung-karung itu tampak penuh dengan barang bekas.
Miranda menegakkan punggungnya.
“Ini dia,” ucapnya pelan, seolah menemukan jawaban. “Cara menghasilkan uang paling mudah.”
Matanya berbinar.
“Di Cikarang saja, gelas plastik bekas air mineral harganya seribu dua ratus rupiah per kilo. Di Jakarta pasti lebih mahal,” katanya penuh harap.
Seolah semesta merestuinya, ia melihat dua karung kosong tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk. Dengan perasaan seperti menemukan harta karun, Miranda meraih karung-karung itu.
“Kalau sehari aku bisa mengumpulkan sepuluh kilo, aku dapat dua belas ribu,” hitungnya dalam hati. “Lumayan. Setidaknya aku bisa makan dua kali.”
gemes bgt baca ceeitanya