Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.
Dandelion, adakah kesempatan untukku ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU SUDAH SEMBUH
Deya memulai harinya dengan bertukar kabar bersama Rico, laki-laki yang masih terbaring lemah dengan jarum infus menancap di lengan kirinya.
“Masih lemas kah ?” Tanya Deya sembari mengemas beberapa barangnya.
Laki-laki yang berada di seberang telpon itu hanya mengangguk. “Tapi sudah tak separah kemarin sih.”
“Syukurlah kalau gitu.”
“Kenapa belum berangkat kerja ? Nanti telat loh. Kamu juga belum sarapan.” Tanya Rico dengan lembut.
“Iya, sebentar lagi berangkat. Ini masih siap-siap.”
“Ya sudah, hati-hati pergi kerja. Aku tutup dulu nggak apa-apa ya ?” Tanya Rico yang melihat perawat menuju brangkarnya untuk memberikan obat.
“Iya, kamu istirahat yang cukup ya. Aku berangkat kerja dulu.” Jawab Deya dan mematikan panggilan video.
Rasanya Rico masih ingin melihat Deya pagi ini, namun ia juga tak ingin Deya memikirkan dirinya yang masih sakit. Apalagi pagi ini dua orang perawat datang memberikan beberapa obat yang akan membuat Deya bertanya bahwa Rico belum benar-benar baik.
***
Deya menuruni anak tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua rumahnya, tas jinjing besar membuat dia tak bisa secepat biasa.
Kia yang berada di meja makan, terheran dengan apa yang dibawa anaknya saat ini. Namun, tak lama wajah panik mulai menyelimuti nya.
“De, kamu kemana bawa tas sebesar itu ?” Kia bertanya dengan wajah cemas dan menghampiri sang putri.
“Oh, ini. Nanti sehabis pulang kerja. Saya mau menjenguk Rico bu, niatnya mau sekalian nemenin dia di rumah sakit.” Jelasnya dan menuju meja makan.
“Lalu hubungannya dengan isi tas ini apa ?”
“Iya itu baju ganti bu. Kan saya mau nginap.” Jawabnya enteng dan mulai menyuapi nasi ke mulutnya.
“Deeee.” Panggil sang ibu.
“Iya, kenapa bu ?”
Kia hampir saja angkat bicara, akan tetapi dia melihat Samsu yang menggeleng ke arahnya. “Ah, tidak apa-apa nak. Ayah ayo sarapan.” Serunya kembali dan mengubah topik sesaat setelah melihat Samsu yang berdiri di ambang pintu samping.
Ketiganya sarapan dengan tenang, baik Samsu dan Kia ingin sekali membuka topik yang berkaitan dengan Deya. Namun, ini masih terlalu pagi, mereka takut Deya akan tersinggung dan berujung pada suasana hatinya yang tak baik, apalagi hari ini dia masih sibuk-sibuknya di kantor.
***
Waktu berlalu seperti hembusan angin, warna jingga mulai terlihat di kaki langit. Namun, Deya masih sibuk dengan beberapa tumpukkan kertas di depannya. Beberapa rekan kerjanya mulai melangkahkan kaki keluar kantor.
Deya menarik nafas dalam-dalam, dan memfokuskan kembali fikirannya pada setumpuk kertas yang ada.
“Kenapa De ?” Tanya Hendy yang hendak melangkahkan kakinya untuk pulang.
“Ha ini. Aku ada selisih.” Jawabnya pasrah.
“Astaga, coba sini aku bantu.” Segera Hendy duduk di samping Deya.
Beberapa waktu berlalu, keduanya sama-sama memperhatikan layar persegi panjang di depannya untuk mencari selisih yang tak kunjung mereka temukan. Di bolak-baliknya kertas yang ada di atas meja. Di lihatnya kembali layar komputer yang menyala itu.
“Hmmm, ini selisihnya De.” Seru Hendy dan menunjukkan kesalahan yang Deya lakukan. Laki-laki itu memperbaikinya dan berakhir sudah pekerjaan Deya untuk hari ini.
Raut lega tak bisa disembunyikan Deya, ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Sudah jam setengah delapan malam ?” Tanyanya pada diri sendiri.
“Ayo, aku antarkan pulang.” Tawar Hendy.
Deya menggeleng pelan, “Aku mau ke rumah sakit Hen.”
“Siapa yang sakit ? Orang tua mu ?” Tanya Hendy dengan terkejut.
“Bukan, kemarin Rico masuk rumah sakit. Aku mau nemenin dia malam ini.”
“Rico ? Anaknya pak Handoko ?”
Deya mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya. “Iya, kan besok kita libur. Jadi nggak apa-apalah aku temenin dia malam ini.”
“Iya udah, aku antar kamu ke rumah sakit. Tapi kita mampir beli makan dulu.” Hendy kembali membuka suara.
Deya mengangkat tangannya tanda setuju.
Hendy benar-benar mengantar Deya hingga depan rumah sakit. Setelah itu dia melajukan motornya untuk pulang. Sepanjang jalan dia hanya bengong dan sesekali memperhatikan keadaan sekitarnya.
***
“Permisi.” Salam Deya setelah memasuki ruang inap Rico yang di temani oleh Diana. Gadis itu terlihat sibuk dengan barang elektronik di panggkuannya. Sedangkan Rico sedang menonton televisi.
“Mbak De.” Panggil Diana yang kaget dengan kehadiran Deya.
Deya hanya tersenyum simpul dan meletakkan keranjang buah di atas meja. “Maaf ya aku baru bisa datang sekarang.”
“Kamu udah datang aja aku bersyukur banget De.” Seru Rico yang tak bisa menyembunyikan ekspresi senangnya.
“Berdua aja ?”
“Iya mbak, ibu sama bapak pulang soalnya ada yang harus di urus besok pagi-pagi banget. Saya juga lagi ngerjain tugas ni, malah besok harus dikumpulin lagi.” Jelasnya tanpa menatap Deya.
Perempuan itu beralih menuju Rico yang tak henti-hentinya memandang ke arahanya. “Kenapa ? Udah baikkan ?” Deya bertanya dan mengikis jarak antara mereka berdua.
“Aku sudah sembuh karena ada kamu di sini.” Jawab Rico asal.
“Preeeet.” Celetuk Diana yang fokus dengan layar laptopnya.
“Ish, ganggu aja. Kerjain tuh tugas.” Rico menampilkan ekspresi ketus pada sang adik.
Deya hanya tersenyum dan menatap piring yang berisi nasi serta lauk pauk yang belum tersentuh.
“Belum makan ?”
“Belum, punya suster pribadi tapi nggak ngurus pasiennya.” Sindir Rico pada Diana.
“Eleeeh, tadi saya tawarkan makan. Malah menggeleng.” Diana membela diri.
“Aku boleh nginap ?” Tanya Deya dengan ragu.
“Boleh.” Jawab keduanya. “Boleh bangeeeet nget nget mbak De. Biar saya bisa tidur nyenyak malam ini.” Ucap Diana dan mengingat kejadian semalam saat ia dan Ani menjaga sang kakak dengan berbagai permintaan kala sakit.
“Aku ganti baju dulu ya. Abis itu kita makan.” Jelas Deya dan beralih menuju kamar mandi.
Rico hanya mengangguk pelan, sesaat setelah Deya hilang dari pandangan. Ponselnya berdering dan tertera sebuah nama.
Rupanya Samsu menelpon untuk bertanya prihal Deya yang akan menemani Rico. Sebelumnya Samsu sempat khawatir jika hanya ada mereka berdua malam itu. Namun, kelegaan langsung menyelimuti, setelah mengetahui bahwa Diana juga ikut menemani sang kakak.
Malam itu, Deya benar-benar telaten mengurus Rico, mulai dari menyuapi makan. Membersihkan wajahnya, mengatur letak selimutnya yang berantakan, juga saling bertukar cerita tentang hari-hari melelahkan mereka. Lupakan Diana yang sedari tadi sibuk dengan musik mellow dan konser tunggalnya yang tiba-tiba, jika kebuntuan menyerang otak mungilnya.
“Tuh anak, kayaknya pas tidur aja nggak ada suaranya.” Gerutu Rico yang merasa terganggu dengan suara Diana di saat ia dan Deya bertukar cerita.
“Ganggu aja, ngaak tau apa kalau adeknya lagi stress.” Diana membela diri.
“Lagian sejak kapan kamu waras.” Rico kembali membully.
“Udah ya, ini sudah malam. Kamu tidur gih. Istrihat yang cukup, katanya besok kan sudah boleh pulang.” Deya menengahi perdebatan antara kakak beradik itu.
“Iya, ini sudah terlalu larut.” Rico membenarkan ucapan Deya. “Dek, kamu jangan lama-lama tidurnya. Kasian badan mu.” Peringat Rico pada Diana.
Diana hanya membalasnya dengan deheman dan kembali fokus pada tugasnya.
“Selamat malam De.” Salam Rico pada gadis yang ada kini merebahkan diri pada bed untuk penunggu pasien.
“Kalau kamu yang menemani ku, sampai lusa juga nggak apa-apa De.” Batinnya dengan senyum tipis dan memejamkan mata.