Selena Victoria, siswi SMA 16 tahun yang egois dan kadang menjengkelkan, tapi memiliki hati yang lembut. Hidupnya berubah drastis setelah insiden kopi tumpah ke jaket cowok paling ditakuti di sekolah. Dengan bantuan bestie-nya Rora, juara olimpiade sains dan matematika yang nyentrik, Selena harus menghadapi konsekuensi aksinya dan belajar tentang empati. 😐
baca yuk Novel aku "Noda Kopi di Jaket Abu"!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BOCCI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
gara-gara drakor
Kehebohan tentang Selena yang "kerasukan" karena berangkat pagi akhirnya terjawab saat jam istirahat. Kabar tentang Camp Sekolah yang akan diadakan akhir pekan ini sudah tersebar di mading, dan semua orang mengira Selena bersemangat karena itu.
Di kantin yang super ramai, Selena duduk berhadapan dengan Rora yang sedang asyik mengunyah bakso urat pedas.
"Sel, jujur deh sama gue," ucap Rora sambil mengelap keringat di dahinya. "Lo berangkat jam 5 pagi tadi bukan karena mau simulasi jadi satpam sekolah kan? Apa hubungannya sama Camp besok?"
Selena menyeruput es tehnya dengan tenang, lalu menatap Rora dengan tatapan serius. "Ror, lo tahu kan semalam gue habis marathon drama Korea judulnya 'My Boss is a Mafia Undercover'?"
Rora mengangguk bingung. "Terus?"
"Di drama itu, ada adegan si ceweknya sebenernya pemalas tingkat dewa, tukang tidur, dan hobi makan. Tapi karena dia berangkat pagi dan nggak sengaja bantuin ketua geng yang lagi terluka, dia malah diangkat jadi Ketua Geng baru karena dianggap punya nyali gede," jelas Selena dengan menggebu-gebu.
Rora berhenti mengunyah. "Maksud lo...?"
"Gue mikir, kalau gue berangkat pagi terus, siapa tahu gue nemu ketua geng yang pingsan di jalan, terus gue gantiin dia jadi Bos!" Selena mengepalkan tangannya. "Gue pengen ngerasain gimana rasanya memerintah cowok-cowok sangar cuma dengan satu jentikan jari!"
UHUK! UHUK! HUEKK!
Rora langsung tersedak baksonya bulat-bulat. Wajahnya memerah, ia terbatuk-batuk hebat sampai air matanya keluar. Selena dengan panik menyodorkan gelas es tehnya.
"Minum, Ror! Minum! Jangan mati dulu sebelum liat gue jadi bos mafia!" teriak Selena.
Setelah meneguk es teh sampai habis, Rora menggebrak meja. "SEL! Lo... lo beneran gila ya?! Jadi alasan lo berangkat subuh-subuh tadi cuma gara-gara pengen jadi ketua geng gara-gara drama?!"
"Ya kan siapa tahu berhasil, Ror! Lagian gue udah punya jaketnya, tinggal cari anak buahnya aja," bisik Selena sambil melirik jaket Thunder di dalam tasnya.
Tiba-tiba, suara kursi ditarik terdengar dari sebelah Selena. Aroma parfum maskulin yang sangat familiar langsung menyerbu indra penciuman mereka.
Zeus duduk di sana, diikuti oleh Axel dan Leon(Nathan,sama damon gk ada mereka entah lemans katanya sih ada urusan). Wajah Zeus terlihat datar, tapi matanya menatap Selena dengan tatapan "Gue-denger-semuanya".
"Ketua geng?" tanya Zeus singkat, suaranya rendah tapi mematikan.
Selena membeku. "Eh... Bos PLN... sejak kapan di sini?"
"Sejak lo bilang mau gantiin posisi gue cuma gara-gara nonton drama," sahut Zeus dingin. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Selena, membuat Rora yang baru saja sembuh dari tersedak kembali menahan napas.
"Denger ya, Selena," bisik Zeus tepat di telinga gadis itu. "Jadi ketua geng itu bukan soal berangkat pagi atau pake jaket keren. Itu soal nyawa. Dan kalau lo beneran pengen jadi bos..." Zeus menjeda kalimatnya, lalu melirik Axel.
Axel langsung menyerahkan selembar kertas formulir Camp Sekolah.
"Ini formulir pendaftaran Camp. Di sana ada sesi leadership dan jurit malam," ucap Zeus. "Kalau lo bisa bertahan di sana tanpa nangis atau minta pulang, gue bakal pertimbangin jabatan 'Ketua Sampingan' buat lo."
Selena menelan ludah. "Beneran? Gue boleh jadi bos?"
"Bos cuci piring pas camp nanti, iya," sahut Leon yang langsung disambut tawa oleh Axel.
Di pojok kantin yang gelap, Lucas bersama anggota Red Snake lainnya memperhatikan interaksi itu. Lucas tersenyum miring melihat Selena yang sedang berdebat dengan Zeus.
"Ketua geng ya?" gumam Lucas sambil memainkan korek api di tangannya. "Kalau dia bosen sama Thunder, mungkin dia bakal lebih suka main api sama Red Snake di camp nanti."
Tiba-tiba ada pengumuman.....
"Seluruh siswi kelas 11 segera berkumpul di aula untuk pembagian kelompok Camp Besar!"
Suara toa sekolah menggelegar, memutus perdebatan soal "Ketua Geng" di kantin. Selena dan Rora lari terbirit-birit menuju aula, sementara Zeus dan kawan-kawan menyusul di belakang dengan langkah santai seolah mereka yang punya sekolah.
Di dalam aula, suasana sudah seperti pasar tumpah. Bu Ratna dan Pak Bambang Dan guru lainya, wali kelas 1-A, sudah berdiri di depan podium dengan wajah yang terlihat sangat lelah menghadapi murid-muridnya.
"Perhatian! Kelompok ditentukan berdasarkan nomor absen dan hasil tes psikologi kepemimpinan kemarin. Tidak ada protes, tidak ada tukar-menukar!" tegas Pak Bambang.
Satu per satu nama dipanggil. Rora masuk ke Kelompok 3 bersama beberapa anak kutu buku. Dan kemudian...
"Kelompok 7: Zeus Alexandra, Selena, Leon, dan... Lucas Bencana."
"Cuma Zeus yang namanya lengkap dan bener"batin selena sambil sinis dia.
Aula mendadak senyap. Benar-benar senyap. Semua orang tahu kalau menyatukan Zeus dan Lucas dalam satu kelompok itu sama saja dengan menaruh dua bom nuklir di dalam satu ruangan yang sama. Dan Selena ada di tengah-tengah mereka sebagai "sumbunya".
Begitu pengumuman selesai, Rora langsung jatuh berlutut di tengah aula sambil memegang kaki Selena.
"SELENAAAAA! JANGAN TINGGALIN GUEEE!" teriak Rora histeris, membuat ratusan pasang mata menatap mereka. "Siapa yang bakal dengerin curhatan gue soal kelinci kalau lo di hutan sama macan-macan itu?! Sel, kita udah kayak sendok sama garpu, nggak bisa dipisahin!"
Selena pun tidak mau kalah. Dia ikut-ikutan mendramatisir suasana, memegang tangan Rora dengan wajah penuh duka. "Rora! Jaga dirimu baik-baik di Kelompok 3! Kalau ada kutu buku yang jahatin lo, lempar aja pake kamus! Kita akan bertemu lagi di garis finish penderitaan ini!"
Pak Bambang, wali kelas mereka, langsung menutup wajahnya dengan buku absen. Beliau benar-benar menahan malu melihat kelakuan dua muridnya yang sudah seperti adegan perpisahan di film kolosal.
"Selena... Rora... kalian cuma beda tenda, bukan beda alam! Berhenti bikin malu nama kelas 1-A!" bentak Pak Bambang dengan suara bergetar karena nahan emosi plus malu.
Di sisi lain aula, Zeus berdiri dengan tangan bersedekap, matanya menatap tajam ke arah Lucas yang sudah berdiri tidak jauh darinya. Lucas hanya memberikan senyum miring, seolah sudah merencanakan sesuatu sejak awal.
Selena melepaskan pegangan Rora, lalu berjalan mendekati kelompok barunya dengan gaya yang (sok) berani.
"Oke, dengerin ya anggota kelompok 7!" seru Selena sambil berkacak pinggang di depan Zeus dan Lucas. "Karena gue yang paling kecil dan paling rajin bangun pagi, gue tunjuk diri gue sendiri jadi Bendahara Konsumsi! Tugas kalian: nurut sama gue kalau mau makan enak!"
Zeus menunduk, menatap Selena dengan tatapan dinginnya yang khas. "Lo pikir ini main rumah-rumahan?"
"Diem lo, Bos PLN! Di hutan nanti nggak ada stopkontak, jadi lo nggak berguna!" balas Selena pedas.
Lucas tertawa pelan, langkahnya maju satu langkah mendekati Selena. "Gue suka gaya lo. Tenang aja, 'Ketua', gue bakal jadi pengawal yang lebih baik daripada petugas listrik ini."
Zeus langsung menarik kerah belakang seragam Selena, menyeret gadis itu menjauh dari Lucas. "Jaga jarak lo, Snake. Dia tanggung jawab gue dan gw ketuanya lo sampingan."
"Idih"ucap selena sambil mendengkus.
"Dan ....ingat itu Snake!"ucap zeus sambil menatap Lucas dengan aura membunuhnya.
"Kita liat nanti di hutan," sahut Lucas tenang.
Pak Bambang yang melihat interaksi itu dari kejauhan hanya bisa menghela napas pasrah. "Ya Allah... tolong jangan biarkan sekolah saya rata dengan tanah pas camp besok."
Selena yang tadinya masih asyik berkacak pinggang di depan Zeus dan Lucas, mendadak mematung. Matanya berkedip berkali-kali, lalu ia menoleh ke arah Zeus, lalu ke Lucas, lalu ke Leon, dan kembali lagi ke Lucas.
"Bentar, bentar..." Selena memegang kepalanya yang mendadak pening. "Lo... lo sekolah di sini juga?" tanya Selena sambil menunjuk hidung Lucas.
Lucas menaikkan satu alisnya, tampak sedikit tersinggung tapi lebih banyak terhibur. "Lo baru nyadar? Gue anak kelas 1-S, kelas unggulan atlet di gedung sebelah. Gue sering lewat koridor lo, Selena."
Selena melongo. Selama ini dia mengira Red Snake itu geng luar sekolah yang hobinya tawuran di kolong jembatan atau markas rahasia di pinggiran kota. Di otaknya, rivalitas Thunder vs Red Snake itu kayak perang antar kerajaan yang beda wilayah.
"Gue kira kalian itu musuh dari sekolah seberang yang suka lempar-lemparan batu!" seru Selena polos. "Pantesan tadi pagi lo jalan santai banget pas nabrak gue, ternyata kita searah?!"
Axel yang berdiri di belakang Zeus langsung nyembur tawa. "Sel, mereka itu rival kita dari zaman kelas sepuluh! Masa lo nggak tahu? Red Snake itu isinya anak-anak gedung selatan yang emang dari dulu musuhan sama gedung utara tempat kita nongkrong!"
Selena menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Aduuuh! Malu banget! Jadi tadi pagi gue maki-maki ketua geng rival di depan gerbang sekolah kita sendiri? Mana gue bilang mau nyolok matanya lagi..."batinya.
Leon yang biasanya sedingin es pun sampai harus membuang muka untuk menahan senyum. "Makanya, Sel, jangan cuma nonton drama Korea. Liat sekitar juga."
Zeus, yang tadinya emosi karena keberadaan Lucas, sekarang malah merasa ingin tertawa sekaligus gemas. Dia menarik telinga Selena pelan—kebiasaannya kalau gadis itu mulai lemot.
"Pawang macam apa lo, nggak tahu siapa musuh majikannya sendiri?" sindir Zeus, meski suaranya terdengar lebih santai sekarang.
"Ya mana gue tahu! Di mata gue semua cowok sangar pake jaket item itu sama aja!" bela Selena sambil melepaskan tangan Zeus. "Ternyata dunia ini sempit ya. Satu sekolah, satu kelompok, satu bus pula bentar lagi. Ini mah bukan drama Korea lagi, ini mah sinetron ribuan episode!"
Lucas justru makin tertarik melihat reaksi Selena. Baginya, ketidaktahuan Selena adalah bukti kalau gadis ini benar-benar tulus dan tidak berpura-pura.
"Karena sekarang lo udah tahu gue satu sekolah sama lo," Lucas melangkah maju, memangkas jarak sampai Zeus harus memasang badan di depan Selena. "Gue bakal lebih sering muncul di depan muka lo. Bukan sebagai 'Bencana', tapi sebagai temen sekelompok yang baik."
Zeus mendesis pelan. "Mimpi aja lo, Ular. Gue nggak bakal biarin lo napas di dekat dia."
"Liat aja nanti pas camp," tantang Lucas sebelum berbalik pergi dengan gaya santai andalannya.
Selena hanya bisa bengong menatap punggung Lucas. "Gila... jadi selama ini musuh ada di antara kita. Ror! Rora!" Selena lari nyamperin Rora yang masih galau. "Ror, si Ular Kadut ternyata satu sekolah sama kita! Kok lo nggak kasih tahu?!"
Rora yang lagi nangis bombay langsung berhenti. "Lho? Kan gue udah pernah bilang pas kita liat mading bulan lalu, Sel! Lo-nya aja yang asyik dengerin lagu sambil bayangin jadi pacar robot!"
Selena cuma bisa nyengir kuda. "Hehe... lupa."
Bersambung...