NovelToon NovelToon
Legenda Naga Terkutuk

Legenda Naga Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Perperangan / Fantasi
Popularitas:699
Nilai: 5
Nama Author: Amateurss

Di sebuah dunia yang damai, tempat berbagai ras hidup berdampingan, seorang gadis ras campuran menjalani kehidupan normalnya yang tampak biasa.
Namun, perlahan sesuatu yang terasa asing menghampiri. Mimpi yang terasa nyata.
Aroma kematian yang menyusup. Dan sesuatu yang mengincarnya dari balik kegelapan.
Rahasia masa lalu, makhluk terkutuk, dan gerbang yang seharusnya tetap tertutup perlahan bergerak menuju satu titik temu.
Tak semua yang melindungi berniat baik. Tak semua mimpi ingin dilupakan.
Ketika kebenaran akhirnya menuntut harga, hanya satu pertanyaan yang tersisa:
apa sebenarnya yang ada dibalik dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amateurss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ursha'el

Ursha'el dan Kenny melangkah keluar dari ujung koridor, dihadapan mereka terbentang lapangan rumput luas dengan beberapa pepohonan. Dibatasi tembok batu. Gerbang timur akademi tampak dari kejauhan. Angin membawa aroma lembab dari hutan lebat diseberang jalan yang terbentang di luar gerbang, satu-dua kereta kuda sesekali melintas. para murid sudah berkumpul, bernaung dari teriknya mentari siang dibawah bayang pepohonan.

"Ah, datang juga akhirnya..." Vivi menyambut mereka dengan senyum geli. Pandangannya kemudian beralih ke arah Kenny. "Dan lihat siapa yang bersamamu ini... Bukannya tadi kau baru saja kejang dan mulutmu berbusa? Cepat sekali sembuhnya," sindir Vivi sarkas dengan senyum tipis di wajahnya.

Kenny hanya terkekeh pelan, sama sekali tidak tersinggung. "Astaga... aku juga tidak menyangka bisa pulih secepat ini. Luar biasa, bukan?"

Tawa kecil akhirnya lepas dari bibir Vivi. "Mana Luce?" tanyanya kemudian.

"Entahlah, mungkin masih di luar. Nanti juga muncul," sahut Kenny sambil menoleh sejenak ke arah gerbang.

Ursha’el dan Kenny segera bergabung dengan Vivi di bawah keteduhan pohon. Mereka mulai menanggalkan jubah dan kemeja seragam, menyisakan pakaian dalaman. Ursha’el kini hanya mengenakan singlet putih yang kontras dengan kulit hijau zaitunnya, tampak otot-otot lengannya yang halus namun kuat saat ia mulai meregangkan tubuh.

"Apa materi dari Instruktur Dornus hari ini? Ada yang ingat?" tanya Kenny sambil melipat pakaiannya.

"Minggu kemarin, sih, instruktur Dornus bilang kalau hari ini latihan refleks," jawab Ursha’el sambil terus melakukan pemanasan. "Tapi aku juga tidak tahu teknisnya akan seperti apa nanti."

Kenny mulai mengikuti, melakukan peregangan di samping Ursha'el. Ursha'el melirik dengan dahi berkerut.

"Tumben sekali kau pakai pemanasan segala?" tanya Ursha'el heran.

"Entahlah, melihatmu melakukannya membuatku jadi ingin ikut pemanasan juga," jawab Kenny asal.

"Lagi-lagi, alasan yang tidak masuk akal," sahut Ursha'el sambil terkekeh tipis, yang disambut tawa ringan dari Kenny.

"Oh, ayolah! Apa salahnya meniru hal positif yang dilakukan 'Murid Emas' Instruktur Dornus?" Kenny membela diri. “Yang hampir selalu dapat nilai sempurna dalam pelajaran pertarungan jarak dekat. Kau tahu, Ursha’el, bahkan beberapa murid menjuluki mu makhluk hijau ganas,” katanya sambil tertawa.

“Ah, tidak juga,” balas Ursha’el datar. “Masih banyak yang jago selain aku. Lihat itu, si Rota.” Ursha'el mengarahkan pandangannya ke pohon di seberang, seorang siswa Leonin juga sedang sibuk melakukan pemanasan. "Si Rota juga selalu dapat nilai sempurna."

Vivi ikut menyahut dari tempat duduknya di atas rerumputan. “Tapi beda, Ursha’el. Aura-mu kalau sedang bertarung itu… ngeri banget, tahu. Wajar sih, ini kan pelajaran favoritmu,” katanya sambil tertawa.

Ursha'el hanya tersenyum ringan melihat tingkah kedua temannya. "Ah, terserah kalian sajalah," jawabnya singkat sambil beranjak duduk di rumput, merasa pemanasannya sudah cukup. Kenny pun ikut mendaratkan dirinya di samping Ursha'el, menunggu instruktur tiba.

Angin siang yang hangat dan lembap berembus pelan, memainkan helai rambut mereka.

"Ngomong-ngomong, Ursha'el..." Kenny membuka suara, nadanya sedikit ragu. "Boleh aku tanya sesuatu? Ini... agak personal."

"Huh? Apa itu?" Ursha'el menoleh santai.

"Jangan merasa aneh ya..." Kenny menghela napas panjang. “Kalau boleh tahu… kamu ini… sebenarnya apa?”

Hening sejenak.

"Maksudku," lanjut Kenny cepat-cepat, "kulitmu hijau zaitun seperti Goblin, tapi postur tubuhmu tinggi semampai seperti Elf. Otot-ototmu juga terlihat kuat, tidak ringkih seperti Goblin. Terus taringmu itu…” Ia berhenti sebentar, lalu terkekeh gugup. “Ngg… kelihatan manis sih, hehe. Tapi jelas beda dari taring goblin.”

“Oh…” Ursha’el tertawa ringan. “Hahaha, santai saja. Nggak perlu kikuk begitu.”

Ia mengangkat bahu kecil. “Aku ini elf hijau.”

"Elf Hijau?" ulang Kenny, dahinya berkerut tipis.

"Iya. Persilangan antara Goblin dan Elf," jawab Ursha'el ringan.

"Oh... Jadi, ibumu Elf dan ayahmu Goblin?" tanya Kenny menebak.

"Seharusnya begitu. Tapi sekarang, ibuku memang Elf, sementara ayahku manusia," jawab Ursha'el dengan nada yang sangat santai, seolah itu hal yang biasa.

Kenny mengernyitkan dahi, semakin bingung. "Hah?"

Vivi, yang sejak tadi menyimak, langsung menyambar dengan antusias. “Ursha’el itu anak angkat, Kenny!. Ibunya seorang elf. Dulunya anggota pasukan pengawal raja, tapi pensiun dini dan memilih jadi ibu rumah tangga.”

Vivi tersenyum bangga. “Dan kau tahu siapa ayahnya? Hiru!, salah satu mage tertinggi. Kau tahu kan?"

Mata Kenny membelalak. "Sungguh? Hiru yang namanya sering muncul di papan kabar harian Paxvar itu? Anggota Dewan Keamanan Paxvar? Mage Kelas F!?"

Ursha'el hanya mengedikkan bahu sambil bersandar lebih dalam ke batang pohon. "Ya... begitulah."

"Wow... pasti luar biasa punya ayah sehebat itu," gumam Kenny kagum.

“Ah, nggak juga,” Ursha’el tersenyum kecil. “Biasa saja. Aku malah lebih akrab dengan ibuku. Ayahku sering sibuk di Citadel.”

Pandangannya menerawang sejenak. “Tapi… yah, meskipun begitu, aku tahu mereka benar-benar menyayangiku.”

Kenny terdiam sejenak, lalu bertanya dengan suara lebih pelan, "Kau luar biasa, Ursha... Tapi, ngomong-ngomong, keluarga aslimu di mana?"

Suasana mendadak senyap. Ursha'el terdiam beberapa saat sebelum menjawab. "Entahlah. Ingatan terjauh yang bisa kuingat adalah saat aku sudah berada di rumah bersama orang tuaku yang sekarang. Mungkin orang tua kandungku sudah meninggal. Kata orang tuaku yang sekarang, aku diadopsi saat masih bayi dari panti asuhan khusus korban perang di barat kota."

Ekspresi Kenny dan Vivi langsung berubah penuh simpati. Namun, Ursha'el justru tersenyum tulus, menghalau rasa canggung di antara mereka.

"Tapi ya sudahlah. Toh, orang tuaku sekarang menyayangiku dengan sangat baik. Itu sudah lebih dari cukup."

Pandangan Ursha'el menerawang. Ia memutar memori terawal yang bisa ia ingat. Ingatan pertamanya memang sederhana, bermain di antara pepohonan apel bersama Hiru dan Filea, diselingi dengan tawa di bawah langit yang cerah dan terasa aman.

"Ngomong-ngomong, Ursha," kini Vivi yang bertanya, "kenapa kau suka sekali dengan pelajaran ini? Padahal ayahmu adalah Mage Kelas F. Banyak orang di luar sana mati-matian belajar sihir hanya agar bisa mencapai posisi seperti itu."

Dalam benak Vivi, sihir adalah ilmu yang paling berkelas, puncak dari segala disiplin ilmu. Namun, ia tidak mengutarakannya secara gamblang demi menghormati perasaan sahabatnya itu. Vivi sendiri memang dikenal sangat cemerlang dalam hampir tiap pelajaran, terutama mantra.

Ursha’el meliriknya sekilas, lalu kembali menatap lapangan yang luas. "Hah... tidak semua hal dalam pertarungan itu tentang sihir, Vivi."

"Seni bertarung jarak dekat punya keunggulannya sendiri," lanjut Ursha'el tenang. "Dalam jarak yang sangat dekat, seorang penyihir akan kesulitan merapal mantra jika terus diserang secara bertubi-tubi tanpa celah."

Vivi mengangguk pelan, seolah baru menyadari sudut pandang yang selama ini ia abaikan. "Oh... Masuk akal juga, ya."

Kenny menyela. "Jadi intinya, kau ini tipe anti-mage, ya?"

"Bukan," Ursha’el terkekeh pelan. "Bukan berarti aku meremehkan sihir. Sihir itu sangat kuat, ayahku adalah buktinya. Hanya saja, aku merasa lebih cocok di sini. Aku tahu di mana letak kelebihanku, dan aku memilih untuk mengasahnya. Yah... mungkin seperti yang dibilang Luce dikelas alkimia tadi, meski aku tidak separah dia dalam mata pelajaran lain, haha."

Ia kembali melayangkan pandangannya, menatap langit biru dari sela-sela dedaunan yang rimbun. "Lagipula, ayahku selalu bilang... tidak semua orang harus menempuh jalan yang sama untuk menjadi kuat."

"Pantas saja kau jadi murid emas Instruktur Dornus," ujar Kenny sambil nyengir.

Belum sempat Ursha’el menanggapi, suara tepukan tangan yang keras menggema dari seberang lapangan, diikuti teriakan lantang. "Kumpul! Semuanya kumpul!"

Ursha’el dan kawan-kawannya serempak menoleh. Suara berat dan tegas itu jelas milik Instruktur Dornus.

"Oh, ayo. Instruksur sudah datang," ujar Ursha’el yang langsung bangkit berdiri dengan sigap. Disusul oleh Kenny dan Vivi, mereka berjalan meninggalkan keteduhan pohon menuju panggilan Dornus.

1
MnyneSan
haishh slime pincang loh 🤭
MnyneSan
sumpah serasa masuk ke cerita waktu baca, aku pasti ketawa ngik ngok kalo disana🤣
MnyneSan
segila itu ya padahal cuma kotoran🤭tapi mengingat kata terkutuk udah pantas sih😅bisa aja deh authornya
MnyneSan
duh kok tiba-tiba bauu, ya?
MnyneSan
semangat thor
Amateurss: siap kakak 🙏
total 1 replies
MnyneSan
Aku suka gaya penulisan rapi dan tidak pasaran ini
MnyneSan
kalo pencampuran sama goblin berarti ayahnya goblin kan? atau ayah nya juga campuran atau emang wujud goblinnya itu kayak manusia gitu(tp hijau)?
Amateurss: masih terus di bab 6 , hehehe 😁
total 1 replies
anggita
ikut dukung ng👍like sama iklan☝saja.
Amateurss: terimakasih kala🙏🙏
total 1 replies
Amateurss
kritik dan saran ges 🙏, pemula
Amateurss
kritik dan saran ges 🙏🙏..masih pemula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!